
Dolar mengalami koreksi terhadap sejumlah mata uang lainnya paska rilis data CPI di AS yang menunjukkan inflasi kembali cenderung turun sehingga mengembalikan peluang Fed untuk memangkas suku bunga sebanyak 2 kali hingga akhir tahun ini. Data CPI bulan lalu mengalami penurunan ke 0.3% yang lebih rendah dari perkiraan stagnan sama seperti periode sebelumnya 0.4%. Sedangkan Core CPI yang tidak menyertakan komponen BBM dan bahan pangan turun sesuai perkiraan ke 0.3% dari periode sebelumnya 0.4%. Sedangkan jika dibandingkan dengan data periode setahun sebelumnya CPI mengalami penurunan 3.4% dari periode sebelumnya 3.5% dan data Core CPI year-on-year juga turun 3.6% sesuai perkiraan dari periode sebelumnya 3.8%. Dengan data-data ini menghapus kekhawatiran dari data PPI sebelumnya yang cenderung mengalami kenaikan sekaligus semakin membuka peluang Fed untuk melakukan pemangkasan suku bunga acuan seperti yang diharapkan oleh pasar. Dan didukung olah data lainnya yaitu data Retail Sales yang mengalami penurunan ke 0.0% yang lebih rendah dari perkiraan 0.4% dan data periode sebelumnya juga direvisi menurun dari 0.7% menjadi hanya 0.6%. Sedangkan data Core Retail Sales yang tidak menyertakan komponen dari sektor otomotif juga mengalami penurunan tajam ke 0.2% sesuai perkiraan dari periode sebelumnya yang direvisi menurun dari 1.1% menjadi hanya 0.9%. Tingginya harga BBM menyebabkan berkurangnya anggaran belanja untuk barang lain sehingga daya beli konsumen semakin menurun. Hal ini tentu saja mendukung inflasi untuk segera semakin menurun. Ekspektasi akan langkah pemangkasan suku bunga acuan Fed pada pertemuan moneter di bulan September mendatang semakin meningkat dengan data-data ini. Sedangkan data di sektor manufaktur masih terus cenderung menurun dengan data indeks manufaktur di negara bagian New York turun dari -14.3 menjadi -15.6 yang lebih buruk dari perkiraan membaik ke -9.9. Sementara Gubernur Fed Mineapolis - Neel Kashkari semalam menegaskan kembali pandangannya bahwa ia tidak yakin akan ketatnya kebijakan moneter saat ini dan mengapa suku bunga acuan harus dipertahankan dengan mempertimbangkan inflasi. Hari ini akan dirilis laporan mingguan klaim pengangguran dan data di sektor perumahan. Selain itu juga akan dirilis data industrial production serta capacity utilization.
Yen menguat tajam dengan lebih dari 180 pips seiring dengan melemahnya mata uang dolar dari 156.548 hingga 154.682. Dengan turunnya mata uang Yen memberikan ruang bagi Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk bernafas lega dan melepas ketegangan karena tidak perlu melakukan langkah intervensi lagi untuk memperkuat mata uangnya terhadap dolar. Diperkirakan otoritas keuangan Jepang akan mempertahankan mata uang Yen dikisaran 155 saat ini. Â Data ekonomi yang dirilis pagi ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi GDP di Jepang mengalami penurunan ke -0.5% yang di bawah perkiraan hanya turun -0.3% namun data periode sebelumnya direvisi membaik dari -0.1% menjadi +0.1%. Sedangkan indeks harga dari data GDP mengalami kenaikan ke 3.6% yang di atas perkiraan 3.3% dan data periode sebelumnya juga direvisi membaik dari 3.8% menjadi 3.9%.
Euro berlanjut menguat terhadap dolar masih didukung oleh data fundamental yang positif. Data pertumbuhan ekonomi GDP di Uni Eropa naik ke 0.3% sesuai perkiraan dari kuartal sebelumnya yang direvisi menurun dari 0.0% menjadi -0.1%. Jika dibandingkan dengan data setahun sebelumnya juga meningkat ke 0.4% sesuai perkiraan dari periode sebelumnya yang hanya 0.1%. Data industrial production juga meningkat ke -1% yang sedikit lebih baik dari perkiraan naik -1.2% dari periode sebelumnya -6.3%. Dengan kondisi ekonomi yang terus meningkat dan tingkat inflasi yang sudah turun semakin mendekati target, Bank Sentral Eropa (ECB) diharapkan akan menurunkan suku bunga acuan pada pertemuan moneter di bulan Juni mendatang. Hari ini akan dirilis laporan review stabilitas keuangan dari ECB dan prakiraan ekonomi dari Komisi Eropa serta neraca perdagangan di Italia.
Poundsterling juga berlanjut menguat hingga level tertinggi dalam 2 pekan terakhir seiring dengan semakin melemahnya mata uang dolar. Setelah sebelumnya juga menguat seiring dengan data di sektor tenaga kerja yang positif dan juga berhasil keluarnya Inggris dari zona resesi meski hanya resesi ringan. Pasar memperkirakan Bank Sentral Inggris (BOE) berpeluang untuk memangkas suku bunga acuan pada pertemuan moneter di bulan Juni mendatang dengan peluang mendekati 50% dan jika masih dipertahankan maka hampir dapat dipastikan akan memangkas suku bunga acuan pada pertemuan moneter di bulan September mendatang. Hal ini sesuai dengan komentar dari Ketua ahli ekonomi Bank Sentral Inggris (BOE) - Huw Pill yang beberapa hari lalu mengatakan belum ada alasan yang cukup meyakinkan bahwa BOE mempertimbangkan memangkas suku bunga acuan di musim panas mendatang. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis.



