
Dolar masih cenderung melemah terhadap sejumlah mata uang utama menyusul data di sektor ritel yang mengecewakan dan juga langkah Presiden Trump yang terus menunda kenaikan tarif impor baru. Dengan penundaan kenaikan tarif impor ini ditanggapi pasar dengan adanya kemungkinan yang tidak akan seburuk yang diperkirakan sebelumnya. Menteri perdagangan AS - Howard Lutnick mengatakan pemerintah AS saat ini sedang menyiapkan kenaikan tarif impor kepada setiap negara dan akan selesai pada 1 April mendatang. Jeda waktu tersebut diduga sengaja dirancang untuk memberikan waktu bagi mitra dagang AS untuk bernegosiasi. Karena sebelumnya juru bicara Gedung Putih menyatakan Presiden Trump dengan senang hati menurunkan tarif impor jika mitra dagangnya juga menurunkan tarif impornya. Presiden Trump juga akan mengenakan kenaikan tarif impor produksi mobil pada 2 April mendatang. Sedangkan Menteri Keuangan - Scott Bessent mengatakan pemerintah AS sedang mencari dan mempelajari kemungkinan terjadinya manipulasi mata uang dolar di luar kenaikan tarif impor dan juga kemungkinan lainnya. Menurut pakar ekonomi kenaikan tarif impor akan memicu inflasi sehingga Fed akan mempertahankan suku bunga acuan lebih lama lagi. Namun data di sektor ritel yaitu Retail Sales yang mengalami penurunan tajam menjadi -0.9% jauh di bawah perkiraan hanya turun 0.2% meski data periode sebelumnya direvisi membaik dari 0.4% menjadi 0.7%. Begitu juga dengan data Core Retail Sales yang tidak menyertakan sektor otomotif mengalami penurunan -0.4% jauh di bawah perkiraan hanya turun +0.3% meski periode sebelumnya direvisi meningkat dari 0.4% menjadi 0.7%. Data di sektor ritel yang mengecewakan ini menutupi data dari sektor manufaktur berupa industrial/manufaktur production yang meningkat melampaui perkiraan. Gubernur Fed Dallas - Logan dalam pidato mengatakan meskipun data inflasi sesuai perkiraan dan data di sektor tenaga kerja solid, bukan berarti Fed dapat memangkas suku bunga acuan. Fed tetap harus berhati-hati dalam mengambil keputusan memangkas suku bunga acuan nanti. Pekan ini hanya ada data indeks manufaktur di New York dan Philadelphia, data sektor perumahan dan data Purchasing Manager Indeks (PMI). Hari ini pasar AS tutup merayakan Presiden Day.
Yen berlanjut menguat terhadap mata uang dolar seiring dengan prospek akan kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Jepang (BOJ) tidak lama lagi dengan inflasi yang terus meningkat di Jepang. Hampir semua pejabat BOJ menyuarakan rencana kenaikan tersebut mulai dari Gubernur Ueda, Wakil Gubernur Himino dan juga pejabat senior BOJ - Tamura yang cukup vokal dalam mendorong kenaikan suku bunga di Jepang dalam waktu dekat ini. Jepang juga kemungkinan bisa terhindar dari kenaikan tarif impor AS setelah Perdana Menteri Jepang - Shigeru Ishiba bertemu langsung dengan Presiden Trump. Shigeru mengungkapkan penghormatan Presiden Trump karena nilai investasi Jepang yang dinilai cukup banyak membantu perekonomian dan menciptakan lapangan kerja yang cukup signifikan di AS. Data pertumbuhan ekonomi GDP juga membaik dengan peningkatan 0.7% yang jauh lebih baik dari perkiraan hanya naik 0.3% dan data periode sebelumnya juga direvisi meningkat tajam dari 0.2% menjadi 0.7%. Dan indeks harga dari data GDP juga meningkat dari 2.4% menjadi 2.8% sesuai perkiraan yang mengindikasikan inflasi masih cenderung meningkat sehingga semakin membuka jalan bagi BOJ untuk menjalankan rencana kenaikan suku bunga acuan. Masih ada data Machinery Order, neraca perdagangan dan data inflasi CPI yang akan dirilis pekan ini.
Euro berlanjut menguat terhadap dolar seiring dengan prospek akan tercapainya perdamaian antara Ukraina dan Rusia. Menyusul terjadinya diskusi antara Presiden Trump dengan pemimpin Rusia - Vladimir Putin dan Presiden Ukraina - Volodymyr Zelenskiy via telepon pada hari Rabu pekan lalu secara terpisah. Ini merupakan diplomasi yang cukup besar dari Presiden Trump dan diharapkan akan menjadi langkah maju dalam terjadinya perdamaian di antara kedua negara yang bertikai. Tidak hanya mata uang Euro, namun juga mata uang Eropa lainnya seperti Swiss Franc, Krona Swedia dan juga Krone Norwegia menguat oleh optimisme yang sama. Dari data ekonomi juga optimisme pemulihan ekonomi dengan data pertumbuhan ekonomi GDP kuartal 4 tahun 2024 di Uni Eropa mengalami peningkatan menjadi +0.1% yang lebih baik dari perkiraan stabil 0.0% sama seperti periode sebelumnya. Meskipun di sektor tenaga kerja belum sepenuhnya membaik dengan terjadinya penurunan terisinya lapangan kerja dari 0.2% menjadi 0.1% sesuai perkiraan. Pekan ini akan dirilis data neraca perdagangan, sentimen ekonomi dan data PMI di sektor manufaktur dan jasa.
Poundsterling juga masih cenderung menguat terhadap dolar setelah sebelumnya data pertumbuhan ekonomi GDP meningkat yang di luar perkiraan. Dan menjelang data inflasi CPI yang akan dirilis pada hari Rabu nanti. Sebelumnya akan dirilis data klaim pengangguran Claimant, Tingkat Pengangguran dan Upah rata-rata pada esok hari. Kemudian ada data Retail Sales dan data PMI di sektor manufaktur dan jasa. Data-data ini akan memberikan gambaran yang lebih jelas akan langkah moneter yang akan diambil oleh Bank Sentral Inggris (BOE) pada pertemuan moneter berikutnya yang dijadwalkan pada bulan Maret mendatang. BOE menjadi bank sentral utama yang paling sedikit memangkas suku bunga acuannya setelah 2 pekan lalu melakukan pemangkasan untuk ketiga kalinya.
Cek info lain di:



