

| Suggest : SELL on Rally Area : 1.07800– 1.08000 Target : 1) 1.07200 2) 1.06600 SL : 1.08600 Alternatif : Pertahankan/follow SELL jika tembus 1.07200 Switch to BUY jika tembus 1.09000 |


| Suggest : SELL on Rally Area : 1.29100– 1.29300 Target : 1) 1.28500 2) 1.27900 SL : 1.29900 Alternatif : Pertahankan/follow SELL jika tembus 1.28500 Switch to BUY jika tembus 1.30200 |


| Suggest : SELL on Rally Area : 150.300 – 150.500 Target : 1) 149.700 2) 149.100 SL : 151.100 Alternatif : Switch to BUY jika tembus 151.500 Pertahankan/Follow SELL jika tembus 149.400 |



| Suggest : BUY on Dip Area : 3015 – 3017.00 Target : 1) 3023.00 2) 3029.00 SL : 3009.00 (ideal 3-5 points di bawah 3008.00) Alternatif : Pertahankan/Follow BUY jika tembus 3036 Switch to SELL hanya jika tembus 2978 Koreksi turun diperkirakan mulai terbatas |

Dolar kembali melemah terhadap mata uang lainnya kecuali terhadap Euro seiring dengan fundamental ekonomi yang menurun dan juga masih tidak pastinya agenda kenaikan tarif impor AS yang akan segera diberlakukan. Presiden Trump Senin lalu menyatakan tidak akan menerapkan kenaikan tarif impor pada semua sektor industri dan bahkan akan dibebaskan untuk negara-negara tertentu pada 2 April mendatang. Namun dengan belum dijelaskannya secara rinci membuat kekhawatiran tersebut masih ada. Meski demikian optimisme akan perubahan sikap Presiden Trump yang melunak diharapkan tidak akan berdampak banyak pada indikator ekonomi lainnya terutama inflasi. Sementara itu data kepercayaan konsumen mengalami penurunan menjadi 92.9 yang lebih rendah dari perkiraan 94.2 meskipun data periode sebelumnya direvisi meningkat dari 98.3 menjadi 100.1. Konsumen sepertinya masih pesimis akan prospek ekonomi dengan diterapkannya kenaikan tarif impor pekan depan. Ini merupakan penurunan dalam 4 bulan terakhir berturut-turut sejak terpilihnya Trump menjadi pemenang pemilu di bulan November tahun lalu. Kekhawatiran akan dampak dari kenaikan tarif impor yang mengarah pada pelambatan pertumbuhan ekonomi dan inflasi dikhawatirkan akan mengarah pada resesi. Biro peringkat Moody memperkirakan kekuatan fiskal AS akan berlanjut turun meneruskan tren beberapa tahun sebelumnya seiring dengan defisit anggaran yang semakin membesar dan hutang yang semakin membengkak sehingga sulit dikelola. Dengan asumsi ini di pasar membuat spekulasi bahwa Fed masih akan mempertahankan suku bunga acuannya untuk waktu yang lebih lama. Sebelumnya Gubenur Fed Atlanta – Raphael Bostic yang memperkirakan Fed hanya akan memangkas suku bunga acuannya hanya 1 kali sebanyak 25 bps di tahun ini. Hal senada dinyatakan oleh Gubernur Fed - Adriana Kugler yang mengatakan kebijakan moneter dalam hal ini suku bunga acuan saat ini sudah yang terbaik, namun untuk menuju target inflasi 2% sepertinya akan berjalan lambat dan data inflasi masih belum menunjukkan akan mencapai target tersebut. Gubernur Fed New York - John Williams di tempat lain mengatakan perusahaan dan rumah tangga saat ini menghadapi ketidakpastian yang sangat tinggi akan prospek ekonomi ke depan. Hal ini mengacu pada potensi dampak negatif dari agenda kenaikan tarif impor Presiden Trump. Yang mengalihkan perhatian dari agenda ekonomi lainnya seperti pengurangan dan kemudahan regulasi yang sempat dikampanyekan pada pemilu lalu. Hal yang kemungkinan akan kembali membuat dolar menguat yaitu repatriasi dolar menjelang akhir bulan dan akhir kuartal pertama tahun ini. Hari ini ada data Durable Goods Order.
Yen bergerak menguat terhadap dolar setelah sempat melemah hingga nilai terendah dalam 3 pekan terakhir. Dalam nota pertemuan moneter Bank Sentral Jepang (BOJ) pekan lalu yang dirilis semalam menunjukkan adanya diskusi mengenai laju kelanjutan kenaikan suku bunga acuan. BOJ pada pertemuan moneter pekan lalu menetapkan untuk mempertahankan suku bunga. Dalam pertemuan moneter sebelumnya BOJ sudah menaikkan suku bunga yang merupakan kenaikan tertinggi dalam 17 tahun terakhir. BOJ mengkhawatirkan ketidakpastian akan ekonomi global akibat agenda kenaikan tarif impor AS. Meskipun Jepang sepertinya akan dibebaskan dari agenda ini karena nilai investasi Jepang di AS yang cukup masif. Fundamental ekonomi berupa data inflasi dari BOJ masih relatif stabil 2.2% sesuai perkiraan sama seperti periode sebelumnya.
Euro terkoreksi terhadap dolar setelah sempat menguat oleh data sentimen bisnis IFO di Jerman yang menunjukan peningkatan dari 85.3 menjadi 86.7 yang hanya sedikit beda dari perkiraan naik 86.8. Sementara itu pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) sekaligus gubernur bank sentral Prancis - Francois Villeroy de Galhau mengatakan ECB masih bisa menurunkan suku bunga acuan lebih lanjut dan memungkinkan untuk menurunkan suku bunga acuan dari 2.5% saat ini hingga 2.0% di akhir musim panas tahun ini. Hal ini mengindikasikan ECB yang masih agresif menurunkan suku bunga acuan mengantisipasi pelambatan ekonomi akibat kebijakan kenaikan tarif impor dari AS. Hari ini tidak ada data ekonomi.
Poundsterling masih bergerak menguat terhadap dolar meskipun data di sektor ritel masih cenderung menurun dalam 8 bulan terakhir. Penguatan GBP mengantisipasi rilis data inflasi CPI dan juga pemaparan anggaran dari Menteri Keuangan - Rachel Reeves di depan parlemen malam ini. Diperkirakan inflasi relatif masih sama seperti periode sebelumnya sehingga Bank Sentral Inggris (BOE) tidak perlu agresif melakukan perubahan suku bunga untuk sementara waktu. Sedangkan dalam pemaparan anggaran, Reeves diharapkan akan memangkas pengeluaran pemerintah agar tidak melampaui aturan anggaran yang sudah ditetapkan. Jika hal ini terjadi maka GBP akan terus menguat dan jika sebaliknya akan membalikkan arah GBP menjadi lemah kembali.
Cek informasi lainnya di kanal resmi Agrodana Futures
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial


| Suggest : SELL on Rally Area : 1.08000– 1.08200 Target : 1) 1.07400 2) 1.06800 SL : 1.08800 Alternatif : Pertahankan/follow SELL jika tembus 1.07600 Switch to BUY jika tembus 1.09200 |


| Suggest : SELL on Rally Area : 1.29400– 1.29600 Target : 1) 1.28800 2) 1.28200 SL : 1.30200 Alternatif : Pertahankan/follow SELL jika tembus 1.28900 Switch to BUY jika tembus 1.30500 atau jika tidak tembus 1.28000 |


| Suggest : SELL on Rally Area : 150.500 – 150.700 Target : 1) 149.900 2) 149.300 SL : 151.300 Alternatif : Switch to BUY jika tembus 151.500 Pertahankan/Follow SELL jika tembus 149.400 |



| Suggest : BUY on Dip Area : 3008.00 – 3010.00 Target : 1) 3016.00 2) 3022.00 SL : 3002.00 (ideal 3-5 points di bawah 2999.00) Alternatif : Pertahankan/Follow BUY jika tembus 3036 Switch to SELL jika tembus 2978 Koreksi turun diperkirakan mulai terbatas |

Dolar terus menguat terhadap mata uang lainnya seiring dengan perubahan sikap atas kenaikan tarif yang baru dari Presiden Trump dan juga data fundamental ekonomi berupa aktifitas bisnis yang meningkat di AS. Data PMI di sektor jasa meningkat tajam dari 51 menjadi 54.3 yang jauh lebih baik dari perkiraan hanya naik 51.2. Data di sektor jasa ini sekaligus mengdongkrak data di sektor manufaktur yang masih menurun dari 52.7 menjadi 49.8 yang lebih rendah dari perkiraan hanya turun 52.1. Sehingga secara komposit data PMI relatif masih baik yaitu meningkat dari 51.6 menjadi 53.5 yang lebih baik dari perkiraan sedikit menurun 51.5. Angka di atas ambang 50 menunjukkan aktifitas ekonomi dalam zona ekspansif. Disamping memang sektor jasa menyumbang pertumbuhan ekonomi di AS lebih besar hampir ¾ dari GDP. Sementara itu juga administratif Presiden Trump membuat pengecualian terhadap beberapa sektor yang akan terdampak oleh kenaikan tarif impor AS yang akan segera diberlakukan pekan depan. Tenggat waktu yang diberikan oleh Presiden Trump perihal negosiasi kenaikan tarif akan berakhir dan akan efektif berlaku pada 2 April mendatang. Perubahan sikap Presiden Trump membuat sedikit berkurang kekhawatiran tersebut walau belum sepenuhnya merasa lega. Sebelumnya agenda ekonomi tersebut dikhawatirkan akan memicu inflasi dan akan melambatkan pertumbuhan ekonomi global. Gubernur Fed Atlanta - Raphael Bostic memperkirakan hanya akan terjadi sedikit perubahan inflasi dalam beberapa bulan mendatang yang membuat spekulasi meningkat bahwa Fed hanya akan memangkas suku bunga acuan sebanyak 25 bps atau 1 kali hingga akhir tahun nanti. Meskipun dalam pertemuan moneter FOMC pekan lalu Fed masih memproyeksikan suku bunga acuan tetap akan dipangkas sebanyak 50 bps dalam 2 kali pertemuan hingga Desember nanti. Pada intinya Fed masih akan melihat dampak yang diakibatkan oleh agenda kenaikan tarif Presiden Trump terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi hingga paruh kedua tahun ini untuk menentukan langkah moneter yang sesuai dengan kondisi ekonomi. Hari ini akan dirilis data Kepercayaan Konsumen dan data indeks manufaktur di negara bagian Richmond serta data-data di sektor perumahan.
Yen juga semakin melemah terhadap dolar seiring dengan masih belum pastinya Bank Sentral Jepang (BOJ) akan menaikkan suku bunga acuannya. Dalam pertemuan moneter BOJ pekan lalu tidak membuat perubahan suku bunga acuan meskipun inflasi masih jauh di atas target. Gubernur BOJ - Kazuo Ueda menyatakan menunggu dampak dari agenda kenaikan tarif impor AS. Setelah itu masih belum ada indikasi dari pejabat BOJ manapun yang berkomentar pasca pertemuan moneter pekan lalu. Hari ini akan dirilis data inflasi CPI dari internal BOJ.
Euro masih cenderung melemah terhadap dolar setelah data PMI di sektor jasa mengalami penurunan dari 50.6 menjadi 50.4 yang lebih jelek dari perkiraan meningkat 51.2. Sementara di sektor manufaktur meski meningkat dari 47.6 menjadi 48.7 yang lebih baik dari perkiraan hanya naik 48.3, namun masih di bawah ambang batas 50 yang menandakan kondisi sektor ini masih dalam zona kontraksi. Dengan kondisi ekonomi yang masih rentan dan ancaman kenaikan tarif impor dari AS menjadi sentimen negatif untuk aset-aset Eropa. Meskipun stimulus fiskal senilai €500 juta diharapkan dapat memicu pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Hari ini akan dirilis data iklim bisnis di Jerman dan Belgia.
Poundsterling bergerak menguat terhadap dolar selain karena data aktifitas bisnis di sektor jasa yang meningkat melampaui perkiraan. Data PMI di sektor jasa terus meningkat di Inggris menjadi 53.2 yang lebih baik dari perkiraan naik 51.2 dari periode sebelumnya 51.0. Meskipun di sektor manufaktur masih cenderung menurun menjadi 44.6 yang lebih rendah dari perkiraan naik 47.3 dan data periode sebelumnya direvisi membaik menjadi 46.9. Dengan sektor jasa menyumbang pertumbuhan ekonomi maka data di sektor manufaktur diabaikan karena secara global sektor manufaktur masih belum pulih dan masih mengalami kontraksi di bawah ambang batas 50. Selain itu pasar juga mengantisipasi update anggaran dari Menteri Keuangan Inggris - Rachel Reeves yang akan disampaikan di depan parlemen dalam pekan ini juga. Gubernur Bank Sentral Inggris (BOE) - Andrew Bailey semalam tidak menyinggung kebijakan moneter dalam pidatonya. Hari ini akan dirilis data Realized Sales.
Cek informasi lainnya di kanal resmi Agrodana Futures
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial


| Suggest : SELL on Rally Area : 1.08400– 1.08600 Target : 1) 1.07800 2) 1.07200 SL : 1.09200 Alternatif : Pertahankan/follow SELL jika tembus 1.07800 Switch to BUY jika tembus 1.09500 |


| Suggest : SELL on Rally Area : 1.29400– 1.29600 Target : 1) 1.28800 2) 1.28200 SL : 1.30200 Alternatif : Pertahankan/follow SELL jika tembus 1.28900 Switch to BUY jika tembus 1.30500 |


| Suggest : SELL on Rally Area : 150.900 – 151.200 Target : 1) 150.300 2) 149.700 SL : 151.800 Alternatif : Switch to BUY jika tembus 151.800 Pertahankan/Follow SELL jika tembus 149.400 |



| Suggest : BUY on Dip Area : 2999.00 – 3001.00 Target : 1) 3007.00 2) 3013.00 SL : 2993.00 (ideal 3-5 points di bawah 2990.00) Alternatif : Pertahankan/Follow BUY jika tembus 3033 Switch to SELL jika tembus 2978 Koreksi turun diperkirakan mulai terbatas |

Dolar masih cenderung menguat terhadap mata uang lainnya seiring dengan perubahan sikap Presiden Trump yang menyatakan akan lebih fleksibel perihal pengenaan tarif impor yang akan segera diberlakukan bulan depan. Setelah sejumlah bank sentral termasuk Fed, BOJ dan BOE mempertahankan suku bunga acuan sembari menunggu implementasi agenda ekonomi AS. Dengan Fed bersiap untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga acuan, sedangkan Bank Sentral Jepang (BOJ) bersiap untuk menaikkan suku bunga acuan dan Bank Sentral Inggris (BOE) sepertinya masih belum tahu kapan akan mengubah suku bunga acuannya. Ketidakpastian akan kondisi ekonomi akibat agenda kenaikan tarif impor Presiden Trump serta kembalinya ketegangan geopolitik menjadi alasan pengalihan aset-aset beresiko tinggi. Israel kembali melakukan serangan udara di Gaza setelah perundingan damai fase 1 berakhir. Sementara pesawat nirawak Ukraina kembali melakukan serangan terhadap fasilitas militer udara Rusia membuat peluang terjadinya perdamaian semakin menipis. Dan menjadikan pengalihan ke aset safe haven termasuk mata uang dolar. Gubernur Fed Chicago - Austan Golsbee dan Gubernur Fed New York - John Williams sepakat bahwa terlalu dini menyimpulkan agenda ekonomi Presiden Trump dan Fed masih punya waktu yang cukup untuk menentukan langkah moneter yang tepat. Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Fed - Jerome Powell pasca pertemuan moneter pekan lalu. Masih menjadi pertanyaan apakah agenda ekonomi Presiden Trump tersebut akan berdampak kembali pada terjadinya inflasi dengan mempertimbangkan adanya pengurangan pajak, perlawanan dari mitra dagang AS dan faktor lain yang terkait, baik langsung maupun tidak terhadap kebijakan moneter yang akan diambil oleh Fed kemudian. Meski demikian pasar masih memperkirakan Fed akan memangkas suku bunga acuan sebanyak 50 bps hingga akhir tahun ini yang terbagi menjadi 2 bagian. Pekan ini ada data PMI di sektor manufaktur dan jasa, data durable goods order, kepercayaan konsumen, pertumbuhan ekonomi GDP dan yang terpenting adalah data Personal Consumption Expenditure (PCE) yang akan dirilis pada penghujung pekan ini.
Yen terus terkoreksi meski tipis terhadap dolar seiring dengan langkah Bank Sentral Jepang (BOJ) yang masih mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan moneter pekan lalu. Seperti halnya Fed, BOJ menunggu dampak dari agenda kenaikan tarif impor AS yang akan diberlakukan pekan depan. Sementara data inflasi di Jepang sedikit menurun dari 3.2% menjadi 3.0%, namun masih cukup jauh dari target 2% sehingga BOJ diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga acuan di tahun ini. Selain inflasi data di sektor tenaga kerja yang kuat juga menjadi alasan perlunya BOJ menaikkan suku bunga acuan karena upah eksekutif diperkirakan akan meningkat pesat dalam waktu dekat ini sehingga berpotensi mendongkrak inflasi.
Euro berlanjut melemah terhadap dolar seiring dengan ketegangan geopolitik yang kembali meningkat antara Ukraina dengan Rusia. Drone Ukraina di akhir pekan kemarin kembali melakukan serangan di pangkalan militer udara Rusia yang membuat potensi perundingan damai akan terhenti. Dan anggaran yang sudah disiapkan oleh Jerman dan juga sedang dibahas oleh Uni Eropa akan menjadi percuma jika tidak tercapai perdamaian di kawasan Eropa. Hari ini ada data PMI di sektor manufaktur dan jasa.
Poundsterling juga terus melemah terhadap dolar setelah Bank Sentral Inggris (BOE) mempertahankan suku bunga acuannnya pekan lalu. Dan BOE sendiri masih belum berencana untuk memangkas suku bunga acuan dalam waktu dekat ini bahkan hingga akhir tahun nanti. Hari ini ada data PMI di sektor manufaktur dan jasa, data yang penting pekan ini di Inggris adalah data inflasi CPI yang akan dirilis pada hari Rabu, sebelum itu Gubernur BOE - Andrew Bailey dijadwalkan akan memberikan pidato yang juga akan dicermati oleh pasar.
Cek informasi lainnya di kanal resmi Agrodana Futures



