Dolar mengalami sedikit koreksi terhadap sejumlah mata uang lainnya paska data ekonomi di sektor ritel yang mengecewakan. Data Retail Sales bulan lalu mengalami kenaikan 0.1% yang lebih rendah dari perkiraan naik hingga 0.3% dan data periode sebelumnya direvisi turun dari 0.0% menjadi -0.2%. Sedangkan data Core Retail Sales yang tidak menyertakan komponen dari sektor otomotif mengalami penurunan -0.1% yang jauh di bawah perkiraan meningkat +0.2% dan data periode sebelumnya juga direvisi menurun dari +0.2% menjadi -0.1%. Masih tingginya tingkat inflasi dan suku bunga membuat konsumen menahan diri untuk membelanjakan pendapatannya hanya untuk keperluan penting saja. Hal ini tercermin dengan ritel sales yang menurun dan diharapkan inflasi juga semakin menurun sesuai dengan harapan Fed. Dengan ini ekspektasi akan langkah Fed memangkas suku bunga acuan pada pertemuan moneter di bulan September sedikit meningkat menjadi 67% dari 63% sehari sebelumnya dan 61.5% di hari Senin lalu. Sementara pejabat Fed sepertinya juga semakin santer menyuarakan hanya 1 kali pemangkasan suku bunga untuk tahun ini sesuai dengan dot-plot hasil pertemuan moneter pekan lalu. Gubernur Fed Philadelphia - Patrick Harker Senin lalu mendukung hanya 1 kali pemangkasan, namun tidak menutup kemungkinan pemangkasan berikutnya jika memang data ekonomi  mendukung hal tersebut. Gubernur Fed New York - John Williams mengatakan suku bunga acuan perlahan akan diturunkan pada waktunya, namun menolak memberikan perkiraan waktu yang tepat bagi Fed untuk mulai memangkasnya. Sedangkan Gubernur Fed Richmond mengatakan perlu lebih banyak data beberapa bulan mendatang sebelum mendukung pemangkasan suku bunga acuan Fed. Gubernur Fed lainnya - Adriana Krugler mengatakan Fed tidak boleh membiarkan kemajuan yang sudah tercapai sejauh ini dengan resiko memangkas suku bunga terlalu dini. Hari ini US Market tutup merayakan Juneteenth National. Bursa saham dan jasa keuangan lainnya libur. Di belahan dunia lain, Bank Sentral Australia (RBA) sesuai perkiraan tetap mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan moneter kemarin seiring dengan data inflasi yang masih belum banyak turunnya. Esok hari Bank Sentral Swiss (SNB) dijadwalkan akan mengadakan pertemuan moneter dengan perkiraan akan memangkas suku bunga acuan lebih lanjut sebanyak 25 bps. Selain Swiss, Bank Sentral Norwegia juga dijadwalkan akan mengadakan pertemuan moneter pekan ini.
Yen masih cenderung melemah terhadap dolar AS meski sedikit tertahan oleh komentar dari Gubernur Bank Sentral Jepang (BOJ) - Kazuo Ueda yang mengatakan BOJ berpeluang menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan moneter di bulan depan tergantung dengan data-data ekonomi yang akan dirilis sebelumnya. Ueda menambahkan BOJ masih belum sepenuhnya meyakini inflasi akan terus bertahan dalam target 2% sehingga perlu waktu lebih banyak untuk mendapatkan data yang lebih akurat sebelum kembali menaikkan suku bunga acuan. Ueda juga yakin meski harga barang import naik karena pelemahan mata uang Yen, namun diimbangi oleh kenaikan upah yang sudah disetujui sebelumnya sehingga diharapkan akan terus memicu pemulihan ekonomi di Jepang. Pada pertemuan moneter pekan lalu BOJ juga sudah memutuskan untuk memangkas pembelian obligasi pemerintah untuk menekan neraca keuangannya yang akan dijalankan pada bulan Juli mendatang senilai mendekati $5 triliun. Namun Ueda menegaskan BOJ sebisa mungkin tidak akan menggunakan operasi obligasi ini sebagai instrumen moneter. Spekulasi di pasar memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga acuan hingga 0.25% hingga akhir tahun ini, hanya saja kapan waktunya belum dapat ditentukan.
Euro bergerak naik terhadap dolar seiring dengan meredanya ketegangan politik di Prancis. Kekhawatiran akan terjadinya peralihan kepemimpinan yang drastis kemungkinan dapat dihindari setelah rival Macron dari Partai Reli Nasional - Marine Le Pen menyatakan tidak akan meminta Macron segera mundur dari jabatannya meski dalam pemilu nanti Macron mengalami kekalahan. Dengan pernyataan ini memperjelas posisi Presiden Macron yang masih akan terus menjabat untuk 3 tahun mendatang sehingga stabilitas ekonomi akan dapat dipertahankan. Dari data ekonomi menunjukkan inflasi CPI di kawasan ini kembali cenderung meningkat  dari 2.4% menjadi 2.6% dari tahun sebelumnya dan data Core CPI juga meningkat dari 2.7% menjadi 2.9% dari tahun sebelumnya. Keduanya sesuai dengan perkiraan pasar. Sedangkan jika dibandingkan dari bulan sebelumnya mengalami penurunan dari 0.6% menjadi 0.2% yang juga sesuai perkiraan. Setelah ECB sebelumnya sudah memangkas suku bunga acuan membuat peluang langkah moneter berikutnya adalah mempertahankan suku bunga acuan seiring dengan potensi inflasi yang naik tersebut. ECB masih punya banyak waktu hingga pertemuan moneter berikutnya di bulan Juli mendatang. Sedangkan data ekonomi berupa sentimen konsumen dari ZEW untuk Uni Eropa secara umum meningkat sedangkan di Jerman justru mengalami penurunan. Hari ini hanya ada data neraca keuangan dan buletin ekonomi dari ECB.
Poundsterling masih tertahan menjelang rilis data inflasi CPI siang ini dan juga jelang pertemuan moneter yang akan berakhir esok hari. Inflasi CPI di Inggris diperkirakan mengalami penurunan dari 2.3% hingga mencapai target 2.0% namun data Core CPI masih relatif tinggi meski juga turun dari 3.9% menjadi 3.5%. Dengan inflasi yang semakin turun, maka semakin terbuka peluang bagi Bank Sentral Inggris (BOE) untuk memangkas suku bunga acuannya tidak hanya 1 kali namun bisa juga 2 kali hingga akhir tahun ini. Meski demikian BOE diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acunnya pada pertemuan moneter esok hari. Dan yang akan dicermati oleh pasar adalah konferensi pers dari Gubernur BOE - Andrew Bailey pasca pertemuan tersebut berakhir.



