TOP GAINERS
| 1. International Business Machines (IBM) +15.95% |
| 2. QUALCOMM Incorporated (QCOM) +14.87% |
| 3. Merck & Co., Inc. (MRK) +10.07% |
| 4. Advanced Micro Devices, Inc. (AMD) +7.60% |
| 5. GE Aerospace (GE) +6.91% |
TOP LOSERS
| 1. Walmart Inc. (WMT) -8.43% |
| 2. Nvidia Corporation (NVDA) -5.36% |
| 3. Uber Technologies, Inc. (UBER) -3.68% |
| 4. Starbucks Corporation (SBUX) -3.67% |
| 5. Alphabet Inc. (GOOG) -3.25% |
Pekan 18-22 Mei 2026 diwarnai oleh dua narasi besar yang menarik perhatian pasar secara bersamaan. Di satu sisi, gelombang investasi pemerintah Amerika di teknologi masa depan mendorong sejumlah saham teknologi melesat ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Di sisi lain, sejumlah perusahaan besar harus menghadapi kenyataan bahwa rencana bisnis mereka belum cukup meyakinkan di mata investor. Hasilnya, pasar kembali memilah dengan sangat selektif: saham dengan katalis nyata melesat, sementara yang dibayangi ketidakpastian mendapat tekanan cukup signifikan.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 22 Juli 2026
Last Dividend Ex-Date: 8 Mei 2026 ($1.69)
52-Week Range: $212.34 - $324.90
Weekly Range: $216.49 - $263.84
Previous Close Price: $253.80 (22 Mei 2026)
IBM menjadi saham dengan kenaikan paling mencolok pekan ini, dan pemicunya sangat konkret. Pemerintah Amerika mengumumkan investasi senilai $2 miliar untuk pengembangan teknologi komputasi kuantum, dan IBM sendiri berkomitmen menambahkan $1 miliar untuk membangun pabrik chip kuantum. Bagi pasar, ini adalah sinyal serius bahwa IBM bukan sekadar perusahaan teknologi lama yang hidup dari warisan masa lalu, melainkan kandidat pemain utama di era komputasi berikutnya. Analis dari Wedbush langsung menyebut investasi pemerintah ini sebagai katalis pertumbuhan baru bagi IBM. Perlu dicatat, sebagian analis masih skeptis dan memperkirakan manfaat komersial besarnya baru akan terasa sekitar tahun 2030, namun untuk saat ini, optimisme pasar jelas lebih mendominasi.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 29 Juli 2026
Next Dividend Ex-Date: 4 Juni 2026
52-Week Range: $121.99 - $247.90
Weekly Range: $191.09 - $242.96
Previous Close Price: $238.27 (22 Mei 2026)
Qualcomm mencetak kenaikan besar setelah melaporkan hasil keuangan kuartal kedua yang melampaui ekspektasi pasar: total pendapatan $10,6 miliar, dengan penjualan di segmen otomotif yang memecahkan rekor sepanjang masa senilai $1,33 miliar atau tumbuh 38% dibanding tahun lalu. Ini adalah kuartal keempat berturut-turut Qualcomm berhasil melampaui estimasi analis Wall Street. Yang semakin menambah semangat investor adalah pengumuman pembelian kembali saham senilai $20 miliar, sebuah tanda kepercayaan diri dari manajemen bahwa bisnis mereka dalam kondisi prima. Analis dari Benchmark memasang target harga $225, sementara TD Cowen berada di $200. Dua angka itu sebenarnya berada di bawah harga pasar saat ini di $238, yang menandakan sebagian analis menilai kenaikan minggu ini sudah melampaui valuasi wajar mereka. Sementara itu, konsensus target dari mayoritas analis berada di kisaran $268, yang masih memberi ruang kenaikan sekitar 13% dari harga penutupan pekan ini.

Last Earnings (Laporan Keuangan): 4 Agustus 2026
Last Dividend Ex-Date: 16 Maret 2026 ($0.85)
52-Week Range: $75.40 - $125.14
Weekly Range: $110.99 - $122.71
Previous Close Price: $122.55 (22 Mei 2026)
Merck melonjak lebih dari 10% didorong oleh kabar positif dari Eropa: badan pengawas kesehatan Uni Eropa memberikan rekomendasi positif untuk obat kanker andalan mereka, Keytruda, dalam kombinasi dengan Padcev untuk pengobatan kanker kandung kemih. Ini membuka jalan bagi persetujuan resmi yang bisa memperluas jangkauan pasar Merck secara signifikan di benua Eropa. Di tengah euforia ini, ada satu catatan yang tidak bisa diabaikan: penjualan vaksin Gardasil mereka turun 22% menjadi $1,07 miliar di kuartal pertama akibat permintaan yang lemah, dan manajemen sendiri tidak memproyeksikan pemulihan untuk sepanjang tahun 2026. Namun pasar pekan ini memilih untuk merayakan Keytruda terlebih dahulu, dan itu cukup untuk mendorong saham Merck naik tajam.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 4 Agustus 2026
Last Dividend Ex-Date: 27 April 1995
52-Week Range: $107.67 - $469.22
Weekly Range: $393.49 - $477.27
Previous Close Price: $467.89 (22 Mei 2026)
AMD mencatat kenaikan solid setelah mengumumkan komitmen investasi lebih dari $10 miliar di Taiwan untuk memperkuat infrastruktur kecerdasan buatan mereka, termasuk pengembangan teknologi pengemasan chip generasi berikutnya. Nilai perusahaan di bursa kini melampaui $750 miliar, dan CEO Lisa Su secara terbuka memproyeksikan pertumbuhan pasar prosesor sebesar 35% per tahun. Benchmark baru-baru ini menaikkan rekomendasi dengan target di $485. Di balik semua kabar positif ini, ada satu hal yang patut dicermati: ada aksi jual saham dari pihak internal perusahaan senilai sekitar $13,4 juta dalam rentang 8-15 Mei. Jumlahnya relatif kecil dibandingkan total nilai perusahaan, namun investor yang jeli biasanya selalu memperhatikan sinyal semacam ini.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 16 Juli 2026
Last Dividend Ex-Date: 9 Maret 2026 ($0.47)
52-Week Range: $232.24 - $348.48
Weekly Range: $282.18 - $304.68
Previous Close Price: $302.65 (22 Mei 2026)
GE Aerospace menutup pekan dengan kenaikan hampir 7%, ditopang oleh kombinasi laporan keuangan yang kuat dan kontrak baru dari militer Amerika. Dalam kuartal pertama 2026, GE mencatat lonjakan pesanan sebesar 87% menjadi $23 miliar, dengan pesanan dari segmen komersial naik 93%. Pendapatan tumbuh 29% menjadi $11,61 miliar dengan margin keuntungan operasional hampir 20%. Di pertengahan pekan, harga saham sempat bergoyang akibat kekhawatiran soal harga minyak dan kenaikan imbal hasil obligasi Amerika, namun berhasil ditutup positif setelah pengumuman kontrak dengan Angkatan Udara AS untuk pengembangan mesin jet generasi baru GE426.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 20 Agustus 2026
Last Dividend Ex-Date: 21 Agustus 2026
52-Week Range: $93.43 - $135.16
Weekly Range: $118.92 - $135.22
Previous Close Price: $120.38 (22 Mei 2026)
Menjadi saham yang paling dalam koreksinya di antara para Losers pekan ini, hal tersebut terasa agak ironis bagi Walmart. Bisnis Walmart sebenarnya masih berjalan baik: pangsa pasar mereka tumbuh dan bisnis belanja online terus menanjak. Masalahnya datang dari pemangkasan panduan keuangan ke depan oleh manajemen, yang disebabkan oleh naiknya biaya bahan bakar yang mulai menekan keuntungan. Ada satu data dari CFO Walmart yang menarik perhatian pasar: para pelanggan mereka kini mengisi bahan bakar kendaraan dengan kurang dari 10 galon per kunjungan, sesuatu yang tidak pernah terjadi sejak 2022. Angka kecil itu mencerminkan tekanan nyata yang dirasakan konsumen Amerika saat ini. Meski begitu, analis dari JPMorgan justru melihat penurunan ini sebagai peluang beli, dengan keyakinan bahwa Walmart tetap akan menjadi pemenang jangka panjang di industri ritel.

Last Earnings (Laporan Keuangan): 20 Mei 2026
Last Dividend Ex-Date: 11 Maret 2026 ($0.01)
52-Week Range: $132.92 - 236.54
Weekly Range: $214.84 - $227.56
Previous Close Price: $215.22 (22 Mei 2026)
Penurunan Nvidia pekan ini terasa paradoks mengingat laporan keuangan mereka yang baru dirilis pada 20 Mei sangat kuat: pendapatan $81,6 miliar dengan pertumbuhan 92% di segmen pusat data. Namun koreksi setelah kenaikan besar adalah hal yang sangat lumrah di pasar saham. Yang menambah tekanan adalah pengumuman kesepakatan Nvidia dengan Corning senilai $3,2 miliar untuk kebutuhan optik pusat data AI, yang memunculkan kekhawatiran investor soal kemampuan keuangan Corning untuk memenuhi komitmen tersebut. Kemitraan Nvidia dengan Uber untuk pengembangan teknologi kendaraan tanpa pengemudi tetap menjadi cerita menarik untuk jangka panjang, namun untuk pekan ini, investor lebih memilih mengunci keuntungan setelah periode kenaikan yang cukup panjang.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 4 Agustus 2026
Next Dividend Ex-Date: N/A (Uber tidak membagikan dividen)
52-Week Range: $68.46 - $101.99
Weekly Range: $71.29 - $76.00
Previous Close Price: $71.84 (22 Mei 2026)
Uber mendapat tekanan dari berita rencana pengambilalihan penuh terhadap Delivery Hero, sebuah platform pengiriman makanan besar yang beroperasi di berbagai negara. Bagi investor, rencana ini memunculkan dua kekhawatiran sekaligus: risiko dari sisi regulasi, dan besarnya dana yang harus dikeluarkan Uber untuk mewujudkannya. Di saat yang sama, Uber juga tengah berkomitmen menginvestasikan $10 miliar untuk kendaraan otonom. Ketika sebuah perusahaan terlihat mengejar begitu banyak ambisi besar secara bersamaan, wajar jika sebagian investor memilih bersabar dan menunggu kejelasan arah. Bisnis Uber sendiri sebenarnya masih tumbuh solid dengan peningkatan total nilai pemesanan sebesar 25% di kuartal pertama, namun berita akuisisi ini lebih mendominasi sentimen pasar pekan ini.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 28 Juli 2026
Last Dividend Ex-Date: 15 Mei 2026 ($0.62)
52-Week Range: $77.99 - $108.88
Weekly Range: $102.40 - $108.15
Previous Close Price: $103.11 (22 Mei 2026)
Starbucks menghadapi pekan yang cukup berat, bukan karena bisnisnya kolaps, melainkan karena serangkaian berita yang menciptakan kesan bahwa operasional perusahaan sedang dalam masa transisi yang penuh tantangan. Yang paling mengejutkan adalah pengumuman bahwa mereka telah menghentikan penggunaan alat manajemen inventaris berbasis AI setelah sembilan bulan berjalan, karena sistem tersebut terlalu sering salah menghitung stok produk dan mendapat banyak keluhan dari karyawan. Perusahaan kembali ke cara manual. Bersamaan dengan itu, mereka juga mengumumkan pemangkasan 300 posisi sebagai bagian dari rencana penghematan biaya senilai $2 miliar. Meski pendapatan kuartal ini masih tumbuh hampir 6%, laba per saham turun tajam lebih dari 52%, mengindikasikan tekanan profitabilitas yang belum sepenuhnya teratasi.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 23 Juli 2026
Next Dividend Ex-Date: 8 Juni 2026
52-Week Range: $149.49 - $383.39
Weekly Range: $378.25 - $404.50
Previous Close Price: $379.42 (22 Mei 2026)
Alphabet, perusahaan induk Google, menutup pekan sebagai salah satu saham yang terkoreksi, meski secara fundamental bisnis mereka masih dalam kondisi sangat sehat: margin keuntungan operasional di atas 32% dan rasio utang yang sangat rendah di angka 0,16. Tekanan utama datang dari kekhawatiran investor atas besarnya pengeluaran modal perusahaan, termasuk investasi $15 miliar untuk pusat data berbasis AI di Missouri. Di mata sebagian investor, pengeluaran besar semacam ini memang diperlukan untuk bersaing di era AI, namun pertanyaan soal kapan investasi tersebut akan mulai menghasilkan keuntungan nyata belum terjawab dengan jelas. Dari sisi valuasi, koreksi ini sebenarnya membuat saham Alphabet semakin menarik: rasio harga terhadap laba turun dari 28,58 kali menjadi 21,71 kali hanya dalam satu kuartal.
Pekan 18-22 Mei 2026 kembali membuktikan bahwa di pasar saham, yang paling sering menentukan arah harga bukan seberapa bagus kinerja bisnis sebuah perusahaan hari ini, melainkan seberapa jauh hasilnya berbeda dari apa yang sudah diperkirakan pasar sebelumnya. IBM dan Qualcomm melonjak karena ada katalis konkret yang melampaui ekspektasi. Walmart dan Nvidia terkoreksi bukan karena bisnis mereka bermasalah, melainkan karena ada celah antara harapan pasar dan kenyataan yang disampaikan manajemen. Pekan depan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada perkembangan negosiasi dagang AS dan sinyal terbaru dari The Fed soal arah suku bunga. Dua faktor itu masih akan menjadi penentu utama sentimen Wall Street dalam waktu dekat
Semua saham yang disebutkan dalam artikel ini tersedia untuk diperdagangkan sebagai CFD di Agrodana Futures.
Copyright ยฉ 2026 Agrodana Futures
Disclaimer:
Artikel ini berupa pandangan Agrodana Research, Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan atau menjual market tertentu. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
Research & Analysis Agrodana Futures

TOP GAINERS
| 1. Cisco Systems, Inc. (CSCO) +22.68% |
| 2. Philip Morris International Inc. (PM) +8.6% |
| 3. Exxon Mobil Corporation (XOM) +7.53% |
| 4. Eli Lilly and Company (LLY) +5.94% |
| 5. NVIDIA Corporation (NVDA) +4.62% |
TOP LOSERS
| 1. Intel Corp (INTC) -16.38% |
| 2. QUALCOMM Incorporated (QCOM) -13.14% |
| 3. Advanced Micro Devices, Inc. (AMD) -8.88% |
| 4. The Boeing Company (BA) -7.67% |
| 5. Airbnb, Inc. (ABNB) -6.25% |
Wall Street menutup pekan ini dengan karakter yang terbagi cukup tajam. Pasar masih bergerak dalam bayangan kesepakatan tarif AS-China pekan sebelumnya, namun optimisme itu mulai diuji oleh sejumlah katalis baru yang datang bersamaan: kunjungan delegasi Trump ke Beijing bersama jajaran CEO kelas dunia membuka ekspektasi kesepakatan bisnis konkret, sementara data inflasi yang masih membandel memaksa pelaku pasar untuk kembali menghitung ulang kapan The Fed benar-benar akan memangkas, menahan, atau malah menaikkan suku bunga. Hasilnya bukan pasar yang seragam naik, melainkan pasar yang memilah dengan sangat selektif antara sektor yang punya katalis nyata dan yang tidak.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 12 Agustus 2026
Next Dividend Ex-Date: 6 Juli 2026
52-Week Range: $62.30 - $119.36
Weekly Range: $96.20 - $119.40
Previous Close Price: $118.25 (15 Mei 2026)
Cisco menjadi saham dengan kenaikan paling dramatis pekan ini. Pemicunya adalah laporan keuangan kuartal terbaru yang sangat kuat: pendapatan mencapai $15,84 miliar atau tumbuh 12% dibanding tahun lalu, dan yang lebih mengejutkan pasar adalah angka pesanan infrastruktur AI yang masuk senilai $1,9 miliar hanya dalam satu kuartal. Cisco juga menaikkan target pesanan AI untuk keseluruhan tahun ini menjadi $9 miliar. Investor membaca ini sebagai sinyal bahwa Cisco bukan sekadar perusahaan jaringan lama yang stagnan, melainkan pemain serius di era AI. Analis dari HSBC langsung merespons dengan menaikkan rekomendasi saham ini ke posisi Beli dengan target harga $137. Di sisi lain, manajemen juga mengumumkan akan memangkas sekitar 4.000 posisi sebagai bagian dari fokus ulang bisnis mereka ke teknologi chip dan optik berbasis AI.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 22 Juli 2026
Last Dividend Ex-Date: 19 Maret 2026 ($1.47)
52-Week Range: $142.11 - $192.95
Weekly Range: $174.35 - $193.13
Previous Close Price: $189.64 (15 Mei 2026)
Kabar baik dari regulator kesehatan Amerika (FDA) menjadi bahan bakar utama kenaikan saham Philip Morris pekan ini. FDA mengeluarkan panduan yang lebih bersahabat terhadap produk nikotin, dan ini langsung mengurangi ketidakpastian aturan yang selama ini membuat investor waswas. Selain itu, laporan keuangan kuartal pertama 2026 juga mendukung, dengan total pendapatan $10,15 miliar. Yang menarik untuk dicermati adalah fakta bahwa 43% dari pendapatan perusahaan kini sudah berasal dari produk bebas asap seperti IQOS, bukan lagi rokok konvensional. Ini menunjukkan bahwa Philip Morris sungguh-sungguh bertransformasi menjadi perusahaan yang berbeda dari yang dikenal publik selama ini, dan pasar mulai memberi penghargaan atas perubahan itu.

Last Earnings (Laporan Keuangan): 31 Juli 2026
Last Dividend Ex-Date: 15 Mei 2026 ($1.03)
52-Week Range: $101.19 - $176.41
Weekly Range: $146.14 - $158.01
Previous Close Price: $158.01 (15 Mei 2026)
Pekan yang baik untuk Exxon Mobil, didorong oleh tiga berita positif sekaligus. Pertama, pengadilan di Texas memutuskan bahwa Exxon tidak bersalah dalam sebuah gugatan hukum terkait iklim yang cukup besar. Ini penting karena kekhawatiran soal gugatan tersebut sempat membayangi kemampuan perusahaan untuk terus membagikan dividen kepada pemegang sahamnya. Kedua, harga minyak mentah dunia melonjak akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia, yang secara langsung menguntungkan perusahaan energi seperti Exxon. Ketiga, pernyataan Trump bahwa China sepakat membeli minyak dan energi dari Amerika ikut mendorong optimisme di sektor ini. Meskipun detailnya belum resmi dikonfirmasi oleh pihak China, sinyal bahwa permintaan minyak AS dari pembeli terbesar di dunia bisa kembali terbuka memberikan dorongan sentimen yang nyata bagi harga energi secara keseluruhan, dan Exxon sebagai salah satu produsen minyak terbesar Amerika adalah salah satu yang paling langsung merasakan dampak positifnya. Tiga angin segar dalam satu pekan adalah kombinasi yang sulit dilawan, dan investor pun merespons dengan memborong saham ini.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 5 Agustus 2026
Last Dividend Ex-Date: 15 Mei 2026 ($1.73)
52-Week Range: $623.78 - $1133.95
Weekly Range: $956.59 - $1022.65
Previous Close Price: $1004.70 (15 Mei 2026)
Eli Lilly kembali menunjukkan mengapa sahamnya tetap menjadi favorit di sektor kesehatan. Perusahaan asal Amerika ini melaporkan pendapatan kuartal pertama 2026 sebesar $19,8 miliar, naik 56% dibanding periode yang sama tahun lalu. Mesin pertumbuhannya adalah obat-obatan seri GLP-1 seperti Mounjaro, yang digunakan untuk diabetes dan obesitas, dan permintaannya dari pasar internasional terus melampaui perkiraan. Untuk memastikan pasokan tidak tertinggal dari permintaan, perusahaan berkomitmen menginvestasikan tambahan $4,5 miliar untuk membangun kapasitas produksi di Amerika. Target harga dari analis Cantor Fitzgerald di $1.230 dan Barclays di $1.400 menggambarkan betapa tingginya keyakinan institusi besar terhadap masa depan perusahaan ini.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 20 Mei 2026
Last Dividend Ex-Date: 11 Maret 2026 ($0.01)
52-Week Range: $129.16 - $236.54
Weekly Range: $214.87 - $236.48
Previous Close Price: $225.30 (15 Mei 2026)
NVIDIA mencatat kenaikan yang lebih moderat dibanding pekan-pekan sebelumnya, namun tetap solid di tengah tekanan terhadap sektor chip secara keseluruhan. Nilai total perusahaan ini di bursa kini berada di kisaran $5,7 triliun, sebuah angka yang melampaui perkiraan Produk Domestik Bruto seluruh negara Jerman. Landasan fundamentalnya tetap kuat, dengan pendapatan kuartal terakhir yang tumbuh 73% secara tahunan dan laba bersih yang naik 94%. Satu hal yang juga menarik perhatian analis adalah harga saham NVIDIA yang dinilai semakin masuk akal jika dibandingkan dengan pertumbuhannya, membuat saham ini tidak lagi dianggap terlalu mahal oleh sebagian investor. Analis Cantor Fitzgerald masih mempertahankan target harga $350 untuk saham ini.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 23 Juli 2026
Last Dividend Ex-Date: 7 Agustus 2024
52-Week Range: $18.97 - $132.75
Weekly Range: $106.78 - $130.49
Previous Close Price: $108.87 (15 Mei 2026)
Intel menjadi saham yang paling banyak ditinggalkan investor di antara para pembuat chip pekan ini, dan tekanan yang menerpa bukan sekadar sentimen sesaat. Kondisi bisnis perusahaan secara mendasar memang masih belum pulih: Intel masih merugi di tingkat operasional, artinya pengeluaran untuk menjalankan bisnis masih lebih besar dari pendapatannya. Di saat yang sama, investor terus membandingkan Intel dengan Nvidia yang tumbuh jauh lebih kencang, dan perbandingan itu tidak menguntungkan Intel sama sekali. Para analis pun belum satu suara soal kemana harga saham ini akan pergi, dengan kisaran target yang sangat lebar antara $25 hingga $80, mencerminkan betapa besarnya ketidakpastian yang masih menyelimuti masa depan perusahaan ini.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 29 Juli 2026
Next Dividend Ex-Date: 4 Juni 2026
52-Week Range: $121.99 - $247.90
Weekly Range: $199.27 - $246.60
Previous Close Price: $201.52 (15 Mei 2026)
Qualcomm mengalami koreksi tajam pekan ini setelah sebelumnya sempat melonjak lebih dari 15% pasca laporan keuangan. Koreksi setelah kenaikan besar seperti ini sebetulnya lumrah terjadi, karena banyak investor yang memilih untuk mengunci keuntungan mereka terlebih dahulu. Namun ada tambahan tekanan yang memperburuk situasi: regulator Amerika (FTC) dikabarkan sedang menyelidiki Arm Holdings, sebuah perusahaan yang patennya digunakan oleh Qualcomm. Jika penyelidikan ini berujung pada perubahan aturan lisensi, Qualcomm bisa terdampak langsung. Investor memilih bersabar dan menunggu kejelasan, terutama menjelang acara besar Investor Day Qualcomm yang dijadwalkan 24 Juni 2026.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 4 Agustus 2026
Last Dividend Ex-Date: 27 April 1995
52-Week Range: $107.67 - $469.22
Weekly Range: $423.44 - $469.24
Previous Close Price: $424.14 (15 Mei 2026)
Penurunan AMD pekan ini agak ironis, karena secara kinerja bisnis perusahaan ini sebenarnya sedang dalam kondisi yang cukup baik. Pendapatan dari segmen server dan pusat data mereka tumbuh 57% dibanding tahun lalu. Masalahnya, pasar sedang dalam mode hati-hati terhadap saham-saham yang berkaitan dengan AI setelah kenaikan panjang, dan AMD ikut terseret arus jual yang melanda sektor chip secara keseluruhan. Ini lebih merupakan cerita tentang sentimen pasar yang sedang mereda, bukan tentang bisnis AMD yang bermasalah. Bagi investor jangka panjang, koreksi seperti ini justru bisa dilihat sebagai kesempatan untuk mencermati kembali saham ini.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 28 Juli 2026
Last Dividend Ex-Date: 13 Februari 2020
52-Week Range: $176.77 - $254.35
Weekly Range: $220.34 - $242.38
Previous Close Price: $220.61 (15 Mei 2026)
Boeing mengalami pekan yang mengecewakan justru di tengah momen yang semestinya jadi angin segar. Ketika delegasi Trump mengunjungi Beijing, pasar sudah berharap besar bahwa China akan memesan setidaknya 500 pesawat dari Boeing sebagai bagian dari negosiasi dagang. Kenyataannya, yang diumumkan hanyalah komitmen 200 unit, jauh dari harapan. Bagi pasar, selisih antara harapan dan kenyataan itu terlalu besar untuk diabaikan, dan harga saham Boeing pun langsung turun tajam. Analis dari Jefferies dan Freedom Broker masih optimis dengan memasang target harga di kisaran $290-295 dan memberikan rekomendasi Beli, namun pergerakan saham Boeing dalam waktu dekat kemungkinan akan sangat bergantung pada apakah negosiasi dengan China bisa menghasilkan angka pesanan yang lebih besar.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 5 Agustus 2026
Next Dividend Ex-Date: N/A (Airbnb tidak membagikan dividen)
52-Week Range: $110.81 - $147.25
Weekly Range: $130.55 - $146.25
Previous Close Price: $132.88 (15 Mei 2026)
Airbnb sebenarnya membawa hasil yang cukup solid: pendapatan kuartal pertama 2026 tumbuh 18% dibanding tahun lalu menjadi $2,7 miliar. Namun ada satu angka yang membuat investor kecewa, yaitu laba per saham yang hanya $0,26 sementara pasar sudah memperkirakan $0,29. Selisihnya memang kecil, tapi di pasar saham, meleset dari ekspektasi seringkali dihukum tidak proporsional. Situasi itu diperparah oleh kabar bahwa salah satu pendiri perusahaan, Nathan Blecharczyk, menjual sahamnya senilai lebih dari $8,85 juta dalam sepekan terakhir. Ketika orang dalam perusahaan sendiri terlihat melepas saham dalam jumlah besar, investor ritel biasanya ikut waswas, terlepas dari alasan sebenarnya di balik penjualan tersebut.
Pekan 12-15 Mei 2026 sekali lagi membuktikan bahwa di pasar saham, ekspektasi adalah segalanya. Cisco meledak karena hasilnya jauh melampaui dugaan pasar. Boeing jatuh karena hasilnya jauh di bawah harapan. Sementara saham-saham chip seperti Intel dan AMD dihukum bukan semata karena bisnisnya buruk, melainkan karena pasar sedang dalam fase berhati-hati setelah periode kenaikan yang panjang. Pekan depan, arah pasar akan sangat ditentukan oleh perkembangan negosiasi dagang AS-China dan data ekonomi Amerika terbaru. Dua hal yang patut dicermati betul oleh siapapun yang aktif di pasar.
Semua saham yang disebutkan dalam artikel ini tersedia untuk diperdagangkan sebagai CFD di Agrodana Futures.
Copyright ยฉ 2026 Agrodana Futures
Disclaimer:
Artikel ini berupa pandangan Agrodana Research, Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan atau menjual market tertentu. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
Research & Analysis Agrodana Futures

TOP GAINERS
| 1. Advanced Micro Devices, Inc. (AMD) +27.82% |
| 2. Intel Corp (INTC) +27.20% |
| 3. QUALCOMM Incorporated (QCOM) +11.32% |
| 4. Oracle Corporation (ORCL) +10.40% |
| 5. Tesla, Inc. (TSLA) +10.25% |
TOP LOSERS
| 1. Wells Fargo & Company (WFC) -5.95% |
| 2. Comcast Corporation (CMCSA) -5.78% |
| 3. Abbott Laboratories (ABT) -5.76% |
| 4. Exxon Mobil Corporation (XOM) -5.56% |
| 5. Netflix, Inc. (NFLX) -4.79% |
Kebangkitan Semikonduktor dan Rotasi Besar Wall Street
Pekan ini, Wall Street menutup perdagangan dengan sebuah narasi yang akan lama dikenang oleh para pelaku pasar: rotasi modal berskala masif yang memindahkan miliaran dolar dari sektor-sektor yang dianggap "usang" menuju infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang tengah mendidih. Indeks S&P 500 mencatat kenaikan moderat 0,83%, tetapi angka itu sama sekali tidak menggambarkan drama sesungguhnya yang terjadi di balik pergerakan pasar. Sebab, di bawah permukaan ketenangan indeks tersebut, terjadi perpindahan dana yang luar biasa: sektor semikonduktor melonjak 3,44% dalam sehari, sementara saham-saham energi dan keuangan tradisional tertinggal jauh di belakang.
Katalis utama yang menyulut seluruh pergerakan ini bukan satu, melainkan rentetan berita besar yang datang bertubi-tubi. Laporan keuangan AMD yang memukau, kabar perjanjian manufaktur chip antara Apple dan Intel, hingga upgrade target harga Qualcomm oleh Argus, semuanya meledak hampir bersamaan dan menciptakan efek domino yang menyapu seluruh sektor teknologi. Ditambah dengan meredanya sebagian ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China yang turut memompa selera risiko (risk-on) investor secara global, kondisi tersebut menjadi resep sempurna bagi chip stocks untuk terbang tinggi. Di sisi berlawanan, saham-saham perbankan seperti Wells Fargo, raksasa media seperti Comcast, dan emiten energi seperti Exxon Mobil harus rela menjadi korban dari arus keluar dana yang dialihkan ke sektor yang lebih seksi. Pekan ini bukan sekadar soal saham naik atau turun. Ini adalah pernyataan tegas dari pasar tentang ke mana arah modal dunia akan mengalir dalam beberapa tahun ke depan.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 4 Agustus 2026
Last Dividend Ex-Date: 27 April 1995
52-Week Range: $106.98 - $456.29
Weekly Range: $338.75 - $456.28
Previous Close Price: $455.17 (8 Mei 2026)
Saham AMD meledak ke posisi puncak daftar pemenang pekan ini setelah perusahaan merilis laporan keuangan kuartal pertama (Q1 2026) yang jauh melampaui ekspektasi Wall Street, dipimpin oleh lonjakan signifikan pada penjualan chip server CPU dan GPU khusus kecerdasan buatan (AI). Yang benar-benar membakar optimisme investor adalah pernyataan langsung dari CEO Lisa Su, yang memproyeksikan pertumbuhan bisnis server CPU sebesar 70% secara tahunan di kuartal kedua, sekaligus merevisi naik proyeksi pertumbuhan jangka panjang perusahaan dari 18% menjadi 35% per tahun. Momentum ini semakin kencang karena diperkuat oleh reli besar-besaran di seluruh sektor semikonduktor, membuat AMD tampil sebagai salah satu saham dengan kenaikan paling agresif di Wall Street sepanjang minggu ini.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 23 Juli 2026
Last Dividend Ex-Date: 7 Agustus 2024
52-Week Range: $18.97 - $130.63
Weekly Range: $95.60 - $130.63
Previous Close Price: $124.84 (8 Mei 2026)
Intel (INTC) menjadi bintang kejutan minggu ini setelah Wall Street Journal melaporkan bahwa Apple dan Intel telah mencapai kesepakatan awal di mana Intel akan memproduksi sejumlah chip untuk perangkat Apple. Berita ini adalah suntikan kepercayaan diri yang masif bagi investor karena membuktikan bahwa strategi Intel untuk bangkit kembali sebagai perusahaan manufaktur chip kelas dunia mulai menunjukkan hasil nyata. Intel bahkan mencetak rekor intraday empat hari berturut-turut dalam sepekan ini, melanjutkan lonjakan yang sudah dimulai sejak bulan April lalu di mana sahamnya naik hingga 100% dalam sebulan, sebuah pencapaian terbaik dalam sejarah perusahaan.

Last Earnings (Laporan Keuangan): 29 April 2026
Next Dividend Ex-Date: 4 Juni 2026
52-Week Range: $21.99 - $228.06
Weekly Range: $164.71 - $228.06
Previous Close Price: $219.08 (8 Mei 2026)
Qualcomm (QCOM) melesat signifikan pekan ini didorong oleh dua katalis sekaligus: hasil laporan keuangan fiskal kuartal kedua (Q2 FY2026) yang melampaui target meskipun pendapatan dari segmen ponsel turun 13%, serta keputusan lembaga riset Argus yang secara resmi menaikkan target harga saham Qualcomm dari $180 menjadi $225. Argus secara khusus menyoroti pertumbuhan pesat Qualcomm di luar bisnis ponselnya, terutama dari segmen otomotif yang kini telah melampaui $5 miliar pendapatan tahunan dan rencana ekspansi agresif ke pasar chip AI untuk pusat data. Langkah strategis Qualcomm yang berhasil mendiversifikasi bisnisnya inilah yang membuat pasar bereaksi sangat positif.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 10 Juni 2026
Last Dividend Ex-Date: 9 April 2026 ($0.50)
52-Week Range: $134.57 - $345.72
Weekly Range: $177.44 - $200.19
Previous Close Price: $195.89 (8 Mei 2026)
Oracle (ORCL) ikut terseret dalam gelombang besar reli sektor teknologi minggu ini yang dipicu oleh euforia kecerdasan buatan, dengan sahamnya mencatat kenaikan sekitar 14% dalam sepekan. Investor semakin yakin dengan posisi Oracle sebagai salah satu pemain infrastruktur AI dan cloud yang serius, didukung oleh deretan analis dengan target harga ambisius, mulai dari $229 (Cantor Fitzgerald) hingga $400 (Guggenheim). Meskipun perusahaan sempat dibayangi sentimen negatif akibat kabar pemutusan hubungan kerja massal sebanyak 20.000 hingga 30.000 karyawan, pasar memilih untuk fokus pada narasi besar pertumbuhan AI dan pusat data Oracle yang dinilai jauh lebih kuat.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 22 Juli 2026
Next Dividend Ex-Date: N/A (Tesla tidak membagikan dividen)
52-Week Range: $273.21 - $498.83
Weekly Range: $384.71 - $431.04
Previous Close Price: $428.04 (8 Mei 2026)
Tesla (TSLA) memimpin kenaikan di sektor kendaraan listrik pekan ini setelah mengumumkan perolehan pesanan komersial terbesar dalam sejarah bisnis truk listriknya, yakni kontrak senilai $100 juta untuk pengiriman 370 unit Tesla Semi dari perusahaan logistik WattEV. Pesanan berskala raksasa ini menjadi bukti nyata bahwa pasar truk listrik komersial mulai bergerak serius, dan Tesla berada di posisi terdepan untuk memenangkan segmen tersebut. Di tengah berbagai tekanan yang menghimpit Tesla belakangan ini, termasuk berbagai tantangan hukum yang melibatkan Elon Musk, berita kontrak besar ini menjadi angin segar yang langsung disambut antusias oleh para pelaku pasar.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 14 Juli 2026
Last Dividend Ex-Date: 8 Mei 2026
52-Week Range: $71.90 - $97.76
Weekly Range: $75.55 - $81.53
Previous Close Price: $75.65 (8 Mei 2026)
Wells Fargo (WFC) menjadi saham yang paling tertekan di antara kelompok perbankan pekan ini, dengan harga yang kini telah anjlok sekitar 15% sejak awal tahun 2026. Kekhawatiran utama investor berpusat pada pertanyaan apakah bank ini mampu mempertahankan pembayaran dividennya di tengah kondisi pasar yang penuh ketidakpastian dan lingkungan suku bunga yang masih tinggi, meskipun secara teknis rasio pembayaran dividen mereka masih tergolong konservatif di angka 27%. Kondisi ini diperparah oleh kinerja sektor keuangan secara keseluruhan yang tertinggal dari pasar lebih luas, membuat investor memilih untuk mengurangi eksposur mereka terhadap saham-saham perbankan tradisional.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 30 Juli 2026
Last Dividend Ex-Date: 1 April 2026 ($0.33)
52-Week Range: $24.13 - $34.36
Weekly Range: $25.36 - $27.23
Previous Close Price: $25.43 (8 Mei 2026)
Comcast (CMCSA) terus mendapat tekanan jual pekan ini seiring meningkatnya kekhawatiran investor atas ketatnya persaingan di bisnis inti broadband mereka, terutama dari T-Mobile yang semakin agresif merebut pelanggan internet rumahan. Kondisi ini semakin diperburuk oleh proyeksi laba per saham (EPS) untuk kuartal berjalan yang diperkirakan turun 20,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sebuah sinyal jelas bahwa pertumbuhan bisnis Comcast sedang mengalami perlambatan yang cukup serius. Meski banyak analis menilai valuasi Comcast saat ini sudah sangat murah, pasar tampaknya belum melihat katalis nyata yang cukup kuat untuk membalik arah penurunan saham ini dalam waktu dekat.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 16 Juli 2026
Last Dividend Ex-Date: 15 April 2026 ($0.63)
52-Week Range: $283.47 - $341.75
Weekly Range: $84.08 - $139.06
Previous Close Price: $84.26 (8 Mei 2026)
Abbott Laboratories (ABT) mengalami tekanan jual yang cukup berat pekan ini karena sahamnya sudah diperdagangkan di sekitar level terendah dalam 52 minggu terakhir, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap penurunan margin operasional perusahaan yang signifikan dari 16,3% menjadi hanya 12% pada kuartal pertama 2026. Meskipun pendapatan Abbott secara keseluruhan masih tumbuh 7,8% secara tahunan menjadi $11,16 miliar, penyempitan margin ini menjadi sinyal bahwa biaya operasional sedang membebani profitabilitas perusahaan, terutama di segmen nutrisi dan perangkat diabetes mereka. Uniknya, di tengah tekanan harga ini, pihak internal perusahaan (insider) justru tercatat melakukan pembelian saham, yang oleh sebagian analis dimaknai sebagai keyakinan bahwa penurunan ini bersifat sementara.

