Dolar menguat terhadap mata uang lain seiring dengan fundamental ekonomi di AS yang masih solid membuat Fed tidak perlu terburu-buru kembali menurunkan suku bunga acuannya serta meningkatnya ekspektasi akan kemenangan Trump pada pemilu bulan depan. Data ekonomi yang dirilis Jumat pekan lalu relatif masih positif dimana Durable Goods Order meski menurun -0.8% tapi masih lebih baik dari perkiraan menurun hingga -1.1% dan data periode sebelumnya juga direvisi menurun dari 0.0% menjadi -0.8% sehingga dapat dikatakan kondisi saat ini masih stabil. Sedangkan data Core Durable Goods Order yang tidak menyertakan sektor transportasi meski mengalami penurunan dari 0.6% menjadi 0.4%, namun tidak seburuk perkiraan turun hingga -0.1%. Data lain berupa survey dari University of Michigan juga positif dengan indeks sentimen konsumen meningkat dari 68.9 menjadi 70.5 melampaui perkiraan hanya naik 69.2. Dan ekspektasi inflasi dari hasil survey yang sama mengalami penurunan dari 2.9% menjadi 2.7%. Sehari sebelumnya data dari sektor tenaga kerja juga cenderung positif sehingga menggambarkan kondisi ekonomi di AS relatif masih stabil. Sehingga Fed tidak perlu lagi memangkas suku bunga jumbo seperti sebelumnya, bahkan masih bisa mempertahankan suku bunga acuan saat ini untuk beberapa waktu lagi. Ekspekasi akan langkah Fed pada pertemuan moneter FOMC berikutnya di bulan November mendatang diperkirakan akan memangkas hanya 25 bps sebanyak 95.6% dan sisanya 4.4% Fed akan tetap mempertahankan suku bunga saat ini menurut CME's FedWatch Tool. Sementara itu hasil polling pemilihan presiden AS yang dijadwalkan pada 5 November mendatang menunjukkan Donald Trump berhasil menyusul perolehan suara Kamala Harris setelah beberapa pekan sebelumnya selalu tertinggal. Hal ini membuat eskpektasi akan kembalinya Trump ikut meningkat yang disambut positif oleh pasar seiring dengan kampanyenya yang menjanjikan insentif pajak berupa pengurangan pajak yang berarti akan meningkatkan margin profit untuk perusahaan. Pekan ini fokus pasar akan tertuju pada data-data di sektor tenaga kerja mulai dari data dari JOLTS, ADP, Challenger hingga data terpenting yaitu Non-Farm Payroll (NFP) yang akan dirilis pada hari Jumat nanti. Selain itu juga ada data pertumbuhan ekonomi GDP, PCE dan juga PMI sektor manufaktur.
Yen melemah tajam terhadap dolar hingga level terendah dalam 3 bulan terakhir seiring dengan hilangnya mayoritas Partai Liberal Demokratis (LDP) pendukung Perdana Menteri Shigeru Ishiba dalam pemilihan parlemen hari minggu kemarin. Dari 465 kursi di parlemen LDP dan koalisi lamanya hanya mendapat 209 kursi yang turun tajam dari sebelumnya sebanyak 279 kursi. Ini adalah kekalahan partai LDP untuk pertama kali dalam sejarah yang menguasai mayoritas sejak paska perang dunia kedua yang lalu. Hasil dari pemilihan ini dikhawatirkan akan menjadi penghalang kebijakan moneter yang akan diambil oleh Bank Sentral Jepang (BOJ) yang dijadwalkan akan mengadakan pertemuan moneter di hari Kamis nanti. Terlebih lagi data inflasi di Jepang mengalami penurunan di bawah target 2% sehingga semakin mempersempit peluang BOJ untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya.
Euro semakin tertekan terhadap dolar meskipun data ekonomi cenderung positif dengan iklim bisnis dari IFO di Jerman yang meningkat dari 85.4 menjadi 86.5 yang lebih baik dari perkiraan hanya naik 85.5. Sedangkan tingkat pengangguran di Spanyol juga turun dari 11.3% menjadi 11.2% yang lebih baik dari perkiraan meningkat 11.4%. Bank Sentral Eropa (ECB) beberapa pekan lalu menurunkan kembali suku bunga acuannya dan diperkirakan masih akan memangkas lagi seperti yang disampaikan oleh Gubernur Bank Sentral Prancis - Francois Villeroy de Galhau. Galhau menambahkan suku bunga acuan saat ini masih jauh dari kondisi normal yang diinginkan. Presiden ECB - Christine Lagarde dalam pidato terakhirnya mengatakan inflasi di Uni Eropa masih berjalan sesuai yang diharapkan dan akan mencapai target 2% pada tahun depan. Pernyataan ini menvalidasi bahwa ECB masih akan memangkas suku bunga acuannya untuk beberapa waktu mendatang.
Poundsterling juga melemah terhadap dolar seiring dengan fundamental ekonomi yang relatif memburuk. Data Kepercayaan Konsumen dari GFK di Inggris mengalami penurunan menjadi -21 lebih rendah dari perkiraan stabil -20 sama seperti periode sebelumnya. Sebelumnya data PMI baik di sektor manufaktur maupun jasa di Inggris mengalami penurunan di bawah perkiraan. Meskipun masih dalam zona ekspansif di atas ambang 50. Pasar masih menunggu rilis rencana anggaran dari Menteri Keuangan yang baru Rachel Reeves yang dijadwalkan mundaru pada hari Rabu nanti. Perubahan dalam struktur anggaran akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi di Inggris ke depannya.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial



