Dolar masih berlanjut menguat terhadap mata uang lainnya kecuali terhadap Yen seiring dengan kekhawatiran akan eskalasi ketegangan perang dagang yang semakin memanas akibat agenda kenaikan tarif impor AS. Setelah AS menaikkan tarif impor produk logam dan aluminum sebanyak 25% pada hari Rabu lalu, Uni Eropa membalas dengan rencana kenaikan tarif impor produk-produk dari AS senilai $28 juta pada bulan depan. Trump membalas lagi dengan berencana mengenakan kenaikan tarif impor produk miras dari Eropa sebanyak 200%. Dengan saling serang dengan kenaikan tarif ini membuat potensi akan terjadinya pelambatan ekonomi dan kenaikan inflasi global semakin meningkat. Jika hal ini semakin berlanjut dengan saling serang dengan mitra dagang AS lainnya, bukan tidak mungkin akan mengarah pada ancaman terjadinya resesi. Hal ini membuat investor mengalihkan asetnya kepada instrumen safe haven yaitu dolar, yen dan emas. Sementara itu data inflasi dari sisi produsen PPI yang dirilis semalam juga sama menunjukkan penurunan dari 0.6% menjadi 0.0% yang lebih rendah dari perkiraan turun 0.3% dibandingkan bulan sebelumnya. Dengan data Core PPI turun menjadi -0.1% yang jauh lebih rendah dari perkiraan stagnan sama seperti periode sebelumnya 0.3%. Dan jika dibandingkan dengan data yang sama setahun sebelumnya, PPI mengalami penurunan dari 3.7% menjadi 3.2% yang juga lebih redah dari perkiraan turun 3.3%. Dengan data Core PPI mengalami penurunan dari 3.4% menjadi 3.2 yang lebih rendah dari perkiraan turun 3.3%. Sedangkan data inflasi CPI yang turun sehari sebelumnya tidak terlalu mendapat respon dari pasar karena seperti halnya data PPI kali ini belum sepenuhnya mencakup dampak dari kenaikan tarif impor yang baru akan berlaku pada 2 April mendatang. Data lain berupa laporan mingguan klaim pengangguran mengalami penurunan dari 222K menjadi 220K terbalik dari perkiraan meningkat. Hal ini menunjukkan sektor tenaga kerja masih cukup positif di AS. Namun rencana pengurangan pegawai Federal dari kebijakan dari Departemen Efisiensi Pemerintahan di bawah Elon Musk berpotensi akan meningkatkan data ini dalam bulan-bulan mendatang. Hari ini ada data University of Michigan berupa data preliminary ekspektasi inflasi dan sentimen konsumen.
Yen rebound terhadap dolar seiring dengan meningkatnya permintaan akan aset safe haven di tengah kekhawatiran akan potensi terjadinya resesi yang meningkat. Ketegangan akan agenda kenaikan tarif Presiden Trump menjadi sumber kekhawatiran utama karena akan menyebabkan pelambatan ekonomi dan kenaikan inflasi lagi secara global. Tidak adanya indikasi akan melunak maupun negosiasi dari ketegangan tersebut membuat investor menjadi semakin khawatir. Prospek akan kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Jepang (BOJ) juga menjadi sentimen positif terhadap mata uang Yen. Pertemuan moneter BOJ dijadwalkan pekan depan dengan agenda masih akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya untuk sementara waktu sembari mengawasi dampak dari agenda kenaikan tarif impor AS. Hampir 2/3 dari analis pasar memperkirakan BOJ masih akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak 25 bps pada kuartal ketiga mendatang.
Euro terus tertekan terhadap dolar seiring dengan kenaikan tarif yang dikenakan oleh Presiden AS yang semakin mengkhawatirkan. Setelah menaikkan tarif impor produk logam dan aluminium, Presiden Trump kembali mengincar kenaikan tarif produk miras dari Uni Eropa dengan kenaikan yang lebih fantastis sebanyak 200%. Agenda ini dipercaya akan membuat ekonomi global akan melambat dan inflasi akan kembali naik sehingga berpotensi terpicu menjadi resesi yang lebih luas lagi. Di tengah kondisi fundamental ekonomi yang belum pulih saat ini, membuat posisi Uni Eropa semakin tertekan. Sementara itu rancangan anggaran pemerintahan baru Jerman senilai €500 juta unutuk pertahanan dan infrastruktur akan dibahas hari ini di parlemen. Sebelumnya Partai Hijau bersumpah akan mengganti rencana ini dengan rancangan yang baru. Masih belum pasti apakah anggaran tersebut akan disetujui ataukah tidak sementara belum ada rancangan cadangan yang dibuat jika rencana tersebut gagal disetujui. Hari ini ada data inflasi CPI di Jerman.
Poundsterling juga masih cenderung melemah terhadap dolar menjelang rilis data pertumbuhan ekonomi GDP yang akan dirilis malam ini. Diperkirakan GDP mengalami penurunan dari 0.4% menjadi hanya 0.1%. Sedangkan data GDP yang sama dari NIESR masih tidak ada perkiraan. Selain itu juga ada data Industrial/Manufaktur Production dan juga Ekspektasi inflasi dari Konsumen di Inggris. Dengan data fundamental ekonomi yang cenderung menurun, membuat perkiraan Bank Sentral Inggris (BOE) masih akan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan moneter yang dijadwalkan pekan depan.
Cek informasi lainnya di kanal resmi Agrodana Futures



