Weekly Newsletter Ed. 100

crisis(1)

Periode: 9 - 13 Mei 2022

What to Expect from OIL?

Harga minyak mentah terus meningkat setelah UE menunjukkan peningkatan pada proses menuju sanksi larangan minyak Rusia. Pasar minyak akan tetap ketat ke depannya karena OPEC+ sendiri hanya memberi sedikit peningkatan produksi dan karena produksi AS kesulitan meskipun jumlah rig meningkat.

Sementara ketidakpastian terbesar untuk prospek permintaan minyak mentah tetap tertuju pada prospek ekonomi China. Pemerintah China tidak akan meninggalkan kebijakan nol-Covid mereka dalam waktu dekat dan hal tersebut tentu akan berpengaruh pada proses permintaan minyak jangka pendek. Situasi COVID di China kemungkinan tidak akan membaik dalam waktu dekat dan sekarang setelah data menunjukkan dampak pembatasan bisnis bisa lebih luas selain ke Shanghai dan Beijing.

Minyak akan tetap menjadi perdagangan yang bergejolak ke depan dengan sebagian besar fundamental masih mengarah ke harga yang lebih tinggi.

(marketpulse)

Inflasi Global Tinggi, Inggris Resmi Resesi?

Fokus kembali pada inflasi di mana kekhawatiran terhadap inflasi di AS terus mempengaruhi harga aset dan volatilitas terus meningkat di pasar. Pasar saham global bergerak beragam minggu lalu saat Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin untuk pertama kalinya dalam 22 tahun. Dan minggu depan, mereka akan fokus pada data inflasi, terutama dari AS.

 Inflasi AS Tertinggi 41 Tahun Terakhir

Inflasi di AS 8.5% yang berada di level tertinggi 41 tahun terakhir membuat Fed menaikkan suku bunga sebesar 50 bps untuk pertama kalinya sejak tahun 2000. Fed mengatakan inflasi tetap tinggi dan mencerminkan ketidakseimbangan penawaran dan permintaan karena pandemi COVID-19, kenaikan harga energi dan tekanan harga yang lebih luas. The Fed juga akan mulai menyusutkan neraca pada 1 Juni.

Di sisi lain, Ketua Fed Powell manyatakan bahwa kenaikan suku bunga tambahan 50 bps juga akan dibahas dalam beberapa pertemuan berikutnya.

Pasar Saham Sempat Naik Sebelum Anjlok

Pasar Saham AS sempat naik lebih dari 3% di hari Rabu saat keputusan kebijakan Fed dan pernyataan Powell, tapi kemudian kembali anjlok di hari Kamis di tengah kekhawatiran bahwa Fed kemungkinan berpotensi menghadapi kesulitan dalam mengatasi inflasi. Menurut analis, ketakutan tersebut diakibatkan karena market menilai Fed mungkin terlambat dalam menaikkan suku bunga. Dengan kekhawatiran tersebut dan aksi jual, juga berpengaruh di pasar obligasi dengan yield 10-tahun AS naik menjadi 3.1% di hari Jumat, tertinggi sejak November 2018. Pasar saham AS turun untuk minggu kelima berturut-turut dan menandai penurunan terpanjang sejak 2011 untuk indeks S&P 500 dan sejak 2012 untuk indeks Nasdaq. Sementara Emas turun untuk minggu ketiga dengan penurunan 0.8%.

Inggris Terancam Resesi

Inggris berada dalam situasi genting pasca kenaikan suku bunga BOE terbaru. Kenaikan ini mendorong suku bunga berada di level tertinggi 13 tahun yaitu 1 %. Hal ini dilihat sebagai sinyal terkuat bahwa Inggris sedang menghadapi resesi ekonomi dan kemungkinan tingkat inflasi tahunan sebesar 10%, tertinggi dalam lebih dari 40 tahun. Ekonom bahkan saat ini membuat prediksi yang mengerikan tentang pertumbuhan dan pengangguran.

Gubernur BOE Bailey mengatakan dirinya menyadari kesulitan tersebut akan menyebabkan banyak orang di Inggris yang berpenghasilan terendah terpukul oleh kenaikan harga kebutuhan pokok seperti makanan dan energi. Melonjaknya tingkat inflasi disebabkan oleh QE yang dilakukan BOE di tengah pandemi Covid yang digunakan untuk meminjamkan uang kepada Pemerintah untuk mendukung skema cuti (stimulus untuk pengangguran).

Berkurangnya Minat Terhadap Aset Berisiko

Semua mata tertuju pada data inflasi yang akan diumumkan hari Rabu. Menurut data ketenagakerjaan yang dirilis hari Jumat, nfp meningkat sebesar 428K di bulan April, melampaui ekspektasi. Para analis mengatakan data tersebut berdampak pada berkurangnya selera terhadap risiko karena khawatir hal tersebut bisa menyebabkan Fed menjadi lebih hawkish. Analis berpendapat data inflasi minggu depan kemungkinan melunak setelah lama absen, dan kemungkinan akan meningkatkan volatiltas di pasar. Perang Rusia/Ukraina tetap menjadi faktor utama risiko untuk Eropa. Sementara pandemi yang saat ini berlangsung di China juga menjadi risiko utama bagi China. Situasi di China dapat menyebabkan tekanan inflasi secara global semakin kuat, tidak adanya pelonggaran kebijakan ekonomi China meskipun ekspekasi meningkatkan kecemasan investor. (yenisafak.com, express.co.uk, investmentexecutive.com)

Weekly Technical Outlook

Pasca kenaikan suku bunga Fed 50 bps, pasar akan melihat seberapa efektif kenaikan suku bunga pertama di bulan Maret lalu berimbas pada inflasi sehingga bisa menarik kesimpulan apakah keputusan Powell menghapus peluang kenaikan 75 bps di pertemuan berikutnya sudah tepat atau tidak. Ini akan ditambah juga dengan Fed speaker yang kemungkinan akan menunjukkan perbedaan pandangan antara Powell dan kolega. Sementara Jerman dan Inggris diperkirakan berada di sisi ekonomi yang suram dengan Jerman akan terpengaruh saat embargo energi Rusia diberlakukan, sementara Inggris dengan pengakuan dari BOE atas kondisi inflasi yang berpotensi tetap tinggi dan mengarah pada resesi. Di sisi lain, China juga masih dalam lockdown dan semakin diperketat. Pemerintah China menegaskan kembali komitmen kebijakan nol-Covid dan nampaknya menambah suramnya gangguan pasokan yang mengancam inflasi global.

Dow, Euro dan Emas menunjukkan pola candle untuk terjadinya rebound atau bahkan reversal Bullish. Tapi semua akan bergantung pada data inflasi AS dan pernyataan Fed (untuk Dow dan Emas), dan pernyatan Lagade (untuk EURUSD). Sementara GBPUSD diperkirakan naik sekejap sebelum lanjutkan penurunan yang kali ini berpeluang mengancam dengan penurunan yang lebih dalam. Untuk Hang Seng. Semua begantung pada kondisi covid di China, selama belum teratasi, maka teknikal mendukung untuk lanjutkan penurunan. Dan Oil diperkirakan mendapat momentum untuk kembali lanjutkan penurunan, meski lockdown di China tetap menjadi penghambat di sisi penurunan. (*)

FOREX

EURUSD: High Wave candle di grafik Weekly pasca penurunan kemungkinan membuka peluang untuk recovery. Tapi kami tidak melihat peluang kenaikan terlalu tinggi mengingat kondisi UE. Tapi semua akan berubah jika Lagarde memberi pernyataan yang hawkish dan membangkitkan harapan. Tapi jika kembali tidak menunjukkan hawkish, maka Euro berpeluang kembali turun hingga di bawah 1.0400.

Resistance :  1.0658, 1.0968, 1.1068   

Support :   1.0470, 1.0318, 0.9600

Outlook :  Neutral to Bearish

INDEKS SAHAM ASIA

Hang Seng: Weekly candle tidak menguntungkan bagi Hang Seng, dengan kondisi Fundamental yang juga tidak mendukung. Posisi support 19633 kembali terancam dan tekanan ini kembali membuka peluang untuk turun hingga 18236. Kebijakan nol-covid yang tetap dijalankan berpotensi menghalangi ekonomi, sehingga kunci utama dari rally adalah keadaan covid yang terkendali. Jika sebaliknya, maka Hang Seng nampak suram disamping ancaman delisting terbaru dari AS.

Resistance :  20200, 20841,  21305

Support : 19800, 19633,  19218

Outlook : Bearish

NIKKEI: Wall Street mau tidak mau menjadi magnet bagi saham Asia terutama NIKKEI yang sangat bergantung pada pergerakan Nasdaq. Weekly menunjukkan pergerakan yang tidak menjauh dari pergerakan minggu sebelumnya. Jika tekanan terus berlanjut, maka 26035 terancam. Jika tembus, Nikkei berpotensi berada di bawah level 26000 dengan support terdekat di kisaran 25400.

Resistance :  27243, 27483, 27875

Support : 26785, 26452, 25992

Outlook : Bearish

CFD

Dow Jones: Weekly cande ditutup oleh long upper shadow yang memberikan harapan terjadinya rebound pasca tekanan di 3 minggu terakhir. Kondisi ini sangat bergantung pada gambaran inflasi. Jika saja inflasi melunak, maka alasan Fed untuk menghapus peluang kenaikan 75 bps di pertemuan berikutnya bisa melonggarkan ketegangan di pasar saham. Tapi kenaikan pun butuh upaya untuk kembali berada di kisaran 34000. Selama kenaikan tetap bertahan di bawah 34000, maka Dow pun akan kembali terancam turun. Terutama jika inflasi tetap tinggi, dan Fed speaker tetap berpandangan bahwa Fed tetap harus hawkish pada kebijakan suku bunganya.

Resistance :  33076, 33500, 33980

Support :  32539, 32300, 32033 

Outlook : Bullish

CRUDE OIL: Bullish candle akhirnya munul di grafik Weekly sehingga strong bullish berpotensi terjadi minggu depan. Apalagi OPEC+ kembali memutuskan kenaikan produksi yang sedikit saja karena memandang pasar minyak masih tetap ketat. Embargo minyak Rusia dari UE pun menjadi salah satu penyebab. Kita mencari penembusan di atas 116 untuk lanjutkan trend naik. Jika kembali gagal, maka Oil pun bisa kembali tertekan, dan membuka peluang untuk kembali di bawah level 102. Di sisi lain, Weekly pun sekaligus membuka diri untuk wave 5 dari elliott wave bullish. Tapi semua syarat harus dipenuhi untuk memberikan bullish efek yang dominan.

Resistance : 112.05, 116.41, 121.82

Support :  107.68, 105.78, 102.27

Outlook : Bullish

FOREXLATESTEND OF LAST WEEK3-MONTHS AGO1-YEAR AGO
GBPUSD1.23331.25741.34461.3826
EURUSD1.05451.05431.12331.2019
USDJPY130.53129.83115.12109.27
AUDUSD0.70750.70600.70660.7716
COMMODITIES
XAUUSD1881.601897.401796.801768.10
CLSCID110.54104.2263.4688.12
INDEKS SAHAM
DJI32754329683491333807
HSI19869209922381828528
NKI26850269752712528830
KSP348.35355.05357.50421.90
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Email
Print
Telegram

Related Posts

Subscribe to our newsletter

Never miss daily news and analysis
Agrodana Futures

Bantu kami mengenal Anda lebih baik dengan melengkapi data berikut. Pertanyaan yang masuk Sabtu & Minggu akan dijawab pada hari Senin.

agrodana-newsletter-subscription
Don't Miss The Latest Analysis! Subscribe Now