Dolar rebound terhadap mata uang lainnya seiring dengan data ekonomi di sektor tenaga kerja maupun di sektor jasa di AS yang relatif membaik mendukung langkah Fed untuk tidak terburu-buru untuk memangkas suku bunga acuan lebih lanjut. Data tersedianya lowongan kerja dari JOLTS meningkat 8.10M yang lebih baik dari perkiraan 7.73M dan data periode sebelumnya juga direvisi membaik dari 7.74 menjadi 7.84M. Data ini menandakan perusahaan di AS masih melakukan rekrutmen karena optimisme menyambut agenda ekonomi dari Trump yang tidak lama lagi akan dilantik menjadi presiden AS untuk kedua kalinya. Selain itu data PMI dari ISM di sektor jasa juga meningkat dari 52.1 menjadi 54.1 yang lebih baik dari perkiraan hanya naik 53.5 juga menunjukkan sektor ini masih terus ekspansif semakin menjauh dari ambang batas 50. Data-data tersebut menunjukkan bahwa aktifitas ekonomi di AS masih cukup solid sehingga Fed tidak perlu khawatir dengan menurunkan suku bunga acuan lebih lanjut. Sehari sebelumnya Gubernur Fed - Lisa Cook juga memberikan saran bahwa Fed perlu lebih berhati-hati untuk kembali memangkas suku bunga acuan, mengacu pada potensi inflasi yang akan datang. Sedangkan Gubernur Fed Richmond - Thomas Barkin dalam pidato semalam bahkan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga dengan mengatakan suku bunga saat ini sudah cukup normal jika dibandingkan dengan era suku bunga rendah sebelumnya dan Fed siap untuk menaikkan lagi jika memang diperlukan. Dengan komentar tersebut ekspektasi akan langkah Fed untuk kembali memangkas suku bunga acuan menjadi semakin berkurang dengan perkiraan hanya akan memangkas suku bunga hanya 1 kali di tahun ini. Atau lebih rendah dari proyeksi Fed pada pertemuan moneter di bulan Desember lalu sebanyak 2 kali. Pelaku pasar masih menunggu data ekonomi di sektor tenaga kerja sepanjang pekan ini dengan laporan Non-Farm Payroll di hari Jumat nanti yang paling ditunggu. Hari ini akan dirilis data penambahan terisinya lapangan kerja swasta ADP dan juga laporan mingguan klaim pengangguran.
Yen semakin melemah terhadap dolar hingga sempat menyentuh level tertinggi sejak Juli tahun lalu di 158.425. Menteri Keuangan Jepang - Katsunobu Kato kembali memberikan peringatan bahwa pergerakan mata uang Yen tidak mencerminkan fundamental ekonomi di Jepang saat ini. Komentar tersebut membuat pelaku pasar kembali menahan laju pergerakan mata uang Yen. Diperkirakan pemerintah Jepang melalui Bank Sentral Jepang (BOJ) akan melakukan intervensi jika mata uang Yen menyentuh level psikologi di angka 160 yang tidak terlalu jauh lagi dari level saat ini. Hari ini ada data Kepercayaan Konsumen di Jepang dengan perkiraan sedikit meningkat dari 36.4 menjadi 36.6.
Euro kembali melemah seiring dengan mata uang dolar yang rebound. Data ekonomi berupa inflasi di Uni Eropa mengalami kenaikan dari 2.2% menjadi 2.4% sehingga hampir dapat dipastikan Bank Sentral Eropa (ECB) akan melanjutkan pemangkasan suku bunga acuan pada pertemuan moneter mendatang. Sementara tingkat pengangguran relatif stagnan di angka 6.3% sesuai perkiraan sama seperti periode sebelumnya. Diantara mitra dagang AS, Uni Eropa merupakan yang paling rentan terhadap kenaikan tarif impor yang akan diimplementasikan setelah Trump naik jabatan nanti. Trump secara khusus menargetkan Uni Eropa untuk menyeimbangkan neraca perdagangan dengan AS yang dirasa menguntungkan sebelah pihak. Sementara fundamental ekonomi belum juga pulih sehingga ECB diharuskan kembali memangkas suku bunga guna mendongkrak perekonomian di kawasan ini. Hari ini akan dirilis data inflasi dari sisi produsen PPI dan data di Jerman berupa Retail Sales dan Factory Order.
Poundsterling sempat menyentuh level tertinggi dalam sepekan terakhir sebelum akhirnya mengalami koreksi tidak hanya karena kembali menguatnya mata uang dolar, melainkan juga data ekonomi di Inggris yang menurun, mulai dari indeks harga perumahan yang turun tajam dari 1.2% menjadi -0.2% yang jauh lebih rendah dari perkiraan hanya turun 0.8%. Data PMI di sektor konstruksi juga turun dari 55.2 menjadi 53.33 yang lebih rendah dari perkiraan hanya turun 54.3 walaupun masih di zona ekspansif di atas ambang batas 50. Bank Sentral Inggris (BOE) diperkirakan tidak lama lagi akan kembali memangkas suku bunga acuan guna mengantisipasi dampak dari kenaikan tarif impor dari AS yang berpotensi menaikkan angka inflasi, selain itu juga karena jumlah anggota voting MPC yang semakin bertambah yang memilih untuk memangkas pada pertemuan moneter di bulan Desember lalu. Ditambah dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang diturunkan semakin menambah tekanan bagi BOE untuk menurunkan suku bunga acuannya. Di antara bank sentral negara-negara maju, BOE menjadi yang paling sedikit menurunkan suku bunga acuannya karena kondisi ekonomi yang lebih baik. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://t.me/AGROdanaOFFICIAL
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial



