Dolar terus melemah terhadap mata uang lainnya, masih dengan ancaman resesi di AS serta dampak kenaikan tarif impor terhadap pertumbuhan ekonomi global yang masih menjadi kekhawatiran di pasar. Ketidakpastian perang dagang akibat perubahan mendadak kenaikan tarif impor dan juga prospek tercapainya gencatan senjata di Ukraina juga ikut mempengaruhi pasar. Kekhawatiran akan terjadinya erupsi pertumbuhan ekonomi global meningkat setelah Presiden Trump berencana untuk menggandakan kenaikan tarif impor baja dan aluminium dari Kanada sebanyak 50% dari sebelumnya yang hanya 25% setelah provinsi Ontario menaikkan tarif listrik sebanyak 25% yang disalurkan ke AS. Meskipun pada akhirnya Gubernur provinsi Ontario menunda rencana kenaikan tersebut dan akan merundingkan lebih lanjut dengan pemerintah AS dalam pekan ini. Kejadian ini menunjukkan bahwa ketegangan perang dagang dapat terjadi kapan saja dengan saling membalas dengan kenaikan tarif yang hampir dapat dipastikan akan merugikan perdagangan global. Sementara itu Ukraina menerima proposal gencatan senjata 30 hari dari AS selama diadakannya perundingan damai di Arab Saudi, meski pihak Rusia belum memberikan respon. Data ekonomi berupa indeks bisnis UKM mengalami penurunan dalam 3 bulan berturut-turut menghapus seluruh kepercayaan terhadap pemerintahan AS yang baru. Sedangkan jumlah lowongan kerja dari JOLTS mengalami peningkatan menjadi 7.74M yang lebih banyak dari perkiraan 7.65M meskipun data periode sebelumnya direvisi menurun dari 7.60M menjadi hanya 7.51M. Hari ini akan dirilis data inflasi dari sisi konsumen CPI dengan perkiraan mengalami penurunan setelah terjadi kenaikan pada periode sebelumnya.
Yen masih terus cenderung menguat terhadap dolar dengan data pertumbuhan ekonomi yang mengalami penurunan, namun tekanan inflasi masih cenderung naik. Data GDP di Jepang kuartal ini mengalami penurunan menjadi 0.6% lebih rendah dari perkiraan stabil sama seperti periode sebelumnya 0.7%. Namun indeks harga dari data GDP tersebut mengalami peningkatan menjadi 2.9% yang lebih tinggi dari perkiraan stabil sama seperti periode sebelumnya 2.8%. Hal ini mengindikasikan potensi inflasi kembali meningkat sehingga membuat Bank Sentral Jepang (BOJ) perlu menaikkan lagi suku bunga acuannya. Namun BOJ kemungkinan akan menunggu hingga ketidakpastian akan dampak agenda kenaikan tarif impor terhadap ekonomi seccara global dapat diantisipasi. Pejabat BOJ juga diperkirakan akan masih mempertahankan suku bunga acuannya saat ini pada pertemuan moneter mereka di pekan depan.
Euro terus menguat terhadap dolar seiring dengan prospek tercapainya gencatan senjata di Ukraina menjelang lanjutan perundingan damai yang diadakan di Arab Saudi. Ukraina sepakat dengan rencana AS untuk melakukan gencatan senjata selama 30 hari dan bersedia melanjutkan perundingan damai yang diinisiasi oleh AS dengan pihak Rusia. Menteri Luar Negeri - Marco Rubio kemudian akan mengajukan hal yang sama kepada Rusia dan pihak Rusia belum memberikan respon. Tercapainya perdamaian di Ukraina akan menjamin keamanan di kawasan Uni Eropa yang bersebelahan langsung. Sementara itu pemerintah Jerman juga melakukan reformasi fiskal dengan membatalkan pembatasan anggaran dan berencana menganggarkan senilai €500 juta untuk belanja militer dan infrastruktur yang diharapkan akan memacu perekonomian dan stabilitas keamanan di kawasan ini. Walaupun ada wacana Partai Hijau berencana untuk menggagalkan rancangan ini di parlemen dan berencana untuk mengajukan gagasan yang berbeda. Namun sepertinya hal ini tidak mendapat tanggapan dari pasar karena gagasan yang tidak dijelaskan belum tentu lebih baik. Sementara itu tidak ada data ekonomi yang akan dirilis dan Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) - Christine Lagarde juga tidak menyinggung perihal kebijakan moneter dalam pidato semalam. Malam ini Gubernur Bank Sentral Jerman (BundesBank) - Joachim Nagel dijadwalkan akan memberikan pidato.
Poundsterling rebound terhadap dolar, namun masih terus melemah terhadap Euro seiring dengan prospek perdamaian di Ukraina dengan dilanjutkannya perundingan damai di Arab Saudi. Walaupun kondisi ekonomi di Inggris sendiri juga tidak terlalu baik dengan data Leading Indeks yang mengalami penurunan -0.3% meskipun periode sebelumnya direvisi membaik dari -0.1% menjadi 0.0%. Data-data ekonomi sebelumnya juga cenderung menurun sehingga diperkirakan Bank Sentral Inggris (BOE) masih akan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan moneter yang dijadwalkan pekan depan. Hari ini tidak ada data penting yang akan dirilis
Cek informasi lainnya di kanal resmi Agrodana Futures



