
Dolar melonjak tajam terhadap mata uang lainnya dengan persentase kenaikan terbanyak dalam 2 bulan terakhir setelah Presiden Trump mengkonfirmasi akan diberlakukannya kenaikan tarif terhadap Kanada dan Mexico pekan depan. Trump mengatakan tidak ada penundaan lagi karena membanjirnya narkoba yang masuk AS dari 2 negara tersebut. Perdana Menteri Kanada - Justin Trudeau merespon kenaikan tersebut dengan mengatakan akan bertindak tegas dan segera terhadap kebijakan AS tersebut. Trump juga mengindikasikan kenaikan tarif yang sama sebanyak 25% terhadap kendaraan dan barang lainnya dari Eropa. Selain itu, Trump melakukan langkah yang tidak terduga berupa pembatalan izin operasi perusahaan minyak AS Chevron di Venezuela yang membuat kekhawatiran akan terkendalanya suplai minyak mentah. Ketidakpastian dan masih simpang siurnya informasi akan dampak dari kenaikan tarif tersebut membuat permintaan akan aset safe haven meningkat termasuk mata uang dolar. Sebelumnya dolar sempat tertekan setelah data di sektor tenaga kerja menunjukkan peningkatan sebanyak 242K yang melampaui perkiraan 221K dan data periode sebelumnya direvisi sedikit naik dari 219K menjadi 220K. Sementara data pertumbuhan ekonomi GDP hanya meningkat 2.3% sesuai perkiraan dari periode sebelumnya 2.8%. Dengan indikasi inflasi atau indeks harga dari data GDP mengalami kenaikan menjadi 2.4% yang lebih tinggi dari perkiraan sama seperti periode sebelumnya 2.2%. Sedangkan data Durable Goods Order naik dari 3.1% melampaui perkiraan naik 2.0% dari periode sebelumnya yang juga direvisi membaik dari -2.2% menjadi -1.8%. Data-data ini semakin mempersempit peluang akan langkah pemangkasan suku bunga acuan oleh Fed meskipun ekspektasi akan langkah tersebut masih sama seperti sebelumnya. Gubernur Fed Cleveland - Beth Hammack juga menegaskan kebijakan moneter yang tepat saat ini adalah untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan. Begitu pula pendapat Gubernur Fed Philadelphia - Patrick Harker untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan untuk sementara waktu sampai terdapat kejelasan arah laju inflasi. Hari ini akan dirilis data indikator inflasi personal/rumah tangga yang lebih sering dipakai oleh Fed dalam pengambilan keputusan moneternya yaitu Personal Consumption Expenditure (PCE) dengan perkiraan mengalami kenaikan yang semakin mempertebal peluang Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan untuk beberapa waktu lebih lama lagi. Selain itu juga ada data Personal Income/Spending dan data Chicago PMI.
Yen mengalami koreksi terhadap dolar seiring komentar dari Gubernur Bank Sentral Jepang (BOJ) - Kazuo Ueda yang memperingatkan akan ketidakpastian ekonomi global yang semakin meningkat akan dihadapi oleh sejumlah negara. Meskipun peluang semakin besar BOJ akan menaikkan suku bunga acuan lebih lanjut dan BOJ juga akan mengawasi pergerakan mata uang Yen dengan lebih ketat lagi. BOJ juga cukup yakin jika tidak terjadi pertentangan antara menguatnya yen dengan positifnya data ekonomi. Hal ini dimaksudkan bahwa penguatan mata yen disertai dengan kondisi ekonomi yang semakin membaik sehingga sangat memungkinkan kenaikan suku bunga acuan berikutnya di Jepang. BOJ diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan kembali pada kuartal 3 tahun ini sebanyak 25 bps.
Euro melemah terhadap dolar dengan penurunan terbanyak sejak 2 Januari lalu seiring dengan rencana Presiden Trump akan mengenakan penambahan tarif impor produk dari Eropa dengan kenaikan yang fleksibel di kisaran 25% terutama terhadap produk otomotif. Belum ada tanggapan dari pihak Uni Eropa perihal tindakan yang akan diambil untuk antisipasi agenda tersebut. Sementara itu terjadinya galat teknis dalam sistem penyelesaian perdagangan yang cukup mengganggu transaksi senilai triliunan Euro juga menjadi sentimen negatif di pasar. Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan pada pertemuan moneter mereka pada pekan depan. Seiring dengan kondisi ekonomi yang masih buruk dan potensi kenaikan inflasi akibat dari agenda ekonomi Presiden Trump tersebut. Dalam nota pertemuan moneter ECB bulan lalu disebutkan meskipun kecenderungan inflasi yang tinggi saat ini akan bertahan lebih lama dari yang perkirakan dan ECB masih optimis bahwa inflasi masih dalam toleransi yang dapat diterima. Hari ini ada data inflasi CPI, Retail Sales dan data dari sektor tenaga kerja di Jerman.
Poundsterling juga terkoreksi seiring dengan rencana kenaikan tarif Presiden Trump terhadap Eropa dengan kemungkinan Inggris juga tidak akan terkecuali. Meski belum ada kepastian akan hal tersebut sebelum ada hasil dari kunjungan Perdana Menteri - Keir Starmer ke AS dalam pekan ini. Pasar juga masih menunggu kebijakan ekonomi dan fiskal baru dari Menteri Keuangan - Rachel Reeves yang baru akan diumumkan pada 26 Maret mendatang. Bank Sentral Inggris (BOE) diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuannya dan menunggu data ekonomi yang lebih banyak lagi dan juga mempertimbangkan dampak dari kenaikan tarif AS terhadap ekonomi global. Hari ini ada data indeks harga perumahan.
Cek informasi lainnya di kanal resmi Agrodana Futures



