Dolar berlanjut melemah terhadap sejumlah mata uang lainnya setelah kebijakan kenaikan tarif impor Presiden Trump diinterpretasikan oleh pasar hanya sebagai alat negosiasi dan bukan keputusan final. Hal ini berkaitan dengan keputusan Trump untuk menunda selama 1 bulan kenaikan tarif impor terhadap Mexico yang sehari sebelumnya diumumkan, setelah pemerintah Mexico menyetujui untuk memperketat perbatasan dengan AS dengan penambahan 10.000 anggota tentara nasional guna membatasi perdagangan narkoba ilegal yang sering masuk di perbatasan kedua negara tersebut. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Trump meminta kedua negara untuk memperketat penjagaan di perbatasan yang sering menjadi jalur perdagangan narkoba ilegal. Dan dengan dipenuhinya permintaan tersebut, membuat Trump menunda kenaikan tarif serta memberikan waktu 1 bulan bagi Mexico untuk menegosiasikan kembali kenaikan tarif tersebut. Peristiwa ini sebenarnya juga pernah terjadi pada periode pertama pemerintahan Presiden Trump di tahun 2019 yang lalu. Sementara itu Kanada masih bersiteguh dalam melawan kebijakan tersebut dengan kenaikan impor yang sama terhadap produk-produk ekspor AS. Hal serupa juga dilakukan oleh pemerintah China pada hari yang sama setelah AS secara resmi memberlakukan kenaikan tarif impor sebanyak 10% pada hari Selasa kemarin. Selain itu, China juga mengajukan banding terhadap kebijakan AS tersebut kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Kondisi ini semakin meningkatkan ketegangan bilateral dan berpotensi memicu kembali perang dagang seperti halnya yang terjadi pada pemerintahan Presiden Trump yang pertama dahulu. Beijing memberlakukan kenaikan tarif terhadap ekspor energi AS dan memperketat kendali akan ekspor mineral kritis lainnya dari AS. China juga memberikan peringatan terhadap Alphabet dan sejumlah perusahaan AS lainnya akan diberikan sanksi yang belum ditentukan. Tentu saja perlawanan ini berlawanan dengan keinginan Presiden Trump untuk menjadikan kenaikan tarif ini sebagai alat negosiasi. Sampai Trump menunda untuk berunding dengan Presiden Xi Jinping juga setelah melihat respon China yang tidak terduga tersebut. Jika dua negara dengan kekuatan ekonomi nomor 1 dan nomor 2 berperang, maka negara-negara lain dipastikan akan terdampak. Ini akan menjadi kekhawatiran negara-negara lain tersebut yang akan terdampak secara global karena tidak seperti Mexico yang melunak terhadap keinginan AS, China dan Kanada bersikeras melakukan perlawanan dengan kenaikan tarif juga yang berpotensi menaikkan angka inflasi secara global. Data ekonomi yang dirilis semalam menunjukan terjadinya penurunan tersedianya lowongan kerja seiring dengan factory order yang juga mengalami penurunan. Hari ini ada data terisinya lapangan kerja swasta ADP dan juga data PMI di sektor jasa.
Yen masih terus menguat terhadap mata uang dolar, selain karena eskpektasi akan langkah Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya, mata uang Yen juga menjadi salah satu tujuan aset safe haven di saat kondisi ekonomi global tidak stabil selain mata uang Swiss Franc dan komoditi Emas. Ekspektasi akan langkah lanjutan BOJ untuk menaikkan suku bunga acuannya kembali setelah 2 pekan lalu BOJ sudah menaikkan suku bunga acuan sebanyak 25 bps ke level tertinggi sejak tahun 2008 yang lalu. Gubernur BOJ - Kazuo Ueda dan Wakil Gubernur Ryozo Himino serta sejumlah pejabat BOJ juga sepakat akan perlunya menaikkan suku bunga acuan lebih lanjut seiring dengan tekanan inflasi yang terus meningkat dan semakin menjauh dari target 2%. Data ekonomi berupa upah rata-rata selama 1 tahun di Jepang juga meningkat menjadi 4.8% yang lebih tinggi dari perkiraan hanya naik 3.6% dan data periode sebelumnya juga direvisi meningkat dari 3.0% menjadi 3.9%. Kenaikan upah ini berpotensi menaikkan angka inflasi lebih tinggi lagi.
Euro rebound seiring dengan terkoreksinya mata uang dolar, setelah sebelumnya sempat tersebar isu peluang Euro menjadi parity terhadap dolar. Parity berarti mata uang euro akan setara nilainya dengan mata uang dolar atau EURUSD = $1.0000. Setelah menaikkan tarif impor terhadap Mexico, Kanada dan China, Presiden Trump di akhir pekan lalu selanjutnya akan menargetkan Uni Eropa sebagai mitra dagang berikutnya yang akan dikenakan kenaikan tarif impor. Sejumlah pakar ekonomi menilai Uni Eropa berpotensi akan terjadi resesi ekonomi, akan semakin besar jika kenaikan tarif ini akan diberlakukan. Meski Trump belum memastikan kapan akan dilaksanakan, namun ancaman tersebut membuat pelaku usaha menjadi khawatir dan pelaku pasar mulai menghindari aset-aset di Eropa. Sejumlah pemimpin negara-negara angota Uni Eropa yang mengadakan pertemuan di Brussels sepakat untuk mempersiapkan langkah tindakan untuk melawan kenaikan tarif tersebut, namun juga membuka pilihan untuk bernegosiasi lebih lanjut. Hari ini ada data PMI di sektor jasa
Poundsterling berlanjut menguat terhadap mata uang dolar menjelang pertemuan moneter MPC yang akan dimulai malam ini dan baru akan berakhir esok hari. Sebelumnya GBP menguat setelah Inggris sepertinya akan mendapat pengecualian dari kenaikan tarif impor AS, meskipun bisa saja Presiden Trump berubah pikiran. Dalam pertemuan moneter MPC nanti, Bank Sentral Inggris (BOE) diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan sebanyak 25 bps. Dengan pertimbangan angka inflasi yang masih stagnan, kondisi ekonomi domestik dengan defisit neraca keuangan dan juga dampak kenaikan tarif impor AS terhadap perekonomi dunia dipastikan akan terdampak juga terhadap ekonomi di Inggris. Hari ini ada data ekonomi berupa PMI di sektor jasa.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://t.me/AGROdanaOFFICIAL
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial



