
Dolar bergerak rebound terhadap mata uang lainnya, meskipun sempat menyentuh level terendah dalam 2 pekan terakhir pasca penundaan agenda kenaikan tarif impor Presiden Trump. Kekhawatiran akan kenaikan tarif impor menjadi sentiment negatif bagi mata uang asing lainnya sejak menangnya Trump dalam pemilu di bulan November tahun lalu. Dalam pernyataannya setelah dilantik menjadi Presiden AS secara resmi hari Senin lalu, Trump menyatakan akan menginvestigasi dan memilah negara-negara yang akan dikenakan kebijakan tarif yang baru nanti dan seberapa banyak kenaikannya tergantung dari defisit neraca perdagangan yang terus meningkat di AS. Penundaan ini memberikan waktu bagi mitra dagang AS untuk bernegosiasi. Kenaikan tarif AS digunakan oleh Trump untuk menyeimbangkan neraca perdagangan AS dengan opsi untuk menyerap produk-produk AS yang senilai atau bisa juga dengan membeli minyak mentah dan gas alam milik AS. Produsen energi di AS dijanjikan akan diberikan sejumlah kemudahan yang lebih banyak dalam masa pemerintahan Trump yang kedua saat ini. Sehingga diperkirakan persediaan minyak mentah dan gas alam AS akan melimpah dalam beberapa waktu mendatang. Hingga keputusan kenaikan tarif kemungkinan masih akan lebih lama dari yang diperkirakan pasar terkait dengan negosiasi dengan banyak mitra dagang dengan kepentingan yang berbeda-beda. Diperkirakan baru akan tuntas pada 1 April mendatang seiring dengan batas waktu laporan anggaran di depan Kongres AS nanti. Kecuali terhadap Kanada dan Mexico yang sudah dijelaskan terlebih dahulu oleh Trump dengan kenaikan sebanyak 25% terkait dengan kedekatan perbatasan dan juga banyaknya imigran gelap yang masuk ke AS. Dan juga terhadap China, meski tidak sebanyak 2 negara tetangga tersebut yaitu sebanyak 10% saja. Meski Uni Eropa juga disebut, namun Trump tidak secara spesifik menetapkan seberapa banyak akan dikenakan kenaikan tarif impor. Begitu pula dengan Rusia yang diancam akan dikenakan sanksi yang lebih ketat jika tidak segera mengakhiri perang di Ukraina. Data ekonomi berupa Leading Indeks juga tidak baik dengan menurun -0.1 sesuai perkiraan meski data periode sebelumnya direvisi membaik dari 0.3% menjadi 0.4%. Hari ini ada laporan mingguan klaim pengangguran dan juga dijadwalkan Presiden Trump akan memberikan pidato pertama setelah pelantikan pada Forum Ekonomi Dunia di Davos via satelit.
Yen mengalami koreksi terhadap dolar setelah menguat selama 2 pekan terakhir menjelang dimulainya 2 hari pertemuan moneter Bank Sentral Jepang (BOJ). Dengan ekspektasi BOJ akan menaikkan suku bunga acuan lebih lanjut sebanyak 25 bps dengan peluang mencapai 88.3%. Gubernur BOJ - Kazuo Ueda dan Wakil Gubernur-nya Ryozo Himino beberapa pekan lalu juga menyampaikan kesiapan BOJ untuk menaikkan suku bunga acuan seiring dengan inflasi yang cenderung naik dan juga data perupahan yang melonjak naik ke level tertinggi dalam 3 dasawarsa terakhir. Belum lagi kenaikan tarif yang akan dikenakan oleh pemerintah AS yang baru yang pasti akan memicu inflasi. Hal ini juga menjadi kekhawatiran Menteri Keuangan Jepang - Atsushi Mimura yang menilai mata uang Yen yang lemah akan memicu inflasi seiring dengan biaya impor. Pihaknya dan bank sentral terus berkomunikasi secara intensif setiap hari untuk memonitor pergerakan mata uang Yen melalui berbagai cara. Data inflasi CPI baru akan dirilis esok hari bertepatan sebelum pengumuman hasil pertemuan moneter BOJ.
Euro mengalami koreksi terhadap dolar setelah sempat naik ke level tertinggi sejak 30 Desember. Setelah sejumlah pejabat ECB memberikan sinyal perlunya memangkas suku bunga acuan lebih lanjut yang dijadwalkan pekan depan. Dan diperkirakan masih akan terus memangkas suku bunga acuan sepanjang tahun ini tanpa mengurangi laju. Peluang ECB memangkas suku bunga acuan sebanyak 25 bps hingga mencapai 96%. Presiden ECB - Christine Lagarde pada pertemuan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos mengatakan arah kebijakan moneter sudah jelas. Gubernur Bank Sentral Prancis - Francois Villeroy de Galhau juga optimis suku bunga dapat dipangkas lebih lanjut seiring dengan keyakinan inflasi akan turun mencapai target 2%. Gubernur Bank Sentral Yunani - Yannis Stournaras juga sepakat dengan Villeroy dan mendukung pemangkasan selanjutnya secara bertahap. Gubernur Bank Sentral Belanda - Klaas Knot juga menunjukkan dukungan yang sama. Sementara Gubernur Bank Sentral Spanyol - José Luis Escrivá lebih waspada dengan meminta ECB untuk lebih cermat membaca kondisi sebelum memutuskan kebijakan moneter. Kondisi ekonomi yang masih terus cenderung menurun, belum lagi Uni Eropa yang menjadi target utama kenaikan tarif AS membuat ECB perlu segera mengantisipasi dengan pemangkasan suku bunga acuan lebih lanjut. Hari ini akan dirilis data Kepercayaan Konsumen.
Poundsterling juga terkoreksi selain karena reboundnya dolar, namun juga oleh data Hutang Sektor Publik yang mengalami peningkatan 17.8B jauh melampaui perkiraan naik 14.2B dan data periode sebelumnya juga direvisi menurun dari 11.2B menjadi 11.8B. Defisit anggaran yang terus meningkat akan menjadi beban pada rancangan anggaran Menteri Keuangan - Rachel Reeves. Sebelumnya data di sektor tenaga kerja yang masih cenderung menurun memberi sinyal kondisi ekonomi yang mulai melambat semakin membuka peluang Bank Sentral Inggris (BOE) untuk menurunkan lagi suku bunga acuan.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://t.me/AGROdanaOFFICIAL
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial



