Dolar sempat berlanjut terkoreksi terhadap mata uang lainnya sebelum akhirnya kembali menguat pagi ini setelah sejumlah negara bagian di AS mengakhiri pemungutan dan mulai menghitung perolehan suara masing-masing kandidat presiden AS yang akan datang. Dalam perhitungan sementara menunjukkan perolehan suara Trump mengungguli Harris sehingga ekspektasi akan penguatan dolar meningkat. Seperti diketahui Trump mendukung strong dolar dengan kebijakan yang pro industrialisnya. Sedangkan Harris justru kebalikan dengan kebijakan green industrinya. Pilpres di AS kali ini merupakan pemilu yang terpolarisasi dan menjadi sejarah baru dengan perbedaan pandangan yang bertolak belakang dari kedua kandidat perihal pajak dan perdagangan serta institusi demokrasi dan hukum di AS. Dan hasil dari pemilu ini tidak hanya berdampak domestik dan regional namun juga akan merubah tatanan dunia secara global. Hasil hitung cepat diperkirakan baru akan didapat pada malam hari nanti dengan adanya potensi terjadi perselisihan efek hasil tersebut terutama dari pihak Trump jika mengalami kekalahan. Seperti halnya yang terjadi pada pemilu 2020 yang lalu dimana Trump mengalami kekalahan dan menuduh terjadinya kecurangan dalam perhitungan suara. Selain pemilihan presiden, pemilu kali ini juga menentukan komposisi di Kongres AS, dimana langkah Partai Republik pendukung Trump sepertinya lebih mudah untuk mendapatkan mayoritas dibandingkan Partai Demokrat pendukung Harris yang harus bekerja keras untuk merebut mayoritas. Idealnya adalah kombinasi presiden dan mayoritas di Kongres dari partai yang sama untuk mempermudah jalannya program kerja yang akan dijalankan dalam masa pemerintahan 5 tahun ke depan. Namun sering terjadi kondisi yang tidak ideal seperti saat ini dimana presiden berasal dari Partai Demokrat sementara kursi di Kongres mayoritas dikuasai Partai Republik. Pasar masih akan terfokus pada hasil pemilu sehingga fundamental ekonomi cenderung terabaikan. Data ekonomi berupa PMI di sektor jasa dari ISM meningkat dari 54.9 menjadi 56.0 yang jauh lebih baik dari perkiraan menurun 53.8. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis meski demikian pasar juga mengantisipasi pertemuan moneter FOMC esok hari.
Yen sempat menguat hingga level tertinggi pada 23 Oktober lalu namun kembali melemah seiring dengan suara Trump yang mendominasi hasil hitung cepat pemilu AS pagi ini. Bank Sentral Jepang (BOJ) hampir dapat dipastikan akan menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan moneter di bulan Desember yang akan datang. Hal ini terungkap dari nota pertemuan moneter BOJ bulan lalu yang dirilis semalam. Dalam nota tersebut pejabat BOJ menyepakati akan menaikkan kembali suku bunga acuan jika kondisi ekonomi mendukung. Dan untuk sementara waktu masih mempertahankan suku bunga acuan saat ini seiring dengan kondisi pasar yang masih belum stabil.
Euro juga sempat menguat hingga level tertinggi sejak 11 Oktober lalu sebelum akhirnya merosot tajam. Meskipun fundamental ekonomi tidak terlalu baik, data Industrial Production di Prancis menurun tajam -0.9% yang jauh lebih rendah dari perkiraan -0.5% dan data periode sebelumnya juga direvisi menurun dari 1.4% menjadi hanya 1.1%. Sedangkan data pengangguran di Spanyol meningkat tajam. Hari ini akan dirilis data PMI di sektor jasa untuk seluruh Uni Eropa dan juga per negara-negara anggotanya. Malam ini Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) - Christine Lagarde akan memberikan pidato.
Poundsterling juga sempat menguat seperti halnya Euro namun pagi ini terkoreksi tajam lagi. Data ekonomi cukup positif dengan data PMI di sektor jasa yang meningkat menjadi 52.0 yang lebih baik dari perkiraan stabil sama seperti periode sebelumnya 51.8. Sejauh ini ekspektasi akan langkah Bank Sentral Inggris (BOE) untuk kembali memangkas suku bunga acuan pada pertemuan moneter MPC esok hari. Sedangkan hari ini akan dirilis data PMI di sektor konstruksi.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial



