Dolar kembali menguat terhadap mata uang lainnya meskipun data Non-Farm Payroll yang dirilis Jumat malam turun drastis di bawah perkiraan. Hanya terjadi penambahan lapangan kerja terisi sebanyak 12K yang jauh di bawah perkiraan 106K dan data periode sebelumnya direvisi menurun dari 254K menjadi 223K. Meskipun turun drastis tapi reaksi pasar justru mendukung penguatan dolar karena turunnya angka tersebut dikarenakan 2 badai besar yang baru-baru ini melanda AS yaitu Badai Helena dan Milton ditambah dengan mogok kerja besar-besaran dari perusahaan produsen pesawat terbang Boeing dan Textron. Data lain berupa tingkat pengangguran yang relatif stabil 4.1% sesuai perkiraan sama seperti periode sebelumnya dan juga upah rata-rata stabil 0.4% yang lebih baik dari perkiraan turun 0.3% meyakinkan pelaku pasar bahwa sektor tenaga kerja di AS masih cukup solid. Sementara data lain yaitu PMI dari ISM di sektor manufaktur meski turun dari 47.2 menjadi 46.5 yang berbalik dari perkiraan naik 47.6, namun indeks biaya produksi meningkat tajam dari 48.3 menjadi 54.8 yang lebih tinggi dari perkiraan hanya naik 49.9. Dengan data-data ini semakin memperkuat peluang Fed untuk kembali memangkas suku bunga acuan yang moderat sebanyak 25 bps. Terlebih dengan masih adanya ketidakpastian akan hasil pemilu yang dijadwalkan pada esok hari. Dan pertemuan moneter FOMC - Fed dijadwalkan pada 2 hari kemudian di hari Kamis. Setelah ekspektasi akan langkah Fed dipastikan pada pertemuan tersebut, fokus pasar akan tertuju pada hasil pemilu dimana saat ini polling antara Donald Trump dan Kamala Harris terus bersaing ketat dan tidak ada yang menonjol dari kedua kandidat ini. Kebijakan yang dijanjikan oleh Trump terhadap imigrasi, pengurangan pajak dan kenaikan tarif impor dinilai berpotensi mendorong inflasi dan penguatan mata uang dolar, sementara kebijakan Harris dinilai tidak akan jauh berbeda dari saat ini. Selain itu komposisi Kongres AS yang mayoritas dikuasai oleh Partai Republik akan memudahkan program kerja Trump dan sebaliknya akan mempersulit kerja-kerja Harris di masa depan. Ketidakpastian ini yang mencegah Fed untuk kembali memangkas suku bunga acuan dengan ukuran jumbo seperti sebelumnya. Selain kedua peristiwa penting tersebut, pekan ini juga akan dirilis data PMI di sektor swasta dan juga laporan mingguan klaim pengangguran. Sementara itu pemerintah China juga diperkirakan akan mempertimbangkan stimulus fiskal yang cukup, masih dalam pekan ini seiring dengan Kongres Rakyat China yang dijadwalkan sepanjang pekan ini dari Senin hingga Jumat nanti.
Yen masih cenderung menguat terhadap dolar meski Jepang masih libur hari ini. Penguatan mata uang Yen karena prospek akan kembalinya Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan moneter di bulan Desember yang akan datang. Pekan lalu BOJ mempertahankan suku bunga acuannya dan Gubernur BOJ - Kazuo Ueda secara terbuka mengungkapkan peluang tersebut. Komentar tersebut relatif berbeda dengan yang selama ini Ueda lakukan dengan terus menahan diri untuk tidak terlalu agresif. Pekan ini akan dirilis nota pertemuan moneter BOJ bulan lalu yang akan memberikan pandangan pejabat BOJ akan prospek kenaikan suku bunga acuan mendatang.
Euro melemah tidak saja terhadap dolar namun juga terhadap Yen dengan liburnya sejumlah negara di wilayah ini. Ekspektasi akan langkah moneter yang akan diambil oleh Bank Sentral Eropa (ECB) juga menurun dari sebelumnya diharapkan akan melakukan pemangkasan jumbo menjadi hanya moderat sama seperti sebelumnya seiring dengan potensi inflasi yang kembali naik. Data penting pekan ini adalah PMI di sektor manufaktur dan jasa.
Poundsterling menunjukkan resistensi terhadap dolar meskipun sentimen akan rencana anggaran masih membayangi pelaku industri. Pekan lalu Menteri Keuangan yang baru - Rachel Reeves mengumumkan pemerintah Inggris akan menaikkan pajak menjadi 32% dari sebelumnya 28% yang akan berlaku mulai April tahun 2025 mendatang. . Kenaikan pajak ini merupakan kenaikan pajak tertinggi sejak tahun 1993 yang lalu dan dipastikan akan mengurangi laba pelaku bisnis sehingga berpotensi membuat industri lesu. Meski demikian, pasar tetap berekspektasi akan langkah moneter Bank Sentral Inggris (BOE) untuk kembali melanjutkan pemangkasan suku bunga acuannya sebanyak 25 bps pada pertemuan moneter yang dijadwalkan pada hari Kamis nanti. Selain BOE, Bank Sentral Australia (RBA) juga dijadwalkan akan mengadakan pertemuan moneter di hari Selasa esok namun diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuannya dan Bank Sentral Swedia (Riksbank) yang diperkirakan akan memangkas 50 bps pada hari Kamis juga.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial



