Dolar mengalami koreksi seiring dengan ketegangan perang dagang yang meningkat antara AS dengan China yang semakin memicu terjadinya pelambatan ekonomi serta kenaikan inflasi secara global. Ketegangan semakin memuncak antara AS dengan China setelah Presiden Trump kembali mengancam akan menaikkan tarif impor terhadap China sebanyak 104% setelah China melawan kenaikan tarif reciprocal AS dengan nilai yang sama sebanyak 34%. Pemerintah di Beijing menolak kenaikan tersebut dan menganggap kenaikan tarif tersebut sebagai pemerasan dan akan melawan hingga akhir. Menteri Perdagangan AS – Jamieson Greer di depan senat AS mengatakan pemerintahan Trump tidak akan mengubahkan strategi kenaikan tarif impor sedikitpun dalam waktu dekat ini. Dengan ancaman kenaikan tarif impor terhadap China sebanyak 104% maka dipastikan inflasi akan melonjak dan menghambat pertumbuhan ekonomi global dengan kedua negara dengan ekonomi terbesar ini berseteru dan semakin besar potensi terjadinya resesi. Hal ini terlihat dari kurva yield obligasi pemerintah AS jangka 2 tahun dan jangka 10 tahun yang semakin melebar sebanyak 57 bps dan masih terus cenderung bergerak berlawanan arah. Saham-saham di Wall Street juga turun dengan indeks S&P 500 turun di bawah level 5.000 untuk pertama kali dalam hampir 1 tahun terakhir. Sebelumnya pasar cukup optimis akan terjadinya perubahan kenaikan tarif tersebut setelah sekretaris kabinet Gedung Putih mengatakan hampir 70 negara mitra dagang AS mengharapkan dimulainya negosiasi untuk mengurangi resiko ekonomi yang lebih buruk. Gubernur Fed San Fransisco - Mary Daly semalam mengatakan ekonomi saat ini masih kuat dan dampak dari kenaikan tarif Presiden Trump masih belum bisa dipastikan sehingga Fed tidak perlu terburu-buru dalam mengubah kebijakan moneternya. Meskipun ada kemungkinan inflasi kembali meningkat, namun dengan kebijakan yang seksama dan menumbuhkan kepercayaan yang tepat maka dampak tersebut dapat diredam. Berbeda dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan Fed akan bereaksi lebih agresif memangkas suku bunga acuan guna mengantisipasi dampak dari kenaikan impor AS yang akan segera berlaku. Fed diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan pada pertemuan moneter di bulan Mei nanti, dengan peluang hingga mendekati 65%. Dan spekulasi akan akumulasi pemangkasan hingga akhir tahun ini mencapai 100 bps atau 1.0% penuh. Malam ini akan dirilis nota minuta pertemuan moneter FOMC bulan lalu yang kemungkinan tidak akan berbeda jauh dengan pendapat pejabat Fed akhir-akhir ini yang masih diselimuti ketidakpastian akan dampak kenaikan tarif impor baru AS. Tidak ada data ekonomi yang akan dirilis hanya pidato dari Gubernur Fed Richmond – Thomas Barkin.
Yen rebound cukup tajam terhadap dolar setelah Presiden Trump mengutus Menteri Keuangan – Scott Bessent langsung bukan perwakilan dagang untuk bernegosiasi dagang dengan perwakilan dari Jepang. Hal ini mengindikasikan adanya pembahasan pengaturan pergerakan mata uang Yen selain dari negosiasi perdagangan. Jepang yang pada awalnya dinilai akan terhindar dari kenaikan tarif impor ternyata tetap dikenakan kenaikan tarif sebanyak 24%. Yang langsung direspon langsung dengan percakapan Presiden Trump dengan Perdana Menteri Jepang - Shigeru Ishiba melalui telepon. Sementara Gubernur Bank Sentral Jepang (BOJ) - Kazuo Ueda pagi ini mengatakan BOJ masih akan menganalisis dengan seksama bagaimana kenaikan tarif AS dapat mempengaruhi ekonomi dalam pengambilan keputusan kebijakan moneter. Ueda siang ini dijadwalkan akan memberikan pidato di pada konferensi di Tokyo.
Euro juga rebound terhadap dolar dengan berita tercapainya koalisi pemerintahan di Jerman. Diberitakan bahwa Partai Konservatif dibawah kepemimpinan calon kanselir - Friedrich Merz mencapai kesepakatan dengan Partai Social Demokrat (SPD). Dengan koalisi ini diharapkan akan tercipta stabilitas politik yang lebih kondusif dan akan memberikan kemudahan di parlemen untuk melancarkan program kerja pemerintah yang baru nanti.  Sementara kekhawatiran akan tercapainya kesepakatan dagang dengan AS sepertinya akan terjadi dalam waktu dekat. Dengan dikenaikan tarif impor dari AS hanya dikenakan sebanyak 20% tidak sebanyak perkiraan semula. Kekhawatiran akan ancaman resesi global akibat kenaikan tarif ini membuat spekulasi Bank Sentral Eropa (ECB) untuk lebih agresif lagi dalam memangkas suku bunga acuan. Hal ini disepakati oleh Gubernur Bank Sentral Jerman (BundesBank) sekaligus pejabat ECB – Joachim Nagel yang mengatakan kenaikan tarif akan menyeret ekonomi secara global dan ECB akan bertindak untuk mendukung ekonomi, namun lebih penting lagi kesatuan di kawasan ini. Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan akan lebih agresif lagi dalam memangkas suku bunga acuan sehingga spekulasi di pasar menyebutkan akan ada 3 kali hingga 4 kali pemangkasan suku bunga acuan hingga akhir tahun nanti. Pertemuan moneter terdekat dijadwalkan pada pekan depan atau tepatnya pada 17 April dengan perkiraan akan memangkas suku bunga sebanyak 25 bps hingga 50 bps. Nagel juga menyepakati perkiraan ini dengan mengatakan akan membuat keputusan moneter, namun tidak menyebutkan seberapa besar pemangkasan yang akan diambil nanti. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis.
Poundsterling juga rebound seiring dengan pelemahan mata uang dolar secara umum. Presiden Trump memutuskan mengenakan kenaikan tarif impor hanya sebanyak 10% produk Inggris kecuali produk baja dan kendaraan bermotor sebanyak 25%. Menteri Keuangan – Rachel Reeves berencana mengadakan pertemuan dengan Menteri Keuangan AS – Scott Bessent dalam waktu dekat untuk membicarakan kerjasama baru dengan harapan penurunan kenaikan tarif tersebut. Sementara Gubernur Bank Sentral Inggris – Andrew Bailey memastikan bahwa kondisi pasar masih efektif dan kondisi moneter masih cukup solid. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis.



