

| Suggest : BUY on Dip Area : 1.02500 – 1.02700 Target : 1) 1.03300 2) 1.03900 SL : 1.101900 Alternatif : Pertahankan/follow BUY jika tembus 1.03400 Switch to SELL jika tembus 1.01500 |


| Suggest : BUY on Dip Area : 1.22000 – 1.22200 Target : 1) 1.22800 2) 1.23400 SL : 1.21400 Alternatif : Pertahankan/follow BUY jika tembus 1.22800 Switch to SELL jika tembus 1.21000 |


| Suggest : SELL on Rally Area : 155.900 – 156.100 Target : 1) 155.300 2) 154.700 SL : 156.700 Alternatif : Switch to BUY jika tembus 157.000 Pertahankan/Follow SELL jika tembus 154.800 |



| Suggest : BUY on Dip Area : 2698.00 – 2700.00 Target : 1) 2706.00 2) 2712.00 SL : 2692.00 (ideal 3-5 points di bawah 2690.00) Alternatif : Pertahankan/Follow BUY jika tembus 2726 Switch to SELL jika tembus 2685 |

Dolar terus melemah terhadap mata uang lainnya seiring dengan sejumlah data fundamental ekonomi yang tidak sesuai ekspektasi membuat langkah moneter Fed berikutnya masih belum dapat dipastikan. Setelah data core inflasi yang menunjukkan tekanan inflasi terus semakin menurun yang tidak sesuai dengan perkiraan kembali naik dan juga masih adanya potensi kenaikan inflasi akibat dari agenda ekonomi pemerintahan AS yang baru pekan depan. Laporan dari sektor tenaga kerja berupa klaim pengangguran juga kembali meningkat dari 203K menjadi 217K yang melampaui perkiraan hanya naik 210K menunjukkan ada indikasi sektor ini mulai melambat. Cukup kontras bertolak belakang dengan data di sektor tenaga pekan lalu di luar perkiraan laporan Non-Farm Payroll yang melampaui perkiraan. Sementara data Retail Sales yang juga dirilis semalam menunjukkan penurunan cukup tajam menjadi 0.4% yang lebih rendah dari perkiraan 0.6%. Meskipun data periode sebelumnya direvisi membaik dari 0.7% menjadi 0.8%. Dengan Core Retail Sales yang tidak menyertakan sektor otomotif meski naik dari 0.2% menjadi 0.4%, namun masih di bawah perkiraan naik hingga 0.5%. Selain data inflasi dan sektor tenaga kerja, data di sektor ritel juga menjadi perhatian Fed untuk mengetahui daya beli masyarakat AS terkini. Sedangkan data indeks manufaktur di negara bagian Philadephia mengalami kenaikan tajam dari -16.4 menjadi +44.3 yang juga melampaui perkiraan hanya naik -5.2. Data ini juga kontras yang bertolak belakang dengan data yang sama di negara bagian New York yang dirilis sehari sebelumnya. Gubernur Fed - Christopher Waller masih optimis Fed akan memangkas suku bunga acuan sebanyak 3 kali atau 4 kali jika fundamental ekonomi terus melemah. Semalam pasar juga mencermati dengar pendapat calon Menteri Keuangan AS – Scott Bessent yang dipilih oleh Donald Trump mendatang. Dalam dengar pendapat dengan Komite Finansial Senat AS, Bessent menyampaikan pengurangan pajak yang berlaku pada masa jabatan Trump sebelumnya masih akan menjadi prioritas utamanya, Fed juga masih akan tetap independent dan AS akan memberlakukan sanksi yang lebih keras terhadap Rusia terkait dengan supply minyak mentahnya. Bessent menambahkan akan lebih memprioritaskan investasi untuk memacu pertumbuhan ekonomi dibandingkan menghamburkan anggaran yang akan meningkatkan inflasi. Bessent sebelumnya dinilai lebih pro kepada pelaku bisnis dan pasar sehingga diharapkan kebijakan yang akan diambilnya akan selaras dengan ekspektasi pasar. Meskipun masih agak meragukan perihal kenaikan tarif impor nanti juga akan berpotensi membuat inflasi kembali naik. Investor berharap lebih sedikit regulasi pada pemerintahan presiden Trump untuk kali kedua nanti. Trump akan dilantik secara resmi pekan depan tepatnya di hari Selasa tanggal 20 Januari 2025 bertepatan dengan Martin Luther King, Jr. Day. Hari ini akan dirilis data di sektor perumahan dan data Industrial Production serta Capacity Utilization.
Yen semakin menguat terhadap dolar hingga level terendah sejak 19 Desember lalu. Komentar Gubernur Bank Sentral Jepang (BOJ) - Kazuo Ueda hari Rabu lalu membuka peluang kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan moneter di bulan ini dengan peluang mencapai 70%. Ueda mengatakan BOJ akan menaikkan suku bunga acuan dan menyesuaikan dukungan moneter jika pertumbuhan ekonomi dan inflasi terus berlanjut naik. Sebelumnya Wakil Gubernur BOJ - Ryozo Himino juga mengatakan peluang kenaikan suku bungan acuan terbuka lebar pada pertemuan moneter BOJ pada 24 Januari yang akan datang. Keduanya merujuk pada data di sektor tenaga kerja berupa upah juga sudah dirilis Senin lalu yang naik hingga level tertinggi dalam lebih dari 3 dekade terakhir berpotensi mendorong naik inflasi. Sementara BOJ belum mempertimbangkan potensi kenaikan tarif impor AS yang akan diimplentasikan segera setelah Trump dilantik pekan depan.
Euro bergerak menguat dengan penyebab utamanya adalah pelemahan mata uang dolar. Data ekonomi berupa inflasi di Jerman mengalami kenaikan menjadi 0.5% yang lebih tinggi dari perkiraan stabil sama seperti periode sebelumnya 0.4%. Dan surplus neraca perdagangan meningkat hampir 2 kali lipat dari periode sebelumnya yaitu 12.9B lebih tinggi dari perkiraan 11.8B dan data periode sebelumnya direvisi membaik dari 6.1B menjadi 7.0B. Nota pertemuan moneter di bulan Desember tahun lalu menunjukkan pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) berdebat untuk menentukan pemangkasan yang dilakukan sebanyak 25 bps atau 50 bps. Walau akhirnya memutuskan hanya memangkas sebanyak 25 bps. Hal ini mengindikasikan ECB masih mempunyai ruang yang cukup lebar untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga acuan. Hari ini akan dirilis data inflasi CPI untuk Uni Eropa untuk keseluruhan yang akan semakin memperjelas langkah ECB berikutnya.
Poundsterling terangkat seiring dengan melemahnya mata uang dolar meskipun fundamental juga tidak terlalu membaik. Data pertumbuhan ekonomi GDP yang naik dari -0.1% menjadi +0.1% yang lebih rendah dari perkiraan naik hingga +0.2%. Data-data lain juga masih cenderung menurun lebih rendah dari perkiraan. Dengan kondisi ekonomi yang mulai menurun ini kembali membuka peluang Bank Sentral Inggris (BOE) untuk menunda lagi kenaikan suku bunga acuan. Walaupun inflasi mengalami penurunan yang lebih rendah dari perkiraan sebelumnya justru mempersempit peluang perlunya Bank Sentral Inggris (BOE) untuk menaikkan suku bunganya. Hari ini akan dirilis data Retail Sales.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://t.me/AGROdanaOFFICIAL
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial


| Suggest : BUY on Dip Area : 1.02300 – 1.02500 Target : 1) 1.03100 2) 1.03700 SL : 1.101700 Alternatif : Pertahankan/follow BUY jika tembus 1.03400 Switch to SELL jika tembus 1.01500 |


| Suggest : BUY on Dip Area : 1.21800 – 1.22000 Target : 1) 1.22600 2) 1.23100 SL : 1.21200 Alternatif : Pertahankan/follow BUY jika tembus 1.22800 Switch to SELL jika tembus 1.21000 |


| Suggest : SELL on Rally Area : 156.400 – 156.600 Target : 1) 155.800 2) 155.200 SL : 157.200 Alternatif : Switch to BUY jika tembus 157.500 Pertahankan/Follow SELL jika tembus 155.700 |



| Suggest : BUY on Dip Area : 2678.00 – 2680.00 Target : 1) 2686.00 2) 2692.00 SL : 2672.00 (ideal 3-5 points di bawah 2670.00) Alternatif : Pertahankan/Follow BUY jika tembus 2702 Switch to SELL jika tembus 2656 |

Dolar berlanjut terkoreksi terhadap mata uang lainnya setelah data inflasi CPI di AS yang agak meleset dari perkiraan. Meski data CPI bulan Desember mengalami kenaikan dari 0.3% menjadi 0.4% sesuai perkiraan, begitu pula jika dibandingkan dengan periode setahun sebelumnya mengalami kenaikan dari 3.0% menjadi 3.3% sesuai perkiraan. Namun data Core CPI yang tidak menyertakan bbm dan bahan pangan justru mengalami penurunan ke 0.2% meleset dari perkiraan stabil 0.3% sama seperti periode sebelumnya. Walaupun jika dibandingkan dengan periode setahun sebelumnya masih relatif naik dari 2.7% menjadi 2.9% sesuai perkiraan. Data CPI yang sedikit menurun didukung dengan data PPI yang sudah dirilis sehari sebelumnya membuat kekhawatiran akan inflasi semakin meningkat menjadi sedikit berkurang dan membuka lagi kemungkinan bagi Fed untuk menjalankan pemangkasan suku bunga acuan sesuai dengan proyeksi sebanyak 2 kali di tahun ini. Hal ini sejalan dengan komentar dari Gubernur Fed Kansas City – Jeffrey Schmid sehari sebelumnya yang masih optimis dengan mengatakan inflasi semakin mendekati target dan pertumbuhan ekonomi menunjukkan momentum dimana kebijakan moneter sudah mendekati netral. Meski demikian potensi ancaman inflasi masih ada yang akan datang pekan depan pasca pelantikan Donald Trump untuk menjadi Presiden AS untuk kedua kalinya. Agenda ekonomi berupa pengurangan pajak dan kenaikan tarif impor serta aturan imigrasi yang lebih ketat diperkirakan akan memicu inflasi kembali meningkat. Sedangkan perkiraan akan langkah moneter Fed pada pertemuan moneter FOMC pada 2 pekan mendatang masih akan mempertahankan suku bunga acuannya dengan peluang yang hanya menurun sedikit dari 97.9% menjadi 97.3% dan peluang untuk menurunkan bertambah dari 2.1% menjadi 2.7% menurut CME Fedwatch Tools. Selain data inflasi, dolar juga tertekan oleh data indeks manufaktur di negara bagian New York yang turun drastis dari 0.2 menjadi -12.6 yang jauh di bawah perkiraan meningkat 2.7. Sedangkan secara umum aktifitas ekonomi di AS sedikit meningkat dengan laju yang moderat di 12 negara bagian di AS menurut laporan Beige Book dari Fed. Hari ini akan dirilis data dari sektor tenaga kerja lainnya berupa laporan klaim pengangguran dan juga data Retail Sales serta indeks manufaktur di negara bagian Philadelphia.
Yen masih terus menguat tidak saja karena mata uang dolar yang terkoreksi, namun juga karena prospek kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Jepang (BOJ). Dan semakin menjauh dari level psikologi 160 yang sudah didekati beberapa hari sebelumnya. Gubernur Kazuo Ueda kemarin mengatakan BOJ akan menaikkan suku bunga acuan dan menyesuaikan dukungan moneter jika pertumbuhan ekonomi dan inflasi terus berlanjut naik. Merujuk pada data di sektor tenaga kerja berupa upah yang juga sudah dirilis Senin lalu yang naik hingga level tertinggi dalam lebih dari 3 dekade terakhir berpotensi mendorong naik inflasi. Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Gubernur BOJ - Ryozo Himino yang belum lama ini mengatakan peluang kenaikan suku bunga acuan terbuka lebar pada pertemuan moneter BOJ pada 24 Januari yang akan datang. Belum lagi potensi inflasi akibat diberlakukannya kenaikan tarif impor oleh AS semakin memperkuat peluang BOJ tersebut. Data ekonomi berupa machinery order juga meningkat tajam dari 3.0% menjadi 11.2%. Sedangkan data inflasi dari sisi produsen PPI year-on-year masih stabil 3.8% sesuai perkiraan sama seperti periode sebelumnya.
Euro juga sempat naik seiring dengan mata uang dolar yang terkoreksi sebelum akhirnya turun saat penutupan. Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih dan potensi inflasi kembali naik karena kenaikan tarif impor dari AS masih menjadi sentimen negatif. Uni Eropa merupakan salah satu target utama dari Presiden Trump terkait dengan tidak seimbangnya neraca perdagangan yang dinilai menguntungkan Uni Eropa. Sehingga kemungkinan besar Uni Eropa akan menerima kenaikan tarif impor yang premium dibandingkan dengan mitra dagang AS lainnya. Ditambah dengan semakin tingginya harga minyak dunia membuat daya saing dan daya beli semakin menurun karena ketergantungan terhadap sumber energi dari negara lain. Sehingga membuat Bank Sentral Eropa (ECB) mengharuskan untuk kembali memangkas suku bunga acuannya guna memicu pertumbuhan ekonomi. Belum lagi kondisi politik di Jerman dan Prancis yang labil masih menjadi sentimen negatif. Hari ini akan dirilis data inflasi CPI di Jerman dan juga nota pertemuan moneter ECB bulan lalu.
Poundsterling juga menguat terhadap dolar seiring dengan data inflasi yang mengalami penurunan ke level yang lebih rendah dari perkiraan. Dengan inflasi CPI year-on-year turun 2.5% dari perkiraan stagnan dari periode sebelumnya 2.6%. Begitu pula dengan data Core CPI year-on-year turun dari 3.5% menjadi 3.2% yang lebih rendah dari perkiraan hanya turun 3.4%. Kedua data tersebut akan mempersempit peluang perlunya Bank Sentral Inggris (BOE). Hari ini akan dirilis data pertumbuhan ekonomi GDP dan sejumlah data lainnya.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://t.me/AGROdanaOFFICIAL
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial


| Suggest : BUY on Dip Area : 1.02200 – 1.02400 Target : 1) 1.03000 2) 1.03600 SL : 1.01600 Alternatif : Pertahankan/follow BUY jika tembus 1.03400 Switch to SELL jika tembus 1.01500 |


| Suggest : SELL on Rally Area : 1.22000 – 1.22200 Target : 1) 1.21600 2) 1.21000 SL : 1.22800 Alternatif : Pertahankan/follow SELL jika tembus 1.21600 Switch to BUY jika tembus 1.22800 |


| Suggest : SELL on Rally Area : 158.000 – 158.200 Target : 1) 157.400 2) 156.800 SL : 158.800 Alternatif : Pertahankan/Follow SELL jika tembus 157.400 Switch to BUY jika tembus 159.000 |



| Suggest : BUY on Dip Area : 2643.00 – 2645.00 Target : 1) 2651.00 2) 2657.00 SL : 2637.00 (ideal 3-5 points di bawah 2638.00) Alternatif : Pertahankan/Follow BUY jika tembus 2686 Switch to SELL jika tembus 2635 CEK KETERANGAN! |

Dolar mengalami sedikit koreksi terhadap mata uang lainnya seiring dengan data inflasi dari sisi produsen yang turun lebih rendah dari perkiraan. Turunnya inflasi dari sisi produsen ini kemungkinan juga akan terjadi pada inflasi yang lebih penting yaitu dari sisi konsumen atau CPI yang akan dirilis malam ini. Data inflasi dari sisi produsen PPI bulan Desember mengalami penurunan menjadi 0.2% yang lebih rendah dari perkiraan stagnan sama seperti periode sebelumnya 0.4%. Dan data Core PPI yang tidak menyertakan BBM dan bahan pangan juga turun menjadi 0.0% dari perkiraan stabil sama seperti periode sebelumnya 0.2%. Meskipun jika dibandingkan dengan data yang sama setahun sebelumnya, PPI mengalami kenaikan dari 3.0% menjadi 3.3% sesuai perkiraan. Sementara data Core PPI relative stabil 3.5% sesuai perkiraan sama seperti periode sebelumnya. Dengan data-data tersebut dan juga data di setkor tenaga kerja yang menunjukkan ekonomi di AS masih solid sehingga Fed tidak perlu terburu-buru menurunkan suku bunga acuannya lagi. Ekspektasi pasar masih sama yaitu Fed baru akan memangkas suku bunga acuan setelah paruh pertama tahun ini. Sekaligus menunggu dampak dari agenda ekonomi dari Donald Trump yang akan dilantik pekan depan. Sejauh ini agenda ekonomi yang akan dijalankan pemerintahan baru di AS selain memicu pertumbuhan ekonomi, namun juga berpotensi besar akan menaikkan angka inflasi yang sudah menurun cukup signifikan sejak pandemi global 2 tahun lalu. Dilansir dari Bloomberg diberitakan bahwa AS akan menaikkan tarif impor terhadap mitra dagang secara bertahap mulai dari 2% hingga 5% per bulan guna menaikkan daya saing sambil tetap menahan agar inflasi tidak meningkat tajam. Menteri Keuangan pilihan Trump, Scott Bessent diperkirakan akan tetap menjaga deficit neraca perdagangan dan menggunakan kenaikan tarif tersebut sebagai alat negosiasi untuk menyeimbangkannya. Pejabat Fed yaitu Gubernur Fed Kansas City – Jeffrey Schmid masih optimis dengan mengatakan inflasi sudah mendekati target dan pertumbuhan ekonomi menunjukkan momentum dimana kebijakan moneter sudah mendekati netral. Sedangkan Gubernur Fed New York – John Williams tidak menyinggung perihal kebijakan Fed dalam pidato semalam. Data CPI yang akan dirilis malam ini diperkirakan naik dari 0.3% menjadi 0.4% dengan Core CPI diperkirakan stabil 0.3%. Data akan dirilis pada pukul 20:30 WIB.
Yen terus menguat terhadap dolar seiring dengan semakin besarnya peluang Bank Sentral Jepang (BOJ) akan segera menaikkan suku bunga acuannya. Wakil Gubernur BOJ - Ryozo Himino dalam pidato dalam pertemuan pimpinan perusahaan kemarin mengatakan peluang kenaikan suku bungan acuan terbuka lebar pada pertemuan moneter BOJ pada 24 Januari yang akan datang. Hal yang sama diperkirakan oleh perusahaan jasa keuangan Goldman Sachs pekan lalu. Potensi inflasi yang terus cenderung meningkat di Jepang disertai dengan peluang diberlakukannya kenaikan tarif impor oleh AS semakin memperkuat peluang BOJ tersebut. Data di sektor tenaga kerja berupa upah juga sudah dirilis Senin lalu yang naik hingga level tertinggi dalam lebih dari 3 dekade juga berpotensi mendorong naik inflasi. Hari ini akan dirilis data machinery order.
Euro terangkat terhadap dolar oleh penguatan terhadap GBP hingga level tertinggi dalam 2.5 bulan terakhir dan masih belum jauh dari level terendah sebelumnya sejak November tahun 2022 yang lalu. Spekulasi akan terjadinya parity masih membayangi seiring dengan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih dan potensi inflasi kembali naik karena kenaikan tarif impor dari AS. Uni Eropa merupakan salah satu target utama dari Presiden Trump terkait dengan tidak seimbangnya neraca perdagangan. Sehingga kemungkinan akan menerima kenaikan tarif impor yang premium dibandingkan dengan mitra dagang AS lainnya. Ditambah dengan semakin tingginya harga minyak dunia membuat daya saing dan daya beli semakin menurun karena ketergantungan terhadap sumber energi dari negara lain. Sehingga membuat Bank Sentral Eropa (ECB) mengharuskan untuk kembali memangkas suku bunga acuannya guna memicu pertumbuhan ekonomi. Hari ini hanya ada data inflasi di Prancis dan Industrial Production untuk Uni Eropa secara keseluruhan.
Poundsterling tidak saja melemah terhadap dolar namun juga melemah terhadap Euro hingga menyentuh level terendah dalam 2.5 bulan terakhir. Perdebatan akan rencana anggaran di Inggris masih menjadi kendala utama terhadap pertumbuhan ekonomi di Inggris. Dengan defisit anggaran yang semakin membengkak membuat pemerintah Inggris harus segera bertindak salah satunya dengan menaikkan pajak. Namun tentu saja hal ini akan membuat pelaku usaha akan berusaha menolaknya. Perdana Menteri Inggris - Keir Starmer masih tetap optimis dengan rencana anggaran Menteri Keuangan - Rachel Reeves yang mengajukan rencana kerja yang berupaya untuk menyeimbangkan neraca anggaran dengan pendapatan melalui pajak dalam jangka waktu 1 dekade mendatang. Dengan kondisi ekonomi yang cenderung menurun, Bank Sentral Inggris (BOE) diperkirakan akan mulai mempertimbangkan untuk memangkas suku bunga acuannya lagi. Terlebih dengan inflasi yang kemungkin besar akan kembali naik akibat agenda Trump yang akan segera diberlakukan. Hari ini akan dirilis data inflasi CPI, PPI, WPI dan RPI serta HPI secara bersamaan.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://t.me/AGROdanaOFFICIAL
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial



