

| Suggest : SELL on Rally Area : 1.02800 – 1.03000 Target : 1) 1.02200 2) 1.01600 SL : 1.103600 Alternatif : Pertahankan/follow SELL jika tembus 1.02300 Switch to BUY jika tembus 1.03600 |


| Suggest : SELL on Rally Area : 1.22200 – 1.22400 Target : 1) 1.21600 2) 1.21000 SL : 1.23000 Alternatif : Pertahankan/follow SELL jika tembus 1.21500 Switch to BUY jika tembus 1.23200 |


| Suggest : SELL on Rally Area : 156.200 – 156.300 Target : 1) 155.600 2) 155.000 SL : 156.900 Alternatif : Switch to BUY jika tembus 157.000 Pertahankan/Follow SELL jika tembus 155.600 |



| Suggest : BUY on Dip Area : 2689.00 – 2691.00 Target : 1) 2697.00 2) 2703.00 SL : 2683.00 (ideal 3-5 points di bawah 2682.00) Alternatif : Pertahankan/Follow BUY jika tembus 2700 Switch to SELL jika tembus 2678 |

Dolar bergerak menguat terhadap mata uang lainnya menjelang pelantikan Donald Trump yang akan menjabat sebagai presiden AS untuk kedua kalinya malam nanti. Sekaligus mendapat kejelasan akan agenda ekonomi pertama yang akan dijalankan oleh Trump secara kongkrit. Terutama kebijakan kenaikan tarif impor yang menjadi kekhawatiran mitra dagang AS yang diharapkan segera terbuka dan dipersiapkan langkah untuk antisipasi jika memang diperlukan. Dan juga memperkirakan seberapa besar dampak dari agenda ekonomi lainnya terhadap potensi inflasi di AS sendiri. Kebijakan kenaikan tarif, pengurangan pajak dan pembatasan imigrasi yang ketat diperkirakan berpotensi untuk menaikkan kembali angka inflasi meski akan juga memacu pertumbuhan ekonomi seperti yang diharapkan. Sementara itu data ekonomi yang terbaru menunjukkan data Core Inflasi cenderung menurun sehingga kembali membuka peluang bagi Fed untuk dapat kembali memangkas suku bunga acuannya. Ditambah dengan komentar dari Gubernur Fed - Christopher Waller yang masih optimis Fed bisa memangkas suku bunga acuan sebanyak 3 kali hingga 4 kali di tahun ini, jika data ekonomi memungkinkan. Komentar ini berbeda dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan Fed memangkas hanya sebanyak 1 kali hingga maksimal 2 kali pemangkasan. Dengan data inflasi terbaru tersebut dan komentar dari pejabat Fed, ekspektasi akan pemangkasan suku bunga Fed kembali meningkat dari sebelumnya di kisaran 25 bps (1 kali pemangkasan) hingga menjadi sebanyak 40 bps mendekati proyeksi Fed di pertemuan moneter bulan lalu sebanyak 50 bps dalam 2 kali pertemuan moneter. Pertemuan moneter berikutnya dijawalkan pada 30 Januari mendatang sehingga pejabat Fed akan memasuki minggu tenang dengan tidak mengungkapkan pendapatnya mengenai kebijakan moneter yang akan diambil oleh Fed nanti. Dan fokus pasar sepenuhnya akan tertuju sepenuhnya pada agenda ekonomi dan politik Trump setelah pelantikan. Data ekonomi yang akan dirilis pekan ini hanya data PMI di sektor jasa di hari Jumat penghujung pekan ini. Pelaku pasar akan menunggu pidato pertama Trump setelah pelantikan secara resmi malam ini.
Yen berlanjut menguat terhadap dolar seiring dengan semakin besarnya peluang Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya. Dengan inflasi yang terus cenderung naik dan juga rilis perupahan yang baru, maka hanya tinggal faktor eksternal yang kurang berpengaruh akan kebijakan tersebut. Pertemuan moneter BOJ dijadwalkan pada hari Jumat pekan ini dengan perkiraan akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak 25 bps. Hal ini diperkuat dengan komentar dari sejumlah pejabat BOJ termasuk Gubernur - Kazuo Ueda dan Wakil Gubernur - Ryozo Himino yang secara terbuka mendukung peluang kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan moneter BOJ mendatang. Dengan pertimbangan tersebut, maka pasar memperkirakan peluang BOJ menaikkan suku bunga acuan pekan ini dengan peluang mencapai 80%. Sebelum pertemuan moneter BOJ, akan ada data inflasi CPI dengan perkiraan meningkat yang mendukung langkah kenaikan suku bunga acuan di hari berikutnya.
Euro kembali terkoreksi terhadap dolar menjelang diberlakukannya kenaikan tarif impor AS setelah pelantikan Donald Trump sebagai Presiden AS untuk kedua kalinya. Data ekonomi berupa inflasi CPI yang dirilis Jumat lalu menunjukkan inflasi relatif stagnan 2.4% dan data Core CPI masih sama 2.7% sehingga Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan masih akan memangkas suku bunga acuan terlebih dalam pertemuan sebelumnya terjadi perdebatan di antara pejabat ECB untuk memangkas suku bunga acuan cukup sebanyak 25 bps ataukah perlu sebanyak 50 bps. Meski akhirnya memutuskan hanya memangkas 25 bps sehingga masih mempunyai ruang untuk pemangkasan selanjutnya. ECB dijadwalkan akan mengadakan pertemuan moneter pada 30 Januari mendatang. Pekan ini sejumlah data akan dirilis termasuk pidato dari Gubernur ECB - Christine Lagarde pada hari Rabu mendatang.
Poundsterling juga terkoreksi terhadap dolar seiring dengan data sektor ritel yang menurun di bulan Desember tahun lalu yang semestinya meningkat karena musim liburan natal. Retail Sales mengalami penurunan -0.3% yang jauh berlawanan dengan perkiraan meningkat +0.4% dan bahkan data periode sebelumnya juga direvisi menurun dari +0.2% menjadi hanya +0.1%. Sebelumnya data-data ekonomi lainnya juga masih cenderung menurun lebih rendah dari perkiraan. Dengan kondisi ekonomi yang mulai menurun ini kembali membuka peluang Bank Sentral Inggris (BOE) untuk menunda lagi kenaikan suku bunga acuan. Pekan ini akan dirilis sejumlah data penting termasuk dari sektor tenaga kerja.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://t.me/AGROdanaOFFICIAL
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial


| Suggest : BUY on Dip Area : 1.02500 – 1.02700 Target : 1) 1.03300 2) 1.03900 SL : 1.101900 Alternatif : Pertahankan/follow BUY jika tembus 1.03400 Switch to SELL jika tembus 1.01500 |


| Suggest : BUY on Dip Area : 1.22000 – 1.22200 Target : 1) 1.22800 2) 1.23400 SL : 1.21400 Alternatif : Pertahankan/follow BUY jika tembus 1.22800 Switch to SELL jika tembus 1.21000 |


| Suggest : SELL on Rally Area : 155.900 – 156.100 Target : 1) 155.300 2) 154.700 SL : 156.700 Alternatif : Switch to BUY jika tembus 157.000 Pertahankan/Follow SELL jika tembus 154.800 |



| Suggest : BUY on Dip Area : 2698.00 – 2700.00 Target : 1) 2706.00 2) 2712.00 SL : 2692.00 (ideal 3-5 points di bawah 2690.00) Alternatif : Pertahankan/Follow BUY jika tembus 2726 Switch to SELL jika tembus 2685 |

Dolar terus melemah terhadap mata uang lainnya seiring dengan sejumlah data fundamental ekonomi yang tidak sesuai ekspektasi membuat langkah moneter Fed berikutnya masih belum dapat dipastikan. Setelah data core inflasi yang menunjukkan tekanan inflasi terus semakin menurun yang tidak sesuai dengan perkiraan kembali naik dan juga masih adanya potensi kenaikan inflasi akibat dari agenda ekonomi pemerintahan AS yang baru pekan depan. Laporan dari sektor tenaga kerja berupa klaim pengangguran juga kembali meningkat dari 203K menjadi 217K yang melampaui perkiraan hanya naik 210K menunjukkan ada indikasi sektor ini mulai melambat. Cukup kontras bertolak belakang dengan data di sektor tenaga pekan lalu di luar perkiraan laporan Non-Farm Payroll yang melampaui perkiraan. Sementara data Retail Sales yang juga dirilis semalam menunjukkan penurunan cukup tajam menjadi 0.4% yang lebih rendah dari perkiraan 0.6%. Meskipun data periode sebelumnya direvisi membaik dari 0.7% menjadi 0.8%. Dengan Core Retail Sales yang tidak menyertakan sektor otomotif meski naik dari 0.2% menjadi 0.4%, namun masih di bawah perkiraan naik hingga 0.5%. Selain data inflasi dan sektor tenaga kerja, data di sektor ritel juga menjadi perhatian Fed untuk mengetahui daya beli masyarakat AS terkini. Sedangkan data indeks manufaktur di negara bagian Philadephia mengalami kenaikan tajam dari -16.4 menjadi +44.3 yang juga melampaui perkiraan hanya naik -5.2. Data ini juga kontras yang bertolak belakang dengan data yang sama di negara bagian New York yang dirilis sehari sebelumnya. Gubernur Fed - Christopher Waller masih optimis Fed akan memangkas suku bunga acuan sebanyak 3 kali atau 4 kali jika fundamental ekonomi terus melemah. Semalam pasar juga mencermati dengar pendapat calon Menteri Keuangan AS – Scott Bessent yang dipilih oleh Donald Trump mendatang. Dalam dengar pendapat dengan Komite Finansial Senat AS, Bessent menyampaikan pengurangan pajak yang berlaku pada masa jabatan Trump sebelumnya masih akan menjadi prioritas utamanya, Fed juga masih akan tetap independent dan AS akan memberlakukan sanksi yang lebih keras terhadap Rusia terkait dengan supply minyak mentahnya. Bessent menambahkan akan lebih memprioritaskan investasi untuk memacu pertumbuhan ekonomi dibandingkan menghamburkan anggaran yang akan meningkatkan inflasi. Bessent sebelumnya dinilai lebih pro kepada pelaku bisnis dan pasar sehingga diharapkan