Dolar terus terkoreksi terhadap mata uang lainnya seiring dengan kekhawatiran akan dampak ekonomi secara global akibat perang tarif dari agenda kenaikan tarif impor AS. Dengan mitra dagang yang memberikan reaksi perlawanan tidak membuat Presiden Trump melunak, namun malah semakin emosional dengan menaikkan tarif impor produk lain dengan nilai yang dianggap tidak rasional. Dengan ancaman akan menaikkan tarif impor produk miras sebanyak 200% setelah Uni Eropa berencana menaikkan tarif impor produk AS senilai $28 juta dolar merespon kenaikan tarif impor baja dan aluminium sebanyak 25%. Belum lagi penundaan implementasi kebijakan terhadap Kanada dan Mexico membuat pasar mulai meragukan efektifitas kebijakan tersebut dan justru mengkhawatirkan akan membuat kondisi ekonomi menjadi lebih rentan terhadap resesi. Tentu saja kekhawatiran akan ancaman krisis keuangan ini dibantah oleh pemerintah AS meskipun dengan argumen yang tidak cukup meyakinkan. Menteri Keuangan - Scott Bessent dalam sebuah wawancara mengatakan "tidak ada jaminan" bahwa tidak akan ada resesi di Amerika Serikat. Bahkan agenda kenaikan tarif ini menutupi kebijakan pengurangan pajak dan penyederhanaan regulasi yang juga menjadi rencana kerja Presiden Trump. Sementara data Retail Sales hanya mengalami kenaikan yang kurang signifikan sedangkan data periode sebelumnya malah direvisi menurun. Data Retail Sales meningkat menjadi 0.2% yang jauh lebih rendah dari perkiraan naik 0.6% sedangkan data periode sebelumnya juga direvisi menurun dari -0.9% menjadi -1.2%. Begitu pula dengan data Core Retail Sales yang tidak menyertakan sektor otomotif hanya naik 0.3% sesuai perkiraan dan data periode sebelumnya direvisi menurun dari -0.4% menjadi -0.6%. Data-data ini masih tidak memberikan gambaran yang jelas akan daya beli rakyat AS dalam periode Februari tersebut. Hari ini Fed memulai pertemuan moneter FOMC selama 2 hari dan hasilnya akan diumumkan esok hari selepas tengah malam. Fed diperkirakan masih akan tetap mempertahankan suku bunga acuan saat ini, menunggu dampak dari agenda kenaikan tarif impor yang baru akan efektif pada bulan April mendatang. Selain itu hari ini juga ada data sektor perumahan dan data Industrial Production/Utilization Rate.
Yen juga masih cenderung melemah terhadap dolar seiring dengan semakin besar peluang bagi Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk tetap mempertahankan suku bunga acuannya. Meski demikian BOJ diharapkan akan segera menaikkan suku bunga acaunnya kembali setelah dampak dari agenda kenaikan tarif impor pemerintah AS menunjukkan dampaknya setelah efektif pada bulan April mendatang seperti yang disampaikan oleh Gubernur BOJ - Kazuo Ueda. Sehingga BOJ dapat memperkirakan kapan waktu yang tepat untuk melaksanakan kenaikan suku bunga acuan berikutnya.
Euro masih cenderung menguat terhadap dolar seiring dengan akan disetujuinya rencana anggaran pemerintahan baru Jerman untuk militer dan infrastruktur. Calon Kanselir Jerman berhasil meyakinkan Partai Hijau yang sebelumnya menentang rancangan tersebut untuk kepentingan yang lebih besar yaitu untuk memicu pertumbuhan di Uni Eropa sebagai bagian dari penggerak ekonomi global. Rencana anggaran militer dan infrastruktur senilai €500 juta dipastikan akan lolos pada pertemuan parlemen yang dijadwalkan pekan depan. Hari ini ada data sentimen investor dari Sentix untuk Uni Eropa maupun untuk Jerman.
Poundsterling rebound terhadap dolar setelah data sektor perumahan meningkat cukup signifikan dengan indeks harga perumahan terus meningkat dari 0.5% menjadi 1.1%. Bank Sentral Inggris (BOE) dijadwalkan akan mengadakan pertemuan moneter pada hari Kamis nanti dengan perkiraan masih akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis.
Cek informasi lainnya di kanal resmi Agrodana Futures



