
Dolar berlanjut menguat terhadap mata uang lainnya paska data inflasi CPI semakin memperkuat peluang Fed untuk kembali memangkas suku bunga acuan pada pertemuan moneter FOMC pekan depan. Inflasi CPI rilis sesuai perkiraan naik dari 0.2% menjadi 0.3% dan jika dibandingkan dengan periode setahun sebelumnya, juga naik dari 2.6% menjadi 2.7% sesuai perkiraan. Sedangkan data Core CPI yang tidak menyertakan komponen BBM dan bahan pangan relatif masih stabil 0.3% sama seperti periode bulan sebelumnya dan 3.3% sama seperti periode setahun yang lalu. Dengan data-data sektor tenaga kerja sebelumnya yang mengindikasikan pelambatan, kenaikan inflasi CPI kali ini kemungkinan hanya sementara dan akan kembali menurun. Sehingga memungkinkan bagi Fed untuk memangkas suku bunga acuan lebih lanjut. Ekspektasi akan langkah Fed memangkas 25 bps pekan depan meningkat hingga 94% dari sebelumnya 85% menurut CME's FedWatch tool. Mata uang dolar juga menguat karena Bank Sentral Kanada (BOC) dalam pertemuan moneter kemarin memangkas suku bunga acuan dengan ukuran jumbo dan masih terbuka untuk pelonggaran moneter selanjutnya. Langkah ini diambil setelah angka pengangguran di Kanada melonjak tajam dalam 8 tahun terakhir hingga 6.8%. Sehingga mata uang loonie (CAD) melemah hingga level terendah dalam 4.5 tahun terakhir. Diperkirakan Bank Sentral Swiss (SNB) juga akan mengikuti langkah BOC dengan pemangkasan jumbo dalam pertemuan moneter hari ini bersamaan dengan Bank Sentral Eropa (ECB). Sementara itu pemerintah China diduga sengaja melemahkan mata uang Yuan dengan rencana adopsi kebijakan moneter yang lebih longgar dan masih akan ada lagi kebijakan lainnya yang diperkirakan akan diluncurkan dalam pertemuan tahunan Central Economic Work Conference pekan ini. Langkah ini dilakukan pemerintah China guna mengantisipasi kebijakan kenaikan tarif impor yang akan diterapkan pada kepemimpinan Trump untuk kedua kalinya dalam 5 tahun mendatang. Hari ini masih ada data inflasi dari sisi produsen PPI bersamaan dengan laporan mingguan Jobless Claim.
Yen kembali menguat meski dolar cenderung menguat seiring dengan semakin besarnya peluang Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya. Data inflasi dari sisi produsen PPI masih stabil 0.3% sama seperti periode sebelumnya, namun lebih tinggi dari perkiraan mengalami penurunan 0.2%. Dan jika dibandingkan dengan data setahun sebelumnya, mengalami peningkatan dari 3.6% menjadi 3.7% yang juga lebih tinggi dari perkiraan menurun 3.4%. Dengan kecenderungan inflasi yang naik ini membuat ekspektasi akan langkah menaikkan suku bunga acuan semakin meningkat. Meskipun kemudian tersiar berita dari Bloomberg yang melaporkan BOJ juga tidak menutup kemungkinan untuk menunda hingga pertemuan moneter selanjutnya dengan resiko yang tidak tinggi. Hari ini tidak ada data penting hanya data investasi asing yang masuk ke Jepang.
Euro berlanjut melemah terhadap dolar menjelang pertemuan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) hari ini. Hampir dapat dipastikan ECB akan memangkas suku bunga acuannya guna meringankan kondisi ekonomi yang diperkirakan akan semakin melambat setelah AS melantik Presiden Trump hingga berakhir masa jabatan 5 tahun mendatang. Selain itu kondisi politik di 2 negara utama di kawasan ini yaitu Jerman dan Prancis yang sedang dilanda krisis kepemimpinan juga menjadi sentimen negatif untuk aset-aset keuangan di Uni Eropa. Sebelum ECB, terlebih dahulu Bank Sentral Swiss (SNB) juga diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan dengan ukuran jumbo sebanyak 50 bps hari ini. Ekspektasi pasar untuk pemangkasan ini mencapai 61%. Pengumuman hasil pertemuan moneter SNB dijadwalkan pada pukul 15:30 WIB dan pengumunan hasil pertemuan ECB pada pukul 20:15 WIB.
Poundsterling melemah seiring dengan penguatan mata uang dolar dengan absennya data ekonomi di Inggris. Dengan prospek langkah moneter berupa pemangkasan suku bunga yang akan diambil oleh sejumlah bank sentral membuat mata uang dolar menguat secara umum. Fundamental ekonomi di Inggris sendiri relatif yang lebih stabil dan lebih baik dibandingkan wilayah tetangganya, Uni Eropa. Sehingga memungkinan bagi Bank Sentral Inggris (BOE) untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan moneter pekan depan. Namun tidak menutup kemungkinan untuk kembali memangkas suku bunga acuannya juga guna mengantisipasi diberlakukannya kenaikan tarif impor di masa kepemimpinan Presiden Trump mendatang. Kekhawatiran tersebut akan membayangi industri di Inggris yang mengandalkan ekspor. Hari ini ada data estimasi pertumbuhan ekonomi GDP dari NIESR.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://t.me/AGROdanaOFFICIAL
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial



