Dolar sedikit terkoreksi terhadap mata uang lainnya terutama terhadap Yen paska semi long weekend di AS karena libur Thanksgiving di akhir pekan lalu. Pekan ini perhatian pasar akan tertuju pada data di sektor tenaga kerja dengan laporan Non-Farm Payroll dengan perkiraan meningkat tajam dari periode sebelumnya. Sektor ini diperkirakan sudah pulih dan kembali normal setelah pada periode sebelumnya anjlok karena 2 badai dan mogok kerja yang terjadi bersamaan dalam periode 1 bulan tersebut. Meski demikian perkiraan tingkat pengangguran justru meningkat sehingga semakin membuka peluang bagi Fed untuk memangkas suku bunga acuan pada pertemuan moneter dalam 2 pekan mendatang. Ekspektasi akan pemangkasan suku bunga acuan sebanyak 25 bps pada pertemuan tersebut semakin meningkat dari pekan lalu yang sempat di bawah 53% naik menjadi 66% di akhir pekan lalu. Dan hanya 17% peluang untuk pemangkasan pada pertemuan moneter selanjutnya di bulan Januari mendatang. Agenda ekonomi dari Trump yang akan dilantik pada Januari mendatang berupa pengurangan pajak dan kenaikan tarif impor justru diperkirakan akan memicu inflasi sehingga Fed diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunga acuan dan berpeluang tipis akan kembali menaikkan suku bunga jika memang diperlukan. Selain data di sektor tenaga kerja, pekan ini juga akan dirilis data PMI dari ISM di sektor manufaktur dan jasa dengan perkiraan sektor manufaktur masih di zona kontraksi di bawah ambang 50 dan sektor jasa relatif masih membaik berada di zona ekspansif. Selain itu pekan ini banyak pejabat Fed juga akan memberikan pidato pada beberapa peristiwa di berbeda tempat termasuk Ketua Fed - Jerome Powell pada hari Kamis dini hari.
Yen semakin menguat terhadap dolar seiring dengan peluang Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk menaikkan suku bunga acuan yang juga semakin meningkat. Kombinasi stimulus fiskal dan data inflasi yang naik melampaui perkiraan membuat peluang tersebut semakin besar. Pemerintah Jepang pekan lalu meloloskan stimulus fiskal senilai $141 miliar untuk memicu aktifitas ekonomi. Sementara inflasi juga naik dari 1.8% menjadi 2.2% yang lebih tinggi dari perkiraan hanya naik 2.1%. Dan di akhir pekan kemarin Gubernur BOJ - Kazuo Ueda mengatakan kenaikan suku bunga berikutnya selaras dengan data ekonomi yang sudah sejalan. Spekulasi kenaikan suku bunga pada pertemuan moneter BOJ pada 18-19 Desember nanti meningkat menjadi 56%. Dan masih memungkinkan untuk dilanjutkan pada pertemuan moneter di bulan Januari mendatang.
Euro meski sedikit terangkat terhadap dolar namun masih dibayangi oleh tekanan terhadap Bank Sentral Eropa (ECB) untuk memangkas suku bunga acuannya lebih lanjut. Data inflasi di Jerman cenderung stagnan dan di Prancis naik sesuai perkiraan. Pejabat ECB sekaligus Gubernur Bank Sentral Prancis - Francois Villeroy de Galhau, Kamis lalu mengatakan ECB masih terus membuka peluang untuk pemangkasan suku bunga acuan yang lebih besar. Ini berlawanan dengan komentar dari pejabat ECB sebelumnya - Isabel Schnabel yang menyarankan ECB untuk berhati-hati dalam pemangkasan suku bunga acuan berikutnya. Spekulasi di pasar kembali akan langkah ECB memangkas suku bunga jumbo sebanyak 50 bps pada pertemuan moneter 12 Desember mendatang kembali meningkat. Sementara gejolak politik di Prancis juga membebani ekonomi di kawasan ini seputar tidak sepakatnya dana anggaran. Jika terjadi defisit anggaran, maka Prancis akan mengalami kondisi ekonomi yang mirip dengan kasus Yunani beberapa tahun lalu. Dan akan berdampak pada mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Perdana Menteri - Michel Barnier. Ini menjadi sentimen negatif sehingga investor menjauhi segala bentuk investasi dengan aset Uni Eropa.
Poundsterling masih cenderung melemah terhadap mata uang dolar. Seiring dengan ekspektasi akan langkah moneter Bank Sentral Inggris (BOE) berikutnya adalah memangkas suku bunga acuan untuk ketiga kalinya semakin meningkat. Dalam pidato Gubernur BOE - Andrew Bailey Jumat lalu masih yakin dengan kondisi ekonomi baik dari sisi personal maupun perusahaan. Meski demikian resiko akan meningkatnya ketegangan geopolitik masih menjadi ancaman akan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Bailey tidak menyinggung langkah moneter yang akan diambil pada pertemuan moneter 2 pekan mendatang.
Cek info lain di:
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial
Suggest : SELL on Rally
Area : 1.05500 – 1.05700
Target : 1) 1.04900 2) 1.04300
SL : 1.06300
Alternatif :
Pertahankan/follow SELL jika tembus 1.04900
Switch to BUY jika tembus 1.06700
Suggest : SELL on Rally
Area : 1.27200 – 1.27400
Target : 1) 1.26600 2) 1.26000
SL : 1.28000
Alternatif :
Pertahankan/follow SELL jika tembus 1.26400
Switch to BUY jika tembus 1.28000
Inverse H&S kemungkinan gagal lanjut jika tembus neckline support
Suggest : SELL on Rally
Area : 150.800 – 151.000
Target : 1) 150.200 2) 149.600
SL : 151.600
Alternatif :
Switch to BUY jika tembus 152.000
Pertahankan/Follow SELL jika tembus 150.000
Suggest : SELL on Rally
Area : 2635.00 – 2637.00
Target : 1) 2629.00 2) 2623.00
SL : 2643 (ideal 3-5 points di atas 2645.00)
Alternatif :
Pertahankan/Follow SELL jika tembus 2630
Switch to BUY jika tembus 2670 atau jika data ISM lebih lemah dari ekspektasi
Dolar relatif tidak banyak bergerak terhadap mata uang lainnya di tengah sepinya pasar karena US Market tutup merayakan Thanksgiving dan kondisi ini diperkirakan masih akan berlanjut karena di penghujung pekan ini US Market hanya buka setengah hari saja. Sentimen pasar masih di seputar langkah moneter yang akan diambil oleh Fed setelah indikator inflasi dari sisi personal yang kemarin dirilis. Di mana inflasi walau sudah mendekati target, namun sepertinya masih belum berlanjut turun. Sementara aktifitas ekonomi juga stagnan dan sektor manufaktur dan industri cenderung menurun. Namun sektor tenaga kerja masih solid dengan tingkat upah yang terus meningkat. Sehingga dengan data-data ini membuat spekulasi akan perlunya Fed kembali memangkas suku bunga acuan meningkat guna terus memicu aktifitas ekonomi. Spekulasi akan langkah Fed memangkas suku bunga pada pertemuan moneter di bulan Desember meningkat dari sebelumnya yang di kisaran 58% naik menjadi 70% menurut data CME Group's FedWatch tool terakhir. Selain itu pasar juga mewaspadai resiko akan langkah presiden terpilih, Trump melanjutkan perang dagangnya dengan menaikkan tarif impor. Hari ini tidak ada data yang akan dirilis karena seperti dijelaskan di atas, pasar hanya buka setengah hari yang kemungkinan akan membatasi perdagangan dengan pelaku pasar yang terbatas juga.
Yen terus menguat terhadap dolar seiring dengan semakin besarnya peluang Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan moneter dalam beberapa pekan mendatang. Spekulasi di pasar memperkirakan BOJ akan melakukan hal tersebut dengan peluang mencapai 53%. Data Core inflasi CPI meningkat dari 1.8% menjadi 2.2% yang lebih tinggi dari perkiraan hanya naik 2.0%. Meskipun data di sektor tenaga kerja sedikit menurun dengan tingkat pengangguran yang meningkat dari 2.4% menjadi 2.5% sesuai perkiraan. Sementara parlemen juga sudah menyetujui stimulus fiskal pemerintah Jepang sebanyak $141 miliar yang diharapkan akan memicu aktifitas ekonomi. Dengan stimulus ini potensi inflasi juga meningkat yang harus diimbangi dengan kenaikan suku bunga acuan.
Euro masih cenderung tertekan meski mata uang dolar mengalami koreksi sejak kemarin. Peluang pemangkasan lebih lanjut bahkan dengan ukuruan jumbo oleh Bank Sentral Eropa (ECB) membuat mata uang Euro menjadi kurang menarik. Anggota Dewan Eksekutif ECB - Isabel Schnabel juga mendukung argumen tersebut dalam wawancara semalam. Kekhawatiran akan agenda ekonomi Trump berupa kenaikan tarif impor akan sangat memukul ekonomi di kawasan ini. Sementara gejolak politik di Jerman dan Prancis juga menjadi sentimen negatif untuk perdagangan instrumen keuangan. Hari ini akan dirilis data estimasi inflasi CPI untuk Uni Eropa secara keseluruhan dengan perkiraan meningkat.
Poundsterling cukup tertahan dengan masih sedikit menguat terhadap mata uang dolar. Meski demikian ekspektasi akan langkah moneter Bank Sentral Inggris (BOE) berikutnya adalah memangkas suku bunga acuan untuk ketiga kalinya semakin meningkat. Dengan data PMI turun di bawah ambang batas 50 yang menandakan aktifitas di sektor ini masuk dalam kategori kontraksi. Ditambah dari dari sektor ritel yang menunjukkan daya beli rakyat Inggris yang menurun drastis. Hal ini dikaitkan dengan tingginya suku bunga acuan BOE saat ini. Pasar juga akan mencermati pidato dari Gubernur BOE - Andrew Bailey yang dijadwalkan pada malam ini.
Cek info lain di:
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/agrodanafuturesofficial
Secara umum, dolar maupun imbal hasil Treasury AS tetap ditutup turun sehingga penurunan emas bukan disebabkan menguatnya dolar maupun kenaikan imbal hasil Treasury. Hal ini kembali membuktikan data ekonomi yang solid juga bukan menjadi alasan utama dalam penurunan emas kali ini.
Data PCE bulan Oktober dirilis masing-masing dengan PCE utama di 0.2% m/m dan core PCE 0.3% m/m, sementara basis tahunan menunjukkan PCE utama 2.3% y/y dan core PCE 2.8% y/y. Secara keseluruhan data tersebut dirilis sesuai ekspektasi sehingga tidak berdampak signifikan terhadap potensi penurunan suku bunga Fed di bulan Desember 2024.
Di sisi data ekonomi, jobless claims mingguan menunjukkan penurunan di 213K, lebih rendah dari ekspektasi 215K, bahkan turun jika dibanding minggu sebelumnya. Sementara GDP juga menunjukkan angka sesuai ekspektasi, 2.8%, turun dari periode sebelumnya 3.0%.
Data lain seperti pendapatan pribadi dirilis lebih tinggi dari perkiraan, 0.6% vs 0.3%. Konsumsi juga lebih tinggi, +0.4% vs exp 0.3%.
CME Fedwatch tools pasca data PCE dirilis menunjukkan probabilitas penurunan suku bunga Desember meningkat dari 59.4% menjadi 68.2%. Hal ini berarti menunjukkan optimisme pasar terhadap penurunan suku bunga Fed di akhir tahun 2024 masih cukup besar.

Penurunan emas dalam 2 hari terakhir lebih cenderung dilatarbelakangi oleh kondisi geopolitik di mana Israel dan Lebanon akhirnya resmi menyepakati untuk gencatan senjata 60 hari ke depan. Redanya geopolitik menjadi alasan investor mengurangi eksposurnya terhadap safe haven sehingga emas bersama dolar cenderung turun.
Kabar tersebut juga berdampak pada Hamas. Pihak Hamas dikabarkan membuka diri untuk pembahasan gencatan senjata dengan Israel setelah kepastian gencatan senjata antara Israel – Lebanon. AS, Mesir dan negara lainnya berusaha untuk mendorong perjanjian gencatan senjata tersebut bisa terwujud dalam waktu dekat, sebelum pemerintahan Biden resmi diambil alih oleh pemerintahan Trump di bulan Januari 2025.
Meskipun Israel menekankan bahwa keberlangsungan dari gencatan senjata tersebut akan bergantung pada perkembangan di Lebanon, tapi pasar merespon positif kabar tersebut. Dengan demikian menyisakan konflik Rusia-Ukraina yang tampaknya masih sulit untuk terwujud dalam waktu dekat mengingat aksi saling serang masih terjadi meskipun intensitasnya tidak lebih panas dibanding minggu lalu.
Market AS libur perayaan Thanksgiving hari ini sehingga tidak ada data ekonomi dari AS malam nanti, dan market ditutup lebih cepat di jam 02.30 WIB untuk emas dan komoditi lainnya. Volatilitas diperkirakan hanya akan terjadi di sesi Asia hingga sesi Inggris yang akan berakhir di jam 22.00 WIB sehingga data CPI Jerman di jam 20.00 WIB akan menjadi satu-satunya data ekonomi yang dicermati pasar.
Sementara agenda penting lainnya tertuju pada Sidang Parlemen Luar Biasa Jepang yang akan dimulai hari ini 28 November, sampai 21 Desember mendatang. Kemungkinan akan membahas tentang rencana anggaran tambahan dan lebih banyak lagi. Sesi khusus di Diet adalah membahas anggaran tambahan yang diperlukan untuk mendanai langkah-langkah baru untuk mengatasi inflasi yang diusulkan pemerintahan PM Ishiba.
Gubernur BOJ Kazuo Ueda diperkirakan akan memberikan testimoni, tapi belum ada ketetapan tanggal. Ueda kemungkinan tampil dihadapan komite anggaran atau keuangan, mencakup pandangan tentang kebijakan moneter, inflasi dan ekonomi. BOJ akan bertemu di tanggal 18-19 Desember, sehari setelah FOMC 17-18 Desember 2024, sehingga pidato Ueda akan ditelusuri lebih dalam untuk mendapatkan petunjuk tentang potensi kenaikan suku bunga BOJ. (Suku bunga BOJ naik, dolar turun, sehingga emas punya peluang untuk naik)
Note : Tetap waspada dengan volatilitas besar pada market yang sewaktu-waktu bisa tiba-tiba berubah!

Candlestick daily ditutup shooting star setelah sempat spike (naik cepat) hingga sentuh 2658.21, dan kemudian turun hingga ditutup di 2635.71. Secara teknis hal ini menunjukkan kegagalan dari emas memanfaatkan momentum bullish sehingga penurunan masih cenderung tetap dominan untuk hari ini.
Bearish akan menjadi lebih kuat jika support 2605-2607 berhasil ditembus, dan FR 50% 2571.50 menjadi target potensial berikutnya. Sebaliknya, bullish akan kembali terbuka jika harga berbalik naik dan tembus high kemarin 2658. Tapi akan jauh lebih kuat jika mampu tembus di atas 2885.

Di H4, kenaikan tertahan di 2658.21, menandakan resistance FR 38.2% H4 di 2650.85 masih cukup efektif karena harga kembali turun di bawah 2650 setelah sentuh level tertinggi tersebut. Ini menandakan bahwa kekuatan bullish belum sepenuhnya pulih. Di sisi lain hal tersebut juga memunculkan peluang bahwa zona 2605-2607 cukup terbuka untuk kembali disentuh, atau bahkan ditembus.
Secara tren, kita masih berada dalam jalur koreksi yang belum tuntas, dan tren utama menunjukkan peluang penurunan masih bisa terjadi dalam penurunan wave C. Ini berarti juga bahwa FR 61.8% H4 di 2607.32 yang cukup dekat dengan low 26 Nov 2024 di 2605.22 cenderung terbuka untuk ditembus.
Skenario ideal masih tetap sama, di mana rebound masih tetap tertahan di kisaran 2638-2641, atau maksimum dekat FR 38.2% H4 2650.85, kemudian dilanjutkan tekanan turun kembali menguji FR 61.8% 2607, atau bahkan bisa saja terjadi penembusan. Zona SELL lebih baik dilakukan di kisaran 2635-2640, atau di dekat area 2652-2658 (high kemarin) sebagai patokan.
Sebaliknya, kenaikan akan membuka peluang jika mampu tembus di atas 2658-2660, dengan catatan itu pun masih relatif terbatas dengan MA 200 H4 menjadi acuan di 2681.55. Jika kenaikan mampu tembus MA 200 tersebut, maka peluang bullish baru dikatakan lebih kuat.

Per jam 9.50 WIB, harga berada di 2628.35, dengan high di 2638.39 dan low 2620.89. Secara teknis kenaikan terbukti tertahan di zona yang dicurigai sebagai “potential strong supply area” sehingga peluang penurunan masih bisa terjadi.
Pola bearish flag cenderung konfirm setelah pagi ini harga berhasil turun di bawah support trend channel 2636. Dengan demikian penurunan seharusnya lebih dominan untuk beberapa waktu ke depan. Rebound diharapkan terbatas dengan asumsi sebagai retest resistance 2635-2640. Area ini adalah area ideal untuk mulai mengincar sell saat terjadi pullback.
Jika skenario berjalan sesuai ekspektasi, maka penurunan berikutnya membuka peluang untuk kembali menguji area 2605-2607 dalam waktu dekat. Dan jika area 2605-2607 ditembus, maka peluang penurunan lebih lanjut bisa terjadi.
Sebaliknya, kenaikan berpeluang mendominasi jika harga kembali tembus di atas 2655-2658 (high kemarin). Tapi bullish diperkirakan masih relatif terbatas. Dengan demikian, jika switch strategi menjadi buy saat 2660 ditembus, Anda hanya punya peluang ke area 2670-2675 sebagai resistance terdekat, sementara strong bullish diperkirakan baru akan terjadi saat harga mampu tembus 2685. Artinya kenaikan apapun selama masih tetap di bawah 2685, maka bullish akan bersifat terbatas.
Untuk malam hari sebaiknya Anda fokus perhatikan catatan kami di grafik H4!
Trading Strategy:
Opsi SELL dekat resistance
Entry: 2637.00 – 2639.00
(atau cek di artikel untuk area alternatif)
Target/Reward : 2625.00 ($12 - $14)
(follow/pertahankan SELL jika tembus 2625.00,
Target terdekat 2618, terjauh 2607, SL sesuaikan kebutuhan)
Stop Loss: 2645.00 ($6 - $8)
(ideal 3-5 poin di atas 2646.00)
Risk Reward: 1: 2
Opsi BUY jika Support tidak ditembus
Entry : 2562.00 – 2564.00
(atau cek di artikel untuk area alternatif)
Target/Reward: 2576.00 ($12 - $14)
Stop Loss: 2556.00 ($6 - $8)
(ideal SL 3-5 poin di bawah 2554)
Risk Reward: 1: 2
Disclosure: Ini hanyalah hasil analisa dan bukan saran finansial. Selalu lakukan riset Anda sendiri sebelum membuka posisi Trade. Semua hasil Trade Anda merupakan tanggung jawab sendiri!
Dolar mengalami koreksi terhadap mata uang lainnya di tengah sepinya perdagangan instrumen keuangan menjelang libur Thanksgiving di AS mulai malam nanti. Di tengah aktifitas ekonomi yang solid dengan daya beli domestik yang meningkat dari periode sebelumnya sementara inflasi juga masih sulit turun. Data pertumbuhan ekonomi GDP di AS cenderung stagnan di angka 2.8% sesuai dengan perkiraan. Indikator inflasi berupa data Personal Consumption Expenditure juga masih stagnan 0.3% sesuai perkiraan sama seperti periode sebelumnya. Dan bahkan jika dibandingkan dengan data setahun sebelumnya justru mengalami kenaikan dari 2.7% menjadi 2.8% sesuai perkiraan. Sedangkan data personal income naik 0.6% atau 2 kali perkiraan sama seperti periode sebelumnya 0.3%. Dan data personal spending sedikit turun 0.4% sesuai perkiraan walau data periode sebelumnya direvisi membaik dari 0.5% menjadi 0.6%. Di sektor industri, data Durable Goods Order meski dari -0.7% naik menjadi 0.2%, namun masih di bawah perkiraan naik 0.4%. Dengan data Core-nya yang tidak menyertakan sektor transportasi justru turun menjadi hanya 0.1% yang juga lebih rendah dari perkiraan 0.2% meski data periode sebelumnya direvisi membaik dari 0.4% menjadi 0.5%. Selain itu, data Chicago PMI juga turun dari 41.6 menjadi 40.2 yang jauh lebih buruk dari perkiraan naik 44.9. Dengan data-data ini membuat spekulasi akan perlunya Fed kembali memangkas suku bunga acuan meningkat guna memicu aktifitas ekonomi. Spekulasi akan langkah Fed memangkas suku bunga pada pertemuan moneter di bulan Desember kembali meningkat dari sebelumnya yang di bawah 60% meningkat menjadi 70% menurut CME Group's FedWatch tool. Selain itu pasar juga mewaspadai resiko akan langkah presiden terpilih Trump melanjutkan perang dagangnya dengan menaikkan tarif impor setelah sebelumnya mengenakan kenaikan terhadap negara Kanada dan Mexico namun melunak terhadap China. Meskipun sejumlah analis memperkirakan Trump juga mempertimbangkan resiko inflasi dari kenaikan tarif impor dan rencana pengurangan pajak akan mencegahnya dari tindakan yang gegabah. Hari ini US Market tutup merayakan libur Thanskgiving dan hanya buka setengah hari pada keseokan harinya.
Yen masih terus menguat hingga level tertinggi dalam 5 pekan terakhir terlebih setelah mata uang dolar terkoreksi dengan ekspektasi akan langkah Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan moneter di bulan Desember nanti. Dan sebagian juga karena Jepang tidak termasuk dalam daftar negara yang dikenakan agenda kenaikan tarif impor dari Trump. Jepang merupakan pihak asing pemegang obligasi AS terbanyak serta pelaku investasi langsung di AS terbesar sehingga menjadikan Jepang sebagai mitra dagang yang penting bagi AS.
Euro bergerak menguat dengan terkoreksinya mata uang dolar meski beberapa data fundamental yang dirilis belakangan ini masih cenderung menurun. Sementara Bank Sentral Eropa (ECB) juga terus ditekan oleh pejabat ECB sendiri untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga acuan dalam pertemuan moneter beberapa pekan mendatang. Terlebih adanya kekhawatiran akan agenda Trump untuk menaikkan tarif impor terhadap Uni Eropa yang dipastikan akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di kawasan ini. Tidak ada data ekonomi yang akan dirilis hari ini.
Poundsterling juga rebound seiring dengan koreksi mata uang dolar meski Bank Sentral Inggirs (BOE) juga diperkirakan akan memangkas suku bunga acuannya. Dengan daya beli rakyat Inggris yang menurun drastis yang dikaitkan dengan tingginya suku bunga acuan. BOE menjadi bank sentral di antara negara maju lainnya yang paling sedikit melakukan pemangkasan. Sehingga BOE mempunyai banyak ruang untuk melakukan pemangkasan yang hanya baru 2 kali dilakukan dalam 2 tahun terakhir ini. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis.
Cek info lain di :
www.instagram.com/agrodanafuturesofficial
www.youtube.com/agrodanafuturesofficial
Dolar berlanjut menguat terhadap mata uang lainnya seiring dengan keputusan Presiden terpilih Trump menandatangani kenaikan tarif baru terhadap Kanada, Mexico dan China. Kekhawatiran akan pengenaan kenaikan tarif impor dari negara-negara lain mitra dagang AS yang belum disebutkan menjadi sentimen negatif untuk mata uang lainnya dan sebaliknya menjadi positif untuk mata uang dolar. Kenaikan tarif impor untuk produk barang dan jasa dari Kanada dan Mexico diputuskan oleh Trump dikaitkan dengan semakin maraknya imigran gelap dan perdagangan narkoba masuk ke wilayah AS. Sedangkan produk China hanya dikenakan kenaikan tarif sebanyak 10% jauh di bawah ancaman Trump sebelumnya yang pada awalnya akan menaikkan hingga 60%. Sebelumnya Trump menunjuka Scott Bessent sebagai calon menteri keuangan diterima baik oleh pasar karena posisi sebelumnya sebagai veteran pelaku pasar dapat mengakomodir keinginan dan harapan pasar akan kebijakan fiskal yang terbuka guna dapat melakukan langkah antisipasi yang diperlukan. Sehingga dapat mengurangi dampak negatif dari kebijakan agenda ekonomi Trump yang akan dijalankan nantinya jika bertentangan dengan ekspektasi pasar. Dengan memasuki pekan terakhir sebelum memasuki bulan Desember, pasar masih belum mendapat kepastian akan langkah Fed dalam pertemuan moneter FOMC di bulan depan. Dalam nota minuta pertemuan FOMC sebelumnya yang dirilis semalam pejabat Fed anggota voting masih belum sepakat perihal seberapa jauh Fed akan melonggarkan kebijakan moneternya, seberapa banyak Fed akan memangkas suku bunga acuannya. Tapi dapat dipastikan pejabat Fed kali ini akan melakukan pendekatan yang lebih berhati-hati dalam mengambil langkah moneter untuk kedepannya. Sementara aktifitas geopolitik di Timur Tengah diharapkan segera mereda dengan dicapainya kesepakatan damai antar Israel dan Lebanon dengan penengah AS dan Prancis. Berbeda halnya dengan geopolitik di Ukraina, setelah dikhabarkan Ukraina meluncurkan rudal ATCMS buatan AS untuk kedua kalinya. Keputusan Ukraina ini akan menjadi pemicu naiknya ketegangan jika Rusia melancarkan serangan balasan. Dari fundamental ekonomi domestik AS, sektor manufaktur masih menjadi hambatan bagi pertumbuhan ekonomi dengan data indeks manufaktur di negara bagian Richmond masih stagnan -14 yang lebih jelek dari perkiraan sedikit membaik -11. Sedangkan indeks kepercayaan konsumen meningkat 111.7 sedikit dibawah perkiraan 111.8 dari periode sebelumnya yang juga direvisi membaik dari 108.7 menjadi 109.6. Hari ini akan dirilis sejumlah data penting mulai dari data pertumbuhan ekonomi GDP, durable good order dan data inflasi PCE. Sejumlah data tersebut dirilis bersamaan karena esok hari US Market libur merayakan Thanksgiving. Bank Sentral New Zealand (RBNZ) akan mengadakan pertemuan moneter hari ini dengan perkiraan akan memangkas suku bunga acuan sebanyak 50 bps unutk pertama kali setelah melakukan 2x pemangkasan sebanyak 25 bps sebelumnya.
Yen juga masih berlanjut menguat seiring dengan semakin besarnya ekspektasi akan kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Jepang (BOJ) dalam pertemuan moneter bulan depan. Dengan inflasi yang masih cenderung naik diatas target 2%, setelah data CPI yang naik menjadi 2.3%. Disusul dengan data inflasi dari sisi produsen di sektor jasa yang naik 2.9% jauh diatas perkiraan 2.5% dan bahkan data periode sebelumnya juga direvisi naik dari 2.6% menjadi 2.8%. Hal ini semakin membuka lebar langkah BOJ unutk menaikkan suku bunga acuan ditambah dengan mata uang Yen yang terus tertekan sehingga momen sangat tepat untuk mencegah pelemahan mata yang Yen berlanjut. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis.
Euro masih terus tertekan terhadap dolar seiring dengan peluang akan langkah Bank Sentral Eropa (ECB) untuk kembali menurunkan suku bunga acuannya setelah data aktifitas ekonomi menurun drastis menuju zona kontraksi. ECB diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan lebih agresif sebanyak 50 bps pada pertemuan moneter beberapa pekan mendatang. Data inflasi CPI baru akan dirilis di hari Jumat di penghujung pekan ini yang akan mengkonfirmasi apakan perkiraan tersebut kemungkinan dapat terjadi. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis.
Poundsterling sedikit tertahan terhadap peguatan mata uang dolar meskipun data ekonomi masih cenderung menurun. Data di sektor ritel masih menurun setelah Retail Sales pekan lalu,kemarin data Realized Sales juga turun drastis dari -6 menjadi -16 yang jauh dibawah perkiraan -14. Seperti terlihat daya beli rakyat Inggris sudah diperkirakan menurun namun tidak sebanyak angka tersebut. Berkurangnya daya beli ini dikaitkan dengan tingginya suku bunga acuan sehingga Bank Sentral Inggris (BOE) ditekan terus untuk segera melakukan pemangkasan suku bunga acuan lebih lanjut. BOE menjadi bank sentral yang paling sedikit melakukan pemangkasan diantara negara maju lainnya. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial



