Pengetatan Moneter Dikhawatirkan Menghambat Pertumbuhan Ekonomi

US federal reserve

Dolar semakin menguat terhadap sejumlah mata uang lainnya sebagai safe haven seiring dengan kekhawatiran akan pertumbuhan ekonomi global akan mengalami perlambatan karena kenaikan suku bunga acuan di berbagai negara guna menekan inflasi. Dan langkah moneter Fed ini masih akan terus berlanjuit setelah data inflasi mulai menunjukan tanda-tanda tercapainya puncak inflasi dengan penurunan walaupun hanya sedikit. Fed masih akan menaikkan suku bunga acuan dengan 50 bps pada 2 pertemuan berikutnya di bulan Juni dan Juli yang diharapkan dapat semakin menekan angka inflasi yang jauh diatas target Fed tersebut. Menyusul data CPI yang dirilis sehari sebelumnya, data PPI yang dirilis semalam juga menunjukkan hal serupa dengan +0.5% sesuai perkiraan dan periode bulan sebelumnya 1.4%. Sedangkan data Core  yang tidak menyertakan komponen energi dan bahan pangan naik 0.4% dibawah perkiraan naik 0.6% dan periode bulan lalu 1.0%. Meski demikian jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu terjadi kenaikan 11.0% masih diatas perkiraan 10.7% dan periode sebelumnya 11.5% sementara data Core turun ke 8.8% sedikit dibawah perkiraan 8.9%. Meski data inflasi tersebut tidak turun banyak namun dengan kenaikan suku bunga acuan 50 bps dan masih akan berlanjut dengan 2x 50 bps berikutnya diharapkan angka inflasi akan semakin menurun dan semakin mendekati target Fed. Laporan mingguan di sektor tenaga kerja berupa klaim pengangguran naik 203K dari periode sebelumnya 202K dan lebih jelek dari perkiraan menurun ke 190K. ini merupakan kenaikan tertinggi dalam 3 bulan terakhir. Ketua Fed – Jerome Powell yang kembali terpilih untuk termin kedua menjabat dengan hasil voting senat 80 – 19 dalam wawancara mengatakan stabilitas harga merupakan fondasi ekonomi sehingga langkah moneter Fed untuk meredam inflasi dipastikan akan berdampak negatif di sektor lain namun jika inflasi tidak segera diturunkan akan semakin memperburuk ekonomi. Hal serupa disampaikan oleh Menteri Keuangan – Janet Yellen yang pernah menjabat sebagai Ketua Fed sebelumnya dengan mendukung langkah Fed dan meyakinkan bahwa langkah moneter tersebut tidak akan menjadi resesi seperti yang dikhawatirkan selama ini. Kekhawatiran akan stagflasi seiring dengan kenaikan suku bunga acuan dengan kondisi permintaan global yang menurun sebagai dampak dari invasi Rusia di Ukraina dan lockdown berkepanjangan di China seiring meningkatnya kasus covid-19. Yellen menambahkan hal tersebut dapat dihindarkan seiring dengan sektor tenaga kerja yang positif dan neraca keuangan rumah tangga, tingkat hutang yang rendah dan kuatnya sektor perbankan di AS. Hari ini hanya ada data dari University of Michigan dan pidato dari Gubernur Fed Cleveland – Loretta Mester.

Euro merosot tajam seiring dengan permintaan mata uang dolar sebagai safe haven meskipun dukungan akan kenaikan suku bunga acuan terus mendapat dukungan dari pejabat Bank Sentral Eropa (ECB). Gubernur Bank Sentral Republik Irlandia – Gabriel Makhlouf juga menyuarakan untuk segera merendam inflasi meski tidak diharapkan akan seagresif Fed, pernyataan Makhlouf ini menyusul pendapat yang sama dari sejumlah sejawatnya diantaranya Gubernur Bank sentral Prancis – Francois Villeroy de Galhau, Gubernur Bundesbank – Joachim Nagel, Gubernur Bank Sentral Estonia – Madis Mueller. Presiden ECB – Christine Lagarde juga menyatakan dukungannya dengan mengatakan ECB akan mengakhiri program stimulus  lebih cepat yaitu pada awal kwartal ketiga dan akan diikuti dengan kenaikan suku bunga beberapa pekan kemudian. Absennya data fundamental dan kekhawatiran akan perlambatan global membuat investor mengalihkan asetnya menjadi safe haven dalam hal ini mata uang dolar. Hari ini akan dirilis data industrial production dan inflasi CPI di Prancis.

Poundsterling masih cenderung melemah terhadap dolar namun tertahan oleh penguatan terhadap mata uang Euro yang merosot tajam.  Fundamental ekonomi di Inggris sendiri masih cenderung melemah dengan data pertumbuhan ekonomi quarter/quarter yang turun drastis dari 1.3% menjadi hanya 0.8% yang meleset dari perkiraan naik 1.0%. Data GDP month/month juga turun -1% lebih jelek dari perkiraan sama seperti periode sebelumnya 0%. Begitu pula data yang sama dari NIESR, pertumbuhan ekonomi di Inggris turun 0.3% dari periode sebelumnya yang juga direvisi turun dari 1.0% menjadi hanya 0.8%. Data-data ini semakin menegaskan akan prakiraan Bank Sentral Inggris dengan memangkas setidaknya 1% pertumbuhan ekonomi di akhit tahun nanti. Hal ini sekaligus semakin membuat spekulasi akan penundaan langkah menaikkan suku bunga acuan selanjutnya dari BOE  dalam pertemuan moneter selanjutnya. Meskipun Wakil Gubernur BOE – Dave Ramsden dalam wawancara masih menyarankan untuk kenaikan suku bunga acuan tersebut guna meredam inflasi. Data lain seperti industrial production, manufacturing production dan sentimen bisnis juga turun dibawah perkiraan semua semakin menjadi sentimen negatif bagi GBP. Hari ini tidak ada data fundamental di Inggris.

WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Email
Print
Telegram

Related Posts

Subscribe to our newsletter

Never miss daily news and analysis
Agrodana Futures

Bantu kami mengenal Anda lebih baik dengan melengkapi data berikut. Pertanyaan yang masuk Sabtu & Minggu akan dijawab pada hari Senin.

agrodana-newsletter-subscription
Don't Miss The Latest Analysis! Subscribe Now