
[sseopress_breadcrumbs]
Dolar bergerak menguat setelah sempat terkoreksi seiring dengan penguatan mata uang lainnya dengan agenda kenaikan tarif impor AS yang baru. Presiden Trump mengumumkan hampir menutup kesepakatan mineral dengan Ukraina dengan bekerjasama dengan Presiden Prancis - Emmanuel Macron sekaligus mengakhiri perang Ukraina, meski masih belum tercapai negosiasi perdamaian. Meskipun agenda semua kenaikan tarif tersebut akan dijalankan pada awal April mendatang. Sementara penundaan agenda kenaikan tarif impor mulai mereda seiring dengan kemungkinan adanya perubahan persentase kenaikan seiring dengan kemungkinan tercapainya kesepakatan antara AS dengan mitra dagangnya. Dengan waktu yang tersisa hingga April mendatang, masih memungkinkan bagi mitra AS untuk melakukan negosiasi ulang seperti yang dilakukan oleh Kanada dan Mexico yang dikenakan tambahan kenaikan tarif impor sebanyak 25%. Baik pemerintah Kanada maupun Mexico semakin intensif melakukan negosiasi guna menghindarkan tambahan kenaikan tarif impor sebanyak 25% tersebut. Karena tambahan kenaikan tarif impor ini akan mengikis pendapatan nasional secara signifikan. Gubernur Bank Sentral Kanada (BOC) - Tiff Macklem hari Jumat lalu mengatakan kenaikan tarif impor AS tersebut akan menghapus pertumbuhan ekonomi di tahun 2025 hingga tahun 2026 mendatang dan menyebabkan kenaikan tajam inflasi di Kanada. Dengan kekhawatiran yang sama membuat mitra dagang AS lainnya juga akan terus melobi pemerintah AS yang baru agar terhindar dari kenaikan tarif tersebut. Data ekonomi di AS terbaru juga tidak terlalu baik dengan data Retail Sales yang dirilis beberapa pekan sebelumnya menunjukkan turunnya daya beli rakyat AS. Data aktifitas bisnis yang secara komposit yaitu data PMI mengalami penurunan dari 52.9 menjadi 50.4 yang cukup jauh dari perkiraan hanya turun ke 52.7. Ini merupakan penurunan terendah dalam 17 bulan terakhir atau sejak September 2023 yang lalu. Begitu pula dengan data kepercayaan konsumen dari survey University of Michigan yang cenderung menurun. Sementara indikasi inflasi dari survey yang sama menunjukkan kecenderungan yang meningkat menjadi 3.5% dalam 5 tahun yang akan datang yang juga merupakan level tertinggi sejak 1995 yang lalu. Dan juga rencana pemerintahan Presiden Trump untuk mengurangi pegawai federal mejadi sentimen negatif buat mata uang dolar. Indikator inflasi dari sisi personal (Personal Consumption Expenditure) yang akan menjadi pedoman pengambilan keputusan Fed baru akan dirilis di penghujung pekan ini dengan sebelumnya akan dirilis data pertumbuhan ekonomi GDP akan menjadi fokus pasar sebelum masuk data di sektor tenaga kerja di pekan depan. Setelah kemarin absen data ekonomi, hari ini akan dirilis data Kepercayaan Konsumen dari CBI.
Yen bergerak melemah setelah sempat turun hingga di bawah level 150 seiring dengan liburnya di Jepang merayakan hari kelahiran Kaisar. Meskipun prospek kenaikan suku bunga acuan di Jepang masih akan naik seiring dengan data inflasi CPI di Jepang terus naik meroket menjadi 4.0% lebih tinggi dari perkiraan hanya naik 3.7% dari periode sebelumnya 3.6%. Dan data Core CPI juga naik dari 3.0% menjadi 3.2% sesuai perkiraan. Gubernur BOJ – Kazuo Ueda mengatakan BOJ memungkinkan untuk terus menaikkan suku bunga acuan dalam jangka panjang dengan antisipasi dengan meningkatkan pembelian obligasi negara.
Euro mulai terkoreksi terhadap dolar setelah sebelumnya sempat menguat tajam hingga level tertinggi dalam 1 bulan terakhir seiring dengan hasil pemilu di Jerman yang disambut positif oleh pasar. Partai Konservatif CDU/CSU memenangkan pemilu di hari Minggu 2 hari lalu sesuai dengan harapan pasar. CDU/CSU memenangkan mayoritas dengan mendapatkan 28.7% suara dan mengalahkan partai sayap kiri AfD yang hanya mendapat 19.8% suara dan Friedrich Merz akan dilantik menjadi Kanselir Jerman berikutnya. Keberhasilan partai CDU/CSU yang semula diharapkan memberikan kemudahan untuk berkoalisi dengan partai lainnya dengan visi dan misi yang sejalan dan memungkinkan untuk membentuk koalisi yang besar. Namun sepertinya dalam prakteknya mengalami kesulitan dengan tantangan yang dihadapi meskipun kebijakan fiskal diharapkan akan lebih mudah untuk mendapatkan persetujuan dari parlemen. Bahkan kemungkinan akan memudahkan pemilihan pemimpin Uni Eropa yang akan mengadakan pertemuan tingkat tinggi pada 6 Maret mendatang. Dan pasar menunggu kebijakan fiskal terutama pembatalan pembatasan hutang yang membuat defisit dengan anggaran nasional yang hanya mencapai 1/3 dari output nasional. Data ekonomi yang dirilis berupa iklim bisnis masih cenderung stagnan 85.2 sama seperti periode sebelumnya. Begitu pula dengan data inflasi CPI year-on-year masih sama 2.5% dan data Core CPI juga sama 2.7% sesuai perkiraan sama seperti periode sebelumnya. Hari ini akan dirilis data GDP untuk Uni Eropa secara keseluruhan.
Poundsterling juga mulai terkoreksi terhadap dolar meskipun optimisme kemungkinan akan terhindar dari kenaikan tarif AS. Perdana Menteri - Keir Starmer berencana berkunjung ke AS dan bertemu dengan Presiden Trump untuk berunding perihal tersebut. Selain itu bersama dengan Presiden Prancis - Macron untuk menolak semua permintaan Presiden Rusia untuk mencapai perdamaian di Ukraina. Meski berharap untuk terus terlibat dalam diskusi militer dan perundingan damai di Ukraina. Fundamental ekonomi juga masih variatif dengan data terbaru dengan data Retail Sales yang naik tajam sedangkan data aktifitas ekonomi cenderung menurun. Pejabat Bank Sentral Inggris (BOE) - Swati Dhingra semalam mengatakan pejabat BOE masih terbagi dalam proyeksi suku bunga acuan yang akan datang. Hari ini akan dirilis data Realized Sales dan data indeks harga perumahan. Pakar ahli ekonomi BOE juga akan dijadwalkan akan memberikan pidato malam ini.
Cek informasi lainnya di kanal resmi Agrodana Futures