Last Earnings (Laporan Keuangan): 1 Mei 2026
Last Dividend Ex-Date: 12 Februari 2026 ($1.03 per kuartal)
52-Week Range: $101.19 - $176.41
Weekly Range: $143.93 - $155.38
Previous Close Price: $144.45 (8 Mei 2026)
Exxon Mobil (XOM) tergerus bersama hampir seluruh saham energi pekan ini seiring melemahnya harga minyak mentah global yang menjadi "bahan bakar" utama keuntungan perusahaan-perusahaan di sektor ini. Investor juga mencatat adanya gangguan operasional akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menciptakan ketidakpastian terhadap keberlangsungan jalur suplai Exxon. Meskipun lembaga riset Argus baru saja menaikkan target harga XOM menjadi $169 dengan alasan prospek produksi yang lebih kuat dari aset-aset di Permian Basin dan Guyana, penurunan harga minyak yang berlangsung bersamaan dengan reli pasar yang dipimpin sektor teknologi membuat investor beramai-ramai mengalihkan dananya keluar dari saham-saham energi.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 16 Juli 2026
Next Dividend Ex-Date: N/A (Netflix tidak membagikan dividen)
52-Week Range: $75.01 - $134.12
Weekly Range: $86.61 - $92.26
Previous Close Price: $87.42 (8 Mei 2026)
Netflix (NFLX) mengakhiri pekan di zona merah setelah perusahaan merilis panduan bisnis untuk kuartal kedua (Q2 2026) yang dinilai terlalu berhati-hati oleh pasar, memicu kekhawatiran tentang kemampuan Netflix mempertahankan laju pertumbuhannya di tengah meningkatnya biaya produksi konten dan persaingan yang semakin ketat. Kondisi ini semakin diperburuk setelah lembaga riset Erste Group secara resmi menurunkan peringkat saham Netflix dari "Buy" menjadi "Hold" dengan alasan valuasi yang sudah terlampau tinggi dibandingkan prospek pertumbuhannya ke depan. Meskipun Netflix berhasil mencatat pendapatan Q1 sebesar $12,25 miliar atau tumbuh 16,2% secara tahunan dan mengumumkan program pembelian kembali saham senilai $25 miliar, pasar tampaknya memilih untuk terlebih dahulu melihat bukti nyata dari eksekusi strategi monetisasi baru mereka sebelum kembali mengakumulasi saham ini.
Pekan ini membuktikan bahwa rotasi sektoral bisa bergerak sangat cepat dan sangat brutal. Mereka yang sudah lebih dulu memposisikan diri di saham-saham semikonduktor menikmati keuntungan puluhan persen hanya dalam hitungan hari, sementara yang terlambat membaca arah pergerakan modal terpaksa hanya bisa menyaksikan dari pinggir lapangan. Namun kenaikan sebesar 27% dalam sepekan juga membawa peringatan tersendiri, karena euforia yang datang terlalu cepat seringkali diikuti oleh koreksi yang sama cepatnya.
Memasuki pekan depan, ada beberapa hal yang wajib masuk radar pemantauan trader CFD: perkembangan negosiasi dagang AS-China (14-15 Mei) yang masih sangat dinamis, jadwal rilis laporan keuangan emiten-emiten besar berikutnya, serta data ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi menggerakkan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed (CPI, PPI | 12-13 Mei). Peluang selalu ada, baik ketika pasar sedang naik maupun turun. Yang membedakan trader sukses dari yang lainnya bukan hanya kemampuan menangkap momentum, tetapi juga kedisiplinan untuk tidak terbawa arus di saat pasar sedang bergerak paling liar.
Semua saham yang disebutkan dalam artikel ini tersedia untuk diperdagangkan sebagai CFD di Agrodana Futures.
Copyright ยฉ 2026 Agrodana Futures
Disclaimer:
Artikel ini berupa pandangan Agrodana Research, Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan atau menjual market tertentu. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
Research & Analysis Agrodana Futures

TOP GAINERS
| 1. Intel Corp. (INTC) +17.25% |
| 2. QUALCOMM Incorporated (QCOM) +11.32% |
| 3. Alphabet Inc. (GOOG) +12.47% |
| 4. Eli Lilly and Company (LLY) +9.27% |
| 5. Starbucks Corporation (SBUX) +7.25% |
TOP LOSERS
| 1. Meta Platforms, Inc. (META) -9.81% |
| 2. NVIDIA Corporation (NVDA) -5.83% |
| 3. McDonald's Corporation (MCD) -3.75% |
| 4. The Home Depot, Inc. (HD) -3.72% |
| 5. Pfizer Inc. (PFE) -2.36% |
Satu pekan kemarin (27 April - 1 Mei) Wall Street seolah mengadakan dua pesta di gedung yang sama, tapi di ruangan yang berbeda. Di satu ruangan, euforia Big Tech earnings meledak: Intel masih menikmati ekor panjang dari kejutan Q1 minggu sebelumnya, Alphabet membuktikan bahwa AI Cloud bukan sekadar narasi dengan membukukan revenue Google Cloud sebesar $20 miliar untuk pertama kalinya, dan Qualcomm diam-diam merilis angka yang mengingatkan pasar mengapa chip itu tetap krusial di luar data center. Eli Lilly dan Starbucks masing-masing menghadirkan kejutan yang tidak kecil, menambah keramaian di sisi hijau.
Di ruangan seberang, Meta membukukan pertumbuhan revenue tercepat sejak 2021, tapi pasar memilih memberikan punishment rencana belanja capex yang melonjak hingga $145 miliar.Nvidia terseret isu persaingan dari chip in-house Amazon dan Google. McDonald's, Home Depot, dan Pfizer tidak punya berita buruk. Tapi tidak punya berita buruk pun sudah cukup menjadi alasan untuk ditinggalkan, ketika semua uang sedang berlari ke arah yang sama: earnings yang sudah terbukti, AI yang sudah menghasilkan, dan angka yang sudah bicara.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 23 Juli 2026
Last Dividend Ex-Date: 7 Agustus 2024
52-Week Range: $18.97 - $100.45
Weekly Range: $80.95 - $100.49
Previous Close Price: $99.71 (1 Mei 2026)
Minggu ini Intel bukan lagi underdog, melainkan momentum trade yang belum selesai. Setelah membukukan EPS Q1 sebesar $0,29 versus estimasi $0,0 yang menjadi kejutan terbesar dalam sejarah modern Intel, aliran beli masih terus masuk selama sepekan penuh. Tigress Financial menaikkan target harga menjadi $118 pada 30 April, sementara Freedom Broker mengupgrade saham ini ke Buy dengan target $100 pada 28 April, menambah deretan panjang analis yang mulai merevisi ulang pandangan mereka terhadap perusahaan yang setahun lalu dianggap sekarat.
Intel juga mengumumkan penerbitan obligasi senilai $6,5 miliar untuk membiayai rencana pembelian kembali kepemilikan penuh fasilitas fabrikasi Fab 34 di Irlandia senilai $14,2 miliar. Sinyal bahwa manajemen serius membangun infrastruktur jangka panjang, bukan sekadar mengejar sentimen pasar sesaat. Secara kumulatif dalam sebulan terakhir, saham Intel sudah naik lebih dari 125%, dan pasar kini mulai mengajukan pertanyaan yang berbeda: bukan lagi "apakah Intel bisa bertahan", tapi "seberapa jauh Intel masih bisa naik".

Last Earnings (Laporan Keuangan): 29 April 2026
Next Dividend Ex-Date: 4 Juni 2026
52-Week Range: $121.99 - $205.95
Weekly Range: $145.21 - $186.93
Previous Close Price: $177.09 (1 Mei 2026)
Qualcomm melaporkan pendapatan Q2 senilai $10,6 miliar dengan non-GAAP (Generally Accepted Accounting Principles)ย EPS $2,6, tepat di batas atas panduan manajemen sendiri dan pasar menyambut dengan kenaikan dua digit yang mencerminkan ekspektasi yang sudah lama tertahan. Segmen Automotive mencetak rekor baru dengan pendapatan tahunan melampaui $5 miliar untuk pertama kalinya, dan manajemen memproyeksikan run rate di atas $6 miliar pada akhir tahun ini, didorong oleh platform Snapdragon Digital Chassis generasi keempat yang merambah sistem infotainment, konektivitas, dan ADAS sekaligus.
Di sisi modal, Qualcomm menyelesaikan $5,4 miliar buyback di paruh pertama fiskal 2026 dan mengumumkan otorisasi baru senilai $20 miliar, angka yang sulit diabaikan oleh investor yang mencari kombinasi valuasi murah dan komitmen pengembalian modal. Satu-satunya catatan yang sedikit mengganjal adalah guidance Q3 yang lebih konservatif, dengan proyeksi revenue $9,2 - $10,0 miliar akibat tekanan pasokan memori yang masih berlanjut. Namun pasar memilih berpegang pada rekam jejak Qualcomm dalam melampaui guidancenya sendiri dan itu terasa seperti panduan yang lebih jujur.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 23 Juli 2026
Next Dividend Ex-Date: 8 Juni 2026
52-Week Range: $149.49 - $383.39
Weekly Range: $340.78 - $383.39
Previous Close Price: $383.39 (1 Mei 2026)
Alphabet melaporkan Q1 2026 dengan total pendapatan $109,9 miliar, naik 22% YoY dan menandai kuartal pertumbuhan double-digit ke-11 berturut-turut, sementara laba per saham melonjak 82% menjadi $5,11. Tapi angka yang paling membuat pasar bersemangat bukan berasal dari Search.
Google Cloud membukukan pendapatan $20,03 miliar, melonjak 63% YoY, dengan backlog yang hampir menggandakan diri menjadi $460 miliar dari kuartal ke kuartal. Ini bukan pertumbuhan biasa, ini adalah konfirmasi bahwa Alphabet tidak sekadar bertahan di era AI, melainkan sedang memimpin bagian yang paling berharga darinya. Waymo bahkan melampaui 500.000 perjalanan otonom penuh per minggu, menambah dimensi lain pada cerita perusahaan yang selama ini sering dianggap terlalu terdiversifikasi.
Dewan Direktur menaikkan dividen kuartalan 5% menjadi $0,22 per saham, gestur kecil yang menyiratkan keyakinan besar bahwa arus kas yang deras ini bukan siklus, melainkan tren.

Last Earnings (Laporan Keuangan): 30 April 2026
Last Dividend Ex-Date: 13 Februari 2026 ($1.73)
52-Week Range: $623.78 - $1133.95
Weekly Range: $850.45 - $984.50
Previous Close Price: $963.76 (1 Mei 2026)
Eli Lilly melaporkan Q1 2026 dengan pendapatan $19,8 miliar, naik 56% YoY, jauh di atas estimasi analis sebesar $17,62 miliar, sementara EPS adjusted $8,55 menggilas konsensus $6,66 dengan selisih yang tidak bisa diabaikan. Mounjaro membukukan pendapatan global $8,66 miliar dengan pertumbuhan 125%, melampaui ekspektasi Wall Street sebesar $7,26 miliar. Zepbound tumbuh 79% menjadi $4,1 miliar.
Di tengah laporan yang sudah luar biasa itu, Lilly menambahkan satu katalis ekstra: persetujuan FDA untuk Foundayo, pil GLP-1 oral pertama di dunia yang bisa dikonsumsi kapan saja tanpa batasan makanan dan minuman, membuka segmen pengguna yang selama ini enggan menggunakan suntikan. Manajemen menaikkan panduan pendapatan FY2026 menjadi $82 - $85 miliar (naik dari $80 - $83 miliar), dengan proyeksi EPS adjusted $35,50 - $37,00.
Bagi investor yang meragukan daya tahan Lilly setelah tekanan harga GLP-1 di pasar AS, laporan ini memberikan jawaban yang tegas: volume mengalahkan harga, dan Lilly masih jauh dari titik jenuh.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 28 Juli 2026
Next Dividend Ex-Date: 15 Mei 2026
52-Week Range: $77.99 - $107.52
Weekly Range: $96.45 - $107.64
Previous Close Price: $106.00 (1 Mei 2026)
CEO Brian Niccol menyebut Q2 ini sebagai tonggak penting, momen pertama dalam lebih dari dua tahun Starbucks membukukan pertumbuhan di sisi atas dan bawah laporan keuangan secara bersamaan. Revenue konsolidasi Q2 mencapai $9,5 miliar, naik 9% YoY, dengan global comparable sales tumbuh 6,2%, sementara EPS $0,50 naik 22% YoY.
Yang lebih meyakinkan: seluruh 10 pasar internasional teratas, termasuk China, mencatatkan comparable sales positif untuk pertama kalinya dalam sembilan kuartal, sinyal bahwa turnaround Niccol bukan sekadar kisah Amerika. Manajemen menaikkan panduan pertumbuhan same-store sales global menjadi minimal 5% untuk FY2026 (naik dari proyeksi sebelumnya 3%), dan merevisi EPS guidance ke $2,25 - $2,45.
Starbucks memang masih menanggung utang besar dan margin yang tipis dibandingkan valuasinya. Tapi ketika seorang CEO yang baru bergabung belum genap dua tahun sudah berhasil membalikkan tren secara menyeluruh, pasar cenderung memberi hadiah lebih dulu dan bertanya belakangan.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 22 Juli 2026
Next Dividend Ex-Date: 8 Mei 2026
52-Week Range: $520.26 - $796.25
Weekly Range: $600.00 - $682.52
Previous Close Price: $608.81 (1 Mei 2026)
Meta melaporkan Q1 2026 dengan revenue $56,31 miliar, naik 33% YoY, menjadi pertumbuhan kuartalan tercepat sejak 2021 dengan EPS adjusted $7,31 mengalahkan konsensus $6,79. Di atas kertas, laporan ini hampir sempurna.
Yang membuat pasar bereaksi sebaliknya bukan angkanya, melainkan rencana yang datang bersama angka itu. Meta merevisi panduan capex 2026 menjadi $125 - $145 miliar, naik dari proyeksi sebelumnya $115 - $135 miliar, dengan alasan kenaikan harga komponen dan biaya data center tambahan untuk mendukung kapasitas masa depan. Satu detail kecil yang memperburuk sentimen: Daily Active People hanya mencapai 3,56 miliar, di bawah proyeksi 3,62 miliar, sebagian karena gangguan internet di Iran dan pembatasan WhatsApp di Rusia.
Bagi investor yang sudah was-was dengan banjir belanja infrastruktur AI tanpa garis waktu monetisasi yang jelas, laporan ini terasa seperti konfirmasi atas kekhawatiran mereka, bukan bantahan.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 23 Juli 2026
Last Dividend Ex-Date: 27 Februari 2026 ($1.19)
52-Week Range: $10.82 - $216.83
Weekly Range: $197.07 - $216.76
Previous Close Price: $198.47 (1 Mei 2026)
Pekan ini NVDA tersandung bukan karena bisnis intinya goyah, tapi karena ekosistem di sekelilingnya mulai bergerak. Amazon dalam earnings call-nya menyebutkan bahwa bisnis chip in-house mereka tumbuh pesat, sementara Alphabet mengumumkan rencana untuk menjual Tensor Processing Unit (TPU) miliknya kepada pelanggan tertentu yang akan memasang chip tersebut di data center mereka sendiri. Kedua berita itu muncul hampir bersamaan, dan pasar menafsirkannya sebagai pertanda bahwa hyperscaler terbesar sedang merintis jalur alternatif dari Nvidia.
Selain itu, pengetatan pengawasan terhadap penyelundupan chip di China telah mendorong harga server B300 Nvidia mendekati $1 juta per unit, mengurangi keterjangkauan dan berpotensi mendorong pelanggan China untuk mencari alternatif lokal.
Yang ironis: semua hyperscaler yang disebut sebagai "ancaman" itu masih merupakan pelanggan terbesar Nvidia, dan konsensus analis masih memasang rating Strong Buy dengan target rata-rata $266. Tapi pasar sedang menimbang skenario, bukan kepastian, dan ketidakpastian itu cukup mahal untuk dibeli pekan ini.

Last Earnings (Laporan Keuangan): 23 April 2026
Last Dividend Ex-Date: 1 April 2026 ($0.33)
52-Week Range: $283.47 - $341.75
Weekly Range: $286.39 - $298.37
Previous Close Price: $286.85 (1 Mei 2026)
McDonald's tidak punya berita buruk pekan ini, dan justru itulah bagian dari masalahnya. Earnings Q1 baru dijadwalkan pada 7 Mei 2026, dengan proyeksi EPS $2,75 dan pendapatan $6,48 miliar, sehingga tidak ada katalis segar yang bisa menggerakkan saham ini ke atas.
Di tengah minggu di mana hampir semua perhatian dan uang bergerak ke arah Big Tech earnings, saham konsumer seperti McDonald's menjadi target pengurangan posisi untuk dirotasikan ke arah yang lebih panas. Tidak ada yang salah secara fundamental dengan McDonald's, valuasinya masih wajar dan model franchise-nya masih salah satu yang paling defensif di pasar. Tapi dalam minggu yang dipenuhi earnings beat dari teknologi, menjadi saham tanpa katalis adalah alasan yang cukup untuk masuk ke daftar losers.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 19 Mei 2026
Last Dividend Ex-Date: 12 Maret 2026 ($2.33)
52-Week Range: $315.31 - 426.75
Weekly Range: $318.95 - $337.29
Previous Close Price: $323.32 (1 Mei 2026)
Mitra merek Home Depot, Wren Kitchens, mengajukan kebangkrutan Chapter 7 pada 29 April 2026, dan berita itu langsung menekan saham yang memang sudah dalam tekanan struktural lebih lama dari itu. Investor masih mencerna data fiskal 2025 yang menunjukkan pertumbuhan comparable sales hanya 0,3%, sementara manajemen sendiri mengakui bahwa permintaan untuk proyek besar tertahan oleh ketidakpastian konsumen dan tekanan di sektor perumahan.
Earnings Q1 2026 baru akan dirilis 19 Mei, dengan proyeksi EPS $3,42 yang justru mencerminkan penurunan 3,93% YoY. Strategi Home Depot kini bertumpu pada dominasi rantai pasok dan segmen Pro, dengan akuisisi SIMPL Automation di 2026 yang ditujukan untuk mempercepat fulfillment melalui teknologi AI di gudang. Itu adalah taruhan jangka panjang yang masuk akal, tapi pasar sedang tidak sabar pekan ini.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 5 Mei 2026
Next Dividend Ex-Date: 8 Mei 2026
52-Week Range: $21.97 - $28.75
Weekly Range: $26.21 - $27.41
Previous Close Price: $26.37 (1 Mei 2026)
Saham Pfizer ditutup di $26,48 pada akhir pekan, turun sekitar 3% dalam tujuh hari terakhir. Untuk memahami mengapa, cukup lihat apa yang terjadi persis di sebelah lain sektor kesehatan: Eli Lilly baru saja membukukan earnings beat terbesar tahun ini. Kontras itu melukai Pfizer lebih dari angka mana pun.
Earnings Q1 Pfizer dijadwalkan pada 5 Mei 2026, dengan konsensus memproyeksikan EPS $0,74, mencerminkan penurunan 19,57% YoY. Angka yang tidak memberi banyak ruang untuk optimisme. Di latar belakang masih ada bayangan patent cliff: sejumlah produk utama akan kehilangan perlindungan paten dalam beberapa tahun ke depan, sementara pendapatan dari produk COVID terus menyusut.
Akuisisi Metsera senilai $10 miliar untuk masuk kembali ke segmen obesitas adalah langkah yang berani. Tapi di pekan di mana Lilly sudah memiliki dua obat GLP-1 yang masing-masing mencetak miliaran dolar, baru memasuki arena itu terasa seperti terlambat satu ronde.
Jika ada satu tema yang menghubungkan semua pergerakan pekan ini, temanya adalah verifikasi. Setelah minggu sebelumnya diwarnai kejutan Intel yang bersifat single-event, pekan ini pasar membutuhkan konfirmasi yang lebih luas dan Big Tech memberikannya.
Alphabet membuktikan bahwa AI Cloud sudah menghasilkan, bukan sekadar narasi. Eli Lilly membuktikan bahwa GLP-1 masih jauh dari jenuh. Starbucks membuktikan bahwa turnaround yang baik memang membutuhkan waktu, tapi hasilnya bisa tiba sekaligus. Qualcomm dan Intel membuktikan bahwa era agentic AI tidak hanya tentang GPU, tapi tentang seluruh ekosistem komputasi.
Di sisi sebaliknya, Meta membuktikan bahwa earnings beat tidak cukup jika belanja masa depan dianggap terlalu berani. Nvidia, McDonald's, Home Depot, dan Pfizer membuktikan bahwa dalam pasar yang berselera tinggi seperti ini, tidak punya katalis baru sama buruknya dengan punya berita buruk.
Pekan depan, pasar akan mulai mencerna hasil yang sudah masuk sambil menunggu rilis berikutnya, termasuk laporan Pfizer dan McDonald's, dua nama yang masih belum membuktikan apa-apa.
Copyright ยฉ 2026 Agrodana Futures
Disclaimer:
Artikel ini berupa pandangan Agrodana Research, Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan atau menjual market tertentu. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
Research & Analysis Agrodana Futures

TOP GAINERS
| 1. Advanced Micro Devices, Inc. (AMD) +21.99% |
| 2. Intel Corp. (INTC) +21.7% |
| 3. QUALCOMM Incorporated (QCOM) +9.21% |
| 4. Amazon.com Inc. (AMZN) +6.02% |
| 5. Caterpillar Inc. (CAT) +5.43% |
TOP LOSERS
| 1. International Business Machines Corporation (IBM) -9.52% |
| 2. Honeywell International Inc. (HON) -8.15% |
| 3. Comcast Corporation (CMCSA) -7.16% |
| 4. Tesla, Inc. (TSLA) -7.01% |
| 5. GE Aerospace (GE) -5.02% |
Pekan ini Wall Street seolah menarik garis tegas antara dua dunia yang berbeda. Di satu sisi, tiga raksasa semikonduktor (AMD, Intel, dan Qualcomm) kompak membukukan kenaikan luar biasa dalam satu pekan perdagangan: AMD melejit hampir 22%, Intel bangkit lebih dari 20%, dan Qualcomm mengikuti dengan gain di atas 9%. Amazon dan Caterpillar turut meramaikan sisi hijau dengan masing-masing naik 6% dan 5%. Namun disisi seberangnya, nama-nama yang pernah menjadi tulang punggung industri Amerika justru tersungkur. IBM memimpin deretan losers dengan koreksi lebih dari 9%, disusul Honeywell yang tergerus 8,15%, Comcast dan Tesla anjlok 7%, dan GE menyusul dengan penurunan 5%. Pola divergensi ini bukan sekadar fluktuasi biasa โ ini adalah cerminan dari pergerakan uang besar yang sedang merotasi dari sektor lama menuju ekosistem digital dan teknologi yang dianggap lebih relevan dengan narasi ekonomi ke depan.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 5 Mei 2026
Last Dividend Ex-Date: 27 April 1995
52-Week Range: $91.87 - $352.99
Weekly Range: $272.17 - $352.99
Previous Close Price: $347.95 (24 April 2026)
Kenaikan AMD hampir 22% pekan ini bermula dari satu laporan earnings: Intel. Ketika Intel mengumumkan lonjakan penjualan chip data center yang jauh melampaui ekspektasi, analis D.A. Davidson langsung menarik kesimpulan bahwa AMD, sebagai pesaing langsung Intel di segmen yang sama, berpotensi membukukan hasil yang bahkan lebih besar. Analis tersebut seketika menaikkan rating AMD dari Neutral ke Buy dan merevisi target harga dari $220 ke $375, dengan alasan sederhana: era AI generasi berikutnya membutuhkan lebih banyak CPU, bukan hanya GPU, dan AMD ada di posisi yang tepat untuk menangkap lonjakan permintaan itu. Pasar setuju, saham AMD langsung melonjak 10% dalam sesi premarket dan menutup pekan di level tertinggi sepanjang masa.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 23 Juli 2026
Last Dividend Ex-Date: 7 Agustus 2024
52-Week Range: $18.97 - $85.22
Weekly Range: $64.98 - $84.96
Previous Close Price: $82.58 (24 April 2026)
Intel adalah pemicu dari semua kenaikan semikonduktor pekan ini. Perusahaan yang selama bertahun-tahun dianggap tertinggal di era AI ini tiba-tiba membukukan laporan Q1 yang mengejutkan: pendapatan $13,6 miliar jauh melampaui estimasi $12,36 miliar, dan laba per saham tercatat $0,29 versus ekspektasi hanya $0,01. Kunci kejutannya ada di divisi Data Center yang tumbuh 22% secara tahunan, didorong oleh meningkatnya kebutuhan CPU untuk menjalankan agen AI. Panduan Q2 pun agresif, dengan proyeksi pendapatan $13,8 hingga $14,8 miliar, di atas ekspektasi Wall Street. Saham Intel melonjak lebih dari 24% dalam sehari, dan secara kumulatif sudah naik lebih dari 100% sejak awal tahun ini.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 29 April 2026
Next Dividend Ex-Date: 4 Juni 2026
52-Week Range: $121.99 - $205.95
Weekly Range: $132.06 - $151.16
Previous Close Price: $149.05 (24 April 2026)
Kenaikan Qualcomm 9% pekan ini bukan karena earnings, melainkan karena pasar mulai memasang posisi jelang laporan keuangan Q2 yang dijadwalkan 29 April. Di balik momentum itu, ada cerita lebih besar: Qualcomm diam-diam membangun posisi kuat di edge AI, yaitu teknologi AI yang berjalan langsung di perangkat tanpa bergantung pada cloud. Chip Snapdragon mereka sudah ada di ponsel Android premium, kini merambah ke mobil dan robot humanoid. Dengan harga saham yang hanya 12x forward earnings, jauh lebih murah dibanding kompetitor, dan program buyback $20 miliar yang baru diumumkan Maret lalu, sebagian investor mulai mempertanyakan apakah QCOM terlalu murah untuk sebuah perusahaan yang sedang bertransformasi diam-diam.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 29 April 2026
Next Dividend Ex-Date: N/A (Amazon tidak membagikan dividen)
52-Week Range: $178.85 - $264.50
Weekly Range: $245.37 - $264.42
Previous Close Price: $264.00 (24 April 2026)
Amazon naik 6% pekan ini, melanjutkan reli hampir 30% dalam beberapa pekan terakhir hingga mendekati all-time high di sekitar $264. Pemicunya adalah perubahan narasi: pasar tidak lagi fokus pada besarnya pengeluaran modal Amazon, tapi mulai melihatnya sebagai investasi masa depan yang akan menghasilkan. Perhatian utama jelang earnings awal Mei ada pada margin AWS yang diestimasi di 35,7%, serta dampak tarif dan konflik geopolitik terhadap margin retail. Konsensus analis tetap bullish dengan target rata-rata $289, dan beberapa firm bahkan memasang target hingga $325.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 30 April 2026
Last Dividend Ex-Date: 20 April 2026 ($1.51)
52-Week Range: $302.18 - $845.27
Weekly Range: $785.88 - $844.83
Previous Close Price: $830.32 (24 April 2026)
Caterpillar naik 5% pekan ini bukan karena AI, tapi karena ekspektasi earnings yang memanas. Konsensus menempatkan EPS Q1 di $4,54 dengan proyeksi pendapatan $16,42 miliar, tumbuh 15,2% secara tahunan. Kuartal sebelumnya, CAT membukukan kejutan positif lebih dari 10% di atas estimasi, dan model prediksi Zacks mengindikasikan peluang serupa kali ini. Sentimen tambahan datang dari akuisisi Monarch Tractor, startup traktor listrik otonom yang dijuluki "Tesla-nya pertanian", sinyal bahwa Caterpillar serius masuk ke segmen otomasi alat pertanian.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 22 Juli 2026
Next Dividend Ex-Date: 8 Mei 2026
52-Week Range: $220.72 - $324.90
Weekly Range: $221.78 - $258.52
Previous Close Price: $232.38 (24 April 2026)
IBM adalah ironi terbesar pekan ini: earnings beat di hampir semua lini, tapi saham tetap turun lebih dari 9%. Pendapatan Q1 $15,92 miliar melampaui estimasi, EPS $1,91 mengalahkan konsensus $1,81, dan margin melebar. Masalahnya ada di tiga hal: lonjakan mainframe yang dinilai hanya siklus temporer, segmen Consulting yang hanya tumbuh 1% padahal seharusnya menjadi mesin utama transformasi AI, dan pertumbuhan Software yang melambat ke 8%, di bawah target 10%. Pasar menyimpulkan bahwa IBM belum berhasil menangkap gelombang AI enterprise, dan memilih untuk menghukum dulu sambil menunggu bukti nyata.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 23 Juli 2026
Last Dividend Ex-Date: 27 Februari 2026 ($1.19)
52-Week Range: $186.61 - $248.18
Weekly Range: $209.70 - $233.60
Previous Close Price: $213.09 (24 April 2026)
Honeywell turun 8,15% pekan ini meski EPS adjusted $2,45 melampaui ekspektasi $2,32. Masalahnya ada di pendapatan: revenue $9,14 miliar meleset dari proyeksi $9,28 miliar. Di baliknya ada dua tekanan nyata: kelangkaan komponen di segmen Aerospace awal tahun, dan gangguan konflik Timur Tengah yang menghentikan tim servis Honeywell mengakses lokasi pemeliharaan. Perusahaan sedang dalam restrukturisasi besar dengan spin-off divisi Aerospace dijadwalkan Juni 2026, dan pasar memilih menunggu bukti pemulihan sebelum kembali masuk.

Last Earnings (Laporan Keuangan): 23 April 2026
Last Dividend Ex-Date: 1 April 2026 ($0.33)
52-Week Range: $24.13 - $34.36
Weekly Range: $27.51 - $32.14
Previous Close Price: $27.58 (24 April 2026)
Comcast naik sehari setelah earnings, lalu jatuh hampir 7% keesokan harinya karena satu downgrade dari Deutsche Bank. Padahal angka Q1-nya tidak buruk: revenue $31,46 miliar tumbuh 10,9% dan melampaui estimasi, EPS $0,79 mengalahkan konsensus. Masalah utamanya adalah penurunan 2,99 juta pelanggan broadband domestik secara tahunan, sinyal bahwa persaingan dari fiber, internet nirkabel, dan satelit terus menggerus bisnis inti mereka. Di tengah konsolidasi besar industri media, Comcast kini terlihat terjepit: tidak cukup besar di konten premium, tidak cukup gesit di konektivitas.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 22 Juli 2026
Next Dividend Ex-Date: N/A (Tesla tidak membagikan dividen)
52-Week Range: $270.78 - $498.83
Weekly Range: $368.19 - $405.47
Previous Close Price: $376.26 (24 April 2026)
Tesla turun 6,53% pekan ini meski Q1-nya solid: revenue tumbuh 16% ke $22,39 miliar, pertumbuhan tercepat dalam tiga tahun, dengan EPS non-GAAP $0,41 di atas estimasi $0,35. Yang membuat pasar kecewa adalah tiga hal: guidance capex yang melonjak dari $8,5 miliar ke $25 miliar, tidak adanya tanggal peluncuran robot Optimus berikutnya, dan rollout robotaxi yang berjalan lebih lambat dari ekspektasi. JPMorgan bahkan mempertahankan target harga $145, mengisyaratkan potensi penurunan 61% dari level saat ini. Satu faktor tambahan: uang besar pekan ini sedang berrotasi keluar dari Tesla dan masuk ke saham semikonduktor yang punya katalis lebih cepat dan lebih konkret.

Next Earnings (Laporan Keuangan): 16 Juli 2026
Last Dividend Ex-Date: 9 Maret 2026 ($0.47)
52-Week Range: $196.86 - $348.48
Weekly Range: $268.97 - $305.82
Previous Close Price: $284.61 (24 April 2026)
GE Aerospace menutup daftar losers dengan cara yang paling membuat geleng kepala: earnings nyaris sempurna, tapi saham tetap turun 5%. Revenue adjusted tumbuh 29%, orders melonjak 87%, semua lini melampaui estimasi, dan manajemen mengisyaratkan hasil akhir tahun akan berada di batas atas guidance. Alasan penurunannya sederhana: pasar berharap manajemen menaikkan guidance, tapi itu tidak terjadi. Padahal alasan manajemen masuk akal: mereka memasukkan asumsi konservatif soal harga minyak tinggi akibat Selat Hormuz dan potensi penurunan penerbangan global. Jim Cramer terang-terangan menyebut ini peluang beli, dan sulit untuk tidak setuju jika fundamentalnya dibaca dengan kepala dingin.
Jika ada satu benang merah yang menghubungkan semua pergerakan pekan ini, benang itu bernama agentic AI. AMD dan Intel tidak naik secara kebetulan di pekan yang sama, keduanya naik karena pasar akhirnya sadar bahwa gelombang AI berikutnya membutuhkan lebih banyak CPU, bukan hanya GPU. Qualcomm menangkap momentum yang sama meski ceritanya butuh lebih banyak kesabaran. Amazon dan Caterpillar punya katalis masing-masing, tapi keduanya bergerak atas dasar yang sama: ekspektasi earnings yang kuat dan kepercayaan bahwa investasi besar hari ini akan terbayar. Di sisi losers, IBM, Honeywell, GE, Comcast, dan Tesla tidak jatuh karena bisnis mereka buruk, sebagian besar justru membukukan earnings beat, tapi pasar sedang sangat selektif dan uang mengalir ke narasi yang paling jelas. Pekan depan, Alphabet, Amazon, Meta, dan Microsoft semuanya melaporkan earnings di hari yang sama, dan hasilnya akan menjawab pertanyaan terbesar saat ini: apakah reli Nasdaq dua pekan terakhir ini punya fondasi yang cukup kuat, atau hanya menunggu satu berita buruk untuk berbalik arah.
Copyright ยฉ 2026 Agrodana Futures
Disclaimer:
Artikel ini berupa pandangan Agrodana Research, Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan atau menjual market tertentu. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
Research & Analysis Agrodana Futures

Earnings Calendar
| TANGGAL | NAMA SAHAM |
| Kamis, 30 April 2026 | Caterpillar, Alphabet, Eli Lilly, Mastercard, Meta, Merck, Microsoft, Qualcomm |
Setelah mengukur denyut nadi daya beli dan arus transaksi konsumen pada paruh pertama pekan, Wall Street kini bersiap menghadapi volatilitas pada hari Kamis, 30 April. Jika rentetan rilis dari Senin, Selasa dan Rabu berfungsi sebagai indikator fundamental konsumen, maka panggung di hari Kamis adalah penentu arah tren (trend-setter) yang sesungguhnya bagi pergerakan indeks S&P 500 dan Nasdaq secara keseluruhan.
Dalam satu hari yang sangat padat ini, pasar akan menyaksikan konvergensi fundamental dari berbagai sektor paling krusial di dunia. Di ranah teknologi, trinitas penguasa kecerdasan buatan Microsoft (MSFT), Alphabet (GOOG), dan Meta (META) akan menjalani ujian berat terkait seberapa efektif mereka memonetisasi investasi infrastruktur AI yang memakan biaya miliaran dolar, didukung oleh Qualcomm (QCOM) yang bertindak sebagai proksi utama di sisi perangkat keras.
Namun, narasi di hari Kamis tidak hanya berhenti pada layar silikon. Dominasi sektor farmasi global akan diuji melalui Eli Lilly (LLY) dan Merck (MRK), sementara Caterpillar (CAT) bersiap menjadi barometer utama untuk membaca kesehatan sektor infrastruktur dan manufaktur fisik dunia. Tak ketinggalan, Mastercard (MA) akan tampil untuk melengkapi dan memvalidasi kepingan teka-teki volume transaksi global yang telah dibuka oleh Visa sehari sebelumnya.
Bagi para trader CFD single stock, "Kamis Super" ini adalah momentum yang paling ditunggu. Kombinasi bobot kapitalisasi pasar yang raksasa dari kedelapan emiten ini berarti setiap kejutan laba baik positif maupun negatif akan memicu rotasi aliran dana institusi secara masif. Sebelum terjun ke dalam badai volatilitas tersebut, mari kita bedah satu per satu katalis fundamental yang membayangi deretan raksasa ini.

Company Name: Caterpillar Inc. (CAT)
Ticker & Market: $CAT - NYSE
Sector & Industry: Industrials - Farm & Heavy Construction Machinery
Headquarters: Irving, Texas, USA
Market Cap: US$371.49B
Trailing P/E (valuasi berdasarkan laba 12 bulan terakhir): 42.45
Forward P/E (valuasi berdasarkan proyeksi laba 12 bulan ke depan): 34.72
P/E Growth Ratio (5yr expected): 2.14
Membuka panggung "Kamis Super", raksasa alat berat Caterpillar (CAT) hadir bukan lagi sekadar sebagai proksi industri konstruksi tradisional, melainkan sebagai pusat bagi belanja modal global. Secara fundamental, mesin kas CAT menyala sangat terang dengan tingkat pengembalian ekuitas (ROE) 43,53% dan arus kas bebas mencapai $5,84 miliar. Lompatan harga sahamnya yang meroket lebih dari 30% sepanjang tahun ini bertumpu pada dua pilar makro yang kokoh: kebangkitan siklus belanja modal pabrik non-teknologi AS (naik 2,8% annualized) serta lonjakan pesanan mesin generator raksasa dari segmen Power & Energy mereka yang kini krusial untuk menghidupkan pusat data AI.
Meskipun narasi pertumbuhannya tampak tak terbendung, rilis laporan keuangan nanti akan menjadi ujian berat untuk membenarkan valuasinya yang kini telah membengkak di angka Forward P/E 34.72x. Konsensus analis memproyeksikan EPS kuartal ini akan mendarat di kisaran $4.44 hingga $4.67, menyusul rekor $5.16 di kuartal lalu. Di luar angka laba, trader CFD harus sangat mewaspadai panduan manajemen terkait rumor kuat akuisisi startup traktor otonom Monarch; sebuah manuver yang sempat memicu respons skeptis pasar dan menyeret turun sahamnya 2,4% dalam sehari. Jika panduan laba meleset atau strategi akuisisi ini dinilai membebani neraca, kombinasi valuasi premium dan keraguan teknologi ini siap memicu celah aksi ambil untung (profit taking).

Company Name: Alphabet Inc. (GOOG)
Ticker & Market: $GOOG - NASDAQ
Sector & Industry: Communication Services - Internet Content & Information
Headquarters: Mountain View, California, USA
Market Cap: US$4.07T
Trailing P/E (valuasi berdasarkan laba 12 bulan terakhir): 31.03
Forward P/E (valuasi berdasarkan proyeksi laba 12 bulan ke depan): 29.41
P/E Growth Ratio (5yr expected): 2.29
Alphabet Inc. (GOOG) kembali membuktikan ketangguhannya di sektor teknologi melalui rentetan katalis positif, dimulai dari laporan pendapatan kuartal keempat (Q4 2025) yang sukses melampaui ekspektasi Wall Street. Raksasa teknologi ini mencetak lonjakan pendapatan sebesar 18% secara tahunan (year-over-year) menjadi $113,83 miliar, dengan Laba Per Saham (EPS) aktual menyentuh $2,82, mengalahkan konsensus analis di angka $2,59. Bintang utama dari performa impresif ini adalah segmen Google Cloud yang meroket tajam hingga 48% mencapai $17,7 miliar. Akselerasi ini menjadi bukti nyata bahwa infrastruktur cloud Google terus diburu oleh berbagai perusahaan untuk membangun model AI mereka. Dengan valuasi trailing P/E di kisaran 24,91 dan margin laba yang sangat sehat di level 32,81%, Alphabet menawarkan kombinasi fundamental bisnis periklanan yang solid dengan mesin pertumbuhan cloud yang berakselerasi cepat.
Di luar pencapaian finansial, manuver agresif Alphabet dalam mengamankan rantai pasok perangkat keras (hardware) AI menjadi sentimen positif yang sangat diperhatikan investor. Alphabet tidak lagi hanya bergantung pada pemasok luar; mereka kini bersiap menantang dominasi Nvidia dengan mengembangkan chip baru yang dikhususkan untuk inferensi AI. Langkah strategis ini diperkuat melalui ekspansi kemitraan custom chip bersama Broadcom, serta langkah penjajakan dengan Marvell Technology untuk merancang arsitektur TPU (Tensor Processing Unit) dan unit pemrosesan memori terbaru. Integrasi ekosistem silikon yang mandiri ini tidak hanya memberikan tekanan langsung pada ambisi AI foundry milik Intel, tetapi juga memposisikan Google secara strategis dalam mendominasi beban kerja AI berskala besar dengan efisiensi dan margin keuntungan yang jauh lebih tinggi di masa depan.

Company Name: Eli Lilly and Company (LLY))
Ticker & Market: $LLY - NYSE
Sector & Industry: Healthcare - Drug Manufacturers (General)
Headquarters: Indianapolis, Indiana, USA
Market Cap: US$821.80B
Trailing P/E (valuasi berdasarkan laba 12 bulan terakhir): 40.08
Forward P/E (valuasi berdasarkan proyeksi laba 12 bulan ke depan): 27.25
P/E Growth Ratio (5yr expected): 1.36
Eli Lilly and Company (LLY) terus memperkuat posisinya di bursa Wall Street berkat lintasan pertumbuhan fundamental yang luar biasa, terutama dari dominasi mereka di sektor perawatan diabetes dan obesitas. Pada laporan pendapatan kuartal keempatnya, raksasa farmasi ini sukses mencetak lonjakan pendapatan sebesar 42,6% secara tahunan (year-over-year) menjadi $19,29 miliar, dengan Laba Per Saham (EPS) aktual mencapai $7,54 yang berhasil melampaui ekspektasi konsensus. Kualitas pendapatan LLY juga sangat impresif, dibuktikan dengan margin operasi yang meroket hingga 41,8% dan tingkat pengembalian ekuitas (ROE) di level fantastis 101,16%. Momentum super ini baru saja mendapatkan "bahan bakar" baru melalui persetujuan FDA pada 1 April 2026 untuk Foundayo, pil penurun berat badan GLP-1 perdana mereka. Kehadiran opsi pil yang jauh lebih praktis dibandingkan metode suntikan (seperti Mounjaro dan Zepbound) diproyeksikan akan memperluas adopsi pasien secara masif dan berpotensi kuat mendorong valuasi pasar LLY yang saat ini berada di kisaran $821,8 miliar kembali menembus angka prestisius $1 triliun.
Selain memonopoli pasar obat obesitas yang sedang meledak, manuver agresif Eli Lilly dalam mendiversifikasi lini bisnisnya menjadi katalis tambahan yang sangat disukai investor. Di awal minggu ini, pasar merespons positif kabar bahwa LLY sedang dalam tahap akhir untuk mengakuisisi perusahaan bioteknologi Kelonia Therapeutics senilai lebih dari $2 miliar. Langkah strategis ini dirancang untuk memperkuat pijakan LLY di sektor onkologi melalui pengembangan terapi sel CAR-T generasi terbaru untuk pengobatan kanker darah (multiple myeloma). Dengan arus kas yang sangat melimpah dari portofolio GLP-1 mereka, Eli Lilly memiliki daya beli yang tak terbatas untuk terus mengakuisisi inovasi medis baru. Meskipun sahamnya saat ini dihargai cukup premium dengan forward P/E di angka 27,25, sinergi antara pertumbuhan organik yang eksplosif dan ekspansi anorganik (akuisisi) membuat struktur fundamental LLY sangat tangguh untuk memimpin sektor kesehatan kedepannya.

Company Name: Mastercard Incorporated (MA)
Ticker & Market: $MA - NYSE
Sector & Industry: Financials - Credit Services
Headquarters: Purchase, New York, USA
Market Cap: US$460.75B
Trailing P/E (valuasi berdasarkan laba 12 bulan terakhir): 31.56
Forward P/E (valuasi berdasarkan proyeksi laba 12 bulan ke depan): 26.60
P/E Growth Ratio (5yr expected): 1.66
Mastercard Incorporated (MA) kembali mengukuhkan statusnya sebagai salah satu raja infrastruktur pembayaran global dengan rilis kinerja kuartal keempat (Q4 2025) yang cemerlang pada akhir Januari lalu. Mastercard berhasil mencetak pendapatan sebesar $8,81 miliar, naik 17,5% secara tahunan (year-over-year), dengan Laba Per Saham (EPS) aktual di angka $4,76 melampaui konsensus Wall Street sebesar $0,52. Kekuatan finansial Mastercard sangat terlihat dari margin laba (Profit Margin) yang masif di level 45,65% dan Return on Equity (ROE) yang mencapai 209,91%. Momentum pertumbuhan ini sangat didukung oleh pulihnya volume transaksi lintas batas (cross-border) dan pergeseran struktural ke arah pembayaran digital di seluruh dunia. Dengan prospek pertumbuhan EPS sebesar 15,32% pada tahun fiskal berikutnya, analis Wall Street mempertahankan proyeksi yang sangat bullish, memberikan target harga rata-rata di $652,66 yang menyiratkan potensi kenaikan sekitar 25% dari level saat ini.
Keunggulan Mastercard tidak lagi hanya bergantung pada biaya pemrosesan kartu kredit tradisional. Fokus strategis perusahaan untuk memonetisasi "Layanan Bernilai Tambah" (Value-Added Services) seperti analitik data, konsultasi, dan pencegahan penipuan keamanan siber kini menyumbang lebih dari 40% dari total pendapatan bersih mereka. Lapisan pendapatan baru ini tidak hanya tumbuh lebih cepat daripada jaringan pembayaran inti, tetapi juga memberikan margin keuntungan yang lebih tebal. Selain itu, langkah proaktif Mastercard dalam mengekspansi infrastrukturnya ke ranah pembayaran komersial (B2B) dan rencana inovasi menuju teknologi stablecoin, membuktikan bahwa mereka bukan sekadar pemain lama yang berpuas diri, melainkan pelopor yang terus mendefinisikan ulang ekosistem keuangan global. Dengan valuasi harga (forward P/E) yang saat ini berada di bawah rata-rata historisnya, MA menawarkan daya tarik yang sangat kuat bagi investor yang mencari pertumbuhan yang solid dan konsisten.

Company Name: Meta Platforms, Inc. (META)
Ticker & Market: $META - NASDAQ
Sector & Industry: Communication Services - Internet Content & Information
Headquarters: Menlo Park, California, USA
Market Cap: US$1.70T
Trailing P/E (valuasi berdasarkan laba 12 bulan terakhir): 28.56
Forward P/E (valuasi berdasarkan proyeksi laba 12 bulan ke depan): 22.47
P/E Growth Ratio (5yr expected): 1.10
Melanjutkan parade raksasa teknologi di "Kamis Super", Meta Platforms (META) hadir sebagai representasi paling agresif dari perlombaan infrastruktur kecerdasan buatan. Secara fundamental, induk Facebook ini memiliki amunisi kas yang luar biasa tebal, mencapai $81,59 miliar, didukung oleh margin laba 30,08% dan tingkat pengembalian ekuitas (ROE) 30,24%. Kekuatan kapital ini langsung dikonversi oleh Mark Zuckerberg menjadi belanja modal (CapEx) raksasa, terbukti dari dimulainya konstruksi data center AI senilai lebih dari $1 miliar di Tulsa, Oklahoma. Menariknya, di tengah pembakaran uang bernilai ratusan miliar dolar untuk ambisi superintelligence ini, valuasi META justru tergolong sangat rasional; sahamnya diperdagangkan pada Forward P/E 22,47x dengan angka rasio PEG di 1,10, menandakan harga sahamnya masih sangat sejalan dan belum overpriced dibandingkan proyeksi pertumbuhannya.
Meski bantalannya sangat tebal setelah mencetak rekor EPS $8,88 di kuartal lalu, laporan keuangan kali ini (dengan ekspektasi konsensus EPS turun ke $6,46) akan diwarnai oleh tarik-menarik sentimen yang sangat volatil. Di satu sisi, manajemen harus menenangkan investor terkait pembengkakan biaya AI lewat langkah efisiensi drastis, terkonfirmasi dari rencana gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) lanjutan pada 20 Mei mendatang. Di sisi lain, model bisnis iklan inti mereka kembali diserang tuntutan hukum dari Consumer Federation of America (CFA) terkait kelalaian penyaringan iklan penipuan (scam). Bagi trader CFD, earnings call META akan menjadi arena pertempuran psikologis; pasar akan menuntut bukti mutlak bahwa pendapatan iklan Meta masih cukup kuat untuk mensubsidi ambisi infrastruktur AI mereka tanpa menghancurkan margin laba jangka pendek.

Company Name: Merck & Co., Inc. (MRK)
Ticker & Market: $MRK - NYSE
Sector & Industry: Healthcare - Drug Manufacturers (General)
Headquarters: Rahway, New Jersey, USA
Market Cap: US$289.22B
Trailing P/E (valuasi berdasarkan laba 12 bulan terakhir): 16.09
Forward P/E (valuasi berdasarkan proyeksi laba 12 bulan ke depan): 22.94
P/E Growth Ratio (5yr expected): 3.58
Bergeser ke sektor farmasi, Merck (MRK) akan mengambil sorotan dengan membawa dilema klasik industri kesehatan: inovasi vs kedaluwarsa paten. Secara historis, kinerja saham Merck sangat memukau, mencetak return nyaris 48% dalam setahun terakhir dan sukses mengalahkan rata-rata industri maupun S&P 500. Mesin kas perusahaan saat ini masih sangat bergantung pada Keytruda, obat kanker blockbuster yang menyumbang 55% dari total penjualan farmasi mereka. Namun, bulan madu ini memiliki tenggat waktu. Menjelang habisnya hak paten Keytruda di tahun 2028, manajemen Merck kini berpacu dengan waktu (dan menghabiskan miliaran dolar) untuk mengakuisisi perusahaan bioteknologi baru guna mencari mesin cetak uang pengganti, sebuah strategi agresif yang baru-baru ini menyeret turun estimasi Laba per Saham (EPS) kuartal ini menjadi $4,93 akibat bengkaknya biaya M&A.
Dalam earnings call hari Kamis nanti, para trader harus bersiap menghadapi volatilitas tinggi yang dipicu oleh panduan spesifik per produk. Posisi Merck saat ini cukup rentan; uji klinis tahap akhir obat kanker ginjal terbaru mereka (kombinasi Welireg) baru saja dilaporkan gagal mencapai target, sementara penjualan vaksin andalan lainnya (Gardasil) dilaporkan anjlok tajam hingga 39% di Tiongkok akibat pelemahan daya beli. Dengan valuasi saham yang saat ini dihargai sedikit premium (Forward P/E 22,94x) dibanding rata-rata industrinya, manajemen harus bisa membuktikan bahwa obat HIV baru mereka (IDVYNSO) yang baru saja direstui FDA mampu menutup lubang kebocoran pendapatan tersebut. Jika panduan penjualan global terus memburuk, saham MRK berisiko terkoreksi tajam karena pasar mulai mempertanyakan kemampuan mereka bertahan hidup pasca-era Keytruda.

Company Name: Microsoft Corporation (MSFT)
Ticker & Market: $MSFT - NASDAQ
Sector & Industry: Technology - Software - Infrastructure
Headquarters: Redmond, Washington, USA
Market Cap: US$3.15T
Trailing P/E (valuasi berdasarkan laba 12 bulan terakhir): 26.16
Forward P/E (valuasi berdasarkan proyeksi laba 12 bulan ke depan): 21.79
P/E Growth Ratio (5yr expected): 1.32
Microsoft (MSFT) memasuki panggung laporan keuangan dengan anomali harga yang mencolok. Meski dibekali mesin fundamental "monster" yang memompa arus kas bebas hingga $53,64 miliar dan tingkat pengembalian ekuitas (ROE) 34,39%, pergerakan sahamnya justru terpuruk dan tertinggal dari pasar (anjlok sekitar 13% sepanjang tahun ini). Tekanan jual masif ini dipicu oleh kepanikan investor pada laporan kuartal lalu, saat terungkap bahwa 45% dari total $625 miliar kewajiban kinerja tersisa (Remaining Performance Obligations) perusahaan sangat bergantung pada kemitraan dengan OpenAI. Namun di sisi lain, koreksi ini justru membawa valuasi MSFT ke level Forward P/E 21,79x, sebuah titik entri yang tergolong murah untuk penguasa infrastruktur software global.
Fokus para trader CFD pada rilis Kamis ini tidak akan terpaku pada pencapaian target EPS di kisaran $4,04, melainkan pada dua metrik krusial di balik layar:ketahanan pertumbuhan cloud Azure dan akselerasi Microsoft 365 Copilot. Bank of America memproyeksikan Azure harus mampu mempertahankan pertumbuhan di atas 37,5% untuk memuaskan Wall Street, sementara tingkat adopsi Copilot harus membuktikan peningkatan yang signifikan dari penetrasi awalnya yang baru menyentuh 3,5%. Jika manajemen mampu menunjukkan bahwa investasi pada chip internal (Maia 200) sukses memperluas kapasitas komputasi Azure dan mengurangi beban ketergantungan pada OpenAI, saham MSFT memiliki bahan bakar yang kuat untuk rebound teknikal menuju target $500. Sebaliknya, perlambatan sekecil apa pun pada pertumbuhan Azure siap memicu koreksi tajam.

Company Name: QUALCOMM Incorporated (QCOM)
Ticker & Market: $QCOM - NASDAQ
Sector & Industry: Technology - Semiconductors
Headquarters: San Diego, California, USA
Market Cap: US$146.73B
Trailing P/E (valuasi berdasarkan laba 12 bulan terakhir): 27.73
Forward P/E (valuasi berdasarkan proyeksi laba 12 bulan ke depan): 12.61
P/E Growth Ratio (5yr expected): 0.59
Jika Microsoft dan Meta mewakili sayap software dari revolusi AI, maka Qualcomm (QCOM) hadir di hari yang sama untuk merepresentasikan realita pahit di sektor hardware non-pusat data. Pergerakan saham QCOM belakangan ini telah menjadi ladang pembantaian; sahamnya anjlok nyaris 20% sepanjang tahun ini, terseret oleh memburuknya prospek permintaan ponsel pintar global, khususnya di pasar krusial seperti Tiongkok. Beban QCOM semakin berat karena para produsen ponsel kini harus mengerem produksi akibat mahalnya harga cip memori yang kapasitas pabriknya "dibajak" oleh pesanan cip data center AI. Tekanan makro ini memaksa Wall Street kompak memangkas peringkat sahamnya menjadi "Hold" atau "Sell", diiringi proyeksi suram penurunan EPS kuartal ini ke level $2,58.
Namun bagi para value trader CFD, kepanikan masif ini justru menciptakan diskon valuasi yang sangat langka. Berkat aksi jual tersebut, saham QCOM kini diperdagangkan di Forward P/E 12,61x, sebuah angka yang sangat murah, bahkan nyaris seperempat dari rata-rata valuasi industri semikonduktor yang melayang di 43,24x. Sinyal perlawanan dari pihak manajemen juga baru saja diluncurkan melalui pengumuman kenaikan dividen kuartalan menjadi $0,92 per saham, sebuah pesan tersirat bahwa mesin arus kas (yang meraup $10,42 miliar dari free cash flow) masih sangat sehat. Rilis laporan keuangan hari Kamis ini akan menjadi penentu nasib; jika QCOM mampu memberikan panduan pemulihan pesanan dari pabrikan ponsel atau membuktikan pertumbuhan agresif dari segmen otomotif cerdas mereka, status oversold saham ini siap memicu short-squeeze yang sangat brutal.
Rentetan laporan keuangan di hari Kamis depan ini akan bertindak sebagai ujian realitas (reality check) terbesar bagi Wall Street di kuartal ini. Panggung pasar akan menyajikan benturan langsung antara tingginya ekspektasi valuasi kecerdasan buatan (Microsoft, Meta) dengan realita tekanan rantai pasok hardware (Qualcomm), serta menguji ketangguhan siklus belanja modal industri "ekonomi lama" (Caterpillar) dan transisi krusial di sektor kesehatan (Merck). Rilis data dari para raksasa ini bukan sekadar laporan laba rugi biasa, melainkan fondasi fundamental yang akan menentukan apakah indeks S&P 500 dan Nasdaq layak mempertahankan level valuasi premiumnya atau harus bersiap menghadapi koreksi yang dalam.
Bagi trader CFD single stock, "Kamis Super" adalah arena dengan volatilitas tingkat tinggi yang menjanjikan peluang besar. Mengingat bobot kapitalisasi pasar emiten-emiten ini yang bernilai triliunan dolar, risiko pembukaan harga yang melompat liar (gap up maupun gap down) akan sangat tinggi. Kunci utamanya adalah disiplin pada manajemen risiko dan ketajaman dalam merespons panduan bisnis (forward guidance). Jangan hanya terpaku pada apakah EPS mereka mengalahkan ekspektasi, tetapi fokuslah pada proyeksi manajemen untuk sisa tahun ini. Momentum pasca-rilis ini akan menjadi katalis utama untuk rotasi aliran dana sektoral, memberikan Anda kesempatan emas untuk memposisikan portofolio pada tren baru yang akan mendikte arah pasar ke depan.
.
Copyright ยฉ 2026 Agrodana Futures
Disclaimer:
Artikel ini berupa pandangan Agrodana Research, Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan atau menjual market tertentu. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
Research & Analysis Agrodana Futures




