Dolar berlanjut menguat terhadap mata uang lainnya menyusul data inflasi dari sisi produsen (PPI) di AS yang kembali naik setelah sebelumnya data inflasi dari sisi konsumen (CPI) juga meningkat. Selain itu langkah moneter dari bank sentral di Kanada, Eropa dan Swiss yang memangkas suku bunga acuannya secara agresif membuat mata uang mereka melemah terhadap dolar. Data inflasi PPI di AS naik dari 0.3% 0.4% atau 2 kali lebih tinggi dari perkiraan turun 0.2%. Meskipun data Core PPI yang tidak menyertakan komponen BBM dan bahan pangan mengalami penurunan dari 0.3% menjadi 0.2% sesuai perkiraan. Sedangkan jika dibandingkan data yang sama setahun sebelumnya PPI juga mengalami kenaikan dari 2.6% menjadi 3.0% sesuai perkiraan dan data Core PPI juga naik dari 3.1% menjadi 3.4% yang lebih tinggi dari perkiraan hanya naik 3.2%. Meski indikator inflasi naik, tapi spekulasi akan langkah Fed untuk kembali memangkas suku bunga acuannya juga meningkat dengan peluangnya yang terus meningkat dari sehari sebelumnya 94% menjadi hampir pasti 99.9% pada pertemuan moneter pekan depan menurut CME Fed Watch Tool. Hal yang mendukung langkah Fed adalah data sektor tenaga kerja dengan laporan klaim pengangguran yang meningkat yang naik dari 225K menjadi 243K jauh lebih jelek dari perkiraan turun 220K. Sehingga rata-rata dari 4 pekan terakhir terjadi kenaikan dari 218.50K menjadi 224.25K. Sektor tenaga kerja sebelumnya juga mulai melambat dengan tingkat pengangguran yang meningkat membuat Fed waspada agar tidak menjadi penghalang pertumbuhan ekonomi yang lebih luas. Bank Sentral Eropa (ECB) kemarin sesuai perkiraan memangkas suku bunga acuan sebanyak 25 bps dan Bank Sentral Swiss (SNB) mengikuti langkah Bank Sentral Kanada (BOC) sehari sebelumnya dengan pemangkasan jumbo yang lebih agresif sebanyak 50 bps dan masih terbuka kemungkinan untuk pemangkasan selanjutnya pada pertemuan moneter berikutnya. Kecenderungan suku bunga acuan yang menurun seiring dengan inflasi yang sudah turun mendekati target dan kemungkinan antisipasi potensi kenaikan inflasi berikutnya menyusul agenda ekonomi di bawah kepemimpinan Presiden Trump yang akan datang. Hari ini tidak ada data penting dan fokus pasar akan tertuju pada pertemuan moneter FOMC pekan depan.
Yen ikut melemah seiring dengan penguatan mata uang dolar dan menurunnya ekspektasi akan langkah Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya. Sejumlah media melaporkan BOJ kemungkinan akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan moneter pekan depan. Dengan pertimbangan pejabat BOJ akan mengevaluasi perkembangan ekonomi global paska pergantian Presiden AS dan juga tingkat upah yang diperkirakan akan berubah mulai tahun depan. Sehari sebelumnya dalam wawancara dengan Bloomberg seorang pejabat BOJ mengatakan tidak ada resiko yang berarti jika BOJ menunda kenaikan suku bunga pada pertemuan moneter nanti. Dan pilihan untuk penundaan ini sepertinya hal yang lebih masuk akal dibandingkan dengan memaksakan kenaikan suku bunga acuan. Hari ini ada data industrial production dan Capacity Utilization.
Euro semakin terpuruk terhadap dolar setelah Bank Sentral Eropa (ECB) memangkas suku bunga acuan untuk ke-4 kalinya kemarin dengan pemangkasan sebanyak 25 bps sesuai perkiraan. Dalam konferensi pers, Presiden ECB - Christine Lagarde juga menyatakan masih terbuka kemungkinan untuk terus memangkas suku bunga selanjutnya seiring dengan inflasi yang sudah mendekati target dan kondisi ekonomi yang melambat. Euro juga mendapat tekanan dari langkah Bank Sentral Swiss (SNB) yang memangkas lebih agresif dengan pemangkasan jumbo sebanyak 50 bps yang melampaui perkiraan hanya 25 bps. Langkah ini dilakukan untuk memicu pertumbuhan ekonomi karena sektor tenaga kerja yang turun drastis dengan tingkat pengangguran mencapai 6.8% di Swiss. Kondisi politik di 2 negara utama di kawasan ini yaitu Jerman dan Prancis yang sedang dilanda krisis kepemimpinan juga menjadi sentimen negatif untuk aset-aset keuangan di Uni Eropa. Hari ini ada data neraca perdagangan di Jerman, data inflasi CPI di Prancis dan Spanyol serta data Industrial Production untuk Uni Eropa secara keseluruhan.
Poundsterling berlanjut melemah terhadap penguatan mata uang dolar secara umum. Meski fundamental ekonomi di Inggris sendiri relatif yang lebih stabil dan lebih baik dibandingkan wilayah tetangganya Uni Eropa, namun prospek langkah moneter berupa pemangkasan suku bunga yang akan diambil oleh sejumlah bank sentral membuat GBP ikut tertekan. Bank Sentral Inggris (BOE) masih memungkinkan untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan moneter pekan depan walaupun tidak menutup kemungkinan untuk kembali memangkas suku bunga acuannya juga guna mengantisipasi resiko ekonomi global setelah Trump diangkat menjadi Presiden Januari mendatang. Kekhawatiran akan kenaikan tarif impor di AS membayangi industri di Inggris yang banyak mengandalkan ekspor ke AS. Hari ini ada data estimasi pertumbuhan ekonomi GDP baik dari biro statisik dan juga dari NIESR. Selain itu juga ada data neraca perdagangan dan data industrial/manufakturing production.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://t.me/AGROdanaOFFICIAL
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial



