Dolar semakin melemah terhadap mata uang lainnya hingga level terendah yang sudah lama tidak terlihat sebelumnya seiring dengan semakin meruncingnya perang dagang antara AS dengan China. Dolar melemah hingga level terendah dalam 10 tahun terakhir terhadap Swiss Franc dan dalam 3 tahun terakhir terhadap mata uang Euro. Setelah AS menaikkan tarif impor China menjadi 145%, China kembali melakukan perlawanan dengan menaikkan tarif impor sebanyak 125% dari sebelumnya 84% hari Jumat pekan lalu. China menjadi satu-satunya negara yang tidak mendapat penundaan kenaikan impor selain Kanada dan Mexico yang sudah diberlakukan terlebih dahulu. Dengan kebijakan tarif impor yang tarik ulur ini membuat tingginya ketidakpastian sehingga permintaan akan pengalihan aset safe haven menjadi meningkat. Dan cepatnya perubahan kebijakan kenaikan tarif membuat kepercayaan terhadap kredibiltas pemerintahan AS menurun tajam sehingga status dolar sebagai aset safe haven juga ikut turun. Perekonomian yang solid dan sistem keuangan yang stabil di AS belakangan ini berubah seiring dengan langkah yang diambil Presiden Trump, setelah merilis daftar kenaikan tarif reciprocal tak berselang lama dalam hitungan hari dilakukan penundaan dan hanya fokus terhadap China membuat kepercayaan akan kemampuan pengelolaan keuangan pemerintahan Trump menjadi diragukan. Meski demikian penundaan tersebut tidak menghilangkan potensi terjadinya melambatkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya inflasi yang berujung pada peluang terjadinya resesi. Sementara data inflasi di AS yang menurun membuka ekspektasi akan langkah pemangkasan suku bunga acuan Fed lebih lanjut. Data ekonomi penting pekan ini adalah data Retail Sales yang akan dirilis pada hari Rabu dan juga pidato dari sejumlah pejabat Fed termasuk Ketua Fed - Jerome Powell pada hari Rabu lewat tengah malam.
Yen berlanjut menguat hingga level tertinggi sejak September tahun lalu seiring dengan mata uang dolar yang melemah tajam. Selain itu juga karena pengalihan aset safe haven yaitu mata uang yen dan Swiss Franc, Yen sendiri sebelumnya sudah menguat setelah terjadi pertemuan trilateral antara Menteri Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Sentral Jepang (BOJ) yang hanya terjadi dalam keadaan genting. Pertemuan tersebut biasanya diadakan untuk mengantisipasi adanya aksi spekulatif terhadap mata uang yen. Dan hal ini dikonfirmasi oleh Wakil Menteri Keuangan Jepang untuk Hubungan Internasional - Atsushi Mimura. Selain itu, dalam pertemuan tersebut Jepang juga meminta kerjasama dengan negara G7 dan IMF untuk menciptakan stabilitas keuangan global yang tergoncang akibat kenaikan tarif impor AS.
Euro melonjak tajam terhadap dolar hingga level tertinggi sejak Februari tahun 2022 yang lalu. Selain karena pelemahan mata uang dolar, kenaikan tarif impor yang lebih sedikit membuat kondisi ekonomi di kawasan ini memberi dampak relatif tidak seburuk mitra dagang AS lainnya. Didukung oleh Bank Sentral Eropa (ECB) yang siap melakukan apa saja untuk mempertahankan stabilitas finansial di kawasan ini. Hal ini diungkapkan oleh Presiden ECB - Christine Lagarde pada Jumat lalu yang menyatakan siap mengeluarkan instrumen keuangan untuk menjaga stabilitas tersebut dan mempunyai catatan panjang keberhasilan mengatasi kesulitan saat kondisi ekonomi tidak menentu. Pekan ini ECB dijadwalkan akan mengadakan pertemuan moneter dengan perkiraan akan kembali memangkas suku bunga acuan guna mengansitipasi dampak dari kenaikan tarif impor AS nantinya.
