
Dolar bergerak menguat terhadap mata uang lainnya setelah data aktivitas bisnis di AS terus meningkat ke level tertinggi dalam 2 tahun terakhir yang berpotensi menunda langkah Fed untuk memangkas suku bunga acuan dan akan terus mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama lagi. Data PMI di sektor manufaktur naik dari 50 menjadi 50,9 dan data yang sama di sektor jasa melonjak ke 54,8 yang jauh lebih baik dari perkiraan stabil sama seperti periode sebelumnya 51,3. Sehingga secara komposit data PMI menguat dari 51,3 menjadi 54,4 yang jauh melampaui perkiraan turun 51,1. Angka ini merupakan level tertinggi sejak April tahun 2022 yang lalu dan diatas ambang batas 50 menunjukkan aktivitas ekonomi dalam kondisi ekspansif. Sementara data dari sektor tenaga kerja berupa klaim pengangguran sedikit mengalami penurunan ke 215K yang lebih rendah dari perkiraan 220K dan data periode sebelumnya juga direvisi dari 222K menjadi 223K. Semakin banyak angka klaim pengangguran menunjukkan aktivitas ekonomi semakin menurun. Dengan angka saat ini masih menunjukkan sektor tenaga kerja relatif masih cukup kuat sehingga ada potensi menahan turunnya inflasi. Dengan tertahannya inflasi maka Fed akan tetap mempertahankan suku bunga acuan saat ini lebih lama dan semakin memudarkan harapan pasar akan langkah pemangkasan tidak lama lagi. Dalam pertemuan moneter bulan lalu pejabat Fed meski yakin bahwa tekanan inflasi perlahan akan menurun dalam beberapa bulan mendatang namun sejumlah kecil masih belum yakin bahwa suku bunga saat ini sudah cukup tinggi untuk memastikan bahwa inflasi akan terus turun. Sehingga masih menyarankan untuk terus menaikkan suku bunga acuan seperti yang terlihat dari nota minuta pertemuan moneter FOMC. Namun perlu diingat bahwa pertemuan moneter bulan lalu terjadi sebelum data inflas CPI dirilis. Sedangkan data inflasi CPI yang dirilis setelahya menunjukkan inflasi sudah kembali mereda. Setekah data inflasi rilispun sejumlah pejabat Fed juga masih belum yakin bahwasanya inflasi benar-benar akan terus turun. Masih perlu lebih banyak data untuk mendukung argumen tersebut. Gubernur Fed Atlanta – Raphael Bostic dalam pidato semelam kembali menegaskan hal tersebut dengan mengatakan suku bunga acuan yang tinggi saat ini akan diperahankan lebih lama karena sektor tenaga kerja yang masih kuat. Bostic menyarakan Fed perlu waktu lebih lama untuk menurunkan suku bunga acuannya hingga inflasi betul-betul mencapaui target 2% sepeti yang diinginkan. Hari ini akan dirilis data Durable Goods Order dan data dari University of Michigan berupa sentimen konsumen dan ekspektasi inflasi. Serta pidato dari Gubernur Fed – Christopher Waller.
Yen terus melemah seiring dengan menguatnya mata uang dolar dengan data inflasi di Jepang yang tidak menyarankan Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk terus melanjutkan menaikkan suku bunga acuannya. Data inflasi CPI di Jepang semakin menurun dari 2,7% menjadi 2,5% dan data Core CPI juga menurun dari 2,6% menjadi 2,2% sesuai perkiraan. Dengan angka inflasi yang cenderung turun semakin mendekati 2% maka BOJ tidak lagi perlu lagi mengubah kebijakan moneternya setelah beberapa waktu lalu menaikkan suku bunga dan meninggalkan kebijakan moneter ultra longgarnya. Data lain berupa aktivitas bisnis di sektor manufaktur juga naik dari 49,6 menjadi 50,5 yang memasuki zona ekspansif sejak bulan Mei tahun lalu. Sementara itu sejumlah perusahaan di Jepang mengaku mulai terdampak dengan menguatnya mata uang Yen dibawah 155 yang akan merugikan bisnis mereka. Jadi tidak semua bisnis mendapat manfaat dengan melemahnya mata uang dolar.
Euro berlanjut melemah terhadap dolar meski data aktivitas ekonomi terus membaik. Data PMI komposit di Jerman terus meningkat dari 50,6 menjadi 52,5 yang lebh baik dari perkiraan hanya naik ke 51,0. Sedangkan untuk Uni Eropa secara keseluruhan juga naik dari 51,7 menjadi 52,3 yang juga lebih baik dari perkiraan 52,0. Meski terjadi peningkatan namun di sektor manufaktur masih berada di zone restriktif dibawah ambang batas ekspansif 50. Pasar masih memegang ucapan dari Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) – Christine Lagarde yang beberapa hari lalu menyampaikan keyakinannya bahwa inflasi di kawasan ini sudah terkendali seingga ECB diharapkan akan menurunkan suku bunga acuan pada pertemuan moneter di bulan Juni mendatang. Dan pembahasan pejabat ECB selanjutnya adalah kapan pemangkasan suku bunga selanjutnya setelah pertemuan di bulan Juni mendatang. Hari ini akan dirilis data pertumbuhan ekonomi GDP Jerman.
Poundsterling juga melemah terhadap dolar meskipun data ekonomi relatif semakin membaik di Inggris. Data PMI di Inggris berbanding terbalik daripada tetangganya Uni Eropa. Dengan data di sektor manufaktur bangkit dari zona retriktif dibawah 50 yaitu 49,5 memasuki zona ekspansif 51,3. Namun sebaiknya dengan sektor jasa justr turun dari 55,0 menjadi 52,9 yang lebih rendah dari perkiraan hanya turun ke 54,7 meski masih di dalam zona ekspansif. Seara umum ekonomi di Inggris masih mendukung langkah Bank Sentral Inggris (BOE) untuk menurunkan suku bunga acuan lebih cepat dari perkiraan. Penyebab turunnya mata uang GBP adalah langkah Perdana Menteri Rishi Sunak yang mengusulkan pemilihan umum nasional yang membuat Partai Konservatif yang mendukungnya setelah berkuasa lebih dari 14 tahun berpeluang kalah dari oposisi Partai Buruh. Meski akan terjadi perubahan kepemimpinan namun pasar cukup optimisi kebijakan ekonomi tidak akan jauh berbeda daripada yang sudah dijalankan saat ini. Hari ini akan dirilis data Retail Sales.



