Dolar melemah tajam terhadap mata uang lainnya pasca pelantikan resmi Donald Trump menjadi Presiden AS untuk kedua kalinya. Dalam pidatonya Trump menyinggung tidak akan segera mengenakan kenaikan tarif, namun akan dibahas dalam beberapa waktu mendatang. Pernyataan ini melepaskan ketegangan akibat kekhawatiran akan segera diberlakukan kenaikan tarif impor tersebut. Dalam memo perihal perdagangan, Trump meminta kepada agen federal untuk menginvestigasi dan mencari jalan keluar dari defisit perdagangan serta menunjuk mitra dagang yang mempraktekan perdagangan tidak adil serta dan juga manipulasi mata uang. Dari memo tersebut dapat disimpulkan bahwa kenaikan tarif masih tergantung pada data defisit neraca perdagangan terhadap mitra-mitra dagang AS dan tidak secara spesifik akan diterapkan secara keras. Merujuk hal tersebut sepertinya Trump akan menggunakan ancaman kenaikan tarif ini sebagai alat untuk negosiasi guna menyeimbangkan neraca perdagangan. Trump sebelumnya berencana memberlakukan kenaikan tarif impor sebanyak 10% terhadap mitra dagang globalnya, kecuali terhadap China dengan kenaikan yang lebih banyak sebanyak 60% dan terhadap Mexico dan Kanada sebanyak 25% yang kesemuannya berpotensi akan menimbulkan arus balik perdagangan, dipastikan akan terdapat kenaikan biaya dan dapat memicu aksi pembalasan serupa oleh mitra dagangnya. Sedangkan secara domestik hal ini akan memicu inflasi kembali meningkat dan akan membuat Fed tetap mempertahankan suku bunga acuannya lebih lama lagi. Pekan lalu data core inflasi di AS menunjukkan tekanan inflasi masih cenderung menurun sehingga peluang Fed untuk memangkas suku bunga acuan kembali meningkat. Didukung oleh pernyataan dari pejabat Fed yaitu Gubernur – Christopher Waller yang mengatakan Fed masih mungkin untuk memangkas suku bunga acuan 3 kali hingga 4 kali di tahun ini jika data-data fundamental mendukung hal tersebut. Perusahaan investasi Guggenheim kemarin juga memperkirakan Fed masih akan memangkas suku bunga acuan dalam setiap kuartal tahun ini hingga berkurang sebanyak 75 bps atau bahkan hingga full 100 bps hingga akhir tahun nanti, meskipun dengan laju penurunan yang lebih lambat. Begitu pula dengan soal pajak, Trump mengatakan pengaturan pajak akan dilakukan secara seksama. Selain soal penundaan kenaikan tarif impor dan pengurangan, Trump menyinggung soal imigrasi yang rencananya akan lebih super ketat termasuk pendeportasian imigran gelap secara besar-besaran. Dan Trump juga akan segera menyatakan darurat energi yang akan memberikan kemudahan ijin proyek di sektor energi terutama bagi perusahaan minyak, gas dan pembangkit tenaga listrik sekaligus menghentikan program akselerasi industri kendaraan elektrik yang dijalankan pendahulunya, mantan presiden Joe Biden. Trump juga berjanji akan menjadi presiden crypto yang diharapkan akan menyebarluaskan penggunaan asset digital. Bahkan Trump merilis cryptocurrency baru dengan nama $TRUMP yang melonjak dengan nilai pasar mendekati $12 miliar di hari Senin kemarin. Semalam US Market masih tutup libur merayakan Martin Luther King Jr Day dan baru akan kembali normal mulai malam ini. Hari ini hanya ada data minor berupa Leading Indicator.
Yen masih cenderung menguat terhadap dolar menjelang pertemuan moneter Bank Sentral Jepang (BOJ) pekan ini. BOJ diperkirakan akan menaikkan kembali suku bunga acuan dalam pertemuan di hari Kamis nanti dengan peluang mencapai lebih dari 80%. Selain data inflasi yang semakin naik dan juga data perupahan sudah dirilis melonjak ke level tertinggi dalam 30 tahun terakhir. Gubernur BOJ - Kazuo Ueda dan Wakilnya - Ryozo Himino pekan lalu secara terbuka mendukung peluang kenaikan suku bunga acuan secepatnya. Guna mengantisipasi inflasi agar tidak terus meningkat lebih tinggi jauh melampaui target 2%. Lebih jelasnya pada hari Rabu akan dirilis data inflasi CPI dengan perkiraan meningkat, sehingga semakin membuka jalan bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga acuannya untuk kedua kalinya. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis.
Euro menguat cukup signifikan terhadap dolar setelah pelantikan Donald Trump seiring dengan penundaan kenaikan tarif yang akan lebih disesuaikan dengan neraca perdagangan nantinya. Pernyataan tersebut membuat pelaku pasar di Eropa lega karena Uni Eropa juga menjadi incaran Presiden Trump karena neraca perdagangan. Namun sementara waktu dapat lega karena penundaan kenaikan tarif tersebut. Sementara itu Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan masih akan memangkas suku bunga acuan seiring dengan inflasi yang masih tinggi dan dari nota pertemuan moneter terdahulu, sejumlah pejabat ECB menyarankan untuk memangkas yang lebih agresif sebanyak 50 bps. Meski akhirnya memutuskan hanya memangkas 25 bps sehingga masih mempunyai ruang untuk pemangkasan selanjutnya. Hari ini akan dirilis data Sentimen Ekonomi dari ZEW untuk Jerman dan Uni Eropa secara keseluruhan.
Poundsterling juga menguat seiring dengan koreksi mata uang dolar secara umum. Fundamental di Inggris sendiri sebenarnya juga tidak terlalu bagus setelah data Retail Sales yang dirilis pekan lalu menunjukkan daya beli menurun drastis dimana seharusnya terjadi peningkatan anggaran belanja untuk libur Natal dan Tahun Baru. Hal ini menandakan lesunya perekonomian yang akan berdampak pada pelambatan pertumbuhan ekonomi. Dengan kondisi ekonomi yang mulai menurun ini, semakin membuka peluang Bank Sentral Inggris (BOE) untuk menurunkan lagi suku bunga acuan. Hari ini akan dirilis data klaim pengangguran Claimant Count yang diperkirakan meningkat tajam dari 0.3K menjadi 10.3K. Meskipun upah juga meningkat, namun tingkat pengganguran diperkirakan stabil.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://t.me/AGROdanaOFFICIAL
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial



