Inflasi di AS Mulai Mereda Namun Belum Cukup Untuk Menghentikan Kenaikan Suku Bunga Fed yang Akan Datang

stock-market-forex-trading-graph-260nw-543311869

Dolar melemah terhadap mata uang lainnya paska rilis data inflasi CPI yang cenderung mereda dan menurunkan ekspektasi akan langkah moneter Fed yang agresif pada pertemuan moneter berikutnya bulan September mendatang. Data inflasi CPI bulan lalu menunjukkan penurunan ke 0.0% yang lebih rendah dari perkiraan hanya turun ke 0.2% dan periode sebelumnya 1.3%. Sedangkan data Core yang tidak menyertakan komponen BBM dan bahan pangan menurun ke 0.3% yang lebih rendah dari perkiraan hanya turun ke 0.5% dari periode sebelumnya 0.7%. Ini merupakan level terendah sejak September tahun lalu.  Begitu pula dengan data CPI year/year juga turun dari 9.1% menjadi hanya 8.5% yang lebih rendah dari perkiraan turun hanya 8.7%, sementara data Core CPI year/year relatif stabil 5.9% sama seperti periode sebelumnya namun lebih rendah dari perkiraan naik 6.1%. Turunnya harga BBM menjadi penyebab penurunan angka inflasi CPI ini namun disisi lain hal ini akan ikut meredam langkah Fed untuk lebih agresif menaikkan suku bunga acuan yang akan datang. Dan menyebabkan aksi jual mata uang dolar dengan spekulasi akan kenaikan suku bunga Fed berikutnya adalah 50 bps dan bukan 75 bps seperti yang sebelumnya diharapkan pasar. Namun tentu saja keputusan Fed tidak hanya berdasarkan satu data inflasi ini saja karena rencana Fed masih akan terus menaikkan suku bunga acuan hingga akhir tahun ini bahkan sampai pertengahan tahun depan. Karena level inflasi saat ini masih jauh diatas target Fed yang hanya 2%. Hal ini dikonfirmasi ulang oleh pejabat Fed sendiri yaitu Gubernur Fed Minneapolis – Neel Kashkari yang mengatakan meredanya inflasi di bulan Juli disambut baik namun level inflasi masih sangat jauh dari kemenangan, Fed masih perlu menaikkan suku bunga lebih tinggi dari level saat ini. Serupa dengan Gubernur Fed Chicago – Charles Evans yang mengatakan level inflasi saat ini masih tinggi dan belum dapat diterima sehingga Fed masih perlu menaikkan suku bunga hingga 3.25% – 3.5% diakhir tahun ini dan 3.75% – 4.0% di tahun depan. Artinya masih diperlkan angka inflasi terus menerus sehingga target Fed tercapai baru kemudian secara berangsur Fed akan mulai memangkas suku bunga acuannya. Hari ini akan dirilis data inflasi dari sisi produsen PPI dan laporan mingguan klaim pengangguran.

Euro menguat hingga menembus level 1.03 semata karena pelemahan mata uang dolar. Kawasan ini masih dalam ancaman resesi ekonomi yang disebabkan oleh krisis energi yang disebabkan oleh dipangkasnya pasokan minyak dan gas alam oleh Rusia. Selain itu tingginya temperatur di musim panas juga menyebabkan surutnya sungai Rhine di Jerman yang menjadi jalur supply sejumlah komoditi melalui jalur sungai ini mulai dari komoditi biji-bijian, bahan kimia hingga batu bara. Pembangkin listrik tenaga batu bara yang menjadi andalan pengganti pasokan energi dari Rusia mengalami kesulitan mendapatkan batu baru karena pendangkalan ini. Diperkirakan penyusutan sungai Rhine ini akan memangkas pertumbuhan ekonomi di Jerman hingga 0.5% Pusaran politik di Italia juga diperkirakan akan menyeret menjadi beban ekonomi. Sementara Bank Sentral Eropa masih dalam tekanan untuk terus menaikkan suku bunga acuan guna meredakan inflasi yang hampir menyentuh 2 digit. Hari ini data ekonomi masih absen seperti kemarin.

Poundsterling juga menguat tajam  terhadap dolar dan juga sedikit terangkat terhadap Euro. Meski sama-sama menghadapi krisis energi menjelang musim dingin mendatang, pemerintah Inggris mencetuskan rencana mengaturan pasokan energi bagi industri dan rumah tangga seiring dengan keterbatasan persediaan minyak dan gas alam. Dan Norwegia mungkin tidak akan dapat memenuhi permintaan energi karena surutnya air menjadi kendala bagi PLTA disana. Meski demikian Ketua Ahli ekonomi Bank Sentral Inggris (BOE) – Huw Pill masih yakin sektor tenaga kerja masih solid dengan upah rata-rata meningkat tajam sehingga perusahaan menjual barangnya dengan harga cukup tinggi. Pill juga menegaskan stimulus moneter tidak akan dimunculkan kembali dalam beberapa tahun mendatang. Data ekonomi yang akan dirilis hari ini berupa indeks harga perumahan memang menurun 63% dari periode sebelumnya 65% namun tidak seburuk yang diperkirakan turun hingga 60%. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis. Data penting baru akan dirilis esok hari yaitu data pertumbuhan ekonomi GDP.

WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Email
Print
Telegram

Related Posts

Subscribe to our newsletter

Never miss daily news and analysis
Agrodana Futures

Bantu kami mengenal Anda lebih baik dengan melengkapi data berikut. Pertanyaan yang masuk Sabtu & Minggu akan dijawab pada hari Senin.

agrodana-newsletter-subscription
Don't Miss The Latest Analysis! Subscribe Now