Poundsterling juga berlanjut menguat seiring dengan melemahnya mata uang dolar meski sedikit tertahan oleh melonjaknya mata uang Euro. Data-data pertumbuhan ekonomi GDP yang dirilis Jumat lalu menunjukkan peningkatan yang signifikan menjadi 0.5% yang jauh lebih baik dari perkiraan hanya naik 0.1% dengan data periode sebelumnya juga direvisi membaik dari -0.1% menjadi 0.0%. Data industrial production dan manufacturing production juga meningkat melampaui perkiraan, meskipun defisit neraca perdagangan semakin membengkak. Dengan data-data ini masih belum memberikan kejelasan dan cukup meyakinkan bagi Bank Sentral Inggris (BOE) untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga acuannya. Kekhawatiran akan ketidakstabilan ekonomi global dari agenda kenaikan tarif impor menjadi alasan utama BOE untuk lebih berhati-hati. Pekan ini akan dirilis data inflasi CPI yang kemungkinan akan memberikan kejelasan langkah BOE selanjutnya.
Dolar mengalami koreksi tajam terhadap mata uang lainnya bahkan hingga level terendah dalam 10 tahun terakhir terhadap Swiss Franc menyusul penangguhan kenaikan tarif impor. Presiden Trump mengumumkan menunda kenaikan tarif impor terhadap semua mitra dagang yang tidak melakukan perlawanan selama 90 hari. Menteri Keuangan - Scott Bessent mengatakan lebih dari 75 negara mitra dagang AS meminta negosiasi pertimbangan ulang sehingga diharapkan hasil final akan dapat diselesaikan dalam 90 hari yang akan datang. Penundaan ini tidak berlaku untuk Kanada dan Mexico yang dikenakan kenaikan tarif sebanyak 25%, kecuali keduanya mematuhi semua permintaan AS. Sementara ketegangan perang dagang dengan China sepertinya semakin memuncak dengan kenaikan tarif mencapai 145%. Setelah China melawan kenaikan tarif AS dengan kenaikan sebanyak 84%. Pemerintah China menyebut kenaikan tarif AS sebagai ancaman dan pemerasan dari pihak AS dan menanggapi kenaikan tarif impor AS dengan melakukan kenaikan tarif yang lebih tinggi serta berjanji akan melakukan perlawanan hingga akhir. Meski demikian juru bicara Menteri Perdagangan China - He Yongqian mengatakan pemerintah China terbuka untuk dialog, tapi harus didasari oleh saling menghormati kepentingan masing-masing. Uni Eropa juga menunda perlawanannya dan segera meminta negosiasi ulang menurut Ketua Komisi Eropa - Ursula von der Leyen. Menurut Goldman Sachs dengan tarik ulur kenaikan tarif impor antara AS dengan mitra dagangnya termasuk 3 mitra dagang utama membuat probalilitas terjadinya resesi meningkat menjadi 45%. Penundaan kenaikan tarif tidak mengurangi potensi akan terjadinya pelambatan ekonomi karena kenaikan tarif impor AS ini merupakan kenaikan tertinggi dalam lebih dari 1 abad yang lalu dalam kondisi ekonomi yang berbeda sehingga saat ini sistem perdagangan global memasuki era yang belum pernah terjadi sebelumnya. Data ekonomi berupa inflasi di AS mengalami penurunan lebih banyak daripada yang diharapkan dari 0.2% menjadi -0.1% yang rendah dari perkiraan turun 0.1% dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan Core CPI-nya juga turun 0.2% menjadi 0.1% yang lebih baik dari perkiraan naik 0.3%. Sedangkan jika dibandingkan dengan periode setahun sebelumnya inflasi mengalami penurunan cukup signifikan dari 2.8% menjadi 2.4% yang lebih baik dari perkiraan hanya turun 2.5% dan data Core CPI juga turun dari 3.1% menjadi 2.8% yang lebih rendah dari perkiraan hanya turun 3.0%. Dengan data-data ini membuat Fed tidak perlu terburu-buru menurunkan kembali suku bunga acuan meskipun ada resiko potensi inflasi akan kembali naik akibat agenda kenaikan tarif Presiden Trump. Meski demikian Gubernur Fed Chicago – Austan Goolsbee dalam pidato semalam mengatakan pemangkasan suku bunga masih bisa dilakukan jika kondisi ekonomi tetap sejalan dengan perkiraan Fed. Namun Goolsbee mengingatkan agenda Fed tidak sama dengan ekspektasi pasar. Sedangkan laporan klaim pengangguran mengalami peningkatan dari 219K menjadi 223K yang lebih rendah dari perkiraan naik 226K. Sehingga rata-rata dalam 4 pekan terakhir masih stabil 223K. Hari ini masih ada data inflasi dari sisi produsen PPI dan hasil survey dari University of Michigan berupa Sentimen Konsumen dan Ekspektasi Inflasi.
Yen menguat tajam terhadap dolar seiring dengan pengalihan besar-besaran aset menjadi safe haven bersama dengan Swiss Franc dan komoditi Emas yang mencapai rekor tertinggi. Pertemuan trilateral antara Departemen Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Sentral Jepang (BOJ) terbukti menjadi pertemuan penting yang menahan laju pelemahan mata uang Yen. Dalam pertemuan tersebut Jepang juga meminta kerjasama dengan negara G7 dan IMF untuk menciptakan stabilitas keuangan global yang tergoncang akibat kenaikan tarif impor AS. Wakil Menteri Keuangan Jepang untuk Hubungan Internasional - Atsushi Mimura memperingatkan kemungkinan aksi spekulatif terhadap mata uang yen. Pertemuan moneter BOJ dijadwalkan pada awal bulan depan dengan masih belum ada kepastian langkah moneter apa yang akan diambil nanti.
Euro juga melonjak tajam terhadap dolar dengan kenaikan dalam sehari terbanyak sejak 2022 dan menyentuh level tertinggi sejak Juli tahun 2023 yang lalu. Setelah Presiden Trump menunda kenaikan tarif impor, Uni Eropa segera membatalkan rencana perlawanannya sebelum mendapat tanggapan dari AS. Ketua Komisi Eropa - Ursula von der Leyen meminta untuk bernegosiasi meskipun Uni Eropa dikenakan kenaikan tarif hanya 20% yang lebih rendah dari perkiraan semula akan dikenakan sebanyak 25%. Kekhawatiran akan dampak dari kenaikan tarif akan dirasakan lebih parah terhadap kondisi ekonomi di Uni Eropa yang belum benar-benar pulih sehingga Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan akan bertindak lebih agresif dalam memangkas suku bunga acuannya. Pertemuan moneter ECB dijadwalkan akan dilaksanakan pada pekan depan dengan perkiraan akan kembali memangkas suku bunga acuannya. Hari ini hanya ada data inflasi CPI di Jerman.
Poundsterling juga rebound seiring dengan melemahnya mata uang dolar menjelang data pertumbuhan ekonomi GDP yang akan dirilis malam ini. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan membaik dari -0.1% menjadi +0.1%. Namun hal ini masih belum cukup meyakinkan bagi Bank Sentral Inggris (BOE) untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga acuannya. Kekhawatiran akan ketidakstabilan ekonomi global dari agenda kenaikan tarif impor menjadi alasan utama BOE untuk lebih berhati-hati. Wakil Gubernur BOE - Sarah Breeden semalam mengatakan dampak kenaikan tarif impor AS terhadap inflasi di Inggris masih belum jelas meskipun diyakini kebijakan AS tersebut akan menekan pertumbuhan ekonomi secara global. Selain data GDP, juga akan dirilis data neraca perdagangan dam industrial/manufacturing produciion.


| Suggest : BUY on Dip Area : 1.09200– 1.09400 Target : 1) 1.10000 2) 1.10600 SL : 1.08600 Alternatif : Pertahankan/follow BUY jika tembus 1.10000 Switch to SELL jika tembus 1.08400 |


| Suggest : SELL on Rally Area : 1.28500– 1.28700 Target : 1) 1.27900 2) 1.27300 SL : 1.29300 Alternatif : Pertahankan/follow SELL jika tembus 1.27900 Switch to BUY jika tembus 1.29500 |


| Suggest : SELL on Rally Area : 147.000 – 147.200 Target : 1) 146.400 2) 145.800 SL : 147.800 Alternatif : Switch to BUY jika tembus 148.000 Pertahankan/Follow SELL jika tembus 146.400 |



| Suggest : BUY on Dip Area : 3078.00 – 3080.00 Target : 1) 3086.00 2) 3092.00 SL : 3072.00 (ideal 3-5 points di bawah 3070.00) Alternatif : Pertahankan/Follow BUY jika tembus 3120 Opsi buy ideal di 3050-3070 Switch to SELL jika tembus 3020 Fokus CPI! |

Dolar rebound terhadap mata uang lainnya setelah Presiden Trump mengumumkan menunda kenaikan tarif impor dalam jangka waktu 90 hari ke depan. Trump mengumumkan penundaan berlaku untuk negara-negara yang tidak melakukan perlawanan kenaikan tarif. Sedangkan terhadap China, AS menaikkan tarif impor menjadi 125% setelah China melakukan perlawanan dengan menaikkan tarif impor sebanyak 84%. Ini merupakan kenaikan tarif impor tertinggi dalam lebih dari 1 abad yang lalu dalam kondisi ekonomi yang berbeda sehingga saat ini sistem perdagangan global memasuki era yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ketegangan perang dagang yang semakin meninggi ini dikhawatirkan akan berakibat semakin buruk terhadap ekonomi dunia dan ancaman resesi semakin nyata. Gubernur Fed Richmond – Thomas Barkin semalam mengatakan perang dagang saat ini akan berakibat kenaikan harga dan berkurangnya lapangan kerja. Sedangkan dampak terhadap inflasi baru akan terdata pada musim panas mendatang sehingga Fed harus merespon kenaikan tarif dengan bersikap hati-hati. Sedangkan pejabat Fed lainnya juga mengkhawatirkan agenda kenaikan tarif Presiden Trump dapat berdampak langsung pada perlambatan ekonomi dan tidak perlu segera menurunkan suku bunga lebih lanjut karena peluang inflasi kembali meningkat akibat kebijakan Presiden Trump tersebut. Hal ini tercermin dalam nota minuta pertemuan moneter FOMC bulan lalu yang dirilis semalam. Di antara pejabat Fed, Gubernur Fed St. Louis – Alberto Musalem dan Gubernur Fed Minneapolis – Neel Kashkari menerangkan tingginya inflasi akibat kenaikan tarif dan perlawanan tarif dari mitra dagang AS hanya peristiwa tunggal yang dapat diabaikan oleh Fed. Meski demikian, saat ini Fed masih sulit untuk menentukan kebijakan yang tepat jika inflasi terus meningkat sedangkan pertumbuhan ekonomi melambat. Dengan potensi kenaikan inflasi menahan Fed untuk tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat, namun di sisi lain perlambatan ekonomi dapat menyebabkan meningkatnya pengangguran yang harus direspon dengan pelonggaran kebijakan moneter. Kenaikan tarif reciprocal yang diumumkan Presiden Trump pada 2 April lalu di luar perkiraan investor dan antisipasi Fed yang menjadi kekhawatiran pejabat Fed termasuk Ketua Fed – Jerome Powell akhir-akhir ini. Penundaan kenaikan tarif impor ini disambut baik oleh pasar dengan bursa saham rebound dengan kenaikan terbanyak dalam sehari dan mata uang dolar kembali menguat. Di tempat berbeda Menteri Keuangan – Scott Bessent dalam wawancara dengan media Fox News juga menegaskan bahwa pemerintah AS masih mendukung kebijakan strong dolar. Malam ini akan dirilis data inflasi CPI di AS dengan masih diperkirakan turun karena belum terdampak dari kenaikan tarif impor AS yang baru. Sejumlah pejabat Fed juga dijadwalkan akan memberikan pidato di tempat berbeda.
Yen kembali melemah terhadap dolar setelah sempat menguat sehari sebelumnya seiring dengan penundaan kenaikan tarif impor oleh Presiden Trump. Wakil Menteri Keuangan Jepang untuk Hubungan Internasional - Atsushi Mimura dalam pertemuan trilateral antara Departemen Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Sentral Jepang (BOJ) mengatakan Jepang akan mengajak negara-negara G7 dan IMF untuk menciptakan stabilitas keuangan global yang tergoncang akibat kenaikan tarif impor AS. Mimura juga menyampaikan pemerintah Jepang sangat memperhatikan pergerakan mata uang Yen termasuk kemungkinan aksi spekulan terkait volatilitas yang terjadi belakangan ini. Pertemuan trilateral biasanya terjadi jika pemerintah Jepang siap bertindak menahan laju pelemahan mata uang Yen. Gubernur BOJ – Kazuo Ueda di tempat berbeda mengatakan pemulihan ekonomi di Jepang masih berlangsung secara bertahap dengan tanda-tanda melemah dan masih harus menghadapi ketidakpastian akan kebijakan kenaikan tarif dari AS. Sedangkan inflasi masih di bawah 2%, namun mulai bergerak naik. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis.
Euro juga terkoreksi terhadap dolar meskipun prospek stabilitas politik di Jerman semakin stabil setelah Partai Konservatif mencapai kesepakatan dengan Partai Social Demokrat (SPD). Dengan kenaikan tarif impor dari AS hanya dikenakan sebanyak 20% dan tidak sebanyak perkiraan semula, membuat akan tercapaikan kesepakatan baru melalui negosiasi diharapkan tidak akan terlalu sulit mendapatkan titik temu. Sementara kekhawatiran akan ancaman resesi global akibat kenaikan tarif ini membuat spekulasi Bank Sentral Eropa (ECB) untuk lebih agresif lagi dalam memangkas suku bunga acuannya. Tidak kurang dari Gubernur Bank Sentral Jerman (BundesBank) – Joachim Nagel, Gubernur Bank Sentral Italia - Pierro Cipollone, Gubernur Bank Sentral Prancis - Francois Villeroy de Galhau dan Gubernur Bank Sentral Yunani - Yannis Stournaras menyampaikan perlunya memangkas suku bunga acuan lebih lanjut. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis.
Poundsterling masih tertahan meski mata uang dolar menguat secara umum. Bank Sentral Inggris (BOE) masih mengkhawatirkan dampak dari kenaikan tarif impor AS terhadap permintaan ekonomi global meski Inggris hanya dikenakan tarif impor sebanyak 10%, kecuali produk baja dan kendaraan bermotor sebanyak 25%. Dalam pertemuan Komite Kebijakan Keuangan kemarin ada kekhawatiran akan meningkatnya resiko pelambatan ekonomi global akibat perang dagang AS. Meski demikian komite tersebut sepakat dengan pendapat Gubernur BOE – Andrew Bailey yang masih menyatakan bahwa kondisi pasar di Inggris cukup efektif dan kondisi moneter masih cukup solid. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis.


| Suggest : BUY on Dip Area : 1.09700– 1.09900 Target : 1) 1.10500 2) 1.11100 SL : 1.09100 Alternatif : Pertahankan/follow BUY jika tembus 1.10500 Switch to SELL jika tembus 1.08800 |


| Suggest : BUY on DIp Area : 1.27600– 1.27800 Target : 1) 1.28400 2) 1.29000 SL : 1.27000 Alternatif : Pertahankan/follow BUY jika tembus 1.29000 Switch to SELL jika tembus 1.26800 |


| Suggest : SELL on Rally Area : 145.800 – 146.000 Target : 1) 145.200 2) 144.600 SL : 146.600 Alternatif : Switch to BUY jika tembus 147.500 Pertahankan/Follow SELL jika tembus 145.000 |



| Suggest : BUY on Dip Area : 2976.00 – 2978.00 Target : 1) 2984.00 2) 2990.00 SL : 2970.00 (ideal 3-5 points di bawah 2966.00) Alternatif : Pertahankan/Follow BUY jika tembus 3022 (neckline double bottom) Opsi buy di 2956-2970 atau jika tembus di atas 3055 Switch to SELL jika tembus 2960 |

Dolar mengalami koreksi seiring dengan ketegangan perang dagang yang meningkat antara AS dengan China yang semakin memicu terjadinya pelambatan ekonomi serta kenaikan inflasi secara global. Ketegangan semakin memuncak antara AS dengan China setelah Presiden Trump kembali mengancam akan menaikkan tarif impor terhadap China sebanyak 104% setelah China melawan kenaikan tarif reciprocal AS dengan nilai yang sama sebanyak 34%. Pemerintah di Beijing menolak kenaikan tersebut dan menganggap kenaikan tarif tersebut sebagai pemerasan dan akan melawan hingga akhir. Menteri Perdagangan AS – Jamieson Greer di depan senat AS mengatakan pemerintahan Trump tidak akan mengubahkan strategi kenaikan tarif impor sedikitpun dalam waktu dekat ini. Dengan ancaman kenaikan tarif impor terhadap China sebanyak 104% maka dipastikan inflasi akan melonjak dan menghambat pertumbuhan ekonomi global dengan kedua negara dengan ekonomi terbesar ini berseteru dan semakin besar potensi terjadinya resesi. Hal ini terlihat dari kurva yield obligasi pemerintah AS jangka 2 tahun dan jangka 10 tahun yang semakin melebar sebanyak 57 bps dan masih terus cenderung bergerak berlawanan arah. Saham-saham di Wall Street juga turun dengan indeks S&P 500 turun di bawah level 5.000 untuk pertama kali dalam hampir 1 tahun terakhir. Sebelumnya pasar cukup optimis akan terjadinya perubahan kenaikan tarif tersebut setelah sekretaris kabinet Gedung Putih mengatakan hampir 70 negara mitra dagang AS mengharapkan dimulainya negosiasi untuk mengurangi resiko ekonomi yang lebih buruk. Gubernur Fed San Fransisco - Mary Daly semalam mengatakan ekonomi saat ini masih kuat dan dampak dari kenaikan tarif Presiden Trump masih belum bisa dipastikan sehingga Fed tidak perlu terburu-buru dalam mengubah kebijakan moneternya. Meskipun ada kemungkinan inflasi kembali meningkat, namun dengan kebijakan yang seksama dan menumbuhkan kepercayaan yang tepat maka dampak tersebut dapat diredam. Berbeda dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan Fed akan bereaksi lebih agresif memangkas suku bunga acuan guna mengantisipasi dampak dari kenaikan impor AS yang akan segera berlaku. Fed diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan pada pertemuan moneter di bulan Mei nanti, dengan peluang hingga mendekati 65%. Dan spekulasi akan akumulasi pemangkasan hingga akhir tahun ini mencapai 100 bps atau 1.0% penuh. Malam ini akan dirilis nota minuta pertemuan moneter FOMC bulan lalu yang kemungkinan tidak akan berbeda jauh dengan pendapat pejabat Fed akhir-akhir ini yang masih diselimuti ketidakpastian akan dampak kenaikan tarif impor baru AS. Tidak ada data ekonomi yang akan dirilis hanya pidato dari Gubernur Fed Richmond – Thomas Barkin.
Yen rebound cukup tajam terhadap dolar setelah Presiden Trump mengutus Menteri Keuangan – Scott Bessent langsung bukan perwakilan dagang untuk bernegosiasi dagang dengan perwakilan dari Jepang. Hal ini mengindikasikan adanya pembahasan pengaturan pergerakan mata uang Yen selain dari negosiasi perdagangan. Jepang yang pada awalnya dinilai akan terhindar dari kenaikan tarif impor ternyata tetap dikenakan kenaikan tarif sebanyak 24%. Yang langsung direspon langsung dengan percakapan Presiden Trump dengan Perdana Menteri Jepang - Shigeru Ishiba melalui telepon. Sementara Gubernur Bank Sentral Jepang (BOJ) - Kazuo Ueda pagi ini mengatakan BOJ masih akan menganalisis dengan seksama bagaimana kenaikan tarif AS dapat mempengaruhi ekonomi dalam pengambilan keputusan kebijakan moneter. Ueda siang ini dijadwalkan akan memberikan pidato di pada konferensi di Tokyo.
Euro juga rebound terhadap dolar dengan berita tercapainya koalisi pemerintahan di Jerman. Diberitakan bahwa Partai Konservatif dibawah kepemimpinan calon kanselir - Friedrich Merz mencapai kesepakatan dengan Partai Social Demokrat (SPD). Dengan koalisi ini diharapkan akan tercipta stabilitas politik yang lebih kondusif dan akan memberikan kemudahan di parlemen untuk melancarkan program kerja pemerintah yang baru nanti.  Sementara kekhawatiran akan tercapainya kesepakatan dagang dengan AS sepertinya akan terjadi dalam waktu dekat. Dengan dikenaikan tarif impor dari AS hanya dikenakan sebanyak 20% tidak sebanyak perkiraan semula. Kekhawatiran akan ancaman resesi global akibat kenaikan tarif ini membuat spekulasi Bank Sentral Eropa (ECB) untuk lebih agresif lagi dalam memangkas suku bunga acuan. Hal ini disepakati oleh Gubernur Bank Sentral Jerman (BundesBank) sekaligus pejabat ECB – Joachim Nagel yang mengatakan kenaikan tarif akan menyeret ekonomi secara global dan ECB akan bertindak untuk mendukung ekonomi, namun lebih penting lagi kesatuan di kawasan ini. Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan akan lebih agresif lagi dalam memangkas suku bunga acuan sehingga spekulasi di pasar menyebutkan akan ada 3 kali hingga 4 kali pemangkasan suku bunga acuan hingga akhir tahun nanti. Pertemuan moneter terdekat dijadwalkan pada pekan depan atau tepatnya pada 17 April dengan perkiraan akan memangkas suku bunga sebanyak 25 bps hingga 50 bps. Nagel juga menyepakati perkiraan ini dengan mengatakan akan membuat keputusan moneter, namun tidak menyebutkan seberapa besar pemangkasan yang akan diambil nanti. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis.
Poundsterling juga rebound seiring dengan pelemahan mata uang dolar secara umum. Presiden Trump memutuskan mengenakan kenaikan tarif impor hanya sebanyak 10% produk Inggris kecuali produk baja dan kendaraan bermotor sebanyak 25%. Menteri Keuangan – Rachel Reeves berencana mengadakan pertemuan dengan Menteri Keuangan AS – Scott Bessent dalam waktu dekat untuk membicarakan kerjasama baru dengan harapan penurunan kenaikan tarif tersebut. Sementara Gubernur Bank Sentral Inggris – Andrew Bailey memastikan bahwa kondisi pasar masih efektif dan kondisi moneter masih cukup solid. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis.



