
Dolar kembali bergerak menguat terhadap sejumlah mata uang lainnya masih dengan pengecualian terhadap Yen seiring dengan kekhawatiran akan meningkatnya geopolitik di Timur Tengah paska terbunuhnya pimpinan Hamas - Ismail Haniyeh di Teheran Iran. Peristiwa tersebut dikhawatirkan akan menyulut ketegangan lebih lanjut dan menghentikan anjuran gencatan senjata dari beberapa pihak penengah. Dikala ketegangan geopolitik meningkat mata uang dolar menjadi pengalihan aset safe haven karena menjadi komoditas paling likuid. Meskipun fundamental ekonomi di AS sebenarnya tidak mendukung penguatan tersebut. Data ekonomi dari sektor tenaga kerja berupa klaim pengangguran meningkat ke level tertinggi dalam 11 bulan terakhir dari 235K menjadi 249K yang lebih tinggi dari perkiraan hanya naik 236K. Menjadikan rata-rata 4 pekan angka klaim pengangguran meningkat dari 235.5K menjadi 238K. Meskipun data PHK dari Challenger menunjukkan penurunan dari 19.8% menjadi hanya 9.2%. Namun data ini dipatahkan oleh data PMI sektor manufaktur dari ISM yang menunjukkan penurunan tajam dari 48.5 menjadi 46.8 yang jauh lebih buruk dari perkiraan meningkat 48.8. Ini juga menjadi level terendah sejak November tahun lalu yang mengindikasikan sektor ini masih dalam zona kontraksi dan semakin menjauh dari ambang batas 50 ekspansif. Meskipun sektor ini hanya menyumbang 10% perekonomian secara keseluruhan dibandingkan dengan sektor jasa yang hampir mencapai 3/4 pertumbuhan ekonomi di AS. Komponen tenaga kerja dari data ISM di atas juga menunjukkan tanda-tanda pelambatan dari 49.3% menjadi 43.4% atau turun -5.9%. Perhatian pasar selanjutnya adalah data Non-Farm Payroll yang akan dirilis malam ini dengan perkiraan mengalami penurunan dari 206K menjadi 175K. Angka di bawah 200K dianggap mengalami perlambatan sedangkan di atas angka tersebut dianggap sebagai pertumbuhan. Di saat yang sama juga akan dirilis data Tingkat Pengangguran dan Upah rata-rata keduanya diperkirakan masih stabil di angka seperti periode sebelumnya.
Yen masih terus menguat terhadap dolar seiring dengan peralihan kebijakan moneter dari Bank Sentral Jepang (BOJ) dengan mulai agresif menaikkan suku bunga acuannya. BOJ pada pertemuan moneter di hari Rabu lalu menaikkan suku bunga acuan untuk kedua kalinya dalam jangka waktu yang tidak lama setelah mengakhiri kebijakan ultra longgarnya pada Maret lalu. Dan BOJ masih membuka peluang untuk kenaikan suku bunga acuan berikutnya jika memang diperlukan. Langkah ini diikuti dengan program tapering dengan memangkas anggaran pembelian obligasi senilai ¥400 miliar per kuartal hingga Maret 2026 mendatang hingga hanya mencapai ¥3 triliun. Sementara itu kebijakan baku pemerintah Jepang untuk melakukan intervensi masih akan tetap dijalankan untuk menjaga nilai tukar jika pergerakan mata uang Yen di pasar mengalami hal yang tidak wajar. Data PMI di sektor manufaktur di Jepang sedikit mengalami penurunan menjadi 49.1 yang lebih rendah dari perkiraan stabil sama seperti periode sebelumnya 49.2. Sementara data anggaran belanja BOJ menunjukkan terjadinya peningkatan cukup tajam dari 0.6% menjadi 1.0% yang lebih tinggi dari perkiraan 0.9%. Hal ini masih dianggap wajar karena BOJ bulan lalu belum melaksanakan program tapering seperti yang disebut diatas.
Euro sedikit terkoreksi terhadap mata uang dolar seiring dengan data tenaga kerja yang menunjukkan perlambatan di sektor ini. Data tingkat pengangguran di Uni Eropa mengalami peningkatan menjadi 6.5% yang sedikit di atas perkiraan stabil sama seperti periode sebelumnya 6.4%. Data PMI sektor manufaktur tidak cukup menahan pelamahan mata uang Euro. Data PMI sektor manufaktur meningkat menjadi 45.8 yang melampaui perkiraan stabil sama seperti periode sebelumnya 45.6. Sedangkan Bank Sentral Eropa (ECB) dalam buletin ekonomi menyebutkan kekhawatiran akan tekanan inflasi masih cukup tinggi terutama di sektor jasa. Hari ini akan dirilis data Industrial Production di Prancis dan Italia serta data pengangguran di Spanyol.
Poundsterling melemah tajam terhadap dolar paska pertemuan moneter Bank Sentral Inggris (BOE) yang memutuskan untuk memangkas suku bunga acuannya sebanyak 25 bps dari 5.25% menjadi 5.00%. Ini merupkan penurunan suku bunga acuan pertama kali sejak Maret 2020 lalu di saat pendemik bermula. Keputusan tersebut diambil dengan hasil voting yang ketat 5 banding 4 yang menunjukkan pejabat BOE masih terpecah dalam 2 kubu menanggapi inflasi yang terjadi di Inggris saat ini. Didukung oleh prospek ekonomi yang lebih baik dengan pemerintahan baru di bawah Perdana Menteri - Keir Starmer yang menang di awal bulan lalu. Meski sudah menurunkan suku bunga acuannya, BOE akan bersikap lebih berhati-hati untuk meneruskan penurunan suku bunga acuan berikutnya. Dalam konferensi pers Gubernur BOE - Andrew Bailey mengatakan BOE harus memastikan inflasi tetap rendah dan bersikap hati-hati untuk tidak memangkas suku bunga terlalu cepat dan terlalu banyak. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis.
Cek info lain di
https://agrodana-futures.com/
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial



