Dolar mengalami koreksi terhadap mata uang lainnya di tengah sepinya perdagangan instrumen keuangan menjelang libur Thanksgiving di AS mulai malam nanti. Di tengah aktifitas ekonomi yang solid dengan daya beli domestik yang meningkat dari periode sebelumnya sementara inflasi juga masih sulit turun. Data pertumbuhan ekonomi GDP di AS cenderung stagnan di angka 2.8% sesuai dengan perkiraan. Indikator inflasi berupa data Personal Consumption Expenditure juga masih stagnan 0.3% sesuai perkiraan sama seperti periode sebelumnya. Dan bahkan jika dibandingkan dengan data setahun sebelumnya justru mengalami kenaikan dari 2.7% menjadi 2.8% sesuai perkiraan. Sedangkan data personal income naik 0.6% atau 2 kali perkiraan sama seperti periode sebelumnya 0.3%. Dan data personal spending sedikit turun 0.4% sesuai perkiraan walau data periode sebelumnya direvisi membaik dari 0.5% menjadi 0.6%. Di sektor industri, data Durable Goods Order meski dari -0.7% naik menjadi 0.2%, namun masih di bawah perkiraan naik 0.4%. Dengan data Core-nya yang tidak menyertakan sektor transportasi justru turun menjadi hanya 0.1% yang juga lebih rendah dari perkiraan 0.2% meski data periode sebelumnya direvisi membaik dari 0.4% menjadi 0.5%. Selain itu, data Chicago PMI juga turun dari 41.6 menjadi 40.2 yang jauh lebih buruk dari perkiraan naik 44.9. Dengan data-data ini membuat spekulasi akan perlunya Fed kembali memangkas suku bunga acuan meningkat guna memicu aktifitas ekonomi. Spekulasi akan langkah Fed memangkas suku bunga pada pertemuan moneter di bulan Desember kembali meningkat dari sebelumnya yang di bawah 60% meningkat menjadi 70% menurut CME Group's FedWatch tool. Selain itu pasar juga mewaspadai resiko akan langkah presiden terpilih Trump melanjutkan perang dagangnya dengan menaikkan tarif impor setelah sebelumnya mengenakan kenaikan terhadap negara Kanada dan Mexico namun melunak terhadap China. Meskipun sejumlah analis memperkirakan Trump juga mempertimbangkan resiko inflasi dari kenaikan tarif impor dan rencana pengurangan pajak akan mencegahnya dari tindakan yang gegabah. Hari ini US Market tutup merayakan libur Thanskgiving dan hanya buka setengah hari pada keseokan harinya.
Yen masih terus menguat hingga level tertinggi dalam 5 pekan terakhir terlebih setelah mata uang dolar terkoreksi dengan ekspektasi akan langkah Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan moneter di bulan Desember nanti. Dan sebagian juga karena Jepang tidak termasuk dalam daftar negara yang dikenakan agenda kenaikan tarif impor dari Trump. Jepang merupakan pihak asing pemegang obligasi AS terbanyak serta pelaku investasi langsung di AS terbesar sehingga menjadikan Jepang sebagai mitra dagang yang penting bagi AS.
Euro bergerak menguat dengan terkoreksinya mata uang dolar meski beberapa data fundamental yang dirilis belakangan ini masih cenderung menurun. Sementara Bank Sentral Eropa (ECB) juga terus ditekan oleh pejabat ECB sendiri untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga acuan dalam pertemuan moneter beberapa pekan mendatang. Terlebih adanya kekhawatiran akan agenda Trump untuk menaikkan tarif impor terhadap Uni Eropa yang dipastikan akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di kawasan ini. Tidak ada data ekonomi yang akan dirilis hari ini.
Poundsterling juga rebound seiring dengan koreksi mata uang dolar meski Bank Sentral Inggirs (BOE) juga diperkirakan akan memangkas suku bunga acuannya. Dengan daya beli rakyat Inggris yang menurun drastis yang dikaitkan dengan tingginya suku bunga acuan. BOE menjadi bank sentral di antara negara maju lainnya yang paling sedikit melakukan pemangkasan. Sehingga BOE mempunyai banyak ruang untuk melakukan pemangkasan yang hanya baru 2 kali dilakukan dalam 2 tahun terakhir ini. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis.
Cek info lain di :



