
Dolar berlanjut menguat seiring dengan eskalasi geopolitik antara Rusia dengan pihak barat dan juga data di sektor tenaga kerja yang masih solid. Setelah 2 kali Ukraina meluncurkan rudal buatan AS dan Inggris menembus wilayahnya, Rusia melakukan serangan balasan dengan meluncurkan rudal yang menurut Ukraina adalah rudal balistik antarbenua (ICBM) ke wilayah Ukraina. Serangan Rusia ini ditargetkan pada perusahaan dan infrastruktur di wilayah Dnipro yang merupakan pusat industri rudal di era Uni Soviet dahulu. Presiden Putin mengatakan Rusia hanya menggunakan rudal balistik jarak menengah saja dan masih akan mengirimkan rudal yang lainnya jika terpaksa. Apapun jenis rudal yang digunakan tetap akan menjadi ancaman keamanan global dan berpotensi menguncang stabilitas ekonomi dunia jika ketegangan tersebut semakin meningkat. Kondisi ini membuat pelaku pasar mengalihkan aset beresiko mereka menjadi aset safe haven. Permintaan akan mata uang dolar, yen, swiss franc dan emas meningkat tajam. Sementara itu fundamental ekonomi di AS juga masih solid dengan laporan klaim pengangguran di AS mengalami penurunan menjadi 213K yang merupakan level terendah dalam 7 bulan terakhir dan lebih rendah dari perkiraan 224K meski data periode sebelumnya direvisi meningkat dari 217K menjadi 219K. Data ini menunjukkan mulai pulihnya sektor tenaga kerja yang berangsur membaik paska 2 badai dan aksi mogok kerja yang terjadi di bulan lalu. Jika data di sektor tenaga kerja terus membaik semestinya memberi ruang bagi Fed untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga acuan. Sementara pejabat Fed masih berbeda pendapat perihal langkah moneter yang akan diambil Fed pada pertemuan moneter di bulan Desember mendatang. Gubernur Fed – Michelle Bowman mengingatkan Fed untuk waspada dalam mengambil keputusannya karena inflasi masih di atas target Fed dan cenderung stagnan akhir-akhir ini. Gubernur Fed San Fransisco – Thomas Barkin juga mengatakan ekonomi AS masih rentan terhadap kemungkinan inflasi naik lagi dengan peluang yang lebih besar dibandingkan dari sebelumnya. Sedangkan Gubernur Fed – Lisa Cook meski tidak mengatakan secara eksplisit mendukung pemangkasan suku bunga acuan, namun masih optimis inflasi akan terus turun dilihat dari data-data di sektor perumahan yang menguat belakangan ini. Senada dengan itu, Gubernur Fed Boston - Susan Collins dan Gubernur Fed New York - John Williams keduanya masih optimis mendukung pemangkasan suku bunga acuan seiring dengan semakin berkurangnya tekanan inflasi. Agenda Trump untuk mengurangi pajak dan menaikkan tarif impor menjadi penghalang langkah Fed karena berpotensi kembali ke inflasi tinggi. Trump belum juga mengumumkan siapa yang akan menjadi menteri keuangan dan menteri perdagangan dalam kabinetnya nanti. Sedangkan bitcoin terus menguat menuju $100.000 oleh euforia atas kemenangan Trump yang menjanjikan akan menjadikan AS sebagai ibukota cryptocurrency. Hari ini akan dirilis data PMI di sektor manufaktur dan jasa serta hasil survey dari University of Michigan perihal sentimen konsumen dan ekspektasi inflasi.
Yen kembali menguat terhadap dolar seiring dengan data inflasi yang mendukung langkah Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk kembali menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat ini. Data inflasi di Jepang masih di atas 2% yaitu 2.3% yang lebih tinggi dari perkiraan 2.2% meski periode sebelumnya lebih tinggi lagi 2.5%. Dengan inflasi yang terus tertahan di atas 2%, selaras dengan rencana BOJ untuk kembali menaikkan suku bunga acuan seperti yang diungkapkan Gubernur BOJ - Kazuo Ueda dalam 2 kesempatan pidato terakhir kemarin. Selain itu pemerintah Jepang juga sedang mempertimbangkan stimulus ekonomi termasuk dengan upah. Jika disetujui maka stimulus ini juga berpotensi menaikkan angka inflasi selain dari agenda kenaikan tarif dari AS tahun depan.
Euro berlanjut melemah selain karena permintaan aset safe haven yang meningkat, namun juga karena hampir dapat dipastikan Bank Sentral Eropa (ECB) akan kembali menurunkan suku bunga acuannya. Tekanan untuk hal tersebut semakin meningkat dan datang dari pejabat ECB sendiri. Semalam giliran Gubernur Bank Sentral Prancis - Francois Villeroy de Galhau yang masih percaya inflasi di Eropa tidak akan banyak berubah setelah Trump menjadi presiden AS nanti. Ini bisa artinya ECB dapat melanjutkan pelonggaran moneter tanpa memperdulikan inflasi dalam waktu dekat ini. Sementara kekhawatiran akan agenda ekonomi Trump karena berpotensi akan menahan pertumbuhan ekonomi di Uni Eropa menjadi negatif. Data ekonomi berupa kepercayaan konsumen di Uni Eropa juga semakin menurun menjadi -14 dari perkiraan stabil sama seperti periode sebelumnya -13. Hari ini akan dirilis data pertumbuhan ekonomi GDP di Jerman dan data PMI.
Poundsterling juga masih cenderung melemah karena penguatan mata uang dolar. Selain itu juga karena sentimen negatif dari data ekonomi di Inggris yang memburuk. Data Hutang sektor publik meningkat 17.4B jauh melampaui perkiraan 13.0B. Meski data periode sebelumnya direvisi sedikit membaik dari 16.6B menjadi 16.1B. Ini akan berakibat pada defisit anggaran yang akan mempengaruhi kemampuan pemerintah untuk membangun infrastruktur. Hari ini akan dirilis data Retail Sales dengan perkiraan menurun sehingga kemungkinan GBP akan semakin terpuruk.
Cek info lain di:



