Dolar kembali menguat terhadap sejumlah mata uang lainnya seiring dengan langkah Bank Sentral Swiss (SNB) yang memangkas suku bunga acuannya serta peluang Fed menahan suku bunga acuannya kembali meningkat. Sementara Bank Sentral Inggris (BOE) dan Bank Sentral Norwegia (NorgesBank) keduanya kemarin masih mempertahankan suku bunga acuannya. Sesuai perkiraan SNB kemarin menurunkan kembali suku bunga acuannya sebanyak 25 bps dari 1.50% menjadi 1.25%. Ini merupakan pemangkasan 2 kali berturut-turut menyusul pemangkasan yang sama pada pertemuan moneter sebelumnya. Inflasi di Swiss sendiri cukup jauh di bawah 2% meski bulan lalu mengalami kenaikan dari 1.25% menjadi 1.40%. Mata uang Swiss Franc melemah terhadap dolar hingga level terendah dalam 3 bulan terakhir paska keputusan SNB menurunkan kembali suku bunga tersebut. Sementara itu fundamental ekonomi di AS yang masih kuat semakin mengurangi peluang Fed memangkas suku bunga acuannya. Data di sektor tenaga kerja menunjukkan ekonomi di AS relatif masih cukup kuat meski perlahan mulai turun. Laporan mingguan klaim pengangguran mengalami hanya bertambah 238K walau lebih tinggi dari perkiraan 235K namun masih lebih rendah dari periode sebelumnya yang juga direvisi naik dari 242K menjadi 243K. Sedangkan data di sektor perumahan juga perlahan mulai menurun. Laju penurunan aktifitas ekonomi yang lebih lambat mengakibatkan turunnya inflasi juga menjadi lebih lambat sehingga Fed perlu lebih lama untuk mempertahankan suku bunga acuannya. Semalam Gubernur Fed Minneapolis - Neel Kashkari mengatakan meski ekonomi di AS relatif masih kuat namun ada tanda-tanda mulai turun. Sedangkan Gubernur Fed Richmod - Thomas Barkin juga menegaskan bahwa Fed hanya akan menurunkan suku bunga acuan jika inflasi sudah positif memberikan sinyal untuk turun. Ekspektasi akan pemangkasan suku bunga acuan pada pertemuan moneter FOMC di bulan September kembali turun menjadi 57.9% dari sebelumnya 61.1% menurut CME's FedWatch tool. Meski demikian kondisi ekonomi di AS ini masih lebih baik dibandingkan dengan fundamental ekonomi di wilayah lain sehingga menjadi sentimen positif untuk mata uang dolar. Ditambah dengan ketidakpastian politik di Eropa dan geopolitk di TImur Tengah semakin menjadikan mata uang dolar sebagai safe haven. Data ekonomi hari ini yang akan dirilis berupa data Purchasing Manager Index (PMI) baik dari sektor manufaktur maupun jasa yang diperkirakan masih dalam zona ekspansif di atas ambang 50 yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang sehat.
Yen masih cenderung melemah hingga level tertinggi sejak 29 April lalu seiring dengan penguatan mata uang dolar. Meskipun otoritas keuangan Jepang kembali menyuarakan peluang untuk melakukan intervensi seperti yang dilakukan pada bulan April lalu. Wakil Menteri Keuangan urusan Hubungan Internasional - Masato Kanda kemarin dalam sebuah wawancara mengatakan Bank Sentral Jepang (BOJ) memiliki dana tidak terbatas untuk melakukan intervensi. Sebelumnya Gubernur BOJ - Kazuo Ueda juga mengatakan terbukanya peluang untuk menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan moneter di bulan Juli mendatang. Yang tidak mendapat respon oleh pasar karena inflasi di Jepang yang mengarah ke stagflasi sehingga kenaikan suku bunga acuan dirasa tidak akan efektif. Sebelumnya pasar juga kecewa karena pada pertemuan moneter pekan lalu BOJ tidak memberikan kejelasan akan rencana pengurangan neraca keuanganya yang masif saat ini lebih rinci dengan mengurangi pembelian harian obligasi pemerintah. Hari ini akan dirilis data inflasi dan data PMI di sektor manufaktur.
Euro juga cederung turun terhadap dolar meski sedikit tertahan oleh penguatan terhadap mata uang Yen dan Swiss Franc. Dengan inflasi yang diperkirakan akan semakin menurun setelah data inflasi dari sisi produsen PPI di Jerman yang mengalami penurunan dari 0.2% menjadi 0.0% yang lebih rendah dari perkiraan hanya turun 0.1%. Dengan inflasi yang semakin menurun maka terbuka peluang bagi Bank Sentral Eropa (ECB) untuk melanjutkan langkah pemangkasan suku bunga acuan berikutnya menyusul Bank Sentral Swiss (SNB) kemarin. Sementara Kepercayaan Konsumen masih stabil di angka -14 sesuai perkiraan sama seperti periode sebelumnya. Hari ini akan dirilis data PMI di sektor manufaktur dan jasa.
Poundsterling melemah terhadap dolar hingga level terendah dalam 5 pekan terakhir setelah Bank Sentral Inggris (BOE) sesuai perkiraan tetap mempertahankan suku bunga acuannya paska pertemuan moneter mereka kemarin. Dengan hasil voting 7-2 dengan 2 pejabat BOE memilih untuk memangkas suku bunga acuannya. Formasi ini masih sama seperti hasil voting pada pertemuan moneter sebelumnya. Dengan Wakil Gubernur - Dave Ramsden dan anggota voting eksternal MPC - Swati Dhingra menjadi 2 suara pendukung pemangkasan suku bunga acuan. Dengan hasil voting tersebut maka keputusan mempertahankan suku bunga acuan telah menjadi kesepakatan bersama. Meskipun data inflasi yang dirilis sehari sebelumnya menunjukkan tekanan inflasi sudah semakin menurun dan mencapai target 2%. Yang masih menjadi kekhawatiran pejabat BOE adalah masih adanya ancaman inflasi dari pertumbuhan ekonomi di sektor jasa. Gubernur BOE - Andrew Bailey dalam konferensi pers juga berubah menjadi pesimis dengan mengatakan harus dipastikan inflasi tetap rendah sehingga keputusan tersebut diambil. Pernyataan kali ini sangat berbeda dengan pernyataan pada pertemuan moneter sebelumnya yang optimis inflasi akan terus turun dan memungkinkan untuk memangkas suku bunga acuan. Hari ini akan dirilis data Retail Sales, Kepercayaan Konsumen, data PMI di sektor manufaktur dan jasa serta data Hutang Sektor Publik.



