Dolar masih terus melemah terhadap sejumlah mata uang lainnya menyusul kekhawatiran akan potensi resesi di AS meskipun data di sektor jasa yang dirilis semalam tidak membuktikan hal tersebut. Selain itu komentar dari pejabat Fed juga menyatakan data di sektor tenaga kerja yang dirilis Jumat lalu tidak serta merta menunjukkan tanda-tanda resesi. Kekhawatiran akan terjadi resesi di AS muncul setelah data sektor tenaga kerja Non-Farm Payroll yang dirilis hari Jumat lalu menunjukkan penurunan tajam ditambah dengan sejumlah laporan pendapatan dari banyak emiten saham blue chip yang meleset dari perkiraan serta melambatnya ekonomi di China akan menyebabkan permintaan global ikut menurun. Namun data PMI sektor jasa di AS yang dirilis semalam menunjukkan rebound dari level terendahnya dalam 4 tahun terakhir di bulan Juli lalu dari 48.8 menjadi 51.4 yang melampaui perkiraan hanya naik 51.1. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya permintaan dan komponen tenaga kerja naik cukup signifikan dari 46.1% menjadi 51.1% atau naik 5%. Sedangkan sektor jasa memberikan kontribusi sebanyak 2/3 dari seluruh aktifitas ekonomi di AS. Sementara itu Gubernur Fed Chicago - Austan Goolsbee semalam mengatakan data sektor tenaga kerja memang menurun namun belum menandakan akan terjadi resesi. Karena pertumbuhan ekonomi masih positif menyinggung data GDP yang dirilis beberapa waktu lalu memang terus meningkat. Sementara Gubernur Fed San Fransisco - Mary Daly di tempat berbeda mengatakan sangat terbuka untuk memangkas suku bunga acuan pada pertemuan moneter berikutnya. Perihal data di sektor tenaga kerja, Daly mengatakan menurunnya data tersebut dikarenakan dampak dari badai yang terjadi beberapa waktu lalu dan perlu melihat data sektor tenaga kerja berikutnya untuk memastikan apakah data tersebut benar-benar mencerminkan kondisi sebenarnya atau hanya temporer. Meski demikian ekspektasi pasar masih memperkirakan Fed akan memangkas suku bunga acuan dengan langkah agresif dengan menurunkan 50 bps pada pertemuan moneter di bulan September mendatang dengan spekulasi mendekati 100% menurut CME FedWatch Tool. Hari ini akan dirilis data Neraca Perdagangan dan Optimisme Ekonomi dari RCM/TIPP.
Yen terus menguat terhadap dolar hingga level terendah dalam 7 bulan terakhir seiring dengan kekhawatiran akan resesi di AS dan peluang langkah moneter Fed yang lebih agresif pada pertemuan moneter mendatang. Selain karena Bank Sentral Jepang (BOJ) sendiri yang lebih agresif dengan pertimbangan lebih berat pada inflasi yang berbeda dari kebiasaan moneter sebelumnya yang orthodox dengan mempertahankan suku bunga rendah. Sehingga mempersempit ruang bagi pelaku carry trade yang membuat gejolak mata uang Yen menjadi tidak terkendali. Menteri Keuangan juga masih memantau pergerakan mata uang Yen dan tetap mempertahankan kebijakan intervensi jika memang diperlukan. Selain pergerakan mata uang, Kementrian keuangan juga mulai memantau pergerakan bursa saham setelah indeks Nikkei hari Senin kemarin merosot tajam hingga menyentuh level terendah dalam 7 bulan terakhir dengan turun 13% dengan penurunan terbanyak sejak peristiwa Black Monday di tahun 1987 yang lalu. Data ekonomi yang dirilis pagi ini menunjukkan kenaikan upah riil sebanyak 4.5% yang jauh lebih baik dari perkiraan 2.5% dan data periode sebelumnya juga direvisi membaik dari 1.9% menjadi 2.0%.
Euro berlanjut menguat terhadap dolar meskipun kekhawatiran akan resesi di AS sudah sedikit mereda. Meski demikian ekspektasi akan langkah Fed yang agresif tidak berubah begitu pula dengan ekspektasi langkah moneter Bank Sentral Eropa (ECB) juga masih sama. Fundamental ekonomi relatif masih stabil dengan data PMI di sektor jasa masih sama seperti periode sebelumnya 51.9 sesuai perkiraan. Namun kepercayaan konsumen mengalami penurunan cukup tajam dari -7.3 menjadi -13.9 yang meleset dari perkiraan meningkat -5.5. Sedangkan data inflasi dari sisi produsen PPI juga meningkat dari -0.2% menjadi +0.5% yang lebih tinggi dari perkiraan hanya naik +0.1%. Data ini menunjukkan masih adanya potensi kenaikan inflasi walau ECB sudah mulai memangkas suku bunga acuan pada bulan Juni lalu dan tetap mempertahankannya pada pertemuan moneter di bulan lalu. Hari ini akan dirilis data Retail Sales, Factory Order di Jerman dan data upah di Prancis.
Poundsterling mengalami koreksi terhadap dolar setelah sempat menguat sehari sebelumnya seiring dengan pasar mulai mencerna langkah Bank Sentral Inggris (BOE) yang memangkas suku bunga acuannya pekan lalu. BOE memutuskan untuk memangkas suku bunga acuannya sebanyak 25 bps dari 5.25% menjadi 5.00% dengan hasil voting suara yang ketat 5 banding 4 yang menunjukkan pejabat BOE masih terpecah dalam 2 kubu menanggapi inflasi yang terjadi di Inggris saat ini. Ini merupakan penurunan suku bunga acuan pertama kali sejak Maret 2020 lalu di saat pendemik bermula dan BOE tidak akan terburu-buru untuk melanjutkan pemangkasan dalam waktu dekat ini. Dalam konferensi pers Gubernur BOE - Andrew Bailey mengatakan BOE harus memastikan inflasi tetap rendah dan bersikap hati-hati untuk tidak memangkas suku bunga terlalu cepat dan terlalu banyak. Ketua ahli ekonomi BOE - Huw Pill juga mengatakan hal senada dengan pernyataan perang melawan inflasi masih belum berakhir dan suku bunga tidak akan turun lagi dalam waktu dekat ini. Data PMI di sektor jasa yang dirilis semalam hanya mengalami sedikit kenaikan menjadi 52.5 dari perkiraan stabil sama seperti periode sebelumnya 52.4. Sedangkan data Retail Sales Monitor dari BRC juga meningkat 0.3% sesuai perkiraan dari periode sebelumnya -0.5%. Hari ini ada data PMI di sektor konstruksi.
Cek info lain di
https://agrodana-futures.com/
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial



