Dolar berlanjut melemah terhadap mata uang lainnya kecuali terhadap Yen seiring dengan data ekonomi di sektor tenaga kerja di AS yang menunjukkan tanda-tanda pelambatan. Sehingga Fed akan meningkatkan pertimbangan untuk mulai menurunkan suku bunga acuannya guna menahan perlambatan aktifitas ekonomi tersebut. Sebelumnya Ketua Fed - Jerome Powell juga mengindikasikan hal tersebut dalam pidatonya di Portugal kemarin malam. Data terisinya lapangan pekerjaan di sektor swasta ADP mengalami penurunan dari 157K menjadi 150K jauh lebih rendah dari perkiraan meningkat menjadi 163K. Data PHK dari Challenger juga meningkat tajam dari -20.3% menjadi 19.8%. Laporan mingguan klaim pengangguran juga meningkat menjadi 238K yang lebih tinggi dari perkiraan stabil sama seperti periode sebelumnya 234K. Sementara dari PMI di sektor jasa dari ISM di luar perkiraan juga turun tajam dari 53.8 mengalami degradasi masuk zona kontraksi di bawah ambang 50 menjadi 48.3 yang jauh lebih buruk dari perkiraan hanya turun 52.6. Ini merupakan level terendah dalam 4 tahun terakhir dan kedua kalinya turun di bawah ambang batas tersebut. Begitu pula komponen tenaga kerja dari data ISM tersebut mengalami penurunan dari 47.1 menjadi 46.1. Ditambah data di sektor manufaktur berupa data Factory Order yang mengalami penurunan -0.5% yang lebih rendah dari perkiraan +0.2% dan data periode sebelumnya juga direvisi menurun dari +0.7% menjadi hanya +0.4%. Semua data-data tersebut selain menjadi sentimen negatif untuk mata uang dolar, namun juga semakin memperkuat peluang bagi Federal Reserve untuk melakukan pemangkasan suku bunga acuannya seperti yang diharapkan pasar yaitu pada pertemuan moneter di bulan September mendatang. Spekulasi akan langkah tersebut semakin tinggi mencapai 74% dari sebelumnya yang hanya 69% menurut LSEG dan masih memungkinkan untuk pemangkas kedua di tahun ini juga. Pejabat Fed sendiri sudah menyadari bahwa aktifitas ekonomi mulai melambat dan tekanan inflasi mulai berkurang seperti yang tercermin dalam nota minuta pertemuan moneter FOMC lalu yang dirilis tadi malam. Meski demikian Fed masih memakai pendekatan wait’n’see perkembangan data ekonomi selanjutnya sebelum memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan. Data penting berikutnya adalah Non-Farm Payroll yang akan dirilis pada hari Jumat lusa. Malam ini US Market libur merayakan hari kemerdekaan - Independent Day.
Yen terus melemah terhadap dolar hingga menciptakan rekor tertinggi lagi di 161.96 yang merupakan level tertinggi dalam 38 tahun terakhir atau sejak Desember 1986. Meski kemudian turun seiring dengan data fundamental ekonomi di AS yang melemah. Selain terhadap dolar, Yen juga melemah terhadap mata uang Euro hingga rekor terendah hingga level 174.48. Perbedaan tingkat suku bunga acuan antara Jepang - AS dan UE masih menjadi hambatan bagi otoritas Jepang untuk kembali melakukan intervensi. Meskipun saat ini pelaku pasar tetap waspada akan langkah intervensi yang mungkin saja dapat dilakukan disaat US Market libur seperti yang intervensi terdahulu. Kali ini pejabat otoritas Jepang tidak banyak berkomentar seperti sebelumnya dan hanya 1 kali Menteri Keuangan Shunichi Suzuki yang berkomentar di hari Selasa lalu dengan mengatakan memonitor pergerakan mata uang Yen dengan ketat. Hari ini tidak ada data ekonomi yang akan dirilis. Â
Euro juga menguat terhadap dolar hingga level tertinggi dalam 3 pekan terakhir seiring dengan data inflasi yang relatif masih membandel di kawasan ini. Meski data inflasi CPI turun dari 2.6% menjadi 2.5%, namun data Core CPI masih stagnan 2.9% sama seperti periode sebelumnya. Sehingga Bank Sentral Eropa (ECB) akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya saat ini lebih lama lagi setelah dalam pertemuan moneter sebelumnya sudah memangkas suku bunga sebanyak 25 bps. Hal ini juga diungkapkan oleh Presiden ECB - Christine Lagarde yang kemarin menyatakan meskipun inflasi di Uni Eropa mendahului menuju disinflasi namun ECB merasa belum perlu tergesa-gesa untuk segera menurunkan suku bunga acuannya kembali. Sementara data ekonomi berupa PMI di sektor jasa mengalami peningkatan menjadi 52.8 yang lebih baik dari perkiraan stabil 52.6 seperti periode sebelumnya. Hari ini akan dirilis data Factory Orders dan nota pertemuan moneter ECB lalu. Selain itu fokus pasar masih akan tertuju pada putaran kedua pemilu di Prancis. Untuk mengetahui dinamika politik yang berpotensi menjadi kendala dalam perjalanan ekonomi di negara terbesar kedua dalam Uni Eropa ini.
Poundsterling juga menguat terhadap dolar menjelang pemungutan suara di Inggris yang dijadwalkan hari ini. Data ekonomi juga cukup positif dengan data PMI di sektor jasa mengalami penurunan dari 52.9 menjadi 52.1 namun masih lebih baik dari perkiraan turun hingga 51.2. Penurunan ini terjadi karena beberapa perusahaan masih menunggu hasil pemilu sebelum kembali meningkatkan kinerjanya. Dalam pemilu kali ini oposisi Partai Buruh diperkirakan akan memenangkan mayoritas suara dan mengakhiri kekuasaan Partai Konservatif yang dinilai kurang baik mengelola pemerintahan yang dalam 14 tahun terakhir ini. Pemilu kali ini tidak secara langsung memilih Perdana Menteri, melainkan akan menentukan mayoritas di parleman yang kemudian akan memilih pengganti Sunak. Perdana Menteri - Rishi Sunak diperkirakan akan digantikan oleh Keir Starmer atau kandidat baru Nigel Farage yang dahulu menginisiasi Brexit. Optimisme akan pergantian mayoritas pada panggung politik di Inggris diharapkan akan membawa stabilitas fiskal dan politik di Inggris yang lebih stabil serta hubungan dagang lebih baik dengan Uni Eropa. Hari ini akan dirilis data PMI di sektor konstruksi.



