
Dolar cenderung menguat terhadap mata uang lainnya seiring dengan optimisme akan pulihnya ekonomi global seiring dengan stimulus fiskal dari pemerintah China yang diumumkan kemarin. Melanjutkan pemaparan program stimulus oleh Menteri Keuangan - Lan Fo'an yang diumumkan sebelumnya di hari Sabtu di akhir pekan lalu, pada awalnya mendapat respon yang negatif karena tidak juga menyebutkan nominal yang akan dianggarkan untuk pemulihan ekonomi tersebut. Namun menyusul kemudian diumumkan bahwa pemerintah menganggarkan CNY 6 trilliun dengan jangka waktu 3 tahun yang dialokasikan untuk mengelola hutang pemerintah daerah dan memulihkan sektor perumahan yang sedang dilanda kemelut. Angka yang dianggarkan sebetulnya selaras dengan perkiraan pasar yaitu CNY 2 trilliun, namun di luar perkiraan pemerintah China menganggarkan hingga 3 tahun mendatang. Hal ini menandakan keseriusan untuk memulihkan kondisi ekonomi yang mengalami deflasi saat ini. Diharapkan pemulihan ekonomi dapat segera dilakukan dan ekonomi global akan kembali meningkat. Sementara itu kondisi ekonomi di AS relatif masih lebih baik dibandingkan negara maju lainnya sehingga ekspektasi akan pemangkasan suku bunga acuan Fed tidak seagresif sebelumnya. Dan stimulus ekonomi di China tersebut di atas secara tidak langsung mendukung langkah Fed untuk lebih konservatif dalam menurunkan suku bunga acuannya. Hal ini juga disepakati oleh Gubernur Fed Minneapolis - Neel Kashkari yang semalam mengatakan kebijakan moneter yang tepat saat ini dan seterusnya adalah pemangkasan suku bunga yang lebih konservatif agar tercapai 2 mandat bank sentral. Yang dimaksud dengan 2 mandat ini adalah mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas sektor tenaga kerja. Sedangkan Gubernur Fed - Michelle Bowman memperingatkan untuk lebih berhati-hati dalam melanjutkan kebijakan moneter dengan menyinggung sektor tenaga kerja yang terdampak oleh badai Helena dan Milton serta PHK yang dilakukan oleh perusahaan raksasa penerbangan Boeing. Kemungkinan hal-hal tersebut akan berpegaruh pada data Non-Farm Payroll yang akan dirilis di awal bulan November mendatang. Hari ini akan dirilis data indeks manufaktur negara bagian New York.
Yen relatif masih melemah terhadap dolar seiring dengan belum adanya kejelasan dari Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk menentukan langkah moneter mereka selanjutnya. Di tengah pengaruh politik yang cukup menekan ruang gerak untuk menjalankan kebijakan moneternya. Perdana Menteri Jepang - Shigeru Ishiba yang menentang rencana kenaikan suku bunga BOJ membuat Gubernur - Kazuo Ueda semakin ragu akan rencana tersebut. Meskipun rekan sejawatnya rata-rata masih mendukung rencana kenaikan suku bunga acuan lebih lanjut.
Euro berlanjut melemah terhadap dolar menjelang pertemuan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) pada hari Kamis nanti. Hampir dipastikan ECB akan kembali memangkas suku bunga acuannya sebanyak 25 bps seiring dengan melambatnya aktifitas ekonomi di kawasan Uni Eropa. Dalam laporan bulanan kementerian ekonomi di Jerman menunjukkan hal tersebut dalam kuartal terakhir. Selain itu biro Fitch juga menurunkan peringkat negara Prancis dari stabil menjadi negatif seiring dengan ketidakpastian politik dan kebijakan fiskal yang rumit.
Poundsterling relatif tertahan terhadap dolar seiring dengan kondisi ekonomi Inggris yang lebih baik daripada negara tetangganya di Uni Eropa. Setelah data pertumbuhan ekonomi GDP yang meningkat sehari sebelumnya. Hari ini akan dirilis data di sektor tenaga kerja di Inggris berupa klaim pengangguran dengan perkiraan semakin menurun meskipun tingkat pengangguran diperkirakan masih stabil. Dan data berikutnya yaitu berupa data inflasi yang akan dirilis esok hari akan menjadi perhatian pasar karena menjadi acuan bagi Bank Sentral Inggris (BOE) untuk menentukan langkah moneter berikutnya. BOE juga diperkirakan akan kembali memangkas suku bunga acuannya meskipun dengan peluang yang tidak sebanyak ECB.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial



