Dolar bergerak melemah terhadap mata uang lainnya paska pidato dari Ketua Fed - Jerome Powell di Portugal yang cenderung dovish dan semakin menunjukkan kesiapan Fed untuk mulai memangkas suku bunga acuan di tahun ini. Dalam pidatonya Powell mengatakan kondisi ekonomi saat ini menunjukkan inflasi di AS mengalami kemajuan yang signifikan menuju disinflasi. Meski demikian Fed perlu lebih banyak data lagi untuk memastikan turunnya inflasi akhir-akhir ini benar-benar merefleksikan kondisi sesungguhnya dan dan bukan bersifat temporer sebelum memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan. Pernyataan Powell ini meski hampir sama dengan komentar terdahulu, namun semakin memperbesar peluang Fed untuk segera menurunkan suku bunga. Spekulasi akan langkah Fed menurunkan suku bunga acuan sebanyak 25 bps semakin meningkat dari 63% menjadi 69% menurut LSEG dan berpeluang untuk memangkas untuk kedua kali juga di tahun ini. Sementara data lowongan pekerjaan baru di AS mengalami peningkatan  sebanyak  8.14M yang melampaui perkiraan turun 7.96M dari data periode sebelumnya yang juga direvisi menurun dari 8.06M menjadi hanya 7.92M. Sektor tenaga kerja masih menunggu data-data lain termasuk data yang akan dirilis malam ini berupa data terisinya lapangan kerja swasta dari ADP, data PHK dari Challenger dan juga laporan mingguan Klaim Pengangguran. Data terpenting yaitu data Non-Farm Payroll akan dirilis di hari Jumat nanti. Hari ini US Market hanya setengah hari sehingga diperkirakan volume perdagangan akan berkurang dari biasanya menjelang hari libur esok hari merayakan Independent Day.
Yen sedikit bernafas lega dengan melemahnya mata uang dolar paska pidato dari Ketua Fed - Jerome Powell semalam. Yen turun dari level 161.745 sebelumnya yang merupakan level tertinggi dalam 38 tahun terakhir. Menteri Keuangan - Shunichi Suzuki kemarin mengatakan otoritas keuangan Jepang memonitor sekiranya pergerakan mata uang Yen yang tajam namun tidak secara jelas menegaskan akan melakukan intervensi. Komentar yang sama juga sudah sering dilontarkan oleh pejabat lainnya, sehingga kurang mendapat reaksi dari pasar. Sebelum ini Yen juga melemah terhadap mata uang lainnya seperti Euro dan AUD hingga level terendah dalam 33 tahun terakhir. Rendahnya suku bunga acuan di Jepang dibandingkan dengan suku bunga di belahan dunia lainnya memicu terjadinya transaksi carry trade. Dimana pelaku pasar meminjam mata uang dengan imbal hasil rendah untuk berinvestasi pada mata uang dengan imbal hasil lebih tinggi. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis.
Euro cenderung flat terhadap dolar seiring dengan pidato dari Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) - Christine Lagarde yang senada dengan pidato dari Ketua Fed - Jerome Powell di tempat yang sama. Lagarde menyatakan inflasi di Uni Eropa mendahului menuju disinflasi meski demikian ECB merasa belum perlu tergesa-gesa untuk segera menurunkan suku bunga acuannya kembali karena pertumbuhan ekonomi yang masih belum stabil. Â Seperti diketahui meski inflasi sudah turun cukup banyak namun komponen terpenting yaitu di sektor jasa masih relatif tinggi yang berpotensi kembali mendongkrak inflasi. Fundamental ekonomi menunjukkan angka inflasi CPI sudah semakin turun dari 2.6% menjadi 2.5% sesuai perkiraan, namun data Core CPI-nya relatif masih stagnan di angka 2.9% yang lebih tinggi dari perkiraan turun menjadi 2.8%. Fokus pasar berikutnya adalah pemilu putaran kedua di Prancis yang dijadwalkan pada hari Minggu 7 Juli mendatang. Setelah Partai Reli Nasional (RN) menang pada putaran pertama 30 Juni lalu, sejumlah rival dan kawan dari Presiden Macron bersatu membentuk koalisi guna menghadang laju RN memenangkan pemilu di putaran kedua nanti. Sehinggga diperkirakan perolehan suara RN akan berkurang dibadingkan dengan putaran pertama. Meskipun secara ekonomi kemenangan Partai RN menjadi sentimen positif karena diharapkan akan membawa angin segar untuk ekonomi di Prancis. Hari ini akan dirilis data PMI di sektor jasa dan juga data inflasi dari sisi produsen PPI di Jerman.
Poundsterling bergerak menguat seiring dengan melemahnya mata uang dolar dan juga optimisme menyambut pemilu di Inggris yang dijadwalkan pada esok hari. Dengan peluang oposisi Partai Buruh untuk mengelola pemerintahan yang dalam 14 tahun terakhir ini menggantikan Partai Konservatif. Perdana Menteri - Rishi Sunak diperkirakan akan digantikan oleh Keir Starmer dan kandidat baru Nigel Farage yang dahulu menginisiasi Brexit. Meski pemilu kali ini tidak secara langsung memilih Perdana Menteri, melainkan akan menentukan mayoritas di parleman yang kemudian akan memilih pengganti Sunak. Optimisme akan pergantian mayoritas pada panggung politik di Inggris diharapkan akan membawa stabilitas fiskal dan politik di Inggris yang lebih stabil serta hubungan dagang lebih baik dengan Uni Eropa. Hari ini akan dirilis data PMI di sektor jasa.



