
Dolar berlanjut terkoreksi terhadap mata uang lainnya setelah data inflasi CPI di AS yang agak meleset dari perkiraan. Meski data CPI bulan Desember mengalami kenaikan dari 0.3% menjadi 0.4% sesuai perkiraan, begitu pula jika dibandingkan dengan periode setahun sebelumnya mengalami kenaikan dari 3.0% menjadi 3.3% sesuai perkiraan. Namun data Core CPI yang tidak menyertakan bbm dan bahan pangan justru mengalami penurunan ke 0.2% meleset dari perkiraan stabil 0.3% sama seperti periode sebelumnya. Walaupun jika dibandingkan dengan periode setahun sebelumnya masih relatif naik dari 2.7% menjadi 2.9% sesuai perkiraan. Data CPI yang sedikit menurun didukung dengan data PPI yang sudah dirilis sehari sebelumnya membuat kekhawatiran akan inflasi semakin meningkat menjadi sedikit berkurang dan membuka lagi kemungkinan bagi Fed untuk menjalankan pemangkasan suku bunga acuan sesuai dengan proyeksi sebanyak 2 kali di tahun ini. Hal ini sejalan dengan komentar dari Gubernur Fed Kansas City – Jeffrey Schmid sehari sebelumnya yang masih optimis dengan mengatakan inflasi semakin mendekati target dan pertumbuhan ekonomi menunjukkan momentum dimana kebijakan moneter sudah mendekati netral. Meski demikian potensi ancaman inflasi masih ada yang akan datang pekan depan pasca pelantikan Donald Trump untuk menjadi Presiden AS untuk kedua kalinya. Agenda ekonomi berupa pengurangan pajak dan kenaikan tarif impor serta aturan imigrasi yang lebih ketat diperkirakan akan memicu inflasi kembali meningkat. Sedangkan perkiraan akan langkah moneter Fed pada pertemuan moneter FOMC pada 2 pekan mendatang masih akan mempertahankan suku bunga acuannya dengan peluang yang hanya menurun sedikit dari 97.9% menjadi 97.3% dan peluang untuk menurunkan bertambah dari 2.1% menjadi 2.7% menurut CME Fedwatch Tools. Selain data inflasi, dolar juga tertekan oleh data indeks manufaktur di negara bagian New York yang turun drastis dari 0.2 menjadi -12.6 yang jauh di bawah perkiraan meningkat 2.7. Sedangkan secara umum aktifitas ekonomi di AS sedikit meningkat dengan laju yang moderat di 12 negara bagian di AS menurut laporan Beige Book dari Fed. Hari ini akan dirilis data dari sektor tenaga kerja lainnya berupa laporan klaim pengangguran dan juga data Retail Sales serta indeks manufaktur di negara bagian Philadelphia.
Yen masih terus menguat tidak saja karena mata uang dolar yang terkoreksi, namun juga karena prospek kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Jepang (BOJ). Dan semakin menjauh dari level psikologi 160 yang sudah didekati beberapa hari sebelumnya. Gubernur Kazuo Ueda kemarin mengatakan BOJ akan menaikkan suku bunga acuan dan menyesuaikan dukungan moneter jika pertumbuhan ekonomi dan inflasi terus berlanjut naik. Merujuk pada data di sektor tenaga kerja berupa upah yang juga sudah dirilis Senin lalu yang naik hingga level tertinggi dalam lebih dari 3 dekade terakhir berpotensi mendorong naik inflasi. Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Gubernur BOJ - Ryozo Himino yang belum lama ini mengatakan peluang kenaikan suku bunga acuan terbuka lebar pada pertemuan moneter BOJ pada 24 Januari yang akan datang. Belum lagi potensi inflasi akibat diberlakukannya kenaikan tarif impor oleh AS semakin memperkuat peluang BOJ tersebut. Data ekonomi berupa machinery order juga meningkat tajam dari 3.0% menjadi 11.2%. Sedangkan data inflasi dari sisi produsen PPI year-on-year masih stabil 3.8% sesuai perkiraan sama seperti periode sebelumnya.
Euro juga sempat naik seiring dengan mata uang dolar yang terkoreksi sebelum akhirnya turun saat penutupan. Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih dan potensi inflasi kembali naik karena kenaikan tarif impor dari AS masih menjadi sentimen negatif. Uni Eropa merupakan salah satu target utama dari Presiden Trump terkait dengan tidak seimbangnya neraca perdagangan yang dinilai menguntungkan Uni Eropa. Sehingga kemungkinan besar Uni Eropa akan menerima kenaikan tarif impor yang premium dibandingkan dengan mitra dagang AS lainnya. Ditambah dengan semakin tingginya harga minyak dunia membuat daya saing dan daya beli semakin menurun karena ketergantungan terhadap sumber energi dari negara lain. Sehingga membuat Bank Sentral Eropa (ECB) mengharuskan untuk kembali memangkas suku bunga acuannya guna memicu pertumbuhan ekonomi. Belum lagi kondisi politik di Jerman dan Prancis yang labil masih menjadi sentimen negatif. Hari ini akan dirilis data inflasi CPI di Jerman dan juga nota pertemuan moneter ECB bulan lalu.
Poundsterling juga menguat terhadap dolar seiring dengan data inflasi yang mengalami penurunan ke level yang lebih rendah dari perkiraan. Dengan inflasi CPI year-on-year turun 2.5% dari perkiraan stagnan dari periode sebelumnya 2.6%. Begitu pula dengan data Core CPI year-on-year turun dari 3.5% menjadi 3.2% yang lebih rendah dari perkiraan hanya turun 3.4%. Kedua data tersebut akan mempersempit peluang perlunya Bank Sentral Inggris (BOE). Hari ini akan dirilis data pertumbuhan ekonomi GDP dan sejumlah data lainnya.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://t.me/AGROdanaOFFICIAL
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial



