Rusia menghentikan pasokan gas alam ke wilayah Eropa

fintech_financial_technology_icons_circuit_board_thinkstock_

Dolar terus menguat terhadap mata uang lainnya hingga mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan sentimen positif dari rencana sejumlah kenaikan suku bunga acuan Fed sebanyak 50 bps dan juga sentimen negatif dari luar AS. Kekhawatiran akan terjadinya pelambatan ekonomi global seiring dengan lockdown di China yang berkepanjangan dipastikan akan menurunkan permintaan akan barang dan jasa. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua, maka hampir semua negara memiliki ketergantungan akan permintaan baik bahan mentah maupun setengah jadi, dengan menurunnya permintaan tersebut dipastikan akan menekan pertumbuhan ekonomi secara global. Tindakan Rusia menghentikan pasokan gas alam ke Bulgaria dan Polandia karena menolak pembayaran dalam mata uang Rubel diperkirakan akan menjadi pukulan untuk ekonomi di Uni Eropa. Dan tidak tertutup kemungkinan menyusul akan diberlakukan di negara Eropa lainnya, hal ini semakin mengancam pemulihan ekonomi yang sudah mulai melambat sebelumnya dan berpeluang menjadi resesi di kawasan ini.  Sementara itu peluang melebarnya invasi Rusia ke negara tetangga Ukraina yaitu Moldova semakin terbuka setelah dilaporkan tembakan dari Ukraina ke depot amunisi di wilayah Transnistria yang pro-Rusia. Selain tembakan ke depo amunisi, sejumlah drone yang berasal dari Ukraina terdeteksi memantau wilayah tersebut. Eskalasi konflik yang semakin memanas akan mempersulit tercapainya kesepakatan damai seperti yang diharapkan. Disaat perang maka mata uang dolar akan menguat karena merupakan mata uang paling likuid. Hari ini Bank Sentral Jepang (BOJ) akan mengakhiri pertemuan moneternya yang bermula sejak kemarin. Pasar akan mencermati apakah BOJ masih akan mempertahankan kebijakan pengendalian kurva yieldnya di level 0.25% untuk meredam pelemahan mata uang Yen. Sedangkan dari domestik AS akan dirilis data pertumbuhan ekonomi GDP  advance yang diperkirakan menurun cukup signifikan. Pasar akan mencermati akankah penurunan ini membuat Fed menunda rencana kenaikan suku bunga acuan. Selain itu juga akan dirilis laporan mingguan klaim pengangguran.

Euro merosot tajam terhadap dolar hingga 1.0515, yang merupakan level terendah sejak Maret 2017 lalu. Tindakan Rusia yang menghentikan pasokan gas alam ke Bulgaria dan Polandia karena menolak membayar dalam mata uang Rubel dikhawatirkan akan menyusul diberlakukan juga di negara lain di kawasan ini. Ketidakmampuan Eropa untuk bertindak cepat mengatasi kekurangan gas ini mengungkapkan kerentanan mereka yang dieksploitasi oleh Rusia. Sementara peluang  invasi Rusia ke negara tetangga Ukraina yaitu Moldova semakin terbuka setelah dilaporkan tembakan dari Ukraina yang ditujukan pada depo amunisi di wilayah Transnistria yang pro-Rusia. Fundamental ekonomi juga cenderung negatif dengan Kementerian ekonomi Jerman memangkas prakiraan pertumbuhan ekonomi tahun 2022 ini dari 3.6% menjadi hanya 2.2%. Sedangkan kepercayaan konsumen dari GfK juga menurun -26.5 jauh lebh buruk dari perkiraan -16.1 dan periode sebelumnya -15.7. Presiden ECB – Christine Lagarde dalam pidato semalam tidak membahas kebijakan moneter hanya menyampaikan kekhawatiran akan dampak ekonomi dari invasi Rusia di Ukraina.

Poundsterling juga melemah terhadap dolar hingga mencapai level terendah dalam 21 bulan terakhir seiring dengan memburuknya fundamental ekonomi yang berpotensi menunda langkah Bank Sentral Inggris untuk kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan moneter Mei pekan depan. Setelah sebelumnya hutang sektor publik yang kembali membengkak, sektor ritel kembali melemah dengan turun tajam -35 jauh meleset dari perkiraan -6 dari periode sebelumnya +9. Hari ini tidak ada data ekonomi.

WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Email
Print
Telegram

Related Posts

Subscribe to our newsletter

Never miss daily news and analysis
Agrodana Futures

Bantu kami mengenal Anda lebih baik dengan melengkapi data berikut. Pertanyaan yang masuk Sabtu & Minggu akan dijawab pada hari Senin.

agrodana-newsletter-subscription
Don't Miss The Latest Analysis! Subscribe Now