kebijakan yang akan diambilnya akan selaras dengan ekspektasi pasar. Meskipun masih agak meragukan perihal kenaikan tarif impor nanti juga akan berpotensi membuat inflasi kembali naik. Investor berharap lebih sedikit regulasi pada pemerintahan presiden Trump untuk kali kedua nanti. Trump akan dilantik secara resmi pekan depan tepatnya di hari Selasa tanggal 20 Januari 2025 bertepatan dengan Martin Luther King, Jr. Day. Hari ini akan dirilis data di sektor perumahan dan data Industrial Production serta Capacity Utilization.
Yen semakin menguat terhadap dolar hingga level terendah sejak 19 Desember lalu. Komentar Gubernur Bank Sentral Jepang (BOJ) - Kazuo Ueda hari Rabu lalu membuka peluang kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan moneter di bulan ini dengan peluang mencapai 70%. Ueda mengatakan BOJ akan menaikkan suku bunga acuan dan menyesuaikan dukungan moneter jika pertumbuhan ekonomi dan inflasi terus berlanjut naik. Sebelumnya Wakil Gubernur BOJ - Ryozo Himino juga mengatakan peluang kenaikan suku bungan acuan terbuka lebar pada pertemuan moneter BOJ pada 24 Januari yang akan datang. Keduanya merujuk pada data di sektor tenaga kerja berupa upah juga sudah dirilis Senin lalu yang naik hingga level tertinggi dalam lebih dari 3 dekade terakhir berpotensi mendorong naik inflasi. Sementara BOJ belum mempertimbangkan potensi kenaikan tarif impor AS yang akan diimplentasikan segera setelah Trump dilantik pekan depan.
Euro bergerak menguat dengan penyebab utamanya adalah pelemahan mata uang dolar. Data ekonomi berupa inflasi di Jerman mengalami kenaikan menjadi 0.5% yang lebih tinggi dari perkiraan stabil sama seperti periode sebelumnya 0.4%. Dan surplus neraca perdagangan meningkat hampir 2 kali lipat dari periode sebelumnya yaitu 12.9B lebih tinggi dari perkiraan 11.8B dan data periode sebelumnya direvisi membaik dari 6.1B menjadi 7.0B. Nota pertemuan moneter di bulan Desember tahun lalu menunjukkan pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) berdebat untuk menentukan pemangkasan yang dilakukan sebanyak 25 bps atau 50 bps. Walau akhirnya memutuskan hanya memangkas sebanyak 25 bps. Hal ini mengindikasikan ECB masih mempunyai ruang yang cukup lebar untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga acuan. Hari ini akan dirilis data inflasi CPI untuk Uni Eropa untuk keseluruhan yang akan semakin memperjelas langkah ECB berikutnya.
Poundsterling terangkat seiring dengan melemahnya mata uang dolar meskipun fundamental juga tidak terlalu membaik. Data pertumbuhan ekonomi GDP yang naik dari -0.1% menjadi +0.1% yang lebih rendah dari perkiraan naik hingga +0.2%. Data-data lain juga masih cenderung menurun lebih rendah dari perkiraan. Dengan kondisi ekonomi yang mulai menurun ini kembali membuka peluang Bank Sentral Inggris (BOE) untuk menunda lagi kenaikan suku bunga acuan. Walaupun inflasi mengalami penurunan yang lebih rendah dari perkiraan sebelumnya justru mempersempit peluang perlunya Bank Sentral Inggris (BOE) untuk menaikkan suku bunganya. Hari ini akan dirilis data Retail Sales.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://t.me/AGROdanaOFFICIAL
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial


| Suggest : BUY on Dip Area : 1.02300 – 1.02500 Target : 1) 1.03100 2) 1.03700 SL : 1.101700 Alternatif : Pertahankan/follow BUY jika tembus 1.03400 Switch to SELL jika tembus 1.01500 |


| Suggest : BUY on Dip Area : 1.21800 – 1.22000 Target : 1) 1.22600 2) 1.23100 SL : 1.21200 Alternatif : Pertahankan/follow BUY jika tembus 1.22800 Switch to SELL jika tembus 1.21000 |


| Suggest : SELL on Rally Area : 156.400 – 156.600 Target : 1) 155.800 2) 155.200 SL : 157.200 Alternatif : Switch to BUY jika tembus 157.500 Pertahankan/Follow SELL jika tembus 155.700 |



| Suggest : BUY on Dip Area : 2678.00 – 2680.00 Target : 1) 2686.00 2) 2692.00 SL : 2672.00 (ideal 3-5 points di bawah 2670.00) Alternatif : Pertahankan/Follow BUY jika tembus 2702 Switch to SELL jika tembus 2656 |

Dolar berlanjut terkoreksi terhadap mata uang lainnya setelah data inflasi CPI di AS yang agak meleset dari perkiraan. Meski data CPI bulan Desember mengalami kenaikan dari 0.3% menjadi 0.4% sesuai perkiraan, begitu pula jika dibandingkan dengan periode setahun sebelumnya mengalami kenaikan dari 3.0% menjadi 3.3% sesuai perkiraan. Namun data Core CPI yang tidak menyertakan bbm dan bahan pangan justru mengalami penurunan ke 0.2% meleset dari perkiraan stabil 0.3% sama seperti periode sebelumnya. Walaupun jika dibandingkan dengan periode setahun sebelumnya masih relatif naik dari 2.7% menjadi 2.9% sesuai perkiraan. Data CPI yang sedikit menurun didukung dengan data PPI yang sudah dirilis sehari sebelumnya membuat kekhawatiran akan inflasi semakin meningkat menjadi sedikit berkurang dan membuka lagi kemungkinan bagi Fed untuk menjalankan pemangkasan suku bunga acuan sesuai dengan proyeksi sebanyak 2 kali di tahun ini. Hal ini sejalan dengan komentar dari Gubernur Fed Kansas City – Jeffrey Schmid sehari sebelumnya yang masih optimis dengan mengatakan inflasi semakin mendekati target dan pertumbuhan ekonomi menunjukkan momentum dimana kebijakan moneter sudah mendekati netral. Meski demikian potensi ancaman inflasi masih ada yang akan datang pekan depan pasca pelantikan Donald Trump untuk menjadi Presiden AS untuk kedua kalinya. Agenda ekonomi berupa pengurangan pajak dan kenaikan tarif impor serta aturan imigrasi yang lebih ketat diperkirakan akan memicu inflasi kembali meningkat. Sedangkan perkiraan akan langkah moneter Fed pada pertemuan moneter FOMC pada 2 pekan mendatang masih akan mempertahankan suku bunga acuannya dengan peluang yang hanya menurun sedikit dari 97.9% menjadi 97.3% dan peluang untuk menurunkan bertambah dari 2.1% menjadi 2.7% menurut CME Fedwatch Tools. Selain data inflasi, dolar juga tertekan oleh data indeks manufaktur di negara bagian New York yang turun drastis dari 0.2 menjadi -12.6 yang jauh di bawah perkiraan meningkat 2.7. Sedangkan secara umum aktifitas ekonomi di AS sedikit meningkat dengan laju yang moderat di 12 negara bagian di AS menurut laporan Beige Book dari Fed. Hari ini akan dirilis data dari sektor tenaga kerja lainnya berupa laporan klaim pengangguran dan juga data Retail Sales serta indeks manufaktur di negara bagian Philadelphia.
Yen masih terus menguat tidak saja karena mata uang dolar yang terkoreksi, namun juga karena prospek kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Jepang (BOJ). Dan semakin menjauh dari level psikologi 160 yang sudah didekati beberapa hari sebelumnya. Gubernur Kazuo Ueda kemarin mengatakan BOJ akan menaikkan suku bunga acuan dan menyesuaikan dukungan moneter jika pertumbuhan ekonomi dan inflasi terus berlanjut naik. Merujuk pada data di sektor tenaga kerja berupa upah yang juga sudah dirilis Senin lalu yang naik hingga level tertinggi dalam lebih dari 3 dekade terakhir berpotensi mendorong naik inflasi. Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Gubernur BOJ - Ryozo Himino yang belum lama ini mengatakan peluang kenaikan suku bunga acuan terbuka lebar pada pertemuan moneter BOJ pada 24 Januari yang akan datang. Belum lagi potensi inflasi akibat diberlakukannya kenaikan tarif impor oleh AS semakin memperkuat peluang BOJ tersebut. Data ekonomi berupa machinery order juga meningkat tajam dari 3.0% menjadi 11.2%. Sedangkan data inflasi dari sisi produsen PPI year-on-year masih stabil 3.8% sesuai perkiraan sama seperti periode sebelumnya.
Euro juga sempat naik seiring dengan mata uang dolar yang terkoreksi sebelum akhirnya turun saat penutupan. Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih dan potensi inflasi kembali naik karena kenaikan tarif impor dari AS masih menjadi sentimen negatif. Uni Eropa merupakan salah satu target utama dari Presiden Trump terkait dengan tidak seimbangnya neraca perdagangan yang dinilai menguntungkan Uni Eropa. Sehingga kemungkinan besar Uni Eropa akan menerima kenaikan tarif impor yang premium dibandingkan dengan mitra dagang AS lainnya. Ditambah dengan semakin tingginya harga minyak dunia membuat daya saing dan daya beli semakin menurun karena ketergantungan terhadap sumber energi dari negara lain. Sehingga membuat Bank Sentral Eropa (ECB) mengharuskan untuk kembali memangkas suku bunga acuannya guna memicu pertumbuhan ekonomi. Belum lagi kondisi politik di Jerman dan Prancis yang labil masih menjadi sentimen negatif. Hari ini akan dirilis data inflasi CPI di Jerman dan juga nota pertemuan moneter ECB bulan lalu.
Poundsterling juga menguat terhadap dolar seiring dengan data inflasi yang mengalami penurunan ke level yang lebih rendah dari perkiraan. Dengan inflasi CPI year-on-year turun 2.5% dari perkiraan stagnan dari periode sebelumnya 2.6%. Begitu pula dengan data Core CPI year-on-year turun dari 3.5% menjadi 3.2% yang lebih rendah dari perkiraan hanya turun 3.4%. Kedua data tersebut akan mempersempit peluang perlunya Bank Sentral Inggris (BOE). Hari ini akan dirilis data pertumbuhan ekonomi GDP dan sejumlah data lainnya.
Cek info lain di:
https://agrodana-futures.com/
https://t.me/AGROdanaOFFICIAL
https://instagram.com/agrodanafuturesofficial
https://www.youtube.com/c/agrodanafuturesofficial



