
Minggu depan seharusnya relatif minim data bagi AS sehingga pasar ekuitas punya waktu untuk sedikit relaksasi. Tapi hal itu tidak terjadi karena pasar akan berhadapan dengan serangkaian risiko geopolitik dari pertemuan para pemimpin G7 dan juga situasi geopolitik di Timur Tengah. Sedangkan data ekonomi berpusat pada inflasi Inggris dan Jepang, sedangkan AS akan bergantung pada PMI manufaktur dan services untuk melihat kesehatan ekonomi
Inflasi Inggris
Inggris berada pada tekanan yang tidak menguntungkan. Selain politik domestik yang mengancam posisi PM Inggris, BOE juga dihadapkan pada situasi yang krusial untuk menaikkan suku bunga akibat kenaikan harga energi yang mendorong inflasi global mengalami kenaikan. Namun, situasinya sedikit dilema karena pasar tenaga kerja tidak begitu bagus, dan pertumbuhan ekonomi Inggris yang tidak terlalu baik.
Trump – Netanyahu Kembali Ancam Iran?
Meski baru sekedar rumor, tapi situasi ini bisa memanas minggu depan jika benar Trump sudah menghubungi PM Israel Netanyahu untuk bersiap kembali serang Iran. Media Israel mengklaim hal tersebut di akhir pekan dan menambahkan keputusan ada di tangan Trump dalam 24 jam ke depan. Jika benar, maka Iran sudah siap dengan segala risiko, dan itu tidak bagus terhadap kesepakatan gencatan senjata mereka. Jika tidak terbukti, maka pasar bisa kembali harapkan jalur diplomasi keduanya kembali terbuka dan meredam gejolak
Jepang Harapkan Dukungan G7
Pertemuan negara G7 dijadwalkan minggu depan yang akan dihadiri Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris dan Amerika. Jepang diperkirakan akan memanfaatkan event tersebut untuk mencari dukungan untuk intervensi yang terkoordinasi terhadap mata uang yang melemah akibat dari ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah. Meski dapat dukungan dari AS, tapi Bessent lebih memprioritaskan BOJ menaikkan suku bunga untuk membuat Yen lebih kuat dan stabil.
Sejak resmi menjabat menggantikan Powell, pasar kini belum mendengarkan apa target yang akan dilakukan Ketua Fed yang baru Kevin Warsh terhadap kebijakan moneter Fed. Meski dalam testimoni di hadapan Komite Perbankan Senat Warsh mengatakan akan tetap menjaga independensi bank sentral, tapi banyak juga yang meragukan karena Trump berulang kali mengatakan penurunan suku bunga akan terjadi begitu Warsh menjabat. Saat ini, “Warsh Trade” cenderung didominasi oleh penguatan dolar AS dan melemahkan mata uang lainnya.
FOMC Minutes
Meski bukan risk event utama seperti FOMC Meeting, tapi pasar kemungkinan akan menggali petunjuk lebih dalam dari hasil pertemuan FOMC April yang dirilis dalam Minutes minggu depan. Yang perlu diingat adalah bahwa pengumuman yang dirilis hanya berupa notulen dari rapat sebelumnya. Tapi kadang pasar menjadi kritis dan sensitif terhadap semua laporan kebijakan moneter Fed. Pernyataan Gubernur Fed Christopher Waller juga akan menjadi sorotan. Waller dan Williams dikenal sebagai sosok yang pernyataannya selalu menggerakkan pasar


JPY GDP
19 Mei 2026
Jepang menghadapi rilis data penting, yaitu GDP Q1 2026 yang diharapkan naik di 1.7% y/y. Data ini menjadi salah satu komponen yang juga diharapkan bisa mendukung BOJ untuk memutuskan apakah diperlukan kenaikan suku bunga, selain dari data inflasi
EUR CPI
20 Mei 2026
Data inflasi akan menjadi data kritis untuk ECB yang sedang mencari alasan kuat apakah perlu menaikkan suku bunga. Pasar saat ini memperkirakan secara luas kenaikan suku bunga di bulan Juni. Inflasi yang memanas akan kembali membuat pasar menekan ECB untuk merubah suku bunga
UK CPI & PPI
20 Mei 2026
Laporan ini juga menjadi penting bagi Inggris yang sedang dihadapkan pada situasi dilema. BOE diharapkan secara luas untuk melakukan penyesuaian suku bunga. Tapi data inflasi akan menjadi pertimbangan apakah kenaikan diperlukan, sedangkan tingkat pengangguran relatif tinggi
US PMI Manufacture & Services
21 Mei 2026
Narasi untuk AS sedikit bergeser saat ini ke arah kesehatan ekonomi dengan data hari Kamis menyoroti PMI manufacture dan services yang keduanya diperkirakan tetap di zona ekspansi. Jika data lebih kuat, maka dolar akan mendapat dukungan tambahan, berlaku juga sebaliknya jika data melemah
JPY National Core CPI
22 Mei 2026
Tekanan bagi BOJ adalah untuk segera menaikkan suku bunga. Tapi situasinya belum mendukung karena kenaikan inflasi tidak disertai daya beli yang meningkat. Namun, jika National Core CPI kembali naik, sepertinya tidak ada pilihan bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga supaya mata uang lebih terkendali.

Seperti yang diulas di live streaming Jumat, bahwa pasar harus siaga setelah Trump kembali dari China. Rumor menyebut, Trump sudah kontak Israel untuk bersiap menyerang Iran kembali karena tidak adanya kesepakatan apapun terkait nuklir. Jika ini benar, maka perang bisa terjadi dalam hitungan hari, dan hal itu berpotensi mendorong kembali kekhawatiran inflasi sehingga menekan emas karena ruang pemangkasan suku bunga Fed semakin kecil. Tapi jika informasi meleset, maka kita bisa harapkan pemulihan emas minggu depan. Weekly candle ditutup bearish, menghapus hampir semua kenaikan di minggu sebelumnya. Meski zona 4500 efektif menahan gempuran di hari Jumat, tapi kenaikannya kurang kuat sehingga ancaman turun masih membayangi. Situasi terburuk, jika serangan benar terjadi, zona 4099 mungkin bisa tercapai, atau bahkan jauh lebih rendah hingga 3800-an. Namun, jika isu tersebut tidak terbukti, maka tekanan turun mungkin relatif terbatas, dengan support 4428 dan 4350 mungkin zona terjauh. Sedangkan pemulihan cepat di atas 4660 dibutuhkan untuk membuka kembali jalur pendakian yang terhenti minggu lalu.
Daily Trend : Bearish
Weekly Trend : Strong Bearish
(R) : 4660, 4750, 4850
(S) : 4420, 4350, 4090
Daily Trend : Bullish
Weekly Trend : Bullish
(R) : 110.85, 117.54, 123.63
(S) : 98.24, 90.00, 85.90
Perang belum selesai sampai Trump mengatakan selesai! Ya, sepertinya itu yang terjadi. Trump belum mendapatkan yang diinginkannya, yaitu Iran hapus senjata nuklirnya, atau kibarkan bendera putih. Tapi Iran adalah Iran, bukan Venezuela, dan sepertinya mereka tidak menyerah memperjuangkan haknya untuk tetap pertahankan uranium mereka dengan alasan pertahanan dan juga tujuan industri kesehatannya. Trump disebut-sebut sudah menghubungi Israel untuk bersiap menyerang Iran jika tidak ada kesepakatan terkait nuklir, dan berbagai pihak khawatir itu akan terjadi minggu depan. Namun, ada secercah harapan bahwa Trump akan terbuka jika Iran mau membekukan uranium selama 20 tahun atau kepemilikan tapi dengan pemantauan. Weekly candle di sisi lain ditutup bullish, tapi RSI tidak menunjukkan kondisi yang siap mendorong kenaikan lebih tinggi. Tapi daily terdeteksi membentuk symmetrical triangle yang bisa menjadi bullish ataupun bearish. RSI daily lebih mendukung untuk kenaikan sehingga terbuka untuk tembus di atas 110. Apalagi jika perang benar terjadi, maka kenaikan diperkirakan lanjut di atas 115. Tapi jika Trump tetap kedepankan diplomasi, dan Iran siap membuka diri, maka peluang turun akan lebih dominan jika mampu tembus di bawah 90.

Candle weekly ditutup bearish, EMA50 weekly di 1.15600 terancam minggu depan. Tekanan berpotensi berlanjut karena RSI weekly juga berada di bawah 50% yang mengindikasikan penurunan masih dominan. Di sisi lain, ada kecurigaan membentuk head & shoulders, dan saat ini berada di sisi shoulder kanan. Neckline akan berada di 1.14000, dan jika tembus, maka penurunan berpeluang berlanjut dengan target utama di 1.07170. Namun support terdekat di 1.13660 dan 1.11400 kemungkinan memberi perlawanan. Situasi geopolitik yang suram juga berpeluang menambah tekanan
Resistance : 1.18500, 1.20800, 1.22000
Support : 1.15445, 1.13667, 1.11450
Outlook : Bearish

Pound mengalami tekanan lebih berat dibanding Euro minggu lalu. Tekanan weekly bahkan menunjukkan peluang turun bisa berlanjut jika support 1.31400 ditembus. Ada harapan jika demand berhasil menahan tekanan di zona tersebut, tapi situasi geopolitik yang suram berpotensi menekan lebih lanjut jika tidak segera mendapat kepastian dari Iran dan AS. Sebaliknya, jika tekanan mereda, maka bullish tidak sepenuhnya pulih cepat karena harus berhadapan dengan resistance 1.36520 sebelum dianggap kembali ke jalur bullish. CPI dan PPI Inggris di hari Rabu mungkin bisa menjadi petunjuk tambahan bagi BOE di pertemuan berikutnya dan di sisi lain bisa saja memulihkan GBP
Resistance : 1.35880, 1.37800, 1.39200
Support : 1.31800, 1.30000, 1.29430
Outlook : Bearish

Daily dan Weekly secara teknis mendukung kenaikan, tapi weekly lebih kuat, sedangkan daily cenderung rapuh. Ini dikarenakan daily terlihat sedang berupaya kembali ke jalur bullish, tapi resistance 159-160 mungkin akan kembali menemukan hambatan, terutama jika Jepang kembali mengancam intervensi. Kemungkinan weekly mendukung kenaikan karena saat ini goncangan geopolitik belum berakhir, bahkan dikhawatirkan meningkat minggu depan. Jika terjadi perang (Israel dan AS kembali gempur Iran), maka waspada dorongan cepat Yen mungkin melemah sampai menguji kembali zona 160an. Dan jika area ini tetap ampuh, maka waspada sewaktu-waktu Jepang mungkin mulai terusik dan siap kembali lakukan intervensi
Resistance : 159.440, 160.710, 162.500
Support : 156.888, 155.480, 154.395
Outlook : Bullish

Candle weekly ditutup bullish dengan real body candle yang panjang sehingga mengindikasikan kenaikan yang lebih kuat. Posisi RSI juga mendukung. Geopolitik yang tidak menentu membuat dolar sebagai safe haven saat ini. Jika AS dan Israel benar mulai menyerang Iran kembali dan gencatan senjata pun diabaikan, maka dorongan semakin kuat. Bahkan daily dicurigai membentuk double bottom dengan neckline cukup dekat dari penutupan Jumat. Itu artinya jika pembukaan Senin terjadi gap-up, secara tidak langsung mengkonfirmasi pola ini dan target berpeluang incar 100.900.
Resistance : 100,55, 101.5, 102.300
Support : 96.800, 95.200, 94.000
Outlook : Bullish

Candle weekly ditutup bearish dan tanda-tanda penurunan didukung juga oleh posisi RSI yang ternyata mulai turun kembali di bawah 70%, dan puncak kedua yang lebih rendah dibanding puncak pertama, sedangkan harga justru berada di puncak yang lebih tinggi dari puncak pertama. Bearish divergence kemungkinan mendukung terjadinya koreksi turun minggu depan. Tapi jika Wall Street terus rally, terutama sektor teknologi, maka tekanan pada Nikkei mungkin terbatas dan punya peluang kembali naik. Tapi tetap waspadai perkembangan geopolitik yang bisa sewaktu-waktu memanas dan merontokkan indeks saham global, termasuk Asia!
Resistance : 64000, 65500, 67000
Support : 61800, 60900, 59010
Outlook : Bearish

Setelah gagal lanjutkan kenaikan setelah sentuh 26850, candle weekly pun ditutup bearish. Tekanan terbesar terjadi di 2 hari terakhir di mana gap-up yang terjadi Kamis langsung ditutup dan diikuti gap-down dengan tekanan turun di hari Jumat. Padahal saat itu pertemuan Trump dan Xi diklaim AS membuahkan kerjasama dagang yang saling menguntungkan kedua pihak. Tapi dampaknya mungkin tidak terasa. Kini peluang bearish terancam berlanjut minggu depan, terutama jika tembus support 25480. Zona terjauh diharapkan terhambat di kisaran 25180-25000. Namun, jika geopolitik berkembang ke sisi yang tidak diinginkan (memanas), maka Hang Seng berpotensi ikut tertekan bersama ekuitas global. Sebaliknya, peluang naik bisa kembali dominan jika berhasil tembus resistance minimal 26000 kembali.
Resistance : 26500, 27500, 28150
Support : 25480, 25000, 24669
Outlook : Bearish

Candle weekly ditutup doji mirip spinning tops. Biasanya candle ini memberi tanda peluang yang seimbang antara bearish maupun bullish. Secara teori, tren akan bergantung dari penutupan candle berikutnya sehingga penutupan minggu depan akan menjadi petunjuk apakah rally akan berlanjut sampai akhir Mei atau justru saatnya profit taking atau turun. RSI weekly tidak terlihat sebagai tanda overbought karena baru saja memasuki teritori di atas 70%. Tapi situasi geopolitik yang memanas bisa mengubah sentimen dengan cepat. Waspada penurunan di bawah 28740, kemungkinan akan membuka peluang turun ke zona 27500an. Sebaliknya, jika geopolitik aman, maka buka peluang untuk cetak ATH baru lagi.
Resistance : 29500, 30000, 31000
Support : 28740, 27610, 26500
Outlook : Bullish

Candle weekly ditutup shooting star, dan untuk keempat kalinya secara berturut-turut ditutup doji, seolah-olah mengatakan bahwa “kami menunggu pemicu”. Sejauh ini Dow cenderung naik lebih lambat dibanding Nasdaq maupun S&P500. Situasi ini kemungkinan berlanjut minggu depan. Tapi secara teknis, ada 2 peluang pola grafik yang terlihat, yaitu double top atau V-bottom. Peluang double top sepertinya lebih kuat karena RSI saat ini pun cenderung menunjukkan puncak yang lebih rendah sehingga tekanan turun diperkirakan dominan. Tapi V-bottom tidak bisa diabaikan. Pola ini akan berhasil jika neckline 50600 ditembus
Resistance : 50600, 51200, 52000
Support : 49000, 48500, 47500
Outlook : Bearish
Disclaimer:
Seluruh pernyataan dan ekspresi yang disampaikan sebagai prakiraan dan analisa adalah semata-mata bertujuan informatif dan tidak dimaksudkan sebagai nasihat investasi. Pendapat yang disampaikan dapat berubah tanpa pemberitahuan. Pasar Valuta Asing, Kontrak Berjangka, Komoditi & CFD (Contract For Difference) bersifat volatile dan berisiko tinggi.



