
Dolar kembali tertekan terhadap sejumlah mata uang lainnya yang dipicu pernyataan Presiden Trump dalam teleconference pada Forum Ekonomi Dunia yang diselenggarakan di Davos. Dalam pidatonya Trump meminta agar tidak hanya suku bunga acuan Fed diturunkan, namun juga suku bunga acuan bank sentral lainnya. Selain itu Trump juga menuntut harga minyak mentah dunia yang rendah dan berencana meminta Arab Saudi untuk menurunkan harga. Dan juga penurunan pajak bagi perusahaan guna menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih sehat. Trump menambahkan akan mengancam akan menggunakan kenaikan tarif impor jika permintaannya tersebut tidak dilaksanakan. Diantara agenda kenaikan tarif hanya terhadap Kanada dan Mexico yang secara spesifik akan dilaksanakan pada 1 Februari mendatang. Sementara dengan mitra dagang lainnya masih belum secara terbuka diumumkan yang diperkirakan untuk memberi waktu bagi mitra dagang AS untuk bernegosiasi langsung. Kenaikan tarif AS digunakan oleh Trump untuk menyeimbangkan neraca perdagangan AS dengan opsi untuk menyerap produk-produk AS yang senilai atau bisa juga dengan membeli minyak mentah dan gas alam milik AS. Produsen energi di AS dijanjikan akan diberikan sejumlah kemudahan yang lebih banyak dalam masa pemerintahan Trump yang kedua saat ini. Sehingga diperkirakan persediaan minyak mentah dan gas alam AS akan melimpah dalam beberapa tahun mendatang. Pidato dari Trump tersebut membuat mata uang kembali terkoreksi seiring dengan ekspektasi akan tekanan terhadap Fed untuk menurunkan suku bunga acuannya. Fed dalam pertemuan moneter di bulan Desember lalu mewanti-wanti akan lebih cermat lagi dalam memutuskan kebijakan moneter yang akan diambilnya seiring dengan ketidakpastian kebijakan fiskal yang akan diambil oleh pemerintahan AS yang baru saat ini. Sejumlah pakar ekonomi meyakini bahwa agenda ekonomi Trump berpotensi kembali memicu inflasi naik, namun tidak sedikit juga yang beranggapan hal tersebut terlalu berlebihan. Salah satu yang menepis keyakinan tersebut adalah Gubernur Fed – Christopher Waller mengatakan kenaikan tarif tidak secara signifikan dan pasti akan berdampak pada inflasi sehingga kebijakan moneter Fed untuk memangkas suku bunga acaun lebih lanjut dapat dijalankan sebagaimana yang direncanakan. Untuk saat ini Presiden Trump diperkirakan akan lebih fokus pada pengurangan pajak dan penyederhanaan regulasi terutama di sektor energi setelah menyelesaikan regulasi di bidang cryptocurrency kemarin. Data ekonomi yang dirilis berupa klaim pengangguran mengalami peningkatan dari 217K menjadi 223K yang melampaui perkiraan hanya naik 219K. Sedangkan hari ini ada data PMI di sektor manufaktur dan jasa, data sektor perumahan dan hasil survey dari University of Michigan perihal Sentimen Konsumen dan Ekspektasi Inflasi.
Yen masih terus menguat terhadap dolar seiring dengan ekspektasi akan kenaikan suku bunga acuan dari pertemuan moneter Bank Sentral Jepang (BOJ) yang akan diumumkan hari ini. Diperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak 25 bps pada pertemuan kali ini seiring dengan inflasi yang terus cenderung naik dan juga data upah yang naik ke level tertinggi dalam 30 tahun terakhir yang dirilis pekan lalu. Pejabat BOJ mulai dari Gubernur – Kazuo Ueda dan Wakil Gubernur – Ryozo Himino dan pejabat lainnya sepertinya sepakat perlunya menaikkan suku bunga acuan untuk menekan inflasi turun hingga mencapai target 2%. Data Inflasi yang dirilis pagi ini juga menunjukkan inflasi terus naik dari 2.7% menjadi 3.0% sesuai perkiraan. Dengan inflasi cukup menjadi alasan bagi langkah yang akan diambil oleh BOJ hari ini.
Euro juga bergerak menguat semata karena pelemahan mata uang dolar. Dolar dengan sedikit kondisi yang tertahan seiring dengan rencana Bank Sentral Eropa (ECB) untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga acuan pekan depan. Data ekonomi fundamental yang dirilis semalam sebenarnya tidak terlalu berpengaruh yaitu data kepercayaan konsumen yang sedikit membaik dari -15 menjadi -14 sesuai perkiraan. Sehari sebelumnya sejumlah pejabat ECB termasuk Presiden Christine Lagarde hampir secara bulat mengindikasikan masih akan terus melakukan pemangkasan suku bunga acuan. Tidak kurang dari 4 Gubernur Bank Sentral dari berbagai negara anggota Uni Eropa juga mendukung pernyataan tersebut. Yaitu Gubernur Bank Sentral Prancis - Francois Villeroy de Galhau, Gubernur Bank Sentral Yunani - Yannis Stournaras dan Gubernur Bank Sentral Belanda - Klaas Knot dan hanya Gubernur Bank Sentral Spanyol - José Luis Escrivá yang sedikit skeptis dengan meminta ECB untuk lebih cermat membaca kondisi sebelum memutuskan kebijakan moneter. Uni Eropa juga menjadi target utama kenaikan tarif AS membuat ECB perlu segera mengantisipasi dengan pemangkasan suku bunga acuan lebih lanjut. Hari ini akan dirilis data PMI di sektor manufaktur dan jasa serta pidato dari Presiden ECB - Christine Lagarde pada Forum Ekonomi Dunia di Davos.
Poundsterling juga ikut menguat seiring dengan melemahnya mata uang dolar terhadap hampir semua mata uang lainnya. Data fundamental ekonomi juga cukup membaik yaitu data industrial order yang naik dari -40 menjadi -34 yang lebih baik dari perkiraan hanya naik -35. Satu hal yang masih menjadi beban ekonomi di Inggris adalah defisit anggaran yang beberapa waktu lalu dialihkan dari Mentari Keuangan yang sebelumnya mengundurkan diri dan digantikan oleh Rachel Reeves. Jika kondisi ekonomi yang terus melambat, semakin membuka peluang Bank Sentral Inggris (BOE) untuk menurunkan lagi suku bunga acuan. Hari ini akan dirilis data PMI di sektor manufaktur dan jasa.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://t.me/AGROdanaOFFICIAL
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial



