

| Suggest : BUY on Dip Area : 1.07500– 1.07700 Target : 1) 1.08300 2) 1.08900 SL : 1.06900 Alternatif : Pertahankan/follow BUY jika tembus 1.08100 Switch to SELL jika tembus 1.06800 |


| Suggest : BUY on Dip Area : 1.28800– 1.29000 Target : 1) 1.29600 2) 1.30200 SL : 1.28200 Alternatif : Pertahankan/follow BUY jika tembus 1.29700 Switch to SELL jika tembus 1.28000 atau jika gagal tembus 1.30200 |


| Suggest : BUY on Dip Area : 150.300 – 150.500 Target : 1) 151.100 2) 151.700 SL : 149.700 Alternatif : Switch to SELL jika tembus 149.500 Pertahankan/Follow BUY jika tembus 151.600 |



| Suggest : BUY on Dip Area : 3050.00 – 3052.00 Target : 1) 3058.00 2) 3064.00 SL : 3044.00 (ideal 3-5 points di bawah 3042.00) Alternatif : Pertahankan/Follow BUY jika tembus 3077 (higher risk) Switch to SELL hanya jika tembus 3035 Uptren lebih kuat selama bertahan di atas 3055/3056 |

Dolar bergerak mixed seiring dengan kekhawatiran akan dampak dari agenda kenaikan tarif impor AS secara umum dan terutama di sektor otomobil yang baru saja diumumkan Presiden Trump sehari sebelumnya. Setelah sebelumnya sempat sedikit optimis akan perubahan sikap Trump yang mengatakan akan lebih fleksibel dalam kenaikan tarif impor. Presiden Trump mengumumkan akan mengenakan kenaikan impor sebanyak 25% terhadap kendaraan bermotor yang tidak diproduksi di AS dan akan segera diberlakukan bersamaan dengan kenaikan tarif impor produk lainnya yang sudah diumumkan sebelumnya. Tahun 2024 lalu AS mengimpor produk otomotif senilai $474 miliar termasuk mobil penumpang di dalamnya senilai $220 milyar. Dengan Mexico, Jepang, Korea Selatan. Kanada dan Jerman sebagai supplier terbesar bagi AS. Mitra dagang AS mulai dari Kanada hingga Prancis mengancam akan melakukan perlawanan, Perdana Menteri Kanada – Mark Carney mengatakan akan melawan kenaikan tarif impor otomobil ini, namun tidak menyebutkan secara spesifik tindakan apa yang akan diambil. Menteri Perdagangan Kanada – Doug Ford menghubungi Menteri Perdagangan AS - Howard Lutnick berharap untuk medapatkan keringanan dari kebijakan tersebut. Menteri Ekonomi Mexico juga sejak kemarin mencari jalan keluar dari agenda AS tersebut. Sedangkan pemerintah Inggris terus bernegosiasi secara intensif dengan pihak AS sebelum waktu pelaksanaan mulai dijalankan pekan depan. Jika tidak ada keringanan dari hasil pertemuan AS dengan mitra dagang, bukan tidak mungkin akan terjadi perang tarif yang lebih buruk dari yang diperkirakan. Yang berpotensi memicu kembali kenaikan inflasi dan akan berdampak terhadap pelambatan ekonomi secara global. Dan dipastikan Fed akan menahan suku bunga acuan saat ini untuk lebih lama lagi. Fundamental ekonomi domestik AS sendiri masih solid dengan data pertumbuhan ekonomi GDP mengalami kenaikan untuk kuartalan menjadi 2.4% yang lebih baik dari perkiraan stabil 2.3% sama seperti pada kuartal sebelumnya. Dan tekanan harga juga malah turun menjadi 2.3% yang lebih rendah dari perkiraan stagnan 2.4%. Sedangkan di sektor tenaga kerja angka klaim pengangguran mengalami sedikit penurunan menjadi 224K yang lebih rendah dari perkiraan sama seperti pekan sebelumnya 225K. Hal ini menunjukkan sektor tenaga kerja relatif masih solid meskipun dampak dari pengurangan pegawai federal yang direncanakan departemen efisiensi pemerintahan di bawah Elon Musk belum terlaksana. Begitu juga dampak dari agenda kenaikan tarif impor belum sampai di sektor tenaga kerja. Hari ini ada data indikasi inflasi dari sisi personal/rumah tangga yaitu Personal Consumption Expenditure (PCE) dan hasil survey dari University of Michigan.
Yen masih cenderung melemah terhadap dolar hingga level terendah dalam 3 pekan terakhir. Kekhawatiran akan kenaikan tarif impor sepertinya tidak terlalu berpengaruh terhadap Jepang karena nilai investasi Jepang di AS yang cukup signifikan. Namun kekhawatiran akan dampak dari agenda tersebut secara global membuat Bank Sentral Jepang (BOJ) menunda menaikkan suku bunga acuannya. Meski pada dasarnya pejabat BOJ masih berencana untuk kembali menaikkan suku bunga acuan. Data inflasi terakhir yang dirilis pagi ini oleh BOJ menunjukkan indikasi masih cenderung meningkat lebih tinggi 2.4% dari perkiraan stabil sama seperti periode sebelumnya 2.2%. Spekulasi di pasar memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan moneter di bulan Juli mendatang.
Euro rebound terhadap dolar setelah sempat melemah dalam 6 hari berturut-turut seiring dengan rencana pemerintah Jerman menaikkan anggaran dan meningkatkan limit hutang. Sementara perang dagang dengan AS sepertinya tidak akan terhindarkan karena neraca perdagangan yang tidak seimbang. Dan dipastikan akan berdampak pada inflasi, namun diperkirakan hanya akan terbatas pada pertumbuhan di kawasan ini. Hal ini disampaikan oleh Gubernur Bank Sentral Prancis sekaligus Wakil Presiden ECB - Luis de Guindos. Dengan asumsi tersebut, ECB diperkirakan akan menurunkan laju pemangkasan suku bunga acuan. ECB diperkirakan hanya akan menurunkan suku bunga acuan hanya sampai 2.0% di bulan September mendatang yang lebih tinggi dari perkiraan semula hingga 1.75%. Pemulihan ekonomi di kawasan ini sepertinya akan tertunda karena faktor berbagai ketidakpastian yang berlangsung secara global menurut pejabat ECB - Isabel Schnabel. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis.
Poundsterling juga bergerak menguat seiring revisi anggaran dari Menteri Keuangan - Rachel Reeves agar tidak melampaui batas atas anggaran yang diijinkan. Selain itu Reeves juga mengusahakan perundingan dengan AS guna mendapat pengecualian dari kebijakan kenaikan tarif impor AS. Dengan mengajukan pemberian subsidi pada Tesla guna mendukung industri mobil listrik. Inggris merupakan pengekspor terbesar kedua ke AS setelah Uni Eropa dengan memasok mobil penumpang premium dan mewah senilai $9.8 miliar di tahun 2024 lalu. Hari ini ada data pertumbuhan ekonomi GDP, neraca perdagangan dan retail sales.
Dolar bergerak menguat terhadap mata uang lainnya setelah Presiden Trump mengumumkan akan menaikkan tarif impor produk otomotif sebanyak 25% pagi ini. Kenaikan tarif ini akan segera efektif bersamaan dengan kenaikan tarif impor lainnya yaitu pada 2 April pekan depan. Keputusan ini semakin meningkatkan ketegangan perang tarif global di sektor industri otomobil yang akan berdampak akan menaikkan harga mobil dan menurunkan produksi. Dengan kenaikan tarif impor ini diharapkan akan meningkatkan pendapatan negara seiring dengan tidak seimbangnya neraca perdagangan dengan mitranya. AS diketahui mengimpor produk otomotif di tahun 2024 senilai $474 miliar dengan senilai $220 miliar merupakan mobil penumpang. Dengan mitra penyedia terbesarnya yaitu Mexico, Jepang, Korea Selatan, Kanada dan Jerman. Presiden Trump memberi pengecualian jika produsen membuat kendaraan secara domestik maka tidak akan dikenakan tarif impor. Pasar masih mengharapkan pemberlakuan kenaikan tarif impor yang sebelumnya akan berubah dengan aturan yang lebih fleksibel pada saat diberlakukan 2 April nanti. Namun perlu diingat juga bahwa Presiden Trump yang dulu disebut Tariff Man tidak mudah menyerah sehingga bisa saja harapan pasar tersebut akan berakhir kecewa. Dan agenda kenaikan tarif impor ini akan memperlambat pertumbuhan ekonomi dan memicu inflasi kembali meningkat. Sehingga sebagian investor memilih untuk mengantisipasi dengan mengalihkan asetnya pada safe haven termasuk mata uang dolar. Gubernur Fed Minneapolis – Neel Kashkari semalam mengatakan ketidakpastian seputar kenaikan tarif impor berpotensi menaikkan harga-harga dan memicu inflasi sehingga Fed perlu untuk mempertahankan suku bunga acuannya lebih lama lagi. Sejawatnya Gubernur Fed St. Louis - Alberto Musalem di tempat berbeda mengatakan resiko inflasi akan terus di atas target 2% Fed semakin tinggi dan bahwa bisa naik lagi seiring dengan kenaikan tarif impor AS. Spekulasi akan pemangkasan suku bunga acuan semakin menurun hingga di bawah 15% dengan hanya 13.6% dari pekan lalu yang mendekati 20% menurut CME FedWatch Tools. Data ekonomi berupa Durable Goods Order meski menurun dari periode sebelumnya 3.2% menjadi hanya 0.9%, namun masih lebih baik dari perkiraan turun -1.1%. Sedangkan data Core Durable Goods Order yang tidak menyertakan komponen dari sektor transportasi yang menyumbangkan persentasi terbesar mengalami peningkatan tajam dari 0.1% menjadi 0.7% yang jauh lebih baik dari perkiraan hanya naik 0.2%. Peningkatan tajam ini disebabkan oleh pesanan yang melimpah untuk menghindari rencana kenaikan tarif impor Presiden Trump yang baru saja diumumkan tadi pagi. Hari ini ada data pertumbuhan ekonomi GDP kuartalan dan neraca perdagangan serta laporan mingguan klaim pengangguran.
Yen terus melemah terhadap dolar meskipun Bank Sentral Jepang (BOJ) masih berencana untuk kembali menaikkan suku bunga acuan. Dalam nota pertemuan moneter sebelumnya hal ini juga menjadi bahasan utama. Dan Gubernur BOJ - Kazuo Ueda kemarin mengatakan ada kewajiban untuk menaikkan lagi suku bunga acuan jika inflasi terus naik. Meskipun menurut Ueda ekspektasi inflasi dari sisi konsumen merupakan indikator yang lemah dari angka inflasi yang sesungguhnya, namun BOJ tidak mudah mengabaikan angka tersebut. Pejabat BOJ yang baru - Junko Koeda mengatakan suku bunga acuan saat ini terlalu rendah guna mengimbangi kenaikan inflasi yang didukung oleh upah yang meningkat tajam. Meski demikian kedua pejabat BOJ tersebut tidak menjelaskan kapan akan menaikkan suku bunga acuan. Spekulasi di pasar memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan moneter di bulan Juli mendatang.
Euro terus melemah terhadap dolar menjelang diberlakukannya kenaikan tarif impor AS pekan depan. Uni Eropa menjadi target utama Presiden Trump karena neraca perdagangan yang tidak seimbang dengan menguntungkan pihak Uni Eropa. Presiden Trump menargetkan kenaikan tarif impor sebanyak 25%. Utusan dari komisi perdagangan Uni Eropa - Maros Sefcovic bertemu dengan Presiden Trump pada hari Selasa kemarin untuk menghindari kenaikan tarif impor yang terlalu banyak. Uni Eropa melakukan perlawanan akan kenaikan tarif impor AS dengan akan mengenakan kenaikan serupa terhadap produk-produk dari AS. Namun hingga saat ini masih belum ada hasil dari pertemuan tersebut. Hari ini ada data prakiraan ekonomi dari Komite Eropa.
Poundsterling juga melemah terhadap dolar setelah Menteri Keuangan - Rachel Reeves memangkas anggaran belanja agar tidak melampaui batas anggaran yang diperbolehkan. Sebelum itu data inflasi di Inggris mengalami penurunan menjadi 2.8% yang lebih rendah dari perkiraan stabil 3.0% sama seperti periode sebelumnya. Dengan suku bunga acuan yang menurun, maka Bank Sentral Inggris (BOE) semakin tidak perlu menurunkan suku bunga acuannya. Terlebih dalam pemaparan proyeksi ekonomi Menteri Reeves menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi GDP tahun ini hanya menjadi 1.0%. Meskipun diperkirakan inflasi bisa naik lagi secara global akibat dari agenda kenaikan tarif impor AS. Hari ini tidak ada data ekonomi.


| Suggest : SELL on Rally Area : 1.07800– 1.08000 Target : 1) 1.07200 2) 1.06600 SL : 1.08600 Alternatif : Pertahankan/follow SELL jika tembus 1.07200 Switch to BUY jika tembus 1.09000 |


| Suggest : SELL on Rally Area : 1.29100– 1.29300 Target : 1) 1.28500 2) 1.27900 SL : 1.29900 Alternatif : Pertahankan/follow SELL jika tembus 1.28500 Switch to BUY jika tembus 1.30200 |


| Suggest : SELL on Rally Area : 150.300 – 150.500 Target : 1) 149.700 2) 149.100 SL : 151.100 Alternatif : Switch to BUY jika tembus 151.500 Pertahankan/Follow SELL jika tembus 149.400 |



| Suggest : BUY on Dip Area : 3015 – 3017.00 Target : 1) 3023.00 2) 3029.00 SL : 3009.00 (ideal 3-5 points di bawah 3008.00) Alternatif : Pertahankan/Follow BUY jika tembus 3036 Switch to SELL hanya jika tembus 2978 Koreksi turun diperkirakan mulai terbatas |

Dolar kembali melemah terhadap mata uang lainnya kecuali terhadap Euro seiring dengan fundamental ekonomi yang menurun dan juga masih tidak pastinya agenda kenaikan tarif impor AS yang akan segera diberlakukan. Presiden Trump Senin lalu menyatakan tidak akan menerapkan kenaikan tarif impor pada semua sektor industri dan bahkan akan dibebaskan untuk negara-negara tertentu pada 2 April mendatang. Namun dengan belum dijelaskannya secara rinci membuat kekhawatiran tersebut masih ada. Meski demikian optimisme akan perubahan sikap Presiden Trump yang melunak diharapkan tidak akan berdampak banyak pada indikator ekonomi lainnya terutama inflasi. Sementara itu data kepercayaan konsumen mengalami penurunan menjadi 92.9 yang lebih rendah dari perkiraan 94.2 meskipun data periode sebelumnya direvisi meningkat dari 98.3 menjadi 100.1. Konsumen sepertinya masih pesimis akan prospek ekonomi dengan diterapkannya kenaikan tarif impor pekan depan. Ini merupakan penurunan dalam 4 bulan terakhir berturut-turut sejak terpilihnya Trump menjadi pemenang pemilu di bulan November tahun lalu. Kekhawatiran akan dampak dari kenaikan tarif impor yang mengarah pada pelambatan pertumbuhan ekonomi dan inflasi dikhawatirkan akan mengarah pada resesi. Biro peringkat Moody memperkirakan kekuatan fiskal AS akan berlanjut turun meneruskan tren beberapa tahun sebelumnya seiring dengan defisit anggaran yang semakin membesar dan hutang yang semakin membengkak sehingga sulit dikelola. Dengan asumsi ini di pasar membuat spekulasi bahwa Fed masih akan mempertahankan suku bunga acuannya untuk waktu yang lebih lama. Sebelumnya Gubenur Fed Atlanta – Raphael Bostic yang memperkirakan Fed hanya akan memangkas suku bunga acuannya hanya 1 kali sebanyak 25 bps di tahun ini. Hal senada dinyatakan oleh Gubernur Fed - Adriana Kugler yang mengatakan kebijakan moneter dalam hal ini suku bunga acuan saat ini sudah yang terbaik, namun untuk menuju target inflasi 2% sepertinya akan berjalan lambat dan data inflasi masih belum menunjukkan akan mencapai target tersebut. Gubernur Fed New York - John Williams di tempat lain mengatakan perusahaan dan rumah tangga saat ini menghadapi ketidakpastian yang sangat tinggi akan prospek ekonomi ke depan. Hal ini mengacu pada potensi dampak negatif dari agenda kenaikan tarif impor Presiden Trump. Yang mengalihkan perhatian dari agenda ekonomi lainnya seperti pengurangan dan kemudahan regulasi yang sempat dikampanyekan pada pemilu lalu. Hal yang kemungkinan akan kembali membuat dolar menguat yaitu repatriasi dolar menjelang akhir bulan dan akhir kuartal pertama tahun ini. Hari ini ada data Durable Goods Order.
Yen bergerak menguat terhadap dolar setelah sempat melemah hingga nilai terendah dalam 3 pekan terakhir. Dalam nota pertemuan moneter Bank Sentral Jepang (BOJ) pekan lalu yang dirilis semalam menunjukkan adanya diskusi mengenai laju kelanjutan kenaikan suku bunga acuan. BOJ pada pertemuan moneter pekan lalu menetapkan untuk mempertahankan suku bunga. Dalam pertemuan moneter sebelumnya BOJ sudah menaikkan suku bunga yang merupakan kenaikan tertinggi dalam 17 tahun terakhir. BOJ mengkhawatirkan ketidakpastian akan ekonomi global akibat agenda kenaikan tarif impor AS. Meskipun Jepang sepertinya akan dibebaskan dari agenda ini karena nilai investasi Jepang di AS yang cukup masif. Fundamental ekonomi berupa data inflasi dari BOJ masih relatif stabil 2.2% sesuai perkiraan sama seperti periode sebelumnya.
Euro terkoreksi terhadap dolar setelah sempat menguat oleh data sentimen bisnis IFO di Jerman yang menunjukan peningkatan dari 85.3 menjadi 86.7 yang hanya sedikit beda dari perkiraan naik 86.8. Sementara itu pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) sekaligus gubernur bank sentral Prancis - Francois Villeroy de Galhau mengatakan ECB masih bisa menurunkan suku bunga acuan lebih lanjut dan memungkinkan untuk menurunkan suku bunga acuan dari 2.5% saat ini hingga 2.0% di akhir musim panas tahun ini. Hal ini mengindikasikan ECB yang masih agresif menurunkan suku bunga acuan mengantisipasi pelambatan ekonomi akibat kebijakan kenaikan tarif impor dari AS. Hari ini tidak ada data ekonomi.
Poundsterling masih bergerak menguat terhadap dolar meskipun data di sektor ritel masih cenderung menurun dalam 8 bulan terakhir. Penguatan GBP mengantisipasi rilis data inflasi CPI dan juga pemaparan anggaran dari Menteri Keuangan - Rachel Reeves di depan parlemen malam ini. Diperkirakan inflasi relatif masih sama seperti periode sebelumnya sehingga Bank Sentral Inggris (BOE) tidak perlu agresif melakukan perubahan suku bunga untuk sementara waktu. Sedangkan dalam pemaparan anggaran, Reeves diharapkan akan memangkas pengeluaran pemerintah agar tidak melampaui aturan anggaran yang sudah ditetapkan. Jika hal ini terjadi maka GBP akan terus menguat dan jika sebaliknya akan membalikkan arah GBP menjadi lemah kembali.
Cek informasi lainnya di kanal resmi Agrodana Futures
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial


| Suggest : SELL on Rally Area : 1.08000– 1.08200 Target : 1) 1.07400 2) 1.06800 SL : 1.08800 Alternatif : Pertahankan/follow SELL jika tembus 1.07600 Switch to BUY jika tembus 1.09200 |


| Suggest : SELL on Rally Area : 1.29400– 1.29600 Target : 1) 1.28800 2) 1.28200 SL : 1.30200 Alternatif : Pertahankan/follow SELL jika tembus 1.28900 Switch to BUY jika tembus 1.30500 atau jika tidak tembus 1.28000 |


| Suggest : SELL on Rally Area : 150.500 – 150.700 Target : 1) 149.900 2) 149.300 SL : 151.300 Alternatif : Switch to BUY jika tembus 151.500 Pertahankan/Follow SELL jika tembus 149.400 |



| Suggest : BUY on Dip Area : 3008.00 – 3010.00 Target : 1) 3016.00 2) 3022.00 SL : 3002.00 (ideal 3-5 points di bawah 2999.00) Alternatif : Pertahankan/Follow BUY jika tembus 3036 Switch to SELL jika tembus 2978 Koreksi turun diperkirakan mulai terbatas |




