
Dolar berlanjut menguat terhadap mata uang lainnya, kecuali terhadap Yen seiring dengan permintaan akan aset safe haven yang masih tinggi di tengah ketidakpastian kenaikan tarif impor AS dan potensi perdamaian di Ukraina. Meskipun data fundamental ekonomi justru tidak mendukung kenaikan tersebut. Data PMI mulai mengalami perubahan arah dimana sektor manufaktur terus meningkat menjadi 51.6 yang lebih baik dari perkiraan 51.3 dan data periode sebelumnya juga direvisi membaik dari 50.1 menjadi 51.2. Sementara data PMI di sektor jasa memburuk turun di bawah ambang ekspansif 50 dengan hanya 49.7 yang jauh lebih buruk dari perkiraan naik 53.0 meskipun data periode sebelumnya juga direvisi sedikit membaik dari 52.8 menjadi 52.9. Sehingga secara komposit data PMI mengalami penurunan dari 52.9 menjadi 50.4 yang cukup jauh dari perkiraan hanya turun 52.7. Ini merupakan penurunan terendah dalam 17 bulan terakhir atau sejak September 2023 yang lalu. Dengan sektor jasa yang memberi porsi lebih besar kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini membuat kekhawatiran akan perlambatan ekonomi dengan potensi inflasi yang terus naik akan semakin mempersulit langkah moneter yang akan diambil oleh Fed nantinya. Data lain dari University of Michigan menunjukkan inflasi cenderung stagnan, namun masih tinggi 4.3% sama seperti periode sebelumnya dan Sentimen Konsumen juga menurun menjadi 64.7 yang lebih jelek dari perkiraan 67.8 sama seperti periode sebelumnya. Ini juga merupakan angka terendah dalam 15 bulan terakhir. Fokus pasar akan tertuju pada data inflasi dari sisi personal yang akan dirilis pekan ini yaitu Personal Consumption Expenditure (PCE) yang menjadi pedoman bagi Fed untuk memutuskan kebijakan moneternya. Sejumlah pejabat Fed termasuk Gubernur Fed – Adriana Kugler dan Gubernur Fed Atlanta – Raphael Bostic masih cukup optimis inflasi masih bisa turun, meski mungkin butuh waktu lebih lama dan masih memungkinkan bagi Fed untuk memangkas suku bunga acuan nantinya. Sementara itu dari agenda ekonomi Presiden Trump setelah merancang sejumlah kenaikan tarif impor yang masih akan terus dijalankan. Trump juga mencanangkan untuk memangkas sebanyak 2.3 juta pegawai federal dengan harapan akan menghemat anggaran. Meskipun belum dipastikan kapan rencana tersebut akan dijalankan. Pekan ini akan dirilis data Kepercayaan Konsumen, data pertumbuhan ekonomi GDP, data Durable Goods Order dan data PCE di penghujung pekan nanti.
Yen juga menguat hingga di bawah level 150 terhadap dolar dan juga menguat terhadap mata uang lainnya. Data inflasi CPI di Jepang terus naik meroket menjadi 4.0% lebih tinggi dari perkiraan hanya naik 3.7% dari periode sebelumnya 3.6%. Dan data Core CPI juga naik dari 3.0% menjadi 3.2% sesuai perkiraan. Dengan inflasi yang terus naik menjauh dari target 2% sangat memungkin untuk Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya. Gubernur BOJ – Kazuo Ueda mengatakan masih memungkinkan untuk terus menaikkan suku bunga acuan dalam jangka panjang dengan antisipasi meningkatkan pembelian obligasi pemerintah Jepang. Sebelumnya pejabat BOJ – Hajime Takata mengatakan BOJ perlu segera menaikkan suku bunga acuannya guna mengantisipasi kenaikan inflasi. Optimisme akan kenaikan suku bunga acuan di Jepang ini yang membuat mata uang Yen menguat selain karena permitaan akan aset safe haven yang meningkat. Meskipun kemungkinan kenaikan suku bunga acuan baru akan dilakukan paling cepat di bulan Mei dan paling lambat di bulan September mendatang. Hari ini di Jepang libur merayakan ulang tahun kaisar.
Euro sempat melemah seiring dengan data PMI yang menurun di Prancis dan hanya naik sedikit di Jerman. Dan kembali menguat seiring dengan pemilu di Jerman dimana partai konservatif CDU/CSU memenangkan mayoritas 28.7% mengalahkan partai sayap kiri AfD yang hanya mendapat 19.8%. Keberhasilan partai CDU/CSU memberikan kemudahan untuk berkoalisi dengan partai lainnya dengan visi dan misi yang sejalan dan memungkinkan untuk membentuk koalisi yang besar. Dan pasar menunggu kebijakan fiskal yang baru dari koalisi partai yang berkuasa nanti. Salah satunya pembatasan hutang yang membuat defisit dengan anggaran nasional yang hanya mencapai 1/3 dari output nasinal. Optimisme ini menjadi sentimen positif untuk mata uang Euro. Hari ini akan dirilis data inflasi CPI untuk Uni Eropa secara keseluruhan yang akan disusul dengan data pertumbuhan ekonomi GDP pada esok hari dan data lainnya termasuk nota pertemuan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) di akhir bulan lalu.
Poundsterling masih cenderung melemah terhadap dolar, meski sempat menguat pasca rilis data Retail Sales yang naik tajam menjadi 1.7% jauh lebih baik dari perkiraan hanya naik 0.4% meskipun data periode sebelumnya direvisi menurun dari -0.3% menjadi -0.6%. Namun data berikutnya yaitu data aktifitas bisnis PMI di sektor manufaktur mengalami penurunan semakin menjauh dari zona ekspansif dan di sektor jasa yang hanya naik sedikit dari periode sebelumnya membuat reaksi pasar menjadi negatif. Terlebih dengan komponen tenaga kerja dari data ini menunjukkan terjadinya pengurangan yang cukup signifikan. Pekan ini tidak banyak data akan dirilis di Inggris, namun sejumlah pejabat Bank Sentral Inggris (BOE) dijadwalkan akan memberikan pidato yang diharapkan akan memberikan sinyal langkah moneter yang akan diambil oleh BOE di kemudian hari.
Temukan informasi lainnya di kanal resmi Agrodana Futures:



