Dolar mengalami koreksi terhadap mata uang lainnya setelah Presiden Trump menunda kenaikan tarif impor terhadap Mexico selama 1 bulan setelah negara tersebut menyetujui persyaratan yang diinginkan pemerintah AS. Mexico setuju untuk memperketat perbatasan dengan AS dengan penambahan 10.000 anggota tentara nasional guna membatasi perdagangan obat terlarang ilegal yang sering masuk di perbatasan tersebut. Pada hari Sabtu pekan lalu, Presiden Trump secara resmi mengesahkan kenaikan impor terhadap Mexico dan Kanada sebanyak 25% dan terhadap China sebanyak 10%. Meski tidak menyebutkan syarat yang diminta, namun dalam beberapa kesempatan sebelumnya Trump meminta kedua negara untuk memperketat penjagaan di perbatasan yang sering menjadi jalur perdagangan narkoba ilegal. Baru Mexico yang memberikan respon terhadap permintaan tersebut sehingga Trump memberikan kelonggaran dengan memberi waktu 1 bulan guna menegosiasikan kenaikan tarif yang diinginkan kedua belah pihak. Hal serupa juga pernah terjadi pada masa pemerintahan Presiden Trump yang pertama di tahun 2019 yang lalu. Mata uang peso kembali menguat sehingga dolar bergerak terkoreksi. Dengan peristiwa ini menandakan bahwa AS hanya menggunakan kenaikan tarif impor sebagai alat untuk mendapatkan keinginan AS terhadap mitra dagangnya. Sementara itu Kanada membalas dengan kenaikan tarif impor juga, sementara China mengadukan tindakan sepihak AS tersebut ke organisasi perdagangan dunia atau WTO. Jika kenaikan terif impor jadi diterapkan oleh AS terhadap mitra dagangnya yang lain, maka diperkirakan sebagian negara akan mengalami resesi lebih cepat dan sebagian lagi akan mengalami stagnan dengan kekhawatiran inflasi global akan kembali bergerak naik. Setelah menyatakan kenaikan tarif terhadap Mexico, Kanada dan China, Trump menargetkan Uni Eropa meski tidak memastikan kapan akan dilakukan. Sementara itu data ekonomi menunjukkan sektor manufaktur di AS mulai pulih dengan data PMI dari ISM yang naik ke ambang batas 50 menjadi 50.9 yang lebih baik dari perkiraan stagnan 49.3 sama seperti periode sebelumnya. Ini merupakan kondisi ekspansif yang pertama kali sejak Oktober tahun 2022 yang lalu. Data ini semakin memberi alasan bagi Fed untuk tidak terburu-buru memangkas suku bunga acuan lebih lanjut. Hal ini serupa dengan komentar dari Gubernur Fed Atlanta - Raphael Bostic yang semalam mengatakan ketidakpastian akan agenda ekonomi membuat Fed perlu lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan moneter. Bostic menambahkan perlu lebih banyak waktu sebelum memutuskan untuk meneruskan pemangkasan suku bunga acuan berikutnya. Ekspektasi pasar paling optimis menunjukkan peluang Fed memangkas suku bunga acuan di tahun ini hanya sebanyak 50 bps dalam 2 kali pertemuan moneter. Yang serupa dengan proyeksi suku bunga acuan Fed pada pertemuan moneter di bulan Desember lalu. Hari ini ada data tersedianya lowongan kerja dari JOLTS dan juga pidato dari pejabat Fed lainnya.
Yen kembali bergerak menguat seiring dengan mata uang dolar yang terkoreksi dan juga dengan ekspektasi akan langkah Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya. Dua pekan lalu BOJ sudah menaikkan suku bunga acuan sebanyak 25 bps ke level tertinggi sejak tahun 2008 yang lalu. Dan Gubernur BOJ - Kazuo Ueda berulang kali menyatakan BOJ masih akan terus mengendalikan kebijakan moneter yang longgar untuk memastikan inflasi akan turun secara perlahan mencapai target 2%. Wakil Gubernur dan sejumlah pejabat BOJ juga sepakat akan hal tersebut, karena tekanan inflasi yang terus meningkat dan semakin menjauh dari target 2% tersebut.
Euro semakin terpuruk meskipun dolar terkoreksi, imbas komentar dari Presiden Trump di akhir pekan lalu yang menargetkan Uni Eropa setelah menaikkan tarif impor terhadap Mexico, Kanada dan China. Meski belum dipastikan kapan akan dilaksanakan, namun ancaman tersebut membuat pelaku usaha menjadi khawatir dan pelaku pasar mulai menghindari aset-aset di Eropa. mata uang Euro merosot hingga level terendah sejak November tahun 2022 yang lalu. Dalam pertemuan pemimpin Uni Eropa di Brussels kemarin, sepakat untuk mempersiapkan langkah tindakan untuk melawan kenaikan tarif tersebut, namun juga membuka pilihan untuk bernegosiasi lebih lanjut. Data ekonomi di sektor manufaktur juga meski sedikit meningkat menjadi 46.4 yang lebih baik dari perkiraan sama seperti periode sebelumnya 46.1, namun masih belum pulih karena masih di bawah ambang batas 50. Sedangkan estimasi inflasi Core CPI relatif masih membandel 2.7% sama seperti periode sebelumnya yang lebih tinggi dari perkiraan turun 2.6%. Dan CPI yang naik menjadi 2.5% yang lebih tinggi dari perkiraan stabil 2.4% sama seperti periode sebelumnya. Hari ini hanya ada data pengangguran di Spanyol.
Poundsterling bergerak menguat cukup signifikan seiring terkoreksinya mata uang dolar. Selain itu juga Inggris sepertinya akan mendapat pengecualian dari kenaikan tarif impor AS, meskipun bisa saja Presiden Trump berubah pikiran. Fokus pasar akan tertuju pada pertemuan moneter MPC yang akan diadakan pada hari Kamis nanti dengan perkiraan akan memangkas suku bunga acuan sebanyak 25 bps. Dengan pertimbangan angka inflasi yang masih stagnan, kondisi ekonomi domestik dengan defisit neraca keuangan dan juga dampak kenaikan tarif impor AS terhadap perekonomian dunia, dipastikan akan berdampak juga terhadap ekonomi di Inggris. Sementara data PMI di sektor manufaktur hanya naik sedikit menjadi 48.3 dari perkiraan stabil sama seperti periode sebelumnya 48.1. Hari ini tidak ada data ekonomi.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://t.me/AGROdanaOFFICIAL
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial



