Kurva Inversi Yield Terjadi Untuk Ketiga Kali Yang Mengindikasikan Potensi Terjadinya Resesi di AS

stock-market-forex-trading-graph-260nw-543311869


Dolar kembali menguat tajam hingga level tertinggi dalam beberapa dasawarsa terakhir terhadap beberapa mata uang lainnya. Euro mencapai level terendah dalam 22 tahun terakhir hingga dibawah level $1.03 seiring dengan melonjaknya harga BBM. Yen melemah terhadap dolar hingga mendekati level terendah dalam 24 tahun terakhir, GBP melemah terhadap dolar hingga level terendah dalam 2 tahun terakhir dan bahkan dolar Australia juga tidak dapat menghindar dari pelemahan meski Bank Sentral Australia (RBA) baru saja menaikkan suku bunga acuan sebanyak 50 bps yang merupakan kenaikan terbanyak sejak 1994. Selain karena melonjaknya harga komoditas energi, kekhawatiran akan memasuki resesi ekonomi global meningkatkan permintaan akan mata uang dolar sebagai safe haven. Tanda-tanda resesi seperti terlihat pada inversi grafik antara yield obligasi 10 tahun dan 2 tahun pemerintah AS, dimana yield 2 tahun lebih tinggi dari yield 10 tahun yang dalam kondisi ekonomi normal semestinya kebalikannya. Dengan yield 2 tahun 2.792% dan yield 10 tahun hanya 2.789%, kondisi ini merupakan indikasi peluang terjadinya resesi. Kondisi serupa pertama kali terjadi pada 31 Maret lalu kemudian sempat menyusul terjadi pada bulan Juni dan ini merupakan ketiga kalinya. Meski resiko terjadi resesi namun Fed diperkirakan masih tetap akan menaikkan suku bunga acuan. Ketua Fed – Jerome Powell pada beberapa waktu lalu ketika ditanya adanya potensi kurva inversi ini mengatakan : Hal ini tidak perlu dikhawatirkan yang terpenting adalah menurunkan inflasi mencapai target 2%. Di sisi lain investor khawatir langkah Fed yang agresif justru akan memperlambat ekonomi hingga mendekati resesi. Fundamental juga membaik dengan data Factory Order yang meningkat tajam 1.6% jauh melampaui perkiraan turun 0.1% dari periode sebelumnya 0.7%. Hari ini akan dirilis data PMI sektor jasa dari ISM dan laporan lapangan kerja dari JOLTS serta pidato dari Gubernur Fed New York – John Williams.

Euro merosot tajam terhadap dolar hingga dibawah level $1.03 untuk pertama kali dalam lebih dari 2 dasa warsa terakhir. Melonjaknya harga BBM hingga 17% seiring aksi mogok pekerja sektor energi menuntut kenaikan upah di Norwegia. Setidaknya 6 ladang mminyak menghentikan produksinya terkait dengan aksi mogok ini. Uni Eropa mendapatkan 13% pasokan BBM dari Norwegia, dengan aksi mogok ini membuat negara-negara Eropa hanya mengandalkan pasokan dari Rusia. Sementara Rusia juga mengancam akan menghentikan pasokan BBM jika tidak dibayar dalam mata uang Rubel. Jika tidak memenuhi permintaan ini maka Uni Eropa terancam akan mengalami defisit energi pada musim dingan yang akan datang yang dapat memicu resesi ekonomi yang lebih besar. Sejumlah ahli ekonomi mengatakan resiko terjadinya resesi di Eropa semakin terlihat jelas dengan potensi inflasi akan semakin tinggi seiring dengan melonjaknya harga energi. Kekhawatiran akan langkah Bank Sentral Eropa (ECB) dalam menangani dan menutupi hutang negara anggotanya menjelang kenaikan suku bunga yang akan datang. Langkah yang mendapat kritik dari Gubernur Bank Sentral Jerman (BundesBank) – Joachim Nagel. Dengan meningkatnya harga energi yang mengancam inflasi semakin tinggi dan resiko terjadinya resesi akan mempersulit langkah ECB untuk menjalankan rencana semula tanpa penyesuaian. Fundamental ekonomi berupa data PMI di sektor jasa yang lebih baik perkiraan tidak mampu menahan pelemahan mata uang Euro. Hari ini akan dirilis data Retail Sales.

Poundsterling juga melemah terhadap dolar tidak saja kerana krisis energi namun juga oleh situasi politik yang memanas di Inggris. 2 menteri pejabat penting dalam kabinet Perdana Menteri – Boris Johson mengundurkan diri yaitu Menteri Keuangan – Rishi Sunak dan Menteri Kesehatan – Sajid Javid terkait skandal kepemimpinan PM Johnson. Posisi keduanya yang sangat krusial di kabinet membuat kondisi politik di Inggris terguncang. Meski sudah menunjuk penggantinya namun kondisi ini membuat kepemimpinan PM Johnson semakin diragukan dan berpotensi kembali mendapat mosi tidak percaya dari Partai Konsevatif yang mengusungnya. Sementara itu Inggris juga terdampak oleh aksi mogok pekerja sektor energi di Norwegia karena pasokan energi terbesar Inggris berasal dari negara ini. Tingginya biasa hidup d ditambah dengan harga BBM yang melonjak hingga 20% semakin memperparah kondisi ekonomi yang berpeluang menjadi resesi di Inggris. Meskipun Inggris tidak mengimpor pasokan BBM dari Rusia namun tetap terkena dampak perang Ukraina karena harga komoditas energi tergantung pada mekanisme pasar internasional. Gubernur Bank Sentral Inggris (BOE) – Andrew Bailey dalam pidato semalam mengatakan prospek ekonomi global terus cenderung memburuk dan masih berpotensi akan lebih buruk lagi serta diperlukan langkah-langkah pencegahan terhadap gelombang kejutan yang akan datang. Peringatan ini dikeluarkan bersamaan dengan rilis laporan stabilitas keuangan dari BOE yang mengungkapkan sejumlah resiko yang menjadi hambatan pertumbuhan ekonomi di Inggris yaitu disrupsi energi dan bahan pangan akibat perang, tingginya tingkat hutang baik rumah tangga maupun lembaga pemerintah serta dampak yang dirasakan akibat lockdown di China. Fundamental ekonomi berupa data PMI di sektor jasa yang lebih baik perkiraan. Hari ini akan dirilis data PMI di sektor konstruksi dan pidato dari Ketua ahli ekonomi Huw Pill dan Wakil Ketua Stabilitas Keuangan BOE – John Cunliffe.

WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Email
Print
Telegram

Related Posts

Subscribe to our newsletter

Never miss daily news and analysis
Agrodana Futures

Bantu kami mengenal Anda lebih baik dengan melengkapi data berikut. Pertanyaan yang masuk Sabtu & Minggu akan dijawab pada hari Senin.

agrodana-newsletter-subscription
Don't Miss The Latest Analysis! Subscribe Now