Dolar sedikit terkoreksi terhadap mata uang lainnya terutama terhadap Yen paska semi long weekend di AS karena libur Thanksgiving di akhir pekan lalu. Pekan ini perhatian pasar akan tertuju pada data di sektor tenaga kerja dengan laporan Non-Farm Payroll dengan perkiraan meningkat tajam dari periode sebelumnya. Sektor ini diperkirakan sudah pulih dan kembali normal setelah pada periode sebelumnya anjlok karena 2 badai dan mogok kerja yang terjadi bersamaan dalam periode 1 bulan tersebut. Meski demikian perkiraan tingkat pengangguran justru meningkat sehingga semakin membuka peluang bagi Fed untuk memangkas suku bunga acuan pada pertemuan moneter dalam 2 pekan mendatang. Ekspektasi akan pemangkasan suku bunga acuan sebanyak 25 bps pada pertemuan tersebut semakin meningkat dari pekan lalu yang sempat di bawah 53% naik menjadi 66% di akhir pekan lalu. Dan hanya 17% peluang untuk pemangkasan pada pertemuan moneter selanjutnya di bulan Januari mendatang. Agenda ekonomi dari Trump yang akan dilantik pada Januari mendatang berupa pengurangan pajak dan kenaikan tarif impor justru diperkirakan akan memicu inflasi sehingga Fed diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunga acuan dan berpeluang tipis akan kembali menaikkan suku bunga jika memang diperlukan. Selain data di sektor tenaga kerja, pekan ini juga akan dirilis data PMI dari ISM di sektor manufaktur dan jasa dengan perkiraan sektor manufaktur masih di zona kontraksi di bawah ambang 50 dan sektor jasa relatif masih membaik berada di zona ekspansif. Selain itu pekan ini banyak pejabat Fed juga akan memberikan pidato pada beberapa peristiwa di berbeda tempat termasuk Ketua Fed - Jerome Powell pada hari Kamis dini hari.
Yen semakin menguat terhadap dolar seiring dengan peluang Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk menaikkan suku bunga acuan yang juga semakin meningkat. Kombinasi stimulus fiskal dan data inflasi yang naik melampaui perkiraan membuat peluang tersebut semakin besar. Pemerintah Jepang pekan lalu meloloskan stimulus fiskal senilai $141 miliar untuk memicu aktifitas ekonomi. Sementara inflasi juga naik dari 1.8% menjadi 2.2% yang lebih tinggi dari perkiraan hanya naik 2.1%. Dan di akhir pekan kemarin Gubernur BOJ - Kazuo Ueda mengatakan kenaikan suku bunga berikutnya selaras dengan data ekonomi yang sudah sejalan. Spekulasi kenaikan suku bunga pada pertemuan moneter BOJ pada 18-19 Desember nanti meningkat menjadi 56%. Dan masih memungkinkan untuk dilanjutkan pada pertemuan moneter di bulan Januari mendatang.
Euro meski sedikit terangkat terhadap dolar namun masih dibayangi oleh tekanan terhadap Bank Sentral Eropa (ECB) untuk memangkas suku bunga acuannya lebih lanjut. Data inflasi di Jerman cenderung stagnan dan di Prancis naik sesuai perkiraan. Pejabat ECB sekaligus Gubernur Bank Sentral Prancis - Francois Villeroy de Galhau, Kamis lalu mengatakan ECB masih terus membuka peluang untuk pemangkasan suku bunga acuan yang lebih besar. Ini berlawanan dengan komentar dari pejabat ECB sebelumnya - Isabel Schnabel yang menyarankan ECB untuk berhati-hati dalam pemangkasan suku bunga acuan berikutnya. Spekulasi di pasar kembali akan langkah ECB memangkas suku bunga jumbo sebanyak 50 bps pada pertemuan moneter 12 Desember mendatang kembali meningkat. Sementara gejolak politik di Prancis juga membebani ekonomi di kawasan ini seputar tidak sepakatnya dana anggaran. Jika terjadi defisit anggaran, maka Prancis akan mengalami kondisi ekonomi yang mirip dengan kasus Yunani beberapa tahun lalu. Dan akan berdampak pada mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Perdana Menteri - Michel Barnier. Ini menjadi sentimen negatif sehingga investor menjauhi segala bentuk investasi dengan aset Uni Eropa.
Poundsterling masih cenderung melemah terhadap mata uang dolar. Seiring dengan ekspektasi akan langkah moneter Bank Sentral Inggris (BOE) berikutnya adalah memangkas suku bunga acuan untuk ketiga kalinya semakin meningkat. Dalam pidato Gubernur BOE - Andrew Bailey Jumat lalu masih yakin dengan kondisi ekonomi baik dari sisi personal maupun perusahaan. Meski demikian resiko akan meningkatnya ketegangan geopolitik masih menjadi ancaman akan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Bailey tidak menyinggung langkah moneter yang akan diambil pada pertemuan moneter 2 pekan mendatang.
Cek info lain di:



