
Dolar masih cenderung melemah terhadap sejumlah mata uang lainnya sejak hari Senin lalu seiring dengan meredanya kekhawatiran akan perang dagang yang dilancarkan oleh AS. Terutama dengan negara tetangganya Mexico dan Kanada serta rival ekonomi terbesarnya yaitu China. Setelah mendapat respon dari ketiganya, sepertinya Presiden Trump mau menerima untuk bernegosiasi lagi. Mexico dengan kesepakatan untuk menambah personil militer di perbatasan sebanyak 10.000 tentara nasional. Dan setelah berbicara langsung dengan Trump, Perdana Menteri Kanada - Justin Trudeau mengumumkan akan menjalankan hal serupa di perbatasan mereka dengan AS. Keduanya mendapat penundaan pengenaan tarif impor selama 30 hari sembari terus melanjutkan perundingan. Sementara perlawanan China terhadap kenaikan tarif impor AS masih dinilai tidak terlalu keras yang menandakan Beijing bisa mentolerir kenaikan tarif impor sebanyak 10% dan tidak sebanyak yang dialami Mexico dan Kanada sebanyak 25%. Meski tersiar isu bahwa AS kemungkinan akan menaikkan tarif lagi seiring dengan penolakan Trump untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping dalam waktu dekat ini. Sejauh ini China masih hanya melawan di sektor energi saja dan hanya memberikan berupa peringatan terhadap perusahaan AS yang beroperasi di China. Dengan perlawanan dari mitra dagang AS yang variatif ini sepertinya taktik perang dagang AS hanya merupakan alat negosiasi bagi Presiden Trump. Kemungkinan akan terjadi perundingan dagang yang lebih banyak lagi terhadap mitra dagang AS lainnya. Data ekonomi di AS sendiri menunjukkan aktifitas ekonomi di sektor jasa mengalami penurunan dari 54.0 menjadi 52.8 cukup jauh dari perkiraan meningkat 54.3 walau masih di atas ambang batas ekspansif 50. Sementara di sektor tenaga kerja mengalami peningkatan terisinya lapangan kerja swasta sebanyak 183K yang melampaui perkiraan 148K dan data periode sebelumnya juga direvisi membaik dari 122K menjadi 176K. Hari ini masih ada data dari sektor tenaga kerja berupa laporan mingguan klaim pengangguran dan juga data PHK dari Challenger.
Yen juga terus menguat tidak saja karena pelemahan mata uang dolar, namun juga oleh data ekonomi di sektor tenaga kerja yang terus menguat. Data upah rata-rata selama 1 tahun di Jepang juga meningkat menjadi 4.8% yang lebih tinggi dari perkiraan hanya naik 3.6% dan data periode sebelumnya juga direvisi meningkat dari 3.0% menjadi 3.9%. Potensi akan kenaikan angka inflasi semakin tinggi dengan data upah yang meningkat. Sehingga semakin membuka jalan bagi Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya. Dan juga sebelumnya pejabat BOJ mulai dari Ketua, Wakil Ketua dan pejabat lainnya masih sepakat perlunya kenaikkan suku bunga acuan selanjutnya.
Euro bergerak menjauh dari level terendah di hari Senin lalu terhadap dolar seiring dengan meredanya kekhawatiran akan pengenaan tarif yang cukup signifikan oleh Presiden Trump. Di akhir pekan lalu Trump selanjutnya akan menargetkan Uni Eropa sebagai mitra dagang berikutnya yang akan dikenakan kenaikan tarif impor. Dalam perkembangannya kenaikan tarif ini hanya berupa alat negosiasi, maka kekhawatiran tersebut menjadi sedikit mereda. Sebelumnya sejumlah pakar ekonomi menilai Uni Eropa berpotensi akan terjadinya resesi ekonomi yang akan semakin besar jika kenaikan tarif ini akan diberlakukan. Trump juga belum memastikan kapan akan dilaksanakan, namun pejabat dan pelaku usaha sudah mempersiapkan langkah-langkah antisipasi yang mungkin diperlukan. Data ekonomi berupa PMI di sektor jasa di Uni Eropa mengalami sedikit penurunan dari 51.4 menjadi 51.3 masih dalam zona ekspansif. Hari ini ada data Retail Sales unutk Uni Eropa secara keseluruhan dan Factory Order di Jerman.
Poundsterling juga masih cenderung menguat terhadap dolar menjelang pertemuan moneter MPC - Bank Sentral Inggris (BOE) malam ini. Diperkirakan BOE akan memangkas suku bunga acuannya sebanyak 25 bps dari 4.75% menjadi 4.5%. Ini merupakan pemangkasan suku bunga acuan yang ketiga kalinya sejak berakhirnya pandemi 2020 yang lalu. Dengan prakiraan ekonomi yang baru menunjukkan pertumbuhan ekonomi mulai melambat dan inflasi yang belum juga bergerak turun seperti yang diharapkan. Selain itu inflasi juga diperkirakan masih akan bertahan seiring dengan kenaikan pajak yang dicanangkan oleh Menteri Keuangan - Rachel Reeves beberapa waktu lalu, tingginya biaya hidup dan juga resiko akan perang dagang dari AS membuat peluang pertumbuhan ekonomi di Inggris menjadi menurun. Dengan pertimbangan tersebut mempersempit ruang gerak bagi BOE untuk menurunkan suku bunga acuan. Diperkirakan BOE hanya akan memangkas suku bunga acuan sebanyak 2 kali di tahun 2025 ini. Pasar juga akan mencermati hasil voting MPC yang di akhir tahun 2024 lalu mempertahankan suku bunga acuan dengan voting 6-3. Dan juga akan dirilis proyeksi ekonomi di tahun 2025 dari pertemuan tersebut. Hasil pertemuan akan diumumkan pada pukul 19:00 WIB dan akan diikuti dengan konferensi pers 30 menit kemudian.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://t.me/AGROdanaOFFICIAL
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial



