
Dolar mengalami koreksi terhadap mata uang lainnya meski data PMI di sektor manufaktur yang membaik. Koreksi ini ditengarai merupakan aksi profit taking dengan kembalinya pelaku pasar setelah liburan tahun baru dan menjelang data ekonomi yang lebih penting di sektor tenaga kerja yaitu Non-Farm Payroll (NFP) yang akan dirilis pekan ini. Data PMI di sektor manufaktur dari ISM yang sejalan dengan data yang sama sehari sebelumnya sudah semakin membaik mendekati ambang batas ekspansif 50. Aktifitas ekonomi di sektor manufaktur meningkat cukup signifikan, yaitu ke level tertinggi sejak Maret tahun lalu dari 48.4 menjadi 49.3 yang jauh lebih baik dari perkiraan sedikit menurun 48.3. Tanda-tanda pemulihan ekonomi semakin meningkat yang menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi semakin membaik. Dengan ekonomi yang semakin membaik, maka Fed dirasa tidak perlu terburu-buru untuk memangkas suku bunga acuan lagi. Selaras dengan proyeksi suku bunga acuan yang dirilis pada pertemuan moneter FOMC di bulan Desember lalu. Ditambah dengan potensi inflasi yang diperkirakan akan kembali naik seiring dengan implementasi agenda ekonomi dari Presiden Trump yang akan datang. Dolar menguat oleh ekspektasi akan agenda ekonomi ini setelah Trump memenangkan pemilu di bulan November lalu. Dengan dipastikan akan menjalankan agenda ekonomi berupa pengurangan pajak dan pengenaan kenaikan tarif impor terhadap mitra dagangnya yang akan memicu laju pertumbuhan ekonomi dan diperkirakan berpotensi akan kembali menaikan angka inflasi menjauh dari target Fed. Sehingga Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan lebih lama guna menjaga agar inflasi tidak jauh dari target tersebut. Hal ini diungkapkan oleh Gubernur Fed negara bagian Richmond - Thomas Barkin dengan mengatakan Fed perlu mempertahankan kebijakan yang ketat hingga inflasi betul-betul sudah kembali turun mendekati target 2% Fed. Fed dalam pertemuan di bulan Desember lalu menurunkan target pemangkasan suku bunga acuan dari 4 kali sebanyak 100 bps menjadi hanya 2 kali sebanyak 50 bps. Namun ekspektasi pasar malah lebih skeptis dengan hanya 2 kali penurunan sebanyak 40 bps. Data di sektor tenaga kerja akan menjadi fokus pasar pekan ini setelah sebelumnya laporan pengangguran yang dirilis Kamis pekan lalu turun cukup drastis hingga ke level terendah dalam 8 bulan terakhir. Meski demikian, ekspektasi data NFP di hari Jumat nanti agak skeptis dengan penurunan cukup drastis terisinya lapangan kerja menjadi 154K dari periode sebelumnya sebanyak 227K. Dengan upah rata-rata juga menurun dan tingkat pengangguran relatif stabil. Sebelumnya ada data lowongan kerja tersedia dari JOLTS dan data penambahan lapangan kerja swasta ADP dan PHK dari Challenger serta data PMI di sektor jasa.
Yen juga bergerak menguat seiring dengan koreksi mata uang dolar. Bank Sentral Jepang (BOJ) diperkirakan tidak lama lagi akan menaikkan suku bunga acuannya. Inflasi yang meningkat cukup tajam membuat sejumlah pejabat BOJ khawatir setelah inflasi melampaui 2% di bulan Desember lalu. Dalam nota pertemuan moneter di bulan Desember lalu, beberapa pejabat mengusulkan kenaikan suku bunga acuan meski kalah dalam jumlah suara voting. Kemungkinan pejabat yang memilih untuk kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan moneter selanjutnya diperkirakan akan semakin bertambah. Terutama setelah agenda ekonomi AS yang baru terhadap Jepang dirilis dan juga perubahan struktur upah yang direncanakan akan dirilis dalam waktu dekat ini. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis.
Euro juga menguat seiring dengan koreksi yang terjadi pada mata uang dolar. Karena kondisi ekonomi dan politik di Eropa tidak cukup mendukung penguatan tersebut. Dengan perekonomian yang belum sepenuhnya pulih dan bahkan cenderung terus melemah menjadi sentimen negatif, belum lagi nanti setelah agenda kenaikan tarif impor AS diterapkan akan menjadi beban tambahan terhadap kondisi ekonomi yang melemah saat ini. Kondisi ini akan membuat Bank Sentral Eropa (ECB) melanjutkan langkah pemangkasan suku bunga acuan bahkan mungkin menjadi lebih agresif lagi guna menahan laju pelambatan ekonomi. Ekspektasi pasar memperkirakan ECB akan memangkas suku bunga acuan sebanyak 100 bps dalam 4 kali pertemuan moneter di tahun 2025 ini. Ketidakpastian politik juga masih membayangi 2 negara utama di Uni Eropa yaitu perdebatan anggaran pemerintahan Prancis dengan Perdana Menteri yang baru dan juga pemilu dini di Jerman yang dijadwalkan pada bulan Februari mendatang, Vakumnya kepemimpinan akan membuat Jerman sulit menghadapi agenda ekonomi dari AS jika tidak segera mendapat perhatian. Hari ini akan dirilis data PMI di sektor jasa dan data inflasi CPI akan dirilis esok hari.
Poundsterling juga bergerak menguat terhadap dolar dan menjauh dari level terendah sebelumnya. Sebelumnya data PMI di sektor manufaktur mengalami penurunan semakin menjauh dari ambang batas menjadi sentimen negatif bagi GBP. Ini merupakan indikasi tanda-tanda terjadinya pelambatan ekonomi di Inggris. Data Kredit Individu dan KPR terbaru juga menunjukkan terjadinya penurunan pengajuan mendekati level terendah sejak pertengahan tahun 2022 mendatang. Meskipun jika dibandingkan dengan negara tetangganya, ekonomi di Inggris lebih baik sehingga Bank Sentral Inggris (BOE) diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam beberapa waktu mendatang. BOE diperkirakan hanya akan memangkas suku bunga acuan sebanyak 60 bps untuk tahun ini dan kemungkinan bisa berkurang dari angka tersebut. Perbedaan ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan terhadap Uni Eropa dan di kawasan sekitarnya menjadi sentimen positif untuk GBP. Hari ini ada data PMI di sektor jasa.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://t.me/AGROdanaOFFICIAL
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial



