
Dolar berlanjut menguat terhadap sejumlah mata uang utama lainnya meski laporan di sektor tenaga kerja di AS bervariasi. Dari laporan Non-Farm Payroll (NFP) di hari Jumat lalu, terisinya lapangan kerja mengalami penurunan yang cukup signifikan sebanyak 143K yang lebih rendah dari perkiraan hanya turun 170K, sementara data periode sebelumnya direvisi meningkat dari 256K menjadi 307K. Penurunan tajam ini terjadi dikarenakan kebakaran besar di California dan cuaca dingin yang tidak biasa yang terjadi di sebagian wilayah di AS. Dengan memperhatikan penyebab penurunan tersebut, pasar cenderung mengambil nilai dari data periode sebelumnya yang direvisi meningkat tersebut. Sedangkan upah rata-rata mengalami kenaikan menjadi 0.5% yang lebih baik dari perkiraan stabil 0.3% sama seperti periode sebelumnya dan tingkat pengangguran menurun 4.0% yang juga lebih baik dari perkiraan stabil 4.1% sama seperti periode sebelumnya. Data lain yaitu hasil survey dari University of Michigan menunjukkan ekspektasi inflasi meningkat dari 3.3% menjadi 4.3% sehingga indeks sentimen konsumen menurun menjadi 67.8 yang lebih rendah dari perkiraan turun 71.9 dan data periode sebelumnya juga direvisi menurun dari 73.2 menjadi hanya 71.1. Dengan data-data ini mendukung keputusan Fed untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan moneter 30 Januari yang lalu. Pasar memperkirakan Fed masih akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya setidaknya hingga pada pertemuan moneter di bulan Juni mendatang. Menteri Keuangan - Scott Bessent mengatakan meskipun Presiden Trump ingin suku bunga acuan turun, namun tidak akan mencampuri urusan Fed dan hanya akan mencermati pergerakan yield obligasi pemerintah jangka 10 tahun saja. Mata uang dolar juga menguat setelah fokus pasar akan kembali tertuju pada agenda kenaikan tarif impor dengan Presiden Trump yang berencana akan mengumumkan kenaikan tarif terhadap sejumlah negara lainnya yang dikatakan akan dapat membantu menyelesaikan permasalahan anggaran di AS. Meski tidak menyebutkan secara spesifik negara yang akan dikenakan kenaikan tarif impor berikutnya. Pekan ini akan dirilis data inflasi CPI dan juga Retail Sales serta Ketua Fed - Jerome Powell dijadwalkan akan memberikan testimoni di depan Komite Perbankan Senat AS bersama dengan sejumlah pejabat Fed lainnya esok hari.
Yen mengalami sedikit koreksi terhadap dolar setelah sempat menguat hingga di bawah level 151 per dolar AS. Sentimen masih cenderung positif seiring dengan masih akan dinaikkannya suku bunga acuan di Jepang oleh Bank Sentral Jepang (BOJ) dalam waktu yang tidak lama lagi. Dengan data inflasi yang terus meningkat dan juga didukung oleh komentar dari pejabat BOJ - Naoki Tamura yang pekan lalu menyarankan kenaikan suku bunga acuan setidaknya 100 bps atau 1% hingga paruh pertama tahun ini. Selain itu, Yen juga menguat kembali pasca pertemuan Perdana Menteri Jepang - Shigeru Ishiba dengan Presiden Trump yang sepakat untuk menjaga pergerakan mata uang terutama nilai tukar kedua mata uang negara tersebut. Selain itu Jepang juga kemungkinan akan mendapat pengecualian dari agenda kenaikan tarif impor AS. Hari Selasa Jepang libur merayakan hari Foundation Day dan data ekonomi yang cukup penting hanya berupa data inflasi dari sisi produsen PPI di hari Kamis nanti.
Euro semakin melemah terhadap mata uang dolar seiring dengan rencana Presiden Trump akan menaikkan tarif impor terhadap mitra dagang lainnya. Uni Eropa kemungkinan menjadi target utama setelah Mexico, Kanada dan China, meski masih belum dapat dipastikan. Dalam beberapa kesempatan lalu Presiden mengeluhkan neraca perdagangan dengan Uni Eropa yang tidak seimbang. Dimana Uni Eropa mengenakan tarif impor kendaraan dari AS sebanyak 10% sedangkan kendaraan Eropa hanya di kenakan tarif impor 2.5% ke AS. Selain Uni Eropa, AS diperkirakan juga akan menargetkan India, Vietnam dan Brasil. Kekhawatiran akan kenaikan tarif impor ini menjadi sentimen negatif bagi Uni Eropa selain karena fundamental ekonomi yang masih terus cenderung menurun. Hari ini akan dirilis data sentimen konsumen dari Sentix dan pidato dari Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) - Christine Lagarde di depan parlemen Eropa di Strasbourg.
Poundsterling juga terus melemah terhadap dolar setelah Bank Sentral Inggris (BOE) pekan lalu memangkas suku bunga acuannya untuk ketiga kalinya dan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi hanya 0.75% atau separuh dari perkiraan. Hasil voting dari pertemuan moneter juga secara bulat sepakat untuk memangkas dan tidak ada satupun yang memilih untuk mempertahankan suku bunga acuannya. Bahkan pejabat BOE sekaligus anggota voting yang selama ini cukup konservatif mengusulkan pemangkasan yang lebih agresif dengan pemangkasan jumbo 50 bps. Walau akhirnya disepakati hanya 25 bps, namun pernyataan tersebut menandakan bahwa masih terbuka peluang untuk pemangkasan lebih lanjut oleh BOE dalam pertemuan moneter berikutnya. Hal senada disampaikan oleh Gubernur BOE - Andrew Bailey yang dalam konferensi pers mengharapkan BOE akan melanjutkan pemangkasan suku bunga, meski keputusan masih akan dilakukan berdasarkan perkembangan data ekonomi. Pekan ini ada data pertumbuhan ekonomi GDP di Inggris yang akan dirilis pada Kamis dan esok hari Gubernur Bailey dijadwalkan akan memberikan pidato pada salah satu sekolah bisnis di London.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://t.me/AGROdanaOFFICIAL
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial



