Dolar mengalami roller coaster terhadap mata uang lainnya dan semalam kembali melemah menjelang rilis sejumlah data penting sepanjang pekan ini dan juga menunggu kelanjutan perundingan dagang AS dengan mitra-mitranya terkait dengan kenaikan tarif impor baru. Menteri Keuangan – Scott Bessent mengatakan sejumlah mitra dagang utama AS yang membuat kesepakatan dan dapat menghindari kenaikan tarif baru dan yang paling mendekati tercapainya kesepakatan adalah India. Sementara terhadap China, Bessent mengatakan semua unsur pemerintahan Trump berusaha menghubungi pihak China dan tergantung kepada kesediaan China untuk mengurangi ketegangan perang dagang. Perubahan sikap mulai ditunjukkan oleh pemerintah AS dengan sinyal akan mengurangi kenaikan tarif impor setelah pemerintah China memberikan kemudahan dari kenaikan tarif impor sebanyak 125% terhadap sejumlah produk yang diimpor dari AS. China mengimpor produknya ke AS 5 kali lebih lebih banyak daripada sebaliknya. Sedangkan Presiden Trump bersikeras bahwa perundingan dengan China sedang berjalan dan mengatakan sudah berbicara dengan Presiden Xi Jinping. Namun pihak China menyangkal terjadinya perundingan dan Bessent juga tidak mengatakan perundingan dengan China sedang berjalan. Tentu saja perbedaan ini membuat pelaku pasar menjadi kebingungan dan lebih memilih mengalihkan aset ke safe haven. Selain itu pelaku pasar juga mengantisipasi data ekonomi penting yang akan dirilis pekan ini di sektor tenaga kerja, laporan pertumbuhan ekonomi GDP dan indikator inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE). Dengan ketiga data ini akan memberikan kejelasan mengenai langkah moneter apa yang akan diambil oleh Federal Reserve. Pejabat Fed termasuk Ketua Fed – Jerome Powell juga mengindikasikan niat untuk kembali memangkas suku bunga acuan jika resiko pertumbuhan ekonomi semakin nyata. Terlebih dampak dari kenaikan tarif impor Presiden Trump belum benar-benar terwujud dampaknya terhadap ekonomi secara umum. Hari ini akan dirilis data kepercayaan konsumen dan lowongan kerja dari JOLTS.
Yen menguat tajam seiring dengan terkoreksinya mata uang dolar dan juga berita dari media Yomuiri yang mengatakan Menteri Keuangan AS – Scott Bessent dalam pertemuan bilateral mengharapkan dolar lebih melemah dan Yen yang menguat lebih disukai. Meskipun kemudian Menteri Keuangan - Atsushi Mimura menyangkal berita tersebut. Bank Sentral Jepang (BOJ) dijadwalkan akan mengadakan pertemuan moneter pada hari Kamis ini dengan perkiraan tidak akan menaikkan dan masih akan mempertahankan suku bunga acuan untuk sementara waktu menunggu kejelasan dampak kenaikan tarif impor AS terhadap ekonomi secara global. Perundingan dagang dengan AS masih belum final dan akan diteruskan pekan depan. Hari ini pasar Jepang libur merayakan Showa Day.
Euro juga kembali menguat terhadap dolar sehingga dalam sebulan mata uang ini mengalami penguatan terbanyak dalam 15 tahun terakhir. Selain itu Euro juga menguat oleh perubahan kebijakan fiskal terbaru dari pemerintah Jerman yang memungkinkan untuk mengeluarkan anggaran yang lebih besar dari sebelumnya. Sementara pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) masih tetap optimis akan memangkas suku bunga acuan pada pertemuan moneter mendatang, namun diperkirakan tidak akan agresif dengan pemangkasan jumbo. Karena masih tingginya ketidakpastian seputar kenaikan tarif impor AS. Hari ini ada data Sentimen Konsumen dari GfK di Jerman dan dari Spanyol ada data inflasi dan GDP.
Poundsterling juga menguat seiring dengan kembali melemahnya mata uang dolar. Meski Inggris kemungkinan tidak terlalu mendapat tekanan akan kenaikan tarif impor AS. Menurut Kamar Dagang AS neraca perdagangan AS terhadap Inggris mengalami surplus senilai $12 miliar dibandingkan dengan China yang defisit $300 miliar dan terhadap Uni Eropa juga defisit sebanyak $236 miliar. Bahkan pejabat Bank Sentral Inggris (BOE) – Megan Green mengatakan kenaikan tarif impor AS justru akan menekan turun inflasi dan bukan sebaliknya sehingga suku bunga acuan berpeluang untuk diturunkan, namun akan terkendala oleh adanya rencana kenaikan pajak pendapatan. BOE tentunya akan mempertimbangkan hal tersebut seiring dengan kondisi ekonomi yang lebih baik dibandingkan dengan tetangganya yaitu Uni Eropa